Kuliner Buteng | Selalu Ada Alasan Lapar dan Lapar Lagi

KULINER BUTENG telah menggoyang lidah saya dengan sumber karbohidrat yang berasal dari umbi-umbian (sesuai dengan kondisi alam di sana). Ditambah lagi dengan sajian hidangan laut yang selalu segar.

Sudah terbukti umbi-umbian memang bisa diolah jadi sumber karbohidrat yang lezat, contohnya kasuami atau sinole. Dan saya sudah buktikan sendiri kalau ikan kuah kuning lebih mantap disantap dengan kasuami.

Berikut ragam kuliner Buteng yang sempat kami nikmati selama trip #XplorButeng lalu bersama Ayo Jalan-Jalan dan Dinas Pariwisata Kab. Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. Mohon beri koreksi misal terdapat kesalahan nama/deskripsi. Nasi minggir dulu, ya!

kuliner buteng rumah jabatan
Jamuan istimewa di Rumah Jabatan Bupati Buteng meliputi antara lain kapinda, lapa-lapa, colo-colo, dan cumi item

Hidangan Pengganti Nasi

  • Kasuami, pengganti nasi terbuat dari ubi kayu yang digiling dan diperas, lalu dibentuk kerucut segitiga. Rasanya ringan dan tak bikin kembung, juga rendah kalori jadi cocok pula untuk diet. Kasuami ada yang berwarna putih, kecoklatan (dicampur kelapa sangrai), atau coklat kehitaman (dibuat dari singkong yang direndam air laut dan dijemur beberapa hari, kerap disebut hugu-hugu).
  • Sinole, ubi tumbuk campur kelapa lalu disangrai, rasanya mirip kasuami hanya tekstur lebih padat, dan lebih sedap disantap dengan makanan berkuah.
  • Kapusu, semacam bubur jagung yang diberi santan, tekstur lembut berwarna putih, sekilas mengingatkan pada jagung bose khas NTT.
  • Lapa-lapa, semacam lontong terbuat dari beras dan santan yang dibungkus daun kelapa/janur, rasanya gurih sedap dengan tekstur lembut dan agak lengket.
lapa lapa
Kapusu dan lapa-lapa
kasuami
Kasuami a la sultan Buteng: disantap dengan ikan asin dan dicocol sambal

Lauk & Sayur

  • Ikan parende, semacam ikan kuah kuning bening, dengan citarasa masam dari jeruk nipis & belimbing wuluh. Saya paling suka jika diberi tambahan daun kemangi seperti olahan juru masak di Rumah Jabatan. Bahan utama parende yang lazim digunakan ialah ikan laut segar.
  • Ayam parende, daging ayam kampung yang dimasak parende, rasa kuah kaldunya lebih gurih, dan hidangan ini hanya kami temui di Kec. Mawasangka.
  • Kapinda, ikan cakalang yang dimasak menggunakan asam jawa dan kelapa sangrai sehingga kuahnya berwarna kecokelatan.
  • Tumis bunga pepaya, ada dimana-mana dengan citarasa gurih pahit dan tekstur renyah, saya doyan!
  • Sayur bening, biasanya terdiri dari daun kelor dan jagung, atau paduan labu dan bayam, dengan kuah terasa ringan di lidah. Entah kenapa sayur bening di sini enak-enak, mungkin faktor airnya.
  • Colo-colo, sambal segar yang terbuat dari tomat, lombok, dan terasi, dan paling mantap disantap bersama ikan bakar.
parende
Penampakan parende ikan laut segar kesukaan saya
kapinda
Kapinda (kiri atas) berwarna kecoklatan karena dimasak dengan asam jawa & kelapa sangrai

Sajian Manis

  • Lantak, semacam dadar gulung terbuat dari tepung ubi/beras, dimasak tanpa minyak, lalu diberi gula merah dan dilipat. Serius ini enak apalagi disantap hangat-hangat, gulanya langsung meleleh di mulut.
  • Kadampi, bahan bakunya hampir serupa dengan lantak, hanya saja ia dipenyet dan dibungkus daun pisang lalu dipanggang. Begitu dibuka, aroma harum daun pisang menambah citarasa.
  • Tuli-tuli, terbuat dari adonan singkong parut dan ragi yang dibentuk menyerupai angka 8 lalu digoreng dan dicocol sambal masam, teksturnya mirip gemblong hanya tidak manis.
  • Epu-epu, terbuat dari tepung ketan yang diisi dengan kelapa muda dan gula merah. Jujur saya terlewat mencicipi ini saking banyaknya hidangan yang tersaji di Wisma Thisya siang itu. Tapi memang tampak enak.
  • Saraba, terbuat dari jahe bakar, gula merah, dan santan, sekilas mirip bandrek namun lebih kuat rasa jahenya. Saraba ini jadi minuman favorit kami apalagi kalau diminum panas-panas di malam hari!
kadampi
Kadampi mirip martabak mini. Pic by @lenny.diary
kuliner buteng
Lantak yang bisa bikin luluh lantak karena enak

Cicip Kuliner Buteng di Mana

Privilege kami pada saat kunjungan ke Buton Tengah adalah dijamu hampir setiap hari di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati sehingga bisa menikmati ragam kuliner Buteng yang dimasak oleh juru masak jempolan.

Namun kami juga berkesempatan mengisi perut di beberapa lokasi berikut:

  • Wisma Thisya, penginapan merangkap restoran di pesisir Mawasangka. Jujur makanan di sini ENAK-ENAK semua, konon juru masaknya memang pernah bekerja sebagai hotel chef. Hidangan tradisional hingga oriental tak ada yang gagal. Kepiting dan lobster-nya manis, ayam parende-nya jagoan!
  • Kedai makan tak bernama di kawasan Mawasangka, menghidangkan masakan lokal rumahan seperti sinole dan parende, dimana kami juga mencicipi lantak untuk kali pertama di sini.
  • Findi Hotel, penginapan merangkap restoran di kawasan Lakudo. Kita bisa menyantap masakan a la rumahan sambil menikmati view ke arah pantai dari ketinggian.
  • RM Inang, tempat kami menyantap hidangan nasional seperti ayam penyet, tahu, sambal, dan lalap. Sop pendamping yang berisi irisan wortel, kol, dan seledri sungguh terasa simpel dan menyegarkan.
findi hotel lakudo
Parende a la Findi Hotel dapat dinikmati sembari melihat pemandangan pantai dari ketinggian
mawasangka
Makan siang tradisional a la Wisma Thisya di Mawasangka: tumis bunga pepaya, ayam parende, kasuami, dan kepiting juga lobster

Selain itu masih ada pula kuliner Buteng versi jajanan jalanan seperti pentol, risol, atau tahu isi. Pentolnya enak bikin nostalgia semasa sekolah. Khusus risol dan tahu isi di sini sudah pasti diisi bihun dan cacahan wortel. Lupakan bakwan, karena tak ada gorengan semacam itu di Buteng.

Baca juga: Selamat Datang di Buteng Negeri Seribu Gua

Oleh-oleh khas Buteng sendiri biasanya berupa olahan kacang mete dan rumput laut. Kami sendiri sempat menyambangi para petani rumput laut di pantai Wantopi dan mendatangi salah satu pabrik pemilahan kacang mete di Teluk Lasongko. Kacang mete ini nantinya dikemas sebagai oleh-oleh khas Buton, dan bisa dibeli di kota Baubau dalam ragam rasa seperti salted, sweet, original, garlic, hingga brown sugar.

Tunggu, kenapa perut jadi lapar lagi? Kasuami dan parende, come to papa!

 

Disgiovery yours!

About the author

Travel Blogger

Related Posts

2 Responses
  1. Lanjut ke postingan ini yang khusus bahas makanan Buteng! 😀
    Dari tampilannya, lapa-lapa mirip lepet/leupeut ya kalau di pulau Jawa. Beberapa nama makanan di Buteng ini juga ada yang sama dengan yang aku coba di Maluku dan Maluku Utara. Jadi penasaran pengen coba, rasanya apa mirip atau justru beda sama makanan dengan nama sama di dua provinsi yang aku sebutin.

    1. Sumuhun, leupeut pisan, kang! Tapi kalau lapa-lapa tidak begitu lengket, dan tidak memakai kacang merah.

      Konon menurut sahibul hikayat, Buton ini masih satu trah dengan Jailolo, Ternate, Tidore, jadi wajar kalau banyak kemiripan nama/kuliner 🙂

Leave a Reply