Kepada Gunung-Gunung Yang Dicuri

gunung Salak

disgiovery.id

ADA satu masa ketika hutan-hutan masih lebat dan sungai-sungai masih deras, ketika pepohonan dan bebatuan masih banyak dihuni lelembut, ketika manusia masih patuh pada alam serta belum mencuri gunung-gunung.

Ada satu masa ketika raja-raja bertahta di Pakuan Pajajaran, ketika ibukota kerajaan dibentengi oleh lembah besar dan tebing-tebing sungai yang terjal, ketika gunung-gunung belum dicuri dan masih mengapit dengan gagah.

Ada satu masa ketika pemerintah kolonial menyebut wilayah ini Buitenzorg, ketika lereng sungai dan lembah besar mulai didiami, ketika kebun besar mulai dipelihara dan gunung-gunung tetap dijaga.

Ada satu masa ketika kebun besar menjadi raya, ketika Buitenzorg menjadi Bogor, ketika masih ada aturan yang melarang bangunan-bangunan manusia menghalangi pemandangan alam ke arah gunung-gunung.

Ada satu masa ketika saya menjadi bagian darinya, ketika seragam sekolah masih pas di badan, ketika gunung-gunung masih terpampang megah di sisi jalan, ketika lembah besar berkelap-kelip tiap malam bak kunang-kunang.

***

Ada satu masa ketika saya berada di dalamnya namun separuh hati tak ingin menjadi bagian darinya.  Masa kini.  Ketika gunung-gunung dicuri.

Duh Gusti Gede, Pangrango, dan terutama Salak, maafkan hamba yang tak berdaya.

Kesejukan yang berhembus dari gunung-gunung menjadikan kota ini ideal untuk berpesiar. Mari-mari, hiruplah udara bersih kebun raya, ciciplah sedap segar jajanan lokal, kunjungilah tempat belanja kesukaan, bawakanlah buah tangan bagi sanak kerabat.

Syahdan, berduyun-duyunlah para pelancong mencari pelesiran di kota ini.  Para pembesar dan saudagar tentu senang.  Lalu dikeluarkanlah peraturan ini-itu.  Lalu dibangunlah sarana ini-itu.  Kami rakyat pun turut senang, tapi ada kalanya tumbuh kembang tumpang tindih juga bikin tak nyaman.

Ini bukan tentang mata air yang disedot atau hutan lindung yang dibabat atau daerah resapan air yang dibeton atau sawah ladang yang diuruk jadi pemukiman atau pejalan kaki yang kocar-kacir diklakson tunggangan beroda empat yang kini punya akses masuk mondar-mandir di dalam kebun raya.

Ini tentang gunung-gunung yang hilang dari pandangan.

Mungkin kau tidak tahu, atau mungkin mereka tahu tapi tak peduli, bahwa di balik segala bangunan kafe, resto, karaoke, dan tempat usaha di sepanjang jalan Pajajaran di antara Sukasari dan Masjid Raya, terhampar sebuah lebak, lembah besar yang membentang luas hingga ke kejauhan, dimana kemudian bersimpuh di kaki tuan gunung Salak dengan puncak-puncak yang mendongak. Sebuah lukisan Tuhan yang megah dan indah.  Tapi kini tertutupi komplek-komplek ruko.

Tahukah kau, atau mungkin mereka sudah tahu tapi abai, bahwa di balik gedung mall yang dibangun di atas bekas pasar di ujung jalan Ir. H. Juanda kau akan mendapati gunung Salak dengan pemandangan matahari terbenam paling indah se-Bogor.

Bahwa di balik deretan ruko di jalan Jend. Sudirman kau akan mendapati lembah yang lain dengan latar belakang gunung kembar Gede-Pangrango yang megah kebiruan.

Bahwa tugu Kujang dan gunung Salak adalah satu kesatuan harmoni, sebelum sang gunung tersingkir oleh sosok gedung bertingkat dan berbintang yang dibangun dekat di sisi tugu dan bisa dibilang mengubah total pemandangan landmark kota.

Ada satu masa ketika semua pemandangan alam tsb pudar dari penglihatan.  Masa kini.  Ketika gunung-gunung dicuri.  Dan banyak yang tak menyadari.

gunung Salak dan ruko
ilustrasi pemandangan gunung Salak yang ditutupi bangunan ruko

***

Ada satu masa ketika kami bisa menikmati kemegahan alam raya dengan cuma-cuma, dalam perjalanan pergi ke sekolah, pergi ke pasar, pulang dari kursus, pulang dari kantor, di dalam angkot, di balik helm, atau sambil berjalan kaki, dimana kami tinggal menoleh pada satu sisi, dan mendapati gunung-gunung dan lembah-lembah terpampang luas di depan mata.

Dahulu gunung-gunung tampak begitu dekat dari dalam kota, tapi kini mereka seperti menghindar karena emoh dipunggungi tembok-tembok beton dan lampu-lampu neon.  Kau harus pintar mencari celah atau berada di pinggiran kota untuk dapat melihat pemandangan gunung-gunung secara utuh.

Untuk sementara ini saya punya titik pandang favorit untuk dapat melihat pemandangan 180 derajat dengan gunung Salak di sisi kanan dan gunung Gede-Pangrango di sisi kiri dengan leluasa.  Tapi saya tahu tak lama lagi titik pandang ini pun akan terhalangi oleh atap-atap perumahan baru (atau mungkin jadi komplek ruko).

Orang-orang zaman baheula tampaknya memang lebih selaras dengan alam.  Mereka membangun apapun disesuaikan dengan ketinggian tanah.  Jika kontur turun maka bangunan ikut turun, jika naik ikut naik. Sementara orang-orang zaman ayeuna membangun apapun disesuaikan dengan ketinggian jalan raya. Jika jalan raya terletak di sisi lembah maka akan dibangun tiang-tiang beton yang menyangga komplek bangunan supaya tetap sejajar dengan jalan raya.  Akibatnya pemandangan ke arah lembah pun tertutup.

Awalnya saya kira bangunan-bangunan itu tetap mempunyai jendela besar tembus pandang yang menghadap ke arah lembah dan gunung.  Tapi ternyata cuma harapan semu, karena setelah menyambangi beberapa toko & resto tsb untuk mencari tahu, yang saya dapati hanya dinding tertutup hingga langit-langit. Patah hati saya.

Lupakan saja UU Agraria yang mengatur hak atas tanah supaya tetap mempunyai fungsi sosial.  Peduli setan dengan aturan klasik yang melarang ketinggian bangunan menghalangi pemandangan ke arah gunung.  Yang penting wilayah komersil bertambah dan transaksi ekonomi berjalan lancar.  Walaupun rakyat jadi kurang piknik gratis.  Karena gunung-gunung mereka dicuri.

***

Apakah pariwisata harus melulu berhubungan dengan pundi-pundi?  Bagaimana halnya dengan harmoni alam, berupa ketenteraman dan kedamaian?

Pernahkan kau terbangun pada suatu pagi yang dingin di kota kami namun disambut hangat oleh kicauan cangkurileng, bincarung, atau docipret yang hinggap dari dahan ke dahan?  Pernahkah kau bebas menapaki bebatuan di aliran sungai yang berasal dari curug-curug di lembah gunung tanpa harus membayar biaya ini-itu di gerbang masuk?  Pernahkah kau jalan berdua di sisi kebun raya pada suatu senja dan terperangah melihat kepak-kepak ratusan kelelawar yang muncul dari balik pucuk pepohonan, terbang tinggi ditimpa cahaya matahari terbenam?  Pernahkah kau menghentikan langkah di tepi jalan Pajajaran pada suatu malam karena terpesona melihat kelap-kelip lembah besar berlatar siluet gunung Salak?  Sejenak kau kira itu adalah kawanan kunang-kunang yang sudah mulai jarang (dan kini hilang).

Bahwa sejatinya manusia adalah makhluk bebas yang mendamba keindahan alam raya.  Mereka selalu butuh dan mencari bidang pandang yang luas dan jauh.  Kota kami punya semua itu, tapi mengapa para pejabat seperti tak berminat melainkan membuat sekat-sekat.

Bayangkan kemacetan di jalan Pajajaran yang selalu dipenuhi kendaraan para wisatawan.  Sepanjang jalan tak ada yang bisa dilihat selain bidang-bidang persegi dua-tiga lantai yang menawarkan makanan dan hiburan yang butuh uang untuk menikmatinya.  Entah untuk membeli sandang atau menyantap pangan atau menyesap kopi atau berdendang di tempat karaoke. Semua disibukkan dalam semesta artifisial.  Semua dibuat lupa bahwa di balik ruko-ruko itu terdapat sebuah bidang pandang lukisan Tuhan yang megah dan indah yang sebenarnya bisa dinikmati oleh siapapun.  Dan rakyat cuma disuruh menatap tembok.

Pariwisata mungkin memang lekat dengan pendapatan dan pemasukan.  Wisatawan memang membawa duit, tapi jangan lupakan hak rakyat buat piknik, yakni menikmati alam raya secara cuma-cuma.  Setidaknya, kembalikan gunung-gunung kami.  Setidaknya, jangan curi lagi bidang pandang yang tersisa.

Kepada burung-burung, kunang-kunang, dan kalong-kalong yang hijrah

Kepada tugu Kujang yang tak lagi garang

Kepada curug-curug yang dirampas

Kepada gunung-gunung yang dicuri

Semoga semesta berkonspirasi membawa kalian kembali ke kota kami.  Bahwa sesungguhnya menikmati alam raya ialah hak setiap anak bangsa.

 

Disgiovery yours!

 

keterangan:
zaman baheula – zaman dulu
zaman ayeuna – zaman sekarang
cangkurileng – burung kutilang
bincarung – burung kepodang
docipret – burung srigunting hitam
kalong – kelelawar besar pemakan buah
curug – air terjun

38 Responses
  1. Gara

    Syahdu, sedih, haru, tapi ya, tak ragu, di situ, komersialitas pariwisata memang sedang menjadi candu.
    Saya suka tulisannya yang sederhana. Ah, rasa-rasanya pujian saya terdengar sangat biasa, tapi tulus, saya tahu apa yang Kakak ceritakan adalah sesuatu yang nyata.
    Semoga Ibu Pertiwi tetap memberi kasih bagi kita, anak-anaknya yang mulai berkhianat terhadap alam yang berada dalam pangkuannya. Apa pun bentuk kasih dan sayang itu 🙂

    Thumbs up. I’m speechless already reading this 🙂

    1. Matur suksma, bli Gara! Memang saya menuliskannya dibumbui sentimentil akan masa lalu, jadi mungkin terbawa haru & syahdu.

      Semoga tulisan ini dapat menyadarkan kita kembali betapa berharganya pemandangan alam raya yang bisa didapati dengan cuma-cuma namun tak ternilai harganya.

  2. Vote Badai for mayor! 🙂
    Minggu kemarin kebetulan saya juga memikirkan hal yang sama ketika melihat pemandangan gunung-gunung di Bogor sana yang terlihat dari lantai 17 kantor saya di daerah Sudirman; satu dari sedikit hari dimana pemandangan Jakarta tidak terlalu didominasi kabut asap yang pekat. Saya membayangkan di zaman dulu orang-orang di Batavia masih dapat melihat keagungan gunung-gunung nun di kejauhan sana. Tapi seiring waktu, sepertinya banyak yang mulai lupa bahwa di balik gedung-gedung tinggi menjulang yang saat ini mendominasi ibukota, ada pemandangan indah yang bisa menyejukkan mata dan menenangkan pikiran. Sebetulnya manusia itu butuh untuk terhubung dengan alam. Tapi ketika sudah dihadapkan dengan urusan uang, hal tersebut bisa dengan sekejap terlupakan. Sampai akhirnya semuanya menjadi ‘a little too long, a little too late’.

    1. Haha, and you be my publicist, Bama! Deal? 😉

      Betul sekali, bahkan kalau melihat sketsa-sketsa yang dibuat pada jaman Belanda, mereka selalu menggambarkan Batavia dengan latar belakang gunung Salak (dan terkadang Gede-Pangrango di kejauhan). Sebenarnya dari Jakarta sekarang masih bisa terlihat pemandangan itu setiap saat sih, asal gak ada polusi udara aja 😉

  3. tuh kan, tuh kan ..
    selalu suka sama tulisanmu, bang !
    membaca rangkaian diksimu, disini, semacam jatuh cinta dan miris, sekaligus. ihik ..
    anyway, titip salam buat gunung salak ya, bang. disana, selama 4 hari 3 malam saya pernah ditopang tanahnya dan dinaungi langitnya .. 🙂

  4. Baru tau kalau mobil punya akses masuk mondar-mandir di dalam kebun raya. Jadi inget kalau sudah lama sekali ga ke Bogor. 🙂
    Dulu, sahabatku masih suka bilang begini: Wah, sore nanti pasti hujan! Lihat aja awan di sana (aku lupa dia menunjuk puncak Gunung Salak atau Gunung Gede) – Bogor sekitar tahun 2003.

    1. Sebelumnya memang dilarang, tapi sekarang mobil bisa bebas mondar-mandir di dalam kebun raya (kecuali hari minggu). Tapi tetap saja mengganggu ketenteraman suasana dan kebersihan udara dan kenyamanan pejalan kaki :'(

      Ah, betul! Gunung Salak bisa dijadikan petunjuk cuaca, jika pada pagi/siang hari puncaknya tertutup awan maka bisa dipastikan sorenya bakal turun hujan.

  5. DhieDi

    As always.. Diksinya keren, kok nemuuu aja. Selesai dibaca, tulisannya selalu ‘membekas’..
    Sekarang bukan cuma di kota Bogor, yg pinggiran pun udah susah liat gagahnya Salak.. 🙁

    1. Didiiiii, kumaha damang?
      Wah betul juga, sekarang pun di pinggiran tol Jagorawi mulai banyak dibangun komplek perumahan baru. Padahal kan pemandangannya sudah alami ijo royo-royo berlatar gunung :’/

  6. Halo, kak ! Aku baru mampir di blog kakak, dan uh, tulisannya semua bikin iri >.< Iya kak, kadang suka sebel kalo pemandangan bagus di halangin bangunan tinggi. Apalagi kalo langit lagi bagus, cuma bisa dinikmatin setengah2 🙁

Leave a Reply