Selamat Datang di Buteng Negeri Seribu Gua

BUTENG alias Buton Tengah terletak di selatan pulau Muna (dan sebagian kecil di pulau Kabaena), Sulawesi Tenggara. Jujur, siapa yang pernah mendengar nama kabupaten ini sebelumnya dan mengetahui apa saja destinasi wisata Buteng yang menarik perhatian?

Beruntung saya dan para Duta API (Anugerah Pesona Indonesia) 2021 mendapat kesempatan menjelajah Buton Tengah berkat kerjasama Ayo Jalan-Jalan (penyelenggara API) dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Buteng.

Mari menjelajah!

gerbang buton tengah
Selamat datang di Buteng!

Kesan Pertama di Buteng

Kesan pertama saya setelah menginjakkan kaki di dermaga Wamengkoli: perairan di sekitar tampak jernih, suasana sekitar terasa tenang, tak tampak kesibukan pelabuhan. Cuaca terasa panas lembab, mesti sering-sering oles tabir surya dan banyak minum air putih.

Jalan aspal yang kami tempuh tampak sepi kendaraan, kebanyakan jalanan ini melintas di antara hutan/sesemakan, atau sesekali bersisian dengan pantai permai berpasir putih. Pemukiman penduduk yang kami lewati kebanyakan masih berupa rumah panggung dari kayu.

Yang unik adalah penampakan botol-botol bekas air mineral berisi cairan merah yang ditaruh berjajar di teras-teras rumah. Konon katanya supaya ayam-ayam yang bebas berkeliaran tidak sampai masuk ke teras. Walau terdengar tak masuk akal, namun demikian faktanya dan terbukti ampuh.

Kebanyakan penduduk yang kami temui tampak malu-malu, namun keramahan terpancar dari mata mereka. Tradisi dalam menyambut tamu sungguh luar biasa dengan aneka hidangan berlimpah. Bahkan memaksa kami menginap padahal kami sudah jelas tinggal di hotel. Buteng dan penduduknya memang luar biasa!

bocah berenang
Keceriaan bocah-bocah Buteng sebelum berlompatan dari atas tebing Oemamba

Jelajah Gua di Negeri Seribu Gua

‘Sehewu liya’ adalah bahasa lokal yang berarti seribu gua, julukan bagi Buteng yang memang punya banyak gua alam untuk ditelusuri. Mau gua kering ada, gua basah banyak. Gua darat ada, gua laut mungkin saja lebih banyak. Gua di bukit ada, gua di bawah danau pun ada!

Khusus gua basah, biasanya mengandung air yang jernih dan kerap dijadikan permandian warga atau bahkan sumber air minum. Berikut beberapa gua andalan wisata Buteng yang kami kunjungi:

  • Gua Maobu, gua basah di dekat pantai dengan air payau sejernih kristal
  • Gua Koo, semacam ceruk besar bak sarang dinosaurus. Gua ini punya dua kolam air tawar berbentuk mirip paru-paru dan dijadikan sumber air minum
  • Gua Bidadari, gua kering dengan sebuah kolam yang bisa direnangi pada ujungnya
  • Gua Kotaeno, berupa laguna hijau toska yang mirip studio alam
  • Gua La Umehe, gua kering dengan batu-batu sebesar rumah yang baru dieksplorasi peneliti pada 2020, namun masih minim wisatawan
  • Gua Loba-Loba, pintu masuk gua ini berada di kedalaman 27m di bawah permukaan laut, sehingga hanya penyelam scuba berlisensi yang bisa menyusurinya

Saking banyaknya gua, bahkan di hari terakhir pada saat kami bergerak pulang menuju bandara, baru muncul kabar tentang penemuan sebuah gua lain di desa Bantea. Tampaknya istilah dimana bumi dipijak, di bawah sana ada gua, cocok disematkan pada Buteng.

buteng gua la umehe
Gua La Umehe punya jalur terjal berliku dan mengundang adrenalin. Kami hanya masuk sampai perhentian pertama karena gua ini memang belum dieskplorasi lebih jauh. I’ll be back!
buteng gua kotaeno rahia
Gua Kotaeno ini tak ubahnya sebuah laguna studio. Waktu terbaik antara pukul 10-tengah hari dimana sinar matahari menyinari laguna. Photo by @richotraveling
buteng gua koo
Gua Koo dan kolam ‘paru-paru’ yang menurut penelitian BJ Habibie kualitas air murni di gua Koo termasuk yang terbaik di Indonesia. Photo by @richotraveling

Pesona Bone Labunta dan Pantai-Pantai Buteng

Bone Labunta adalah highlight kunjungan wisata Buteng karena ia masuk menjadi 3 besar ajang Anugerah Pesona Indonesia 2020 kategori Destinasi Baru. Pasir timbul ini awalnya dikenal dengan nama Pasi Labunta, dan hanya bisa disinggahi pada saat laut surut (sekitar pukul 8-11 pagi).

Dilihat dari atas, pasir timbul ini tampak berlekuk seperti bulan sabit. Bone Labunta ini bukan pasir timbul satu-satunya karena saya lihat ada beberapa gundukan pasir putih lainnya di tengah laut, di selat antara pulau Muna dan pulau Kabaena.

bone labunta
Bone Labunta, pasir timbul yang masuk 3 besar Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 kategori Destinasi Baru

Pantai-pantai di pesisir Buteng kebanyakan berpasir putih dan berombak tenang. Saya bahkan lupa ada berapa pantai yang sudah didatangi, namun setidaknya ada 3 pantai yang bisa jadi sorotan:

  • Pantai Mutiara, punya fasilitas lengkap termasuk toilet dan mushola. Kunjungan kami disambut langit kelabu, namun bahkan saya bisa melihat warna biru turqoise samar pada lautnya. Tampaknya pada saat cuaca cerah pantai Mutiara ini pasti cantik!
  • Pantai Wantopi, sebuah tanjung kecil berpasir putih pada sebuah teluk permai. Kita bisa melihat atraksi nelayan menangkap ikan atau petani menyiangi rumput laut
  • Pantai Katembe, paling ideal tuk menyaksikan matahari terbenam. Kawasan ini punya garis pantai panjang, serta tanah lapang yang lebih luas dari stadion sepak bola. Tampak ideal untuk berkuda berjalan 10 ribu langkah menikmati sunset
pantai wantopi
Pantai Wantopi punya pokok-pokok nyiur tinggi menjulang, a la California vibe! Photo by @leonard_c4me
pantai katembe
Pantai Katembe punya sunset view paling memanjakan mata, betul apa betul?

Rahasia Danau-Danau Buteng

Kalau dilihat dari Google Earth, permukaan wilayah Buteng banyak terdapat bopeng-bopeng hijau, yang mengindikasikan lubang-lubang bumi yang mungkin sudah tertutup hutan, atau mungkin tertutup air dan menjadi telaga/danau.

  • Danau Anano Tei, terletak dekat dengan Pantai Mutiara dan dikenal akan pantangan memancing ikan dan memakai baju berwarna kuning. Overall sarana pendukung di danau itu termasuk sudah lengkap
  • Danau Oemamba, sekilas mirip telaga permandian biasa, namun ternyata terdapat gua di dasarnya yang setelah diteliti ternyata punya kedalaman lebih dari 80m (ujungnya sudah tak bisa disusuri karena terlalu dalam)
  • Danau Pasi Bungi, dimana kami tak bisa mendekati tepiannya karena semak belukar rapat (hingga akhirnya mengandalkan drone). Tampaknya masih banyak rahasia akan danau ini yang konon berawal mula dari sebuah perkampungan yang lenyap ditelan bumi
buteng danau oemamba
Sekilas seperti telaga pemandian biasa, namun siapa sangka di bawah danau Oemamba ini terdapat gua berkedalaman puluhan meter!
buteng danau pasi bungi
Danau Pasi Bungi (seluas 52 hektar dan merupakan danau terbesar di Sulawesi Tenggara) nan misterius dan belum banyak dijelajahi

Goyang Lidah Ikan Parende

Selama di Buteng, tiada hari tanpa ikan parende pada menu makan kami. Beruntung kami dapat privilege mencicipi ikan parende di Rujab (Rumah Jabatan) Bupati dimana juru masaknya memang lihai meracik aneka makanan.

Bagi wisatawan umum mungkin bisa bertanya pada warga sekitar dimana mencari hidangan lokal. Waktu itu kami sempat makan parende dkk di sebuah kedai tak bernama di Kec. Mawasangka dan kebetulan cita rasanya tak mengecewakan.

kuliner buteng
Jamuan makan siang di rumah jabatan, tampak lapa-lapa, kapinda cakalang, hingga cumi item

Berikut beberapa menu kuliner khas Buteng yang bisa saya rekomendasikan:

  • Ikan parende, semacam ikan kuah kuning bening, dengan citarasa masam dari jeruk nipis & belimbing wuluh. Bahan utama yang digunakan biasanya ikan laut segar
  • Kasuami, pengganti nasi terbuat dari ubi kayu yang digiling dan diperas, lalu dibentuk segitiga. Rasanya ringan dan tak bikin kembung
  • Kapinda, ikan cakalang yang dimasak menggunakan asam jawa dan kelapa sangrai sehingga kuahnya berwarna kecokelatan
  • Lapa-lapa, semacam lontong terbuat dari beras dan santan yang dibungkus daun janur, rasanya gurih sedap
  • Lantak, semacam dadar gulung terbuat dari tepung ubi/beras, berisi gula merah

Baca juga: Kuliner Buteng | Selalu Ada Alasan Lapar dan Lapar Lagi

ikan parende
Ikan parende for life! Kiri a la kedai makan di Mawasangka, kanan versi Findi Hotel. Sama-sama sedap nian!
kuliner buteng
Jamuan makan siang khas Buteng di Wisma Thisya, di antaranya kasuami, kepiting & lobster, tumis bunga pepaya, dan ayam parende. Semuanya enak, beneran!

Atraksi Wisata Buteng Lainnya

  • Desa tenun Watorumbe Bata, dimana penduduk menjadikan bagian bawah rumah panggung mereka sebagai tempat untuk menenun. Ciri khas tenun Buteng antara lain garis-garis dan kotak-kotak
  • Benteng Bombonawulu, aslinya bernama Daduwali yang dibangun oleh penguasa Bombonawulu dan tersusun dari bebatuan karang mengikuti kontur perbukitan, sekilas mirip Tembok Cina dalam versi mini.
  • Bunga bangkai Bantea, hanya tumbuh di hutan jati desa Bantea seluas 25 hektar yang biasanya mekar bersamaan pada kurun waktu November hingga Januari, dalam bahasa lokal ia disebut bunga kiki
kain tenun
Pengrajin kain tenun Buteng sedang beraksi
benteng bombonawulu
Benteng Bombonawulu terletak di atas perbukitan, andai ditambah kabut suasananya sudah mirip kastil di Skotlandia

Banyak Jalan Menuju Buteng

  • Ambil penerbangan dari kota Makassar atau Kendari menuju kota Baubau di pulau Buton (menggunakan pesawat ATR)
  • Tiba di bandara Betoambari, Baubau, ambil sewa kendaraan/taksi menuju pelabuhan penyeberangan Baubau (pelabuhan perahu ketinting)
  • Biasanya sudah terdapat ojek perahu untuk menyeberang ke pelabuhan Wamengkoli di pulau Muna (sekitar 10 menit berlayar) dengan tarif Rp15.000/orang (atau sewa Rp150.000/perahu dan bisa memuat 10 penumpang)
  • Mendarat di pelabuhan Wamengkoli, selamat datang di Buteng!
perahu ketinting
Suasana di dalam perahu ketinting dalam penyeberangan kami dari Baubau ke Wamengkoli

Transportasi & Akomodasi

  • Disarankan untuk sewa kendaraan selama di Buteng (sekitar Rp500.000/hari untuk mobil niaga)
  • Findi Hotel terletak di Labungkari, Kec. Lakudo (sekitar 1 jam perjalanan dari dermagaWamengkoli).  Menginap di Findi Hotel disarankan jika Anda ingin menjelajah Buteng sisi timur & tengah seperti gua Loba-Loba, pantai Katembe, benteng Bombonawulu, dll.
  • Wisma Thisya terletak di Wamasangka, Kec. Mawasangka (2 jam dari dermaga Wamengkoli). Wisma Thisya berlokasi di pinggir pantai, dan semua makanan di restonya enak-enak! Tinggal di sini cocok jika ingin menjelajah Buteng sisi barat seperti pantai Mutiara, kampung Bajo, Bone Labunta, dll.
wisma thisya mawasangka
Teras belakang Wisma Thisya yang menghadap pantai (pagi itu laut tengah surut)

Apa yang Dibawa

    • Pakaian atasan berkain tipis/sejuk dan mudah kering jika basah serta topi/penutup kepala. Khusus trip ini saya juga di-support oleh Lois Indonesia berupa t-shirt dan celana denim yang tangguh dikenakan di medan apapun
    • Tabir surya dan obat-obatan pribadi
    • Sandal gunung yang tangguh menginjak bebatuan karang yang kadang tajam
    • Kabel extension karena kebutuhan charge gawai kadang lebih banyak dibandingkan jumlah soket listrik di kamar hotel
    • Kebutuhan seluler sebaiknya memakai si merah yang sudah menjangkau hampir semua pelosok Buteng (paham ya maksud saya ;))

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Taufan Gio (@disgiovery)

Jadi, sudah siap eksplorasi wisata Buteng?

 

Disgiovery yours!

About the author

Travel Blogger

Related Posts

2 Responses
  1. Buteng ini termasuk daerah di Indonesia yang jarang banget diberitakan atau ditulis, jadi sebagian besar yang kamu tulis di sini itu terdengar asing buatku. Penampilan ikan parende agak-agak ngingetin sama ikan kuah kuning yang aku cobain di Ternate, tapi rasanya entahlah mirip atau justru benar-benar beda. Foto-fotonya cakep, makanannya bikin laper, tapi sekarang cuma bisa ngiler.

    1. Buteng ini adalah pemekaran dari Kab. Buton di tahun 2014, meliputi wilayah di selatan pulau Muna, dan selatan pulau Kabaena. Nah, perjalanan kami kemarin di pulau Muna, mungkin selanjutnya bakal nyeberang ke Kabaena juga.

      Ikan parende memang mirip2 dengan ikan kuah kuning khas Indonesia Timur, rasanya tapi lebih light. Thanks Bama, kamu harus experience sendiri ke Buteng! 🙂

Leave a Reply