Kenangan Gunung Anak Krakatau (Kala Masih Ada Gunungnya)

ANAK KRAKATAU bisa dibilang masih kanak-kanak untuk ukuran gunung api (lahir pada tahun 1927), namun sungguhlah ia anak yang aktif melontarkan isi perutnya ke udara. Materi vulkanis yang berhamburan itu lambat laun membentuk kerucut gunung Anak Krakatau setinggi lebih kurang 300 meter.

Tak disangka dua kali kunjungan saya ke Anak Krakatau (tahun 2009 dan 2014) ternyata takkan pernah bisa diulang lagi karena lanskap yang kini berubah total sejak letusan terakhir pada Des 2018. Kerucut gunung hilang meninggalkan kenangan.

Anak Krakatau Pada Pandang Pertama

Sejak dini hari kami menempuh perjalanan laut sekitar 2 jam dari pulau Sebesi. Pagi datang seiring kapal kami memasuki perairan Cagar Alam Krakatau yang terdiri atas beberapa pulau. Lihatlah ia Anak Krakatau yang agung, berdiri diam di tengah-tengah, seakan adik bungsu yang dikelilingi kakak-kakaknya (Rakata, Panjang, dan Sertung). Inilah peninggalan letusan dahsyat Krakatau pada tahun 1883.

Baca juga: Krakatau dan Hikayat Sangkakala

Ternyata pulau Anak Krakatau ini sudah berhutan lebat pada sisi yang kami datangi. Sebuah sampan mengantar kami dari kapal menuju pantai yang berpasir hitam lembut. Lalu tiba-tiba terdengar bunyi letupan di udara seperti balon gas yang dikempiskan. Anak Krakatau bangun! Ia menyemburkan kepulan asap tinggi ke udara.

Alih-alih cemas, kami semua malah bersorak-sorai gembira, lalu sibuk mengabadikan gambar. Tak perlu takut karena status Anak Krakatau pada saat itu dalam kondisi normal, lagipula kedatangan kami pun didampingi petugas jagawana Cagar Alam Krakatau yang sudah lebih paham medan.

anak krakatau pantai anak krakatau anak krakatau meletup

Pendakian bisa menunggu, perut keroncongan harus dilayani lebih dulu. Kami membuka bekal yang dibawa dari Pulau Sebesi, lalu duduk beramai-ramai pada sebatang pohon tumbang di tepi pantai sambil menikmati sarapan (jangan katir, semua sampah bekal makan kami kumpulkan dalam satu wadah dan dibawa kembali ke kapal). Suasana pagi itu sungguh permai, ditingkahi bunyi letupan gunung di puncak sana.

Petugas jagawana yang ikut turun mendampingi kami (sebut saja pak Amir), tampak sudah tak sabar hendak memandu masuk ke dalam hutan.  Tampaknya beliau belum terbiasa menghadapi rombongan blogger merangkap foto model dadakan yang rajin selfie sana-sini. Segala batang pohon hingga papan informasi pun bisa jadi setting foto. Hahaha, sabar sebentar ya, Pak!

Oya, sebenarnya kunjungan ke cagar alam seperti Krakatau ini tak bisa sembarangan karena harus memenuhi beberapa persyaratan. Silakan baca panduannya pada tautan di bawah ini.

Silakan baca: Panduan Jelajah Krakatau

sarapan di pantai cagar alam krakatau dilarang masuk cagar alam krakatau

Pendakian Gunung Mordor

Jadi vegetasi di Anak Krakatau ini butuh waktu sekitar 75 tahun untuk bisa tumbuh lebat di sebagian sisi pulau. Keanekaragaman flora mencakup 206 fungi, 13 jenis lumut-lumutan, 61 jenis paku-pakuan (Pteridophyta), dan 257 jenis Spermatophyta. Fauna mencakup jenis tikus (Rattus) dan kalong (Megaderma), biawak, penyu, hingga ular, serta 40 jenis kelompok Aves. Beruntung kami tak menjumpai biawak atau ular sama sekali.

Keluar area hutan jalur pendakian mulai berpasir dan tumbuhan didominasi sejenis cemara.  Pak Amir sudah mampu beradaptasi dengan rombongan modelnya, dan malah ikut mengabadikan gambar dengan ponselnya jika beberapa kami mengadakan photo session dadakan di tengah perjalanan.

hutan anak krakatau pendaki gunung anak krakatau vegetasi anak krakatau

Makin lama pendakian makin terjal dan berdebu. Kombinasi kerikil dan pasir sungguh menyulitkan langkah. Di beberapa spot tampak batu-batu bertebaran, sepertinya hasil lontaran kawah. Tak terbayang jika pendakian ini diselingi hujan batu, mungkin tak ubahnya petualangan Sam & Frodo menuju kawah gunung Mordor.

Mulut-mulut bawel mulai diam ketika pendakian mulai menyita energi. Keringat mengucur deras di kening, hidung, leher, belahan dada, dan bagian tubuh lainnya. Napas terengah-engah. Kaki-kaki kami sudah satu warna monokrom akibat debu tebal sepanjang perjalanan. Beruntung masing-masing kami membawa bekal air minum sehingga tak perlu takut dehidrasi. Jangan lupakan tabir surya supaya kulit tak terbakar.

pendakian anak krakatau peluh keringat anak krakatau debu tebal

Menuju Puncak Gemilang Cahaya

Pak Amir tiba-tiba menghentikan langkah sebelum puncak, lalu berbalik. “Stop sampai di sini. Kamu terlalu baik buat aku.” Saya ikut berbalik, lalu mendapati pemandangan pulau Panjang (alias Krakatau Kecil) yang terhampar di atas pucuk-pucuk cemara. Indah.

Tapi ternyata memang pendakian kami menuju puncak gemilang cahaya Anak Krakatau hanya diizinkan sampai punggung gunung saja. Kondisi terlalu berbahaya di atas sana karena gas yang menyembur dan mungkin juga lontaran batu atau resiko tergelincir ke dalam kawah. Batas aman hanya sampai area dimana pak Amir berada. Tak apa, semua demi keamanan. Siap, Pak Amir!  

pulau panjangpuncak anak krakatau punggung gunung anak krakatau

Maka acara utama pun digelar. Apalagi kalau bukan foto-foto, hahaha! Tiap Anak Krakatau ‘batuk-batuk’ menyemburkan asap, kami langsung bersorak sorai dan menjadikannya background foto. Sungguh sebuah eksploitasi habis-habisan dengan kamera. Saya bahkan sampai zoom in maksimal demi mengabadikan sebatang pohon cemara yang tumbuh dekat puncak, betapa ia tangguh berdiri di tengah gempuran asap & hujan kerikil.

anak krakatau antre foto tiga dara anak krakatau erupsi anak krakatau

Menengok Rakata, Bagian Krakatau Tersisa

Anak Krakatau memang sebaiknya dikunjungi pagi hari pada saat sinar matahari belum menyengat dan membakar pasir kerikil di telapak kaki. Puas berfoto-foto di dekat puncak, pak Amir segera menggiring kami kembali ke dalam hutan. Tujuan kali ini yaitu sisi selatan pulau. Konturnya bertebing tinggi hingga kami tak bisa turun ke pantai. Namun pemandangan di hadapan sungguhlah memikat.

Di seberang sana tampak berdiri gagah pulau Rakata dengan kerucut gunung yang nyaris segitiga sempurna. Tinggi puncaknya sekitar 800-an meter. Pulau Rakata (Krakatau Besar) ini adalah bagian orisinil gunung Krakatau yang masih tersisa dari ledakan dahsyat tahun 1883. Sungguh sulit mencapai puncak Rakata karena ditumbuhi semak berduri, tebing curam, dan ‘konon dijaga ular sebesar batang pohon’ demikian penuturan salah seorang awak kapal.

Walau puncak Rakata sulit ditaklukkan, namun kondisi bawah lautnya mudah dikunjungi khususnya di area lagoon Cabe dimana terdapat hidupan terumbu karang yang sehat dan beragam. Memang kesanalah tujuan kami selanjutnya untuk snorkeling sekalian mandi-mandi setelah bersimbah keringat mendaki Anak Krakatau. But that’s another story.

Kalau sudah tak sabar, bisa baca catper yang ini: Jelajah Krakatau

pulau rakata pulau rakata

Anak Krakatau Riwayatmu Kini

Siapapun masih terguncang pada peristiwa tsunami senyap pada 22 Desember 2018 yang melanda pesisir Banten dan Lampung. Disebut senyap karena sama sekali tak ada gempa pemicu ataupun alarm peringatan akan kedatangan tsunami. Melihat kondisi Anak Krakatau terkini pasca erupsi, besar kemungkinan kerucut gunung yang hilang ikut runtuh ke dalam lautlah yang mengakibatkan gelombang tsunami hingga belasan meter.

Jadi terpikir betapa dahsyat letusan gunung Krakatau pada 1883 karena turut memusnahkan gunung Danan dan gunung Perbuatan. Bayangkan itu 3 gunung dalam 1 pulau meledak secara bersamaan dan raib jadi abu/runtuh jadi tsunami. Tuhan Maha Besar.

anak krakatau 2019
Kondisi Anak Krakatau terkini pasca erupsi 2018. Kerucut gunung sudah musnah digantikan danau kawah. This pic was captured from the original footage shot by James Reynolds (EarthUncutTV)

anak krakatau erruption

Di masa mendatang bisa jadi akan muncul gunung yang baru dari lokasi kawah Anak Krakatau, hanya saja waktu yang bisa menjawab.  Semoga saya masih ada umur (dan stamina) untuk menyambanginya kelak.

 

Disgiovery yours!

*Sebagian foto diambil dari kamera para peserta Krakatau Trip, thank you all so much, guys!

anak krakatau selfie

About the author

Travel Blogger
2 Responses
  1. Sebuah kesempatan langka sekali bisa menikmati saat-saat gunung mulai menyemburkan asap dan gas yang menakjubkan, Kak Gio. Di balik seramnya letusan, foto-foto hasil mengabadikan letusan gunung itu juga luar biasa. Aku pengen banget bisa ada kesempatan motret letusan gunung dari jarak yang aman tentu saja.

    Krakatau yang baru skala 4 VEI aja sudah sebegitu mengerikan ya, gimana Tambora yang skala 7 VEI. Wkwkwkw.

    Sekarang Anak Krakatau sudah hilang dan akan muncul anakannya lagi. Gunung-gunung nggak perlu menikah buat punya anak ya.

    1. Sebentar, aku mau ngakak dulu baca kalimat terakhir 😀 Kamu juga bisa kok punya anak tanpa nikah 😉 #ehgimana

      Memang momen keberuntungan banget bisa menyaksikan langsung Anak Krakatau ketika batuk-batuk. Gak nyangka jika pendakian ini takkan bisa diulangi lagi karena gunungnya sudah musnah :/

Leave a Reply