Wawancara Imajiner: Tangkasi

TANGKASI atau kita lebih mengenalnya sebagai tarsius, adalah hewan primata bertubuh mungil bermata besar yang hidup di sebagian hutan tropis Asia Tenggara. Saya pernah dapat kesempatan mengunjungi habitat tangkasi di Taman Wisata Alam Batuputih, Cagar Alam Tangkoko, Bitung, Sulawesi Utara (silakan baca: Meet & Greet Yaki & Tangkasi).

Jujur saja ternyata masih banyak fakta yang belum diketahui tentang tangkasi ini.

Beruntung kemudian saya dipertemukan dengan seekor tangkasi periang yang sedang begadang (perhatikan bahwa dalam dunia nocturnal, begadang artinya tidak tidur siang). Ia dan keluarganya tinggal di dalam lubang pohon tinggi di dalam hutan. Menurut petugas jagawana, hanya tangkasi kelas ‘royal family’ yang tinggal di pohon-pohon tinggi.

tarsius royal family
Menyambangi kediaman tangkasi dari ‘royal family’

Berikut petikan wawancara imajiner saya dengan tangkasi tsb:

Terima kasih atas kesempatan yang diberikan, Yang Mulia!
Panggil Cici Cici saja.
Terima kasih, Cici Cici.
Maksud Cici panggil Cici ya Cici saja, hihihi.

Akhirnya saya sadar jika Yang Mulia Cici Tangkasi ternyata punya pola bicara ileisme, alias menggunakan nama diri sebagai kata ganti orang pertama tunggal.

Baik, silakan Cici memperkenalkan diri pada pembaca.
Halo, teman-teman! Cici di sini, perwakilan keluarga besar tangkasi di Cagar Alam Tangkoko, Bitung, Sulawesi Utara, Indonesia Raya. Hestek #saveNKRI
Ya Lord pake hestek!
Kirim-kirim salam boleh?
Nanti terakhir ya, sekarang wawancara dulu!

Cici membenarkan posisi tubuh. Saya langsung menyiapkan daftar pertanyaan.

Eh, tapi Mas ganteng belum memperkenalkan diri ke pembaca.
Gak perlu, kan saya yang menulis artikel ini.
Ya udah, kalau gitu perkenalan Mas-nya sama keluarga besar Cici. Eh, berasa lamaran, hihihi!
Ini kapan wawancaranya?!
Hihihi, Cici cuma bercanda. Jangan sensitif ah, kayak sindrom jomblo menahun.
Jomblo bukan buat bercandaan!

Skip. Skip. Akhirnya wawancara pun berhasil terlaksana.

Baiklah, barangkali banyak yang belum familiar, bisa disebutkan ciri-ciri fisik tangkasi?
Ciri fisik? Ini tidak mengarah ke body shaming kan ya?
Apa deh…
Iya, iya, hihihi, mari kita mulai. Nama lengkap: Tarsius spectrum. Nama lokal: Tangkasi. Ciri-ciri: Mata besar, kaki jenjang, pemalu. Hobi: nangkring di pohon tengah malam. Harapan: Mencari yang setia dan penyabar…
Jangan curhat mbaknya…
Maaf, maaf. Lanjut yang tadi. Tangkasi punya kaki tarsal panjang hingga bisa melompat sejauh 5 meter atau sekitar 40 kali panjang tubuhnya sendiri. Fitur paling menarik adalah kemampuan memutar kepala 180 derajat kiri & kanan.

Lalu Cici mempraktekkan kemampuannya memutar kepala sambil membelalakkan mata dan lidah melet-melet.

Tangkasi mampu memutar kepala 180 derajat (photo by Ryan M. Bolton)

Kok, mirip kuyang rabies…
Heh, bacot! Mau Cici sedot ngana punya otak???
M-maaf Yang Mulia. Lanjut…
Nah, mata besar tangkasi berbobot lebih berat daripada otaknya, dengan diameter bola mata mencapai 16 mm, ini berguna untuk melihat dalam kegelapan sebagai hewan nocturnal. Telinga kami juga besar seperti kelelawar hingga bisa mendengar suara sehalus apapun di sekitar.
Wow, luar biasa! Berarti bisa dengar kentut tersembunyi juga dong?
Gak ada yang lebih berbobot pertanyaannya? Malesin Cici, deh…

Cici sempat ngambek, namun langsung luluh setelah disodori totebag isi boneka. Iya, boneka jenglot.

Yay, Cici lanjut lagi ya. Tangkasi punya tinggi rata-rata 9-16 cm, dan berat rata-rata 80-165 gr.
Lingkar dada?
32 DD.
Gak perlu dijawab juga kali.
Lagian ngapain tanya.
Lanjut. Bagaimana dengan tingkat harapan hidup tangkasi?
Antara 12-15 tahun. Tangkasi bisa berkembang biak sepanjang tahun dengan betina melahirkan satu bayi setelah kehamilan 6 bulan. Bayi tangkasi sudah terlahir dengan bulu lengkap dan mata terbuka, dan sudah bisa memanjat dalam satu hari.
Gak perlu ke pos yandu.
Tepat sekali, bukan kaleng-kaleng!
Oya, bagaimana dengan pola perkawinan tangkasi. Monogami atau poligami?
Origami boleh?
Jawaban macam apa itu?
Pertanyaan macam apa itu? Camkan ini: tangkasi hanya setia pada satu pasangan. Jadi, janganlah menistakan mahligai perkawinan kami, wahai manusya!

Hening sejenak sebelum saya melanjutkan pertanyaan.

Tangkasi sedang menanti mangsa (photo by Ryan M. Bolton)

Kalian adalah satu-satunya species dari ordo Tarsiiforme purba yang masih bertahan. Diduga tangkasi telah mendiami bumi selama setidaknya 40 juta tahun, dan bisa dibilang bentuk tubuh kalian tetaplah sama kecuali ukuran. Apa rahasianya?
Berkat jamu buyung upik!
-___-
Hihihi!
-___-
OK, Cici sih gak paham teori evolusi. Tapi frekuensi suara kami untuk menghindari predator terbukti masih ampuh sejak jaman baheula sampai sekarang. Semua ini mungkin yang membuat kondisi fisik kami tak banyak berubah karena sudah ideal untuk bertahan hidup.
Bagaimana cara berkomunikasi antar tangkasi?
Kami dapat membedakan satu sama lain melalui suara ultrasonik yang bisa mencapai 91 khz, dengan vokalisasi berbeda untuk situasi berbeda, seperti misalnya menjaga teritori kami dari pasangan tangkasi lain, atau memberi tanda kehadiran predator.
Keren! Kalian bisa jadi detektif atau mata-mata.
Percuma kalau gak ada yang sayang.
CURHAT TEROOOS!
Hihihi! Kalian manusia hanya bisa mendengar hingga 20 khz saja, kan? Ciyan…
Huss! Memang siapa saja predator kalian?
Ada musang, ular, biawak, burung hantu, kucing hutan.
Lantas apa saja makanan kalian?
Serangga adalah makanan pokok kami, diselingi diet kodok, kadal, dan burung kecil. Beberapa tangkasi juga diketahui berburu ular beracun dan mampu menangkap kelelawar kecil di udara. Ngomong-ngomong silakan dicicip ini manisan kadal sama boba kencing kodok. Segerrr!

Rehat sejenak. Cici icip-icip hidangan. Saya pura-pura puasa.

Penampakan tangkasi Filipina (photo by Christine Wehrmeier)

Kita lanjut ya. Berdasarkan Garis Wallacea, populasi tangkasi terbagi atas barat dan timur. Kenapa dan dimana saja?
Mungkin berakhirnya zaman es yang membuat habitat tangkasi terpisah. Tangkasi barat ada di Kalimantan, Sumatera, dan Babel. Tangkasi timur ada di Sulawesi dan Filipina.
Apa bedanya tangkasi barat dan timur?
Tangkasi di timur lebih suka bersosialisasi dan menghabiskan waktu dalam kelompok berisi 2-3 individu, sedangkan tangkasi di barat cenderung hidup soliter dan hanya berkumpul pada musim kawin.
Ada kemungkinan perkawinan campur antara barat dan timur?
Aduh gimana ya, sebagai ketua paguyuban tangkasi timur, Cici sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran dan tak mau tercemar sama yang kebarat-baratan…
SOMBONG YA ANDA!
Lho, kalimatnya belum selesai, hihihi! Tapi kalau sudah suratan takdir, ya Cici bisa apa, apalagi kalau ada tangkasi barat kaya raya dan berdarah ningrat datang melamar Cici.

Cici langsung cium-cium boneka jenglotnya dengan semangat.

Tangkasi timur dari kalangan ‘royal family’

Oya, kabarnya tangkasi juga punya kasta nigrat dengan jelata. Apakah tangkasi priyayi seperti Yang Mulia Cici ini hanya kawin dengan sesamanya?
Sebenarnya tidak harus demikian, meski memang kalau bisa trah ningrat darah biru kami tidak tercemar oleh keturunan darah lumpur. Hanya tangkasi berdarah murni yang layak tinggal di lubang-lubang pohon tinggi. Tangkasi sobat miskin dan kaum proletar cukuplah tinggal di liana-liana atau sesemakan.
Bagaimana membedakan tangkasi ningrat dengan yang bukan?
Secara fisik mungkin tak ada perbedaan mencolok, tinggal lihat saja dimana kami tinggal. Atau lihat saja tangkasi yang kulitnya shining shimmering splendid berarti dari kalangan atas karena rajin skinkeran, hihihi!
Hahaha, atau sodorin salak aja, kalau gak bisa kupas salak berarti…
MONMAAP DI SINI KARNIVORA! Gak doyan salak, mangga, pisang, jambu, dibawa dari Pasar Minggu.
Di desa banyak penjualnya.
Di kota banyak pembelinya.
Cakeeep!

Memasuki segmen terakhir karena Cici mulai nguap-nguap ngantuk.

tarsius belitung
Tangkasi dalam penangkaran di Belitung

Saya penasaran satu hal ini: apa benar tangkasi punya tendensi bunuh diri?
Betul. Biasanya disebabkan faktor stress, apalagi kalau ditinggal saat lagi sayang-sayangnya, hihihi! Tapi ini serius, kalau lagi stress berat, tangkasi bisa membentur-benturkan kepala ke pohon, atau kandang jika berada dalam kandang, sampai mati.
Saya jadi ingat sewaktu menjumpai tangkasi pertama kali di Belitung, ia berada dalam kandang, dan tampak tak bahagia.
Tangkasi adalah makhluk sensitif. Disentuh tanpa consent, suara-suara gaduh, dan berada dalam ruang sempit dapat jadi pemicu stress. Maka habitat ideal kami sebenarnya di dalam hutan, bukan jadi hewan tontonan atau peliharaan dalam kandang.
Sebagai perwakilan manusia, maafkan kami.
Maafkan Cici juga karena terlalu menggemaskan, hihihi!
Terakhir, jadi mau kirim salam?
Iya, Cici mau kirim-kirim salam buat seluruh tangkasi timur & barat, dengan ucapan: jagalah persatuan! Kirim salam juga buat para tangkasi di penangkaran atau kebun binatang, kalian kuat! Satu lagi, kirim salam buat satu tangkasi perantau yang sudah sukses jadi bintang film, jangan sombong, jangan lupakan kampung halaman!
Huh, siapa?
Master Yoda, hihihi!

master yoda

Cici pun langsung pamit mundur ke dalam lubang pohonnya.

 

Disgiovery yours!

Baca juga: Wawancara Imajiner: Komodo

About the author

Travel Blogger

Leave a Reply