Gunung Krakatau & Hikayat Sangkakala

“CERITAKAN padaku tentang Gunung Krakatau.”

Sang sahibul hikayat menatapku lekat sebelum bertanya kemudian. “Apa yang ingin kau ketahui?”

Duduk di dekatnya segera kuambil tempat. “Tentang legenda, dan hal-hal yang berkaitan dengannya.”

Sambil tersenyum, ia pun mulai bertutur…

NUN pada masa kala manusia masih muda, tersebutlah sebuah gunung besar nan agung bernama Krakatau Purba.  Tingginya menjulang hingga sekian ribu depa.  Batara Brahma menaruh sangkakala di dalam kawah Krakatau Purba teriring wasiat agar sangkakala itu tak tersentuh hingga akhir zaman.

Krakatau Purba menuruti titah sang baginda untuk menjaga sangkakala.  Namun jauh di dalam rongga-rongga yang berkelindan dalam bumi, dimana hanya merah yang bergolak, menggelegaklah dorongan kuat untuk menyibak apa yang terpendam.  Sekuat tenaga Krakatau Purba bertahan, semakin besar rasa ingin tahunya.  Hingga ia akhirnya menarik napas panjang, dan satu hembusan udara tanpa diduga menerpa sangkakala.

Apa yang terjadi?

Sangkakala bagai menjerit kencang. Bumi gonjang-ganjing.

Jika ada istilah ‘gunung bagai terlempar’, maka demikianlah adanya.  Krakatau Purba terlontar ke udara, demikian dahsyat hingga seluruh tubuhnya tercerai berai.  Luluh lantak ia tinggal kawah.  Darahnya tumpah ruah memisahkan  Jawadwipa dengan Suwarnadwipa.  Serpihan-serpihan tubuh yang tersisa menjelma sebagai pulau-pulau penjaga kawah: Rakata, Panjang, dan Sertung.

gunung krakatau pulau panjang
Pulau Panjang
pulau rakata
Pulau Rakata

Seribu saka berlalu.

Rakata tak sendiri menjaga sangkakala. Dua adiknya telah muncul, Danan dan Perboewatan.  Ketiganya adalah puncak gemunung di satu pulau Krakatau yang baru. Sementara pulau Panjang dan Sertung tetap mengawal mereka dalam bisu. Danan dan Perboewatan kerap bertanya gerangan apakah benda misterius yang mereka lindungi di bawah sana. Rakata yang bijak bestari kerap mengingatkan bahwa sangkakala tak patut diusik sebagaimana wasiat Batara Brahma.

Danan dan Perboewatan yang berdarah muda tampak tak jeri. Perselisihan terjadi dengan Rakata. Ketiga puncak itu saling menggeram dan menggetarkan alam sekitar. Gelombang suara mereka memantul dalam rongga-rongga bumi, menerpa sangkakala.

Bisa ditebak apa yang kemudian terjadi.

Sekali lagi selat Sunda terguncang hebat.

Jeritan sangkakala merambah benua.  Danan dan Perboewatan hancur lebur jadi debu.  Repih.  Angin menabur abu mereka ke penjuru bumi.  Krakatau nyaris musnah.  Rakata tinggal tersisa sepertiga, membisu dalam sesal tak berkesudahan seperti Panjang dan Sertung yang bergeming.

gunung krakatau pulau panjang
Pulau Panjang dalam sinar pagi
gunung krakatau pulau rakata
Pulau Rakata dilihat dari puncak Anak Krakatau

Tak sampai sepuluh dasawarsa kemudian, Anak Krakatau terlahir dari kawah di dasar laut (manusia mencatat pemunculan pertamanya pada tarikh 1927 Masehi).  Ia terus tumbuh dan berkembang hingga kini, dikawal oleh Rakata, Panjang, dan Sertung.

Anak Krakatau anak yang manis, meski kala ia terbatuk-batuk selalu saja membuat manusia cemas. Semoga dirinya kelak tak berulah seperti para pendahulunya.  Biarlah kenanga & semanggi tumbuh mengganti setanggi yang luruh.  Biarkan sangkakala bersemayam di tempatnya hingga akhir zaman.

gunung krakatau
Pulau Anak Krakatau bisa dibilang Gunung Krakatau baru yang mulai bangkit
gunung krakatau
Pulau Anak Krakatau dalam sinar senja

Baca juga: Panduan Jelajah Krakatau

Disgiovery yours!

gunung anak krakatau
Mendaki puncak anaknya Gunung Krakatau
gunung anak krakatau
Batas aman pendakian, dilarang mendaki hingga puncak karena berbahaya
gunung anak krakatau
Pohon-pohon mati menciptakan ilusi dunia lain di seputar puncak Anak Krakatau

note: foto fitur Gunung Krakatau diambil dari Library of Congress

About the author

Travel Blogger
8 Responses
    1. Fakta campur dongeng biar gak membosankan bacanya 😉
      Sepertinya kak Hal berkunjung seminggu sebelumnya deh, waktu lagi rame2nya Festival Krakatau. Untung waktu kami ke sana sudah sepi dan sudah bersih 🙂

  1. Tulisan lama. Baru baca. Asik ah diksinya.
    Koreksi dikit, kalau tak bergeming itu yang dimaksud “tidak bergerak” malah kebalik. Karena justru geming itu artinya diam.
    Jadi tak bergeming itu justru berarti bergerak.

Leave a Reply