5 Tempat Wisata di Melaka Wajib Kunjung

MELAKA dahulu ialah tempat pengembaraan Parameswara (seorang pangeran dari pecahan kerajaan Sriwijaya) yang tak sudi berada di bawah kendali Majapahit. Menyeberang lautan ia, hingga tiba di Temasek (kini Singapura) sebelum akhirnya berpindah ke sebuah desa nelayan kecil di pesisir semenanjung Malaya. Merasa kerasan, akhirnya ia mendirikan kesultanan Melayu Melaka pada tahun 1400 dan menjadikan Melaka sebagai bandar utama di selat Malaka (yang dahulu pernah dikuasai Sriwijaya leluhurnya).

Kini Melaka dikenal orang Indonesia sebagai salah satu tempat pengobatan terbaik di Malaysia. Padahal Melaka juga memberi asupan bergizi lain bagi para pelancong yang haus jejak sejarah. Sebagai kawasan yang ditetapkan sebagai UNESCO World Heritage Site pada 2008, wisata di Melaka punya banyak destinasi menarik untuk ditelusuri.

Chinatown

Kawasan Pecinan di Melaka terdiri atas 4 sampai 5 jalan utama yang bisa dikunjungi. Kebanyakan pelancong memilih berjalan kaki menyusuri jalan dan gang, atau kalau tidak bersepeda. Biasanya mereka yang menaruh minat pada budaya dan arsitektur bakal menyenangi kegiatan ini karena bisa lebih dekat merasakan kehidupan penduduk lokal, termasuk mencicipi kuliner otentik di kedai-kedai mungil. Kegiatan bisa dimulai dari Hereen Street menuju Jl. Tukang Emas lalu diakhiri di tepi sungai Melaka.

Belum lengkap ke Pecinan Melaka kalau tidak ke Kuil Cheng Hoon Teng (1645) yang pernah mendapat penghargaan UNESCO untuk restorasi arsitektural yang mengagumkan.

Silakan baca: Melaka Heritage Walk | A Photo Story

wisata di melaka chinatown chee ancestral mansion
Bangunan mentereng Chee Ancestral Mansion, tempat kediaman keturunan Chee Yam Chuan, seorang saudagar yang keluarganya sudah mendiami Melaka sejak awal abad XVIII
wisata di melaka chinatown cheng hoon teng temple
Kuil Cheng Hoon Teng (1645) dengan arsitektur rumit namun mengagumkan, konon ornamen di bagian atap berasal dari emas murni
wisata di melaka chinatown old town
Kira-kira seperti ini penampakan kota Melaka klasik dengan rumah-rumah beratap pelana yang ujungnya melengkung ke atas yang tak berubah sejak beratus tahun silam (gambar diambil dari kuil Xiang Lin Si)

Dutch Square

Disebut juga Red Square karena bangunan-bangunan berwarna merah di sekitarnya. Ada banyak museum di area ini namun yang terkenal adalah Stadthuys, serta gereja Christ Church (keduanya peninggalan Belanda). Ada pula air mancur Ratu Victoria (peninggalan Inggris), hingga jam menara Tan Beng Swee (peninggalan warga Peranakan). Yang menarik di Dutch Square adalah suasananya yang ‘internasional’ dimana para pelancong dari berbagai negara berbaur, ada yang duduk-duduk, mengambil foto, keluar masuk museum, atau melihat-lihat lapak cinderamata. Deretan becak hias warna-warni tampak menunggu calon penumpang diiringi alunan musik meriah (uniknya kebanyakan musik dangdut koplo Indonesia, hehehe).

wisata di melaka dutch square christ church
Christ Church di Dutch Square ini sudah menjadi ikon wisata di Melaka
wisata di melaka dutch square bike
Bersepeda menyusuri labirin di antara gedung-gedung merah bata bisa menjadi aktivitas wisata di Melaka yang menarik

St. Paul’s Hill

Bagi penyuka puing-puing sejarah dapat langsung mendaki santai selama 15 menit dari Dutch Square menuju gereja St. Paul di puncak bukit. Meskipun tak beratap namun dinding gereja ini masih tampak kokoh karena terbuat dari campuran logam, karang, dan pasir pantai. Masih di area sekitar bukit terdapat reruntuhan benteng A Famosa peninggalan Portugis yang legendaris. Benteng ini tinggal menyisakan gerbang masuk Porta de Santiago. Ciri khas di area ini adalah kehadiran musisi jalanan yang memainkan musik Latin. Anda dapat menunggu hingga petang hari untuk menyaksikan sunset view dari atas bukit.

Silakan baca: Melaka Heritage Walk | A Photo Story Part 2

wisata di melaka st paul church
Gereja St. Paul (1521) diyakini sebagai gereja tertua di kawasan Asia Tenggara
wisata di melaka porta de santiago
Benteng legendaris A Famosa peninggalan Portugis hanya menyisakan gerbang Porta de Santiago ini

Melaka River Cruise

Sungai Melaka adalah urat nadi pariwisata. Para pelancong dapat menyusuri perairannya dengan perahu wisata mulai dari Taman Rempah Jetty hingga Muara Jetty (atau sebaliknya). Layanan ini dikelola oleh Melaka River Cruise (MRC) yang beroperasi sejak pukul 9 pagi hingga 12 malam, menempuh jarak 6 km dan waktu tempuh 45 menit. Kita akan melihat-lihat bangunan-bangunan kuno khas oriental, melayu, dan kolonial yang berada di tepi sungai, mural warna-warni, kedai & kafe mungil, kincir raksasa, hingga melintas di bawah 7 jembatan. Saran saya lakukanlah susur sungai ini pada petang hari supaya mendapat sunset view di akhir perjalanan.

wisata di melaka river cruise
Melaka river cruise memberi kita kesempatan melihat kota Melaka dari sisi lain
wisata di melaka river cruise sunset
Direkomendasikan ikut Melaka river cruise menjelang petang (matahari terbenam)

Jonker Walk

Jalan Hang Jebat atau Jonker Street di kawasan Pecinan ini dikenal juga sebagai kawasan belanja di kalangan wisatawan. Pada siang hari pengunjung dapat berbelanja di toko atau galeri yang bertempat di deret bangunan klasik di sepanjang jalan ini. Sedangkan setiap malam di akhir pekan jalanan ini menjelma menjadi area pasar malam dimana lapak-lapak dagangan digelar. Suasana selalu meriah dengan lampu warna-warni, ragam cinderamata, aneka makanan & minuman, hingga atraksi musisi/seniman jalanan. Jika ingin membeli cinderamata, jangan lupa untuk menawar harga. Bagi kaum Muslim mesti teliti jika hendak membeli jajanan di sini, pastikan halal tidaknya.

wisata di melaka jonker walk
Jonker Walk lebih ramai di malam hari khususnya akhir pekan
wisata di melaka jonker walk
Wisata di Melaka belum lengkap tanpa berburu souvenir di Jonker Walk yang dipenuhi ornamen khas negeri tirai bambu

Panduan Singkat Wisata di Melaka

How to Go

Ada banyak penerbangan dari kota-kota besar Indonesia ke Kuala Lumpur. Tiba di KLIA/KLIA2 lanjut naik shuttle bus ke Melaka dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Alternatif lain dari Indonesia adalah mengambil penerbangan ke Johor Bahru dan melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Melaka selama kurang lebih 3 jam. Terdapat pula jalur kapal cepat dari Dumai (Riau) ke Melaka yang dapat ditempuh selama 2 jam melintasi selat Malaka.

Where to Eat

Carilah kedai/resto yang paling banyak dikunjungi warga lokal untuk mendapatkan citarasa otentik. Contohnya adalah kedai Lineclear Kg. Jawa di Kampung Jawa untuk citarasa Melayu (halal), atau Nancy’s Kitchen di Taman Kota Laksamana untuk menu peranakan yang masih otentik (ada menu non-halal). Jonker Street juga jadi pusat jajanan wisata di Melaka khususnya malam hari.

Where to Stay

Pilihan akomodasi di Melaka sungguh beragam mulai level berbintang hingga dormitori. Casa del Rio di sisi sungai Melaka punya lokasi paling strategis (meski bangunannya tampak megah dan mewah namun room rate-nya masih terjangkau dibanding hotel berbintang sejenis). Ada pula Hotel Puri di Jl. Tun Tan Cheng Lock yang masih berupa bangunan oriental klasik peninggalan abad XIX.

Silakan baca: Casa Del Rio | Persembahan Istimewa Melaka

 

Disgiovery yours!

wisata di melaka
Selamat menikmati wisata di Melaka 🙂

Catatan: Artikel asli berjudul ‘Loka Indah Melaka’ ini pernah diterbitkan di majalah XpressAir edisi Juni 2017, namun sudah mengalami sedikit penyuntingan untuk tayang di blog Disgiovery.id

About the author

Travel Blogger
2 Responses
  1. Kota-kota besar di Indonesia ini kan juga punya cerita sejarah bagus ya, seperti Surabaya, Semarang, Jakarta, Yogyakarta. Kapan bisa nyusul Melaka jadi world heritage juga ya?
    Surabaya itu tiap sudut jalan kayaknya kaya cerita. Semarang dengan kota lama, Jakarta dengan kota tua. Belum lagi yg di luar Jawa.

    1. Keunggulan Melaka ialah dalam satu kota kecil ada banyak peninggalan berbagai macam bangsa mulai Cina, Portugis, Inggris, Belanda yang masih terawat. Paket kumplit istilahnya. Mungkin Kota Lama Semarang atau Kota Tua Jakarta sedikit kalah set, meski layak dipertimbangkan pula jadi world heritage.

      Btw aku malah belum sempat jelajah Surabaya, pingin banget apalagi sejak dipimpin bu Risma jadi makin fotogenik ya kotanya.

Leave a Reply