Meet & Greet Yaki & Tangkasi di Taman Wisata Alam Batuputih

BATUPUTIH, 1859. Alfred Russell Wallace, seorang ilmuwan Inggris, menulis pengalamannya melihat burung maleo (Macrocephalon maleo) yang bersarang di Batuputih. Pada masa itu telur maleo lazim jadi santapan penduduk lokal karena lebih bergizi dan lebih enak.

Kunjungan beliau di Sulawesi Utara meliputi pegunungan Minahasa, pesisir Likupang, terus menuju timur hingga kawasan Batuputih, bagian dari Cagar Alam Tangkoko kini. Tanpa diduga beliau mendapati banyak hewan endemik lain seperti anoa alias sapi-utan (Bubalus depressicornis), babirusa (Babyrousa babyrussa), yaki (Macaca nigra), hingga tangkasi (Tarsius spectrum).

Penelitian beliau di Kepulauan Nusantara melahirkan teori Garis Wallacea (Wallace’s Line), garis imajiner yang membagi kepulauan Nusantara dalam 2 bagian (bagian barat mewakili flora & fauna Eurasia, sedangkan bagian timur mewakili Australia). Sulawesi tepat berada di tengahnya sebagai kawasan unik karena memiliki flora & fauna yang berbeda antara zona barat dan timur.

Alfred Russel Wallace
Alfred Russel Wallace diabadikan dalam bentuk monumen di TWA Batuputih, Bitung (pic source: Mongabay.co.id)

Berkunjung ke Batuputih

Batuputih, masa kini. Walau bukan Alfred Russell Wallace, namun kami juga punya misi menulis pengalaman masuk hutan Batuputih demi melihat dari dekat habitat yaki dan tangkasi. Memang dua hewan endemik ini termasuk yang paling populer dibanding maleo yang pemalu, anoa yang introvert, atau babirusa yang segahar netizen.

Hewan-hewan endemik ini mendiami kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih seluas 650 hektar, yang merupakan bagian dari cagar alam Tangkoko-Batuangus seluas 8.500 hektar. Waktu tempuh dari pusat kota Bitung hanya memakan waktu sekitar 30-45 menit menempuh jalan mulus berliku membelah hutan.

Sebagai laboratorium hidup dengan keragaman hayati berlimpah, cagar alam Tangkoko telah banyak menarik minat ilmuwan asing untuk datang meneliti. Sepanjang jalan saya lihat banyak wisma/cottage yang diperuntukkan bagi wisatawan khususnya para peneliti seperti mereka.

cagar alam tangkoko batuputih
Selamat datang!

Awas Gonone!

Teror pertama adalah gonone. Petugas jagawana menyambut kedatangan kami di TWA Batuputih dengan petuah bijak: hati-hati melangkah, hindari kayu lapuk di hutan tempat gonone bersarang!

Gonone (ciger) adalah sebutan bagi sejenis kutu bangsat (baca: BNGST!) yang hidup di kayu lapuk/pohon tumbang yang membusuk. Saking kecilnya mereka nyaris tak bisa dilihat dengan mata telanjang (konon berwarna putih) dan gemar menyerang lipatan tubuh manusia seperti pangkal paha dan ketiak.

Gigitan gonone bakal bikin gatal luar biasa dan bekas bintik merahnya menimbulkan noda hitam di kulit yang baru hilang setelah beberapa bulan. “Seorang presenter TV pernah kena di selangkangan, dan saking gatalnya merambat tak tertahankan dia langsung buka celana di depan kami tanpa malu lagi.”

Demikian penuturan petugas jagawana sambil menyodorkan lotion anti serangga pada kami sebagai tindakan preventif. Kami langsung membalur lotion anti serangga saat itu juga. Walau agak gentar, namun adrenalin tetap terpacu. Jangan sampai gonone menghalangi niat kami masuk hutan menjumpai yaki dan tangkasi.

Hmm, jadi penasaran, Sir Wallace pernah kena serangan gonone gak ya…

skincare wisata batuputih
Skincare-an dulu pakai lotion anti serangga sebelum masuk hutan
hutan batuputih
Jalur dalam hutan Batuputih, hati-hati jangan salah injak kayu sembarangan!

Yaki Si Kera Hitam

Medan yang dilalui dalam hutan Batuputih kebanyakan berkontur datar. Udara hangat lembab khas hutan tropis selepas hujan, sungguh ideal bagi pacet atau gonone untuk mencari mangsa, huhuhu! Mata kami tetap waspada jangan sampai menginjak kayu atau batang pohon apapun yang teronggok di jalan.

Sekitar 30 menit masuk hutan, tampaklah kera-kera hitam menginvasi jalan, tak ubahnya anak-anak STM lagi nongkrong. Inilah kawanan yaki alias Macaca nigra. Sekujur tubuh mereka hitam kecuali punya pantat merah muda berbentuk hati. Unch unch pisan, hahaha! Semakin merah & besar pantatnya, itu pertanda birahi.

Kelakuan kera sama monyet memang 11-12. Ada yang sibuk ayun-ayun, ngemil, rebahan (WAIT, ini kenapa mirip netizen +62 ya?), hingga kawin di depan umum. Khusus kawanan yaki di Batuputih ini terdapat 2 ekor alpha male sehingga mereka terbagi dalam dua kelompok, Rambo 1 & Rambo 2. Kedua kelompok ini juga kerap tawuran rebutan wilayah kekuasaan.

kawanan yaki tangkoko batuputih
Kawanan yaki sedang bercengkerama
macaca nigra tangkoko batuputih
Yaaa, ada yang bisa saya bantu???

Tangkasi si Tarsius Ningrat

Bitung bukan yang pertama. Belitung adalah yang pertama dimana saya bertatap muka dengan tangkasi (Tarsius spectrum). Bitung di Sulawesi dan Belitung di lepas pulau Sumatera, kok bisa habitat keduanya terpisah jauh? Tangkasi memang jadi special case karena ia melompati Garis Wallacea.

Kemungkinan tangkasi sudah ada sejak sebelum Negara Api Zaman Es menyerang. Bicara soal lompatan, nama tarsius sendiri diambil dari ciri fisik tubuh mereka yang unik yakni tulang tarsal memanjang sehingga mereka dapat melompat hingga sejauh 3 meter.

tarsius belitung
Tangkasi dalam salah satu konservasi di Belitung. Iba melihatnya terkurung dalam kandang, pasti stress ia dengan kerumunan manusia di dekatnya T_T

Kembali ke Batuputih.

Pohon beringin (Ficus sp) ataupun beringin pencekik yang berongga-rongga adalah tempat tinggal favorit tangkasi. Petugas jagawana bilang tangkasi yang hidup di pepohonan tinggi ini adalah golongan ningrat, sedangkan kaum ploletar alias rakyat jelata biasanya bermukim di liana-liana (tumbuhan rambat).

Berhubung tangkasi adalah hewan nocturnal alias berkegiatan di malam hari, maka siang itu kami sebisa mungkin tak membuat suara selama berada di dekat kediaman mereka. Satu rongga pohon biasanya ditempati bertumpukan 2-3 ekor tangkasi. Mata mereka bulat membelalak, konon sebesar itu pulalah ukuran otaknya. Ukuran tubuhnya mungil, mungkin seukuran genggaman tangan.

Cuteness overload.

Baca juga: Wawancara Imajiner: Tangkasi

tarsius royal family
Mengintip tangkasi dari golongan royal family

Satwa Endemik Lainnya di Batuputih

Baru kali ini saya masuk hutan yang masih dekat kota namun bisa dengan mudah menjumpai aneka satwa di dalamnya. Selain yaki dan tangkasi, tercatat perjumpaan kami dengan beberapa jenis burung (konon ada pula rangkong dan paniki/kelelawar di sini), kuskus (sejenis musang), sarang tawon besar, dan bersyukur tidak ada meet & greet sama gonone. Alhamdulillah!

Kunjungan kami berakhir di tepi pantai, menjumpa tukik di penangkaran dan umang-umang di pasir hitam, dan menyapa buah bitung (Barringtonia asiatica) asal nama kota Bitung. TWA Batuputih memang memesona.

birdwatching
Birdwatching bisa jadi kegiatan menarik di TWA Batuputih
Ini lho penampakan buah bitung

Tahukah kamu, kekayaan alam Bitung ini tak hanya di Cagar Alam Tangkoko namun mencakup pula laut dan seisinya, seperti contohnya di Selat Lembah. Lain kali saya akan tulis pengalaman eksplorasi area ini. Pesona Indonesia memang tak ada habisnya.

Baca juga: Jelajah Panca Pesona Wisata Bitung

 

Disgiovery yours!

Pantai pasir hitam Batuputih
About the author

Travel Blogger

Leave a Reply