Tango Setan, 7 Jam Kena Mental Film ‘Gila’

SATANTANGO ini bukan film setan, tapi ungkapan yang tepat setelah menontonnya adalah: SETAN!

Luar biasa terperdaya dan teraniaya luar binasa.  Tak pernah terpikir sebelumnya jika saya bakal sanggup menonton film berdurasi TUJUH JAM nonstop, dimana sensasi setelah meyaksikannya adalah cuma duduk terhenyak.

Tired yet mesmerized.

Jalan-Jalan ke Hongaria

Bukan, ini bukan pantun.

Alkisah tersebutlah sekelompok penduduk di sebuah desa miskin di pedalaman Hongaria yang hendak hijrah  mencari penghidupan yang lebih baik. Pedesaan Hongaria dalam bayangan saya adalah kawasan padang savana berbukit-bukit dengan bunga-bunga liar dan sapi-sapi merumput.

Tapi saya salah.

Salah satu adegan awal Satantango menampilkan sebuah jendela yang menampakkan pemandangan desa yang jemu, kelabu, suram.

Semenit berlalu dan penonton masih disuguhi sebuah jendela yang menampakkan pemandangan desa yang jemu, kelabu, suram.

Bermenit-menit selanjutnya adalah sebuah jendela yang menampakkan pemandangan desa yang jemu, kelabu, suram.

Can you imagine how depressing it was?

Sang sutradara Béla Tarr berhasil membawa penonton ke dalam pengenalan situasi yang sama persis seperti yang dialami oleh tokoh cerita dalam film: merasa jenuh dan depresif.  Dan ini baru menit-menit awal.

Coba, siapa yang gak depresi tinggal di kawasan becek gak ada ojek gini

Siksa Audio Visual dan Mental

Tarr banyak menghadirkan long shot yang masing-masing berdurasi 7 hingga 10 menit hanya untuk menyampaikan sebuah adegan.  Menyaksikannya mungkin seperti mengamati sebuah lukisan, kita dibiarkan untuk mengamati satu persatu obyek yang ada di layar, dan membiarkan imajinasi bermain di dalamnya.  Ia seakan menghipnotis.

Di saat penonton mungkin sudah nyaris (mati) kebosanan karena adegan yang monoton dan senyap, dengan semena-mena Tarr memasukkan unsur musik yang gaduh dan tidak harmonis.

Ketukan yang berulang-ulang dan menyiksa pendengaran.  Bagi saya ini mencekam, sama horornya seperti musik latar film Pengkhianatan G30S yang masih mampu bikin bulu kuduk berdiri.

Lagi-lagi Tarr berhasil menyiksa penonton.  Ia memaksa kami merasakan apa yang sekiranya dirasakan oleh para tokoh cerita Satantango: tersiksa dan ingin keluar dari penderitaan.

Rencana penduduk yang ingin bedol desa tak berjalan mulus karena pemunculan kembali tokoh Irimiás yang dianggap sudah hilang sebelumnya. Lalu berbagai konflik pun terjadi.

satantango alley
Adegan ini indah, simbolis, tiap langkah kaki sang tokoh diikuti sampah berterbangan. Silakan interpretasikan sendiri 🙂

Satantango Golden Scenes

Sungguh saya tak bisa mengalihkan pandangan dari layar.  Ada beberapa adegan yang saya anggap golden scenes karena sungguh-sungguh menancap dalam benak.

  • adegan dansa

Sebelum hijrah, para penduduk berkumpul di bar dan menari tango.  Ini adalah adegan yang bikin saya menjura.  Belum pernah dalam satu scene saya dibuat terkagum-kagum sekaligus terpusing-pusing karena harus memilih tokoh mana yang harus saya amati lebih dulu (karena masing-masing menampilkan gerakan/kegiatan unik).  Epic! 

Belakangan Tarr mengakui jika para pemeran yang berdansa dalam adegan tango setan itu adalah dalam keadaan mabuk.

  • adegan buah dada

Tapi satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah karakter Schmidtne (bahkan saya bisa mencium bau alkohol dan keringat lembab dari blus longgarnya) dimana ketika ia menari tango semakin lama (maaf) puting payudaranya tampak semakin menonjol.  Maafkan jika saya salah, tapi saya berharap penglihatan saya benar adanya.  She’s getting hard in every move! 

  • adegan baskom

Long shot menampakkan baskom yang tergeletak di lantai gelap.  Terdengar suara ranjang berderit.  Lalu seorang perempuan turun dari ranjang, menyibak roknya lalu berjongkok sambil mengangkangi baskom. Tebaklah apa peran serta si baskom dalam adegan ranjang ranjang tsb?

satantango
Anggap sedang ritual ratus vagina supaya keset dan harum manjakani #eaa
  • adegan kucing

Seekor kucing disiksa oleh anak kecil bernama Estike dengan cara-cara di luar perikekucingan.  Saya suka adegan sadis, apalagi yang terlihat nyata (dan saya curiga bahwa adegan ini adalah nyata adanya tanpa special effects).

Benar saja scene ini memang sempat menuai protes, namun Tarr berkilah bahwa sang kucing (yang merupakan hewan peliharaannya sendiri) itu dalam kondisi ”baik-baik saja”.

  • adegan jalan

Estike berjalan tergesa-gesa di jalan berlumpur sambil menggendong mayat kucing.  Wajahnya tampak dingin dan tatapan matanya menusuk.  Saya perhatikan bahkan Estike sama sekali tidak pernah berkedip selama kamera menyorot wajahnya!  Benar-benar ”bocah setan”, saya salut sama pemerannya!

Setelah berjalan sejauh itu, Estike pun melakukan sesuatu yang membuat saya berbalik menjadi iba pada dirinya. Sesungguhnya ia cuma bocah kesepian.

satantango estike
Tokoh Estike ini paling menyita perhatian saya karena aura bocah setan, hahaha!

Adaptasi Novel yang Luar Biasa

Tarr mengadaptasi film ini dari novel debut berjudul sama karya László Krasznahorkai.  Sang penulis gemar berpanjang lebar dalam mendeskripsikan cerita.

Adegan awal film ini pada intinya hanyalah sebuah kalimat sederhana ”One morning, Futaki woke to hear bells”.

Tapi coba simak apa yang sesungguhnya tertulis di novelnya:

One morning near the end of October not long before the first drops of the mercilessly long autumn rains began to fall on the cracked and saline soil on the western side of the estate (later the stinking yellow sea of mud would render footpaths impassable and put the town too beyond reach) Futaki woke to hear bells.

Beruntung sang sutradara tak kalah brilian dalam mengejawantahkan maksud sang penulis dalam bentuk gambar bergerak.  Viva long shots!  

Watching this movie was such a mental experience for me.  Saya mungkin takkan sanggup menonton ulang film ini secara utuh, terlalu melelahkan (kecuali jika dibagi per segmen, misalnya).

Walaupun baru sekali menontonnya, saya masih bisa mengingat banyak detail adegan di dalamnya. Sungguh mengesankan.  Bagaikan saya sendirilah salah satu tokoh cerita dalam film tsb.

satantango
APA? DISURUH NONTON ULANG??? *langsung pura-pura mati*

Nonton di Mana?

Satantango yang kami tonton adalah DVD koleksi pribadi bang Edwin (sutradara peraih piala Citra 2017 lewat Posesif). Beruntung saya dapat kesempatan menyaksikan film ini bersama beberapa sineas lainnya, termasuk bersama Aga alias Wregas Bhanuteja (sutradara peraih piala Citra 2021 lewat Penyalin Cahaya) yang saat itu masih berstatus mahasiswa IKJ.

Wow, kalau dipikir-pikir ternyata pergaulan saya sungguh membagongkan, hahaha!

Kalau kamu punya nyali ingin nonton film berdurasi 7 jam ini, mungkin bisa cari lewat layanan online streaming. Harap diingat bahwa ini bukan film komersil, jadi mungkin hanya tersedia di beberapa provider.

satantango audiences
Para penonton Tango Setan bersama bang Edwin (jaket cokelat). Tampak Aga paling kanan. Tebak saya yang mana?

Satantango ini bukan film bagus yang bisa jadi favorit semua orang, tapi ini film jenius.  Ini adalah sebuah tantangan. Dan saya bangga pernah menyaksikannya, utuh.  Hail to Béla Tarr!

 

Disgiovery yours!

Sátántangó (1994)
 
Directed & screenplay by  Béla Tarr
Based on novel by         László Krasznahorkai
Starring                  Mihály Vig as Irimiás, Éva Almássy Albert as Schmidtne, Erika Bók as Estike
Music by                  Mihály Vig  
Cinematography            Gábor Medvigy
Running time              450 min
Country                   Hungary, Germany, Switzerland
Language                  Hungarian

About the author

Travel Blogger

Related Posts

2 Responses
  1. Wow, butuh dedikasi luar biasa untuk bisa menyelesaikan nonton film semacam ini. Tujuh jam pula! Alamak. Aku sebenernya suka tiap kali ada film artsy atau indie semacam ini. Tapi suka bukan berarti menikmati nontonnya. Lebih ke suka bahwa ada orang yang idealis dan membuat karya yang benar-benar sesuai kehendak dia, bukan tunduk ke tuntutan pasar. Tapi beneran gak kebayang lho, nonton film tujuh jam itu gimana rasanya.

    1. Asik-asik aja asal ada break time, dan ada banyak cemilan juga, huahaha!

      Eh tapi jadi penasaran kabarnya kan ada film 21 jam dari Bangladesh ya, sekarang tugasmu menontonnya!

Leave a Reply