Road Trip 4/11 [3] Gunung Prau

Day 5

“SETIAP pagi embun beku jadi es.”

Bak merapal mantra, petugas posko Prau menjelaskan kondisi iklim selama beberapa hari terakhir di Dieng.  Bulan Juni hingga Agustus adalah masa terdingin di wilayah ini dalam setahun.  Dan suhu di puncak gunung bisa turun 3 hingga 5 derajat lebih rendah daripada suhu di dataran.

Puncak gunung Prau berada pada ketinggian 2.565 mdpl. Dataran Tinggi Dieng sendiri sudah berada di ketinggian 2 ribu mdpl, berarti kasarnya kami tinggal menanjak setengah km lagi menuju puncak gemilang cahaya.

Pukul 2 dini hari, kami sudah berdiri di depan posko untuk mengecek temperatur sebelum pendakian. 3 derajat Celcius saja, saudara-saudara! Saya tak tahu mana yang lebih menantang dalam pendakian Prau ini, tanjakan curam dalam gelap atau suhu rendah yang mendekati titik beku.  Berbekal energi hanya dari setangkup roti berlapis Nutella pada saat sahur jam 1 dini hari.

Yakin bakal kuat berpuasa?

Saya–kami–sepertinya bahkan tak merisaukan hal tsb. Namun masing-masing tetap membawa air minum dan sedikit madu sachet. Apapun yang terjadi terjadilah. Intinya kami sudah berniat puasa sebelum berangkat.

Cahaya bulan berpendar lembut, menjadikan penerangan alami di jalur yang dilalui dan menciptakan siluet di bukit-bukit karang. Titik-titik cahaya di kedalaman lembah menandakan peradaban manusia di tengah kepungan gunung gemunung.

Lalu kenapa makin lama titik-titik cahaya itu berpendar dan berpusar.

Tunggu, ini bukan kelap-kelip lampu.

Tapi penglihatan saya berkunang-kunang!

***

Magnificent view overlooking Mount Sindoro-Sumbing-Merbabu-Merapi
Magnificent view overlooking Mount Sindoro-Sumbing-Merbabu-Merapi

Mencapai puncak Prau pada saat horizon merekah jingga. Pemandangan memukau, namun ada sesuatu dalam celana yang mengalihkan perhatian.

Ponsel saya.  Ia bergetar-getar dalam saku celana. Ia yang sudah mati suri selama berada di Dieng tiba-tiba diserbu notifikasi pesan masuk.

Mak, ada sinyal, Mak!

Si biru ternyata baru tertangkap sinyalnya di puncak gunung Prau.  Saya tertawa senang campur frustrasi.  Jadi saya harus bolak-balik naik turun gunung demi untuk menerima/membalas pesan gitu?

Malam hening menjelma pagi bening. Selaput gelap tersingkir oleh cahaya, menampakkan warna-warna keemasan.  Burung-burung mulai berkicau di lembah-lembah. Siluet gemunung pelahan menampakkan wujudnya. Sindoro, Sumbing, Merbabu, Merapi. Ingin rasanya punya kekuatan super yang bisa menapaki puncak-puncak mereka dalam sekali lompat.

Sejatinya pagi ini syahdu dan merdu, tapi tunggu dulu. Bukit di hadapan kami rupanya dipenuhi deretan tenda. Makhluk-makhluk bipedal mulai keluar dari sarangnya. Satu persatu jadi banyak. Lagak gaya dan gelak tawa. Riuh pagi di Prau.

Benderang fajar menampakkan pula apa yang ada di sekeliling kaki kami. Sampah-sampah kecil dan acak. Sobekan bungkus rokok, bungkus permen, bungkus kopi sachet, you name it.  Pasti ulah mereka yang belum paham konsep kebersihan sebagian dari iman.  Tidak mau tau atau tidak peduli.  Padahal traveler kekinian itu semestinya tidak membuang sampah sembarangan. Betul atau betul?

Walau matahari mulai bersinar, namun udara beku mulai berembus. Dinginnya sungguh tak terperi. Jari jemari terasa kebas. Sekali waktu saya membuka sarung tangan, dan serbuan dingin langsung menusuk-nusuk telapak tangan. Hidung kami mulai mengeluarkan cairan bening. Keempat lelaki pejalan ini sibuk mengingsrut ingus sambil menggigil.

“Ini lebih dingin dari puncak Rinjani,” sahut Bama.

“Ini lebih dingin dari musim dingin di Nepal,” sahut Bart.  Ia sibuk mengguncangkan kamera. Jarinya yang kaku berusaha untuk menekan tombol.

“Tapi masih lebih dingin hati yang beku,” ingin saya menyahut begitu, tapi takut tak lucu.

Meskipun tak ada embun es, tapi James menduga bisa jadi suhu sudah mencapai titik beku atau bahkan minus.  Tak sangka akhirnya bisa mengalami sendiri rasanya berada di suhu nol atau bahkan minus. Di negeri sendiri malah.  Di sisi lain, udara dingin membuat kami tak merasakan haus. Padahal saya yakin kami sempat berkeringat banyak pada saat pendakian tadi.

Kami terhanyut dalam keheningan masing-masing. Berada dalam semesta yang demikian indah kadang membuat manusia tak berkata. Dan saya senang, karena di antara kami berempat tak ada yang sibuk dengan gawainya untuk sekadar update status. Alam raya di sekeliling kami sungguh agung.  Megah. This is too good to be missed!

Jumping high against the freezing cold. Prau, you're awesome!
Jumping high against the freezing cold. Prau, you’re awesome!
Memintas bukit Teletubbies yang menguning. Di musim penghujan pastilah bukit-bukit ini menghijau permai.
Memintas bukit Teletubbies yang menguning. Di musim penghujan pastilah bukit-bukit ini menghijau permai.
Open up your heart and let the sunshine in
Open up your heart and let the sunshine in

Perjalanan turun melintasi bukit-bukit Teletubbies yang semalam cuma siluet. Ilalang menguning, langit membiru, pepohonan meranggas. Perjalanan pulang ini semestinya mudah, tapi saya malah merasa lebih jauh dan lebih lama. Sinar matahari pagi membuat saya bisa melihat jalur yang kami daki dini hari tadi. Bukan main ada beberapa jalur yang curam tanpa bonus. Pantas saya sempat keliyengan pada saat awal pendakian, beruntung berkat madu sachet, energi saya pulih (atau sepertinya memang kurang sahur sih, hahaha!).  Hebatnya ketiga teman saya seperti tak kehilangan stamina. Pasti mereka minum purwaceng deh, pasti! 😉

Jadi di kawasan Dieng dan sekitarnya terdapat tumbuhan khas yang disebut purwaceng.  Tanaman ini konon berkhasiat menambah stamina pria, khususnya vitalitas. Dijual dalam bentuk serbuk, lazimnya dicampur teh atau kopi.

Selain purwaceng, ada pula carica (baca: karika), semacam buah mirip pepaya namun berukuran lebih kecil.  Pepaya gunung ini mudah ditemukan di dataran tinggi Dieng, di sela ladang kentang hingga tepian telaga. Carica biasa dijual dalam bentuk manisan, dikemas dalam plastik atau botol kaca.

Keluar dari hutan kami menjumpai perkebunan sayur warga di lereng-lereng bukit. Melintasi tanaman kentang, wortel, kubis, dan pepohonan carica. Saya tak sempat mencari tahu seperti apa penampakan tumbuhan purwaceng itu.  Lalu ada pula pupuk-pupuk dalam karung.  Motor tua yang meraung-raung menyusuri pematang kebun.  Petani-petani yang tersenyum ramah.

Akhirnya setelah sekitar 3 jam berjalan kaki turun gunung akhirnya tiba jua kami di hotel. Sebelum check out kami manfaatkan waktu tersisa untuk zzzzz…

***

Us pretending to be the road trip fellows from the movie Zindagi Na Milegi Dobara
Us pretending to be the road trip fellows from the movie Zindagi Na Milegi Dobara

Road trip ideal saya adalah seperti dalam video klip Khaabon Ke Parinday yang diambil dari cuplikan film Zindagi Na Milegi Dobara (2011). Berkendara menyusuri jalan berkelok-kelok di lereng gunung dimana mentari cerah bersinar sungguhlah gambaran ideal seperti dalam video klip tadi. Sayang kereta hitam kami bukan model convertible. Tapi tak apa, alunan musik yang mengalun di dalam mobil dapat mengantar khayal. Kami tengah dalam perjalanan dari Dieng ke Wonosobo.

Udein, khule aasaman mein khwabon ke parindey
Udein, dil ke jahaan main khaabon ke parinday

Bersenandung kami walau lidah tak berlisan Hindi. James yang notabene berbahasa Kanton pun turut suka dan mengulang lagu soundtrack kami. Terjemahan bebas lirik lagu tadi seperti ini:

In the open sky, fly the birds of dreams
In the land of heart, fly the birds of dreams

Dan ingin rasanya saya terbang di atas pegunungan ini.

Dari sub benua Hindi mari kembali ke gugusan pulau Hindia Belanda. Jawadwipa dengan Yogyakarta. Ia menyenandungkan lagu legendaris KLA Project.

Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu

Lagu yang adem ayem ini sungguh kontras dengan panas terik dari langit.  Perjalanan Wonosobo – Yogya tak ada aral melintang. Tapi memasuki tujuan akhir, spanduk-spanduk panas bertuliskan ‘Tolak Sabda Raja’ tampak terpampang di persimpangan-persimpangan jalan di kota. Sri Sultan HB X memang memancing kontroversi tatkala menunjuk putri sulungnya sebagai pewaris tahta keraton Yogyakarta. Tampaknya masalah gender jadi isu utama.  Tapi bukan kapasitas kami untuk membahasnya di sini.

Senyum mbak Tutik nan ayu tampak meneduhkan. Perempuan ini menyambut kami di Marades Sweet House, rumah modern minimalis ala townhouse yang akan kami inapi selama berada di kota ini.  Akomodasi ini akan saya ulas nanti, intinya adalah sungguh keputusan tepat untuk menginap di Marades. James memang jagoan mencari tempat yang homey, nyaman, dan yang penting sesuai anggaran.

Satu agenda menyenangkan selama road trip bulan puasa ini adalah menentukan hendak buka puasa apa dan dimana. Betul-betul-betul, ternyata kami masih kuat berpuasa hari ini meskipun sempat memuncak gunung Prau dan langsung turun kembali dalam satu trip.

“We need to pamper ourselves,” demikian saya berkilah sambil memikirkan menu yang tepat untuk buka puasa.  Yogyakarta punya gudeg, sate klatak, oseng mercon, hingga sengsu (OK, yang terakhir bolehlah dicoret ;)). Dan kami mengidamkan sesuatu yang segar, otentik, dan nyaman manja di lidah (nyaman manja? istilah apa itu?).

Sushiiiiiiiiii
Sashimiiiiiiii

Jangan salahkan kami jika hasil rapat internal tanpa interupsi ini akhirnya mengesahkan tujuan menuju sebuah gerai sushi di Jl. Gejayan. Salmon fillet yang lembut menyatu dengan wasabi dan kecap ikan. Acar jahe dan harum ocha. Halo bayi gurita yang ginak-ginuk, halo ubur-ubur yang lunak kenyal. Rasanya sungguh penebus sempurna atas kegiatan hari ini.

Jadi jauh-jauh ke Jogja cuma buat makan sushi?

Hmmm, daripada jauh-jauh ke gunung cuma buat nyampah?

Sushi Smile!
Sushi attack!

 

NEXT on Road Trip 4/11:
Bersilat lidah dengan para raja

PREVIOUSLY on Road Trip 4/11:
Menuju Dieng, menjumpai Teletubbies

Video Road Trip 4/11:
Klik di sini untuk melihat video highlight perjalanan kami 🙂