Drama Salah Rumah | Kisah Pulang Kampung ke Cianjur Selatan

KARANTINA wilayah akibat pandemi Covid-19 memang membuat kami menghabiskan sebagian besar waktu di kediaman saja. Kalau sudah ‘mati gaya’ di rumah terkadang angan saya mengembara ke bukit-bukit, ke desa-desa mungil di pedalaman, ke kabut halimun dan kanopi hutan.

Salah satu kenangan yang menyeruak adalah desa tempat tinggal kerabat kami di desa Sindangsari, kecamatan Sukanagara, kabupaten Cianjur (sekitar 3 jam perjalanan berliku dari kota Cianjur menuju selatan). Wilayahnya yang terpencil namun permai ini tampak ideal dijadikan tempat menyepi.

Sejak kecil sudah beberapa kali kami bertandang kesana, dan kunjungan terakhir kami (setelah absen lebih dari 2 dekade) adalah setahun sebelum virus Corona datang. Abaikan polemik mudik atau pulang kampung, yang penting kita berangkat walau ke kampung halaman orang 😀

desa sindangsari kecamatan sukanagara
Jalan masuk ke desa Sindangsari tempat kerabat kami tinggal

Menuju Cianjur Selatan

Bubur ayam KDP Cianjur menyemarakkan pagi di perbatasan kota menuju wilayah kabupaten. Kekentalan dan tekstur bubur nasinya pas dan masih panas mengepul, suwir daging ayamnya royal, kuah kaldu lezat, taburan kerupuk bawang warna-warni, ditemani 1-2 tusuk sate ati ampela, beuh nikmat dunia Cianjur!

Perjalanan menuju selatan berlanjut. Alun-alun kecamatan Sukanagara bisa dibilang pusat peradaban terakhir sebelum penampakan rumah penduduk mulai langka.

Jalanan mulai berkelok-kelok dengan pemandangan alam indah kehijauan. Udara perkebunan teh terasa sejuk segar sehingga kami mematikan AC mobil dan membuka jendela lebar-lebar. Tiga jam perjalanan dari kota Cianjur, kendaraan pun akhirnya tiba di desa idaman.

Kedatangan kami disambut hujan, dan fakta bahwa rumah kerabat kami sudah pindah!

bubur ayam cianjur selatan
Bubur hayam Cianjur meni raois pisan euy!
kebun teh cianjur selatan
Perkebunan teh mendominasi pemandangan
sungai tepi jalan cianjur selatan
Rehat sejenak di sisi sungai sembari menikmati indahnya pemandangan

Rumah Kecil di Lereng Bukit

Rumah kayu sederhana di lereng bukit dengan pekarangan luas berumput. Di sinilah kerabat kami sekarang tinggal, dan ternyata hanya berpindah beberapa puluh meter dari kediaman sebelumnya. Kami tak diberitahu akan hal ini, sehingga sempat dibuat kelabakan saat tiba di rumah yang salah, hahaha!

Beruntung kami langsung menemukan rumah setengah panggung ini. Sambutan hangat dan peluk erat dari aa Beni & teh Yanti, sang tuan rumah. Nasi liwet terhidang. Teh dan kopi (fresh dari penggilingan) dijerang. Udara sejuk dan hujan rintik membuat kami menghabiskan sisa waktu hari itu dengan bermalas-malasan.

Malamnya langit menyisakan mendung tanpa bintang. Angin dingin, serangga ramai berderik. Nyaman rasanya bercengkerama di beranda rumah sembari menyesap teh/kopi panas dan mengenang masa kanak-kanak ketika kami takut akan keberadaan desa bunian di dekat hutan.

Ia di sana… nun di antara perbukitan gulita tanpa titik cahaya.

rumah kecil lereng bukit
Rumah kecil di lereng bukit
minum teh
Leyeh-leyeh sambil minum-minum (ini sebelum saudara kami menyuguhkan teh tubruk asli sedap nikmat)
tidur siang
Boci dulu meluruskan punggung

Pagi nan Magis

Sunrise dini hari penuh kabut, tampak magis! Bola matahari seperti berpendar di punggung bukit, cahayanya menerobos di sela bayang pepohonan, menerpa lembut titik-titik uap air yang melayang di lembah perbukitan. Andai pemandangan ini terpampang nyata setiap hari dari jendela rumah sendiri.

Risol panas dan sambel kacang serta donat topping keju dan meses jadi teman kami pagi ini menikmati sunrise. Bukan, ini bukan menu sarapan, karena teh Yanti sedang sibuk di dapur menyiapkan segala sesuatunya.

Baca juga: Wisata Kuliner Puncak (Bopuncur)

Sambil menunggu waktu kami pun menyempatkan diri berjalan kaki di jalan kampung, memintas kebun teh, dan muncul di jalan berliku menuju Kadupandak. Tiga jam berkendara dari sini kau akan tiba di pantai selatan. Tapi tidak kali ini, mungkin lain kali.

sunrise cianjur selatan
A breathtaking sunrise view over the hills
jalan cianjur selatan
Cianjur selatan jalannya berkelok-kelok
menu sarapan
Menu pembuka pagi, yummy!

Mandi di Sungai

Agenda utama tiap menginap di sini adalah mandi di sungai.

Butuh waktu sekitar 30-40 menit berjalan kaki menyusuri bukit untuk tiba di destinasi. Pemandangan di sekeliling tentu saja menyejukkan mata, ijo royo-royo. Para keponakan balita tampak semangat jalan kaki menikmati suasana. Tinggal kami saja kaum jompo yang terengah-engah karena jalan menanjak, hahaha!

Kami berangkat menjelang tengah hari, namun air sungai masih saja sedingin air kulkas. Tapi mandi-mandi mah jalan terus tanpa kecuali. Sesekali mata saya memindai sekeliling, memeriksa supaya tak melihat penampakan batu pipih yang konon jadi tempat mandi kaum lelembut (demikian cerita masa kecil yang masih membekas). Beruntung masih dilindungi.

mandi di sungai
Tim mandi di sungai mana suaranyaaa???
mandi basah
Main air memang asyik, asal jangan main hati, hahaha!

Mendaki Bukit Lewati Lembah

Dini hari berikutnya sunrise view tampak megah dengan rona jingga berlatar langit biru gelap. Cuaca hari ini tampaknya bakal cerah, sayangnya kami harus pulang nanti siang. Tak apa, masih ada bukit di belakang rumah yang menanti untuk didaki pagi ini.

Kami pun trekking tanpa tujuan pasti, kaki hanya melangkah mengikuti jalur yang ada memintas punggung bukit, dan kembali setelah lelah. Lembah di kedua sisi terhampar hijau, ladang-ladang petani berundak-undak. Langit biru cerah.

Sesekali sepeda motor melintas dengan membawa berkarung pupuk, raungan mesinnya terdengar dari jauh ketika ia menanjak. Sungguh dibutuhkan keahlian mengemudi tersendiri karena trek yang sempit, licin, dan curam. Selain itu yang terdengar hanyalah bunyi kicau burung dan derik serangga.

sunrise view
Another magical sunrise moment
trekking
Jalan sehat mendaki bukit
puncak bukit
Puncak bukit, dan keponakan sudah kecapekan 😀

Pasti Kembali Lagi

Aa Beni dan teh Yanti melepas kepulangan kami di depan pabrik teh. Oya, kami sempat berkunjung ke dalam pabrik tsb malam sebelumnya, namun tak bisa berlama-lama karena keponakan mendadak pada rewel minta lekas keluar. Mereka pasti melihat sesuatu di dalam pabrik malam itu, hahaha!

Walau bagaimanapun kami pulang dengan membawa sesuatu dari pabrik: berbungkus teh tubruk kemasan. Dan juga kenangan indah akan liburan menyenangkan di desa Sindangsari, kecamatan Sukanagara, kabupaten Cianjur.

Lain kali kami pasti kembali, bahkan ingin bisa meneruskan perjalanan hingga pantai selatan. Insya Allah!

Disgiovery yours!

desa permai cianjur selatan
Ini gambaran ideal saya tentang desa permai khas Pasundan ala Cianjur Selatan
About the author

Travel Blogger

Leave a Reply