Kampung Melo Dimana Kami Menari Tak Henti

KAMPUNG MELO mungkin populer tak terlalu, namun Labuan Bajo pasti semua orang tahu. Maka inilah kesempatanmu tuk mengenal Melo lebih jauh. Bawa kuda besimu menyusuri jalan Trans Flores dari Labuan Bajo ke arah Ruteng, setelah 40 menit berkendara kau akan menjejak tanah Liang Ndara, secuplik kawasan perbukitan permai dimana kelompok etnis Manggarai mendiami Flores bagian barat, NTT.

Pada puncak bukit di ketinggian 624 mdpl inilah desa adat wisata tsb berada. Laut Flores tampak samar nun di horison utara. Angin sejuk berembus mengatasi terik sinar surya. Alunan gong dan gendang tradisional terdengar bertalu-talu. Dada turut berdegup, kaki rasa bergoyang. Selamat datang di Kampung Melo!

kampung melo tari caci
Hello Melo!

Prosesi Selamat Datang

Sehelai kain tenun dikalungkan di leher masing-masing tamu. Gadis Melo itu tersenyum manis sembari mempersilakan kami masuk ke kawasan kampung. Sebuah tikar anyaman terhampar di tanah lapang. Tetua kampung duduk bersila dikawal beberapa pria yang berdiri di belakangnya. Kami semua turut duduk di hadapan tetua. Dalam bahasa yang saya tak mengerti, beliau tampak merapal doa yang mungkin adalah ucapan selamat datang. Lalu sesembahan dihaturkan secara simbolis (berupa beberapa lembar uang, sekendi tuak, dan seekor ayam jantan).

kampung melo selamat datang
Sambut tamu di muka kampung
kampung melo selamat datang
Salah satu ritual penyambutan oleh tetua kampung

Acara selanjutnya ialah ramah tamah di dalam rumah adat Manggarai yang berbentuk rumah panggung dari kayu. Berhubung kapasitas tak mencukupi maka hanya tamu-tamu asing yang kami suruh masuk dan mencicipi sajian khas: sopi (sejenis tuak lokal dari pohon enau) dan pinang sirih. Kocak nian melihat teman-teman kami mencicipi pinang sirih untuk kali pertama dan memamerkan lidah mereka. Entahlah kalau sopi, sepertinya mereka doyan.

kampung melo boneka
Lil Isak is having a sip of sopi and getting drunk, hahaha! Pics courtesy of Isak Kim

Makan Siang ala Kampung Melo

Sembari menunggu makan siang dihidangkan, kami juga sempatkan diri beramah tamah dengan warga sekitar seperti ibu-ibu penenun kain songke ataupun bercengkerama dengan anak-anak kampung Melo yang tampak antusias. Saya malah asyik nongkrong di dapur umum menyaksikan kesibukan di sana. Sesekali seekor anjing kampung datang menghampiri minta disapa, lalu setelah dielus ia pergi dengan ekor bergoyang-goyang.

kampung melo kain songke
Seorang ibu tengah menenun kain songke

Akhirnya saat yang dinantikan tiba. Hidangan makan siang disajikan di atas meja batu leluhur. Menunya antara lain nasi merah, ketupat, sayur labu santan, ikan bakar, urap kacang panjang, mie goreng, sambal tomat, dan kerupuk. Kami duduk-duduk di keteduhan sembari menikmati makan siang masing-masing, diiringi bunyi tetabuhan alat musik dan kesibukan para penari yang sedang bersiap. Angin sejuk membelai terik. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

kampung melo dapur umum
Kesibukan dapur umum menyiapkan hidangan makan siang
kampung melo menu makan siang
Sajian sederhana ala kampung Melo, namun sedap di lidah dan nyaman di hati

Dicambuk atau Dijepit Bambu? Inilah 3 Tarian Khas Suku Manggarai

Caci, sekilas mirip tarian perang karena sepasang penarinya sungguh tangkas mencambuk. Tunggu, sobat BDSM mohon jangan besar kepala! Tari Caci adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen dan keberkahan lainnya. Terdapat 3 atribut yang dikenakan penari: perisai melambangkan ibu, penangkis melambangkan ayah, dan pecut sebagai perlambang cobaan hidup. Sungguh filosofis bukan? Atraksi ini ditutup dengan tari bersama tamu (tanpa cambuk-mencambuk tentu saja).

kampung melo tari caci
Sepasang penari caci tengah berpose dan siap berlaga di arena
kampung melo tari caci
Dalam tari caci sebenarnya para penari saling mencambuk hingga berdarah, namun demi kenyamanan tamu kini tari caci murni tanpa kekerasan

Ndudu ndake adalah tarian masal yang biasanya dipertunjukkan untuk menyambut tamu dan syukuran lainnya. Para penari perempuan ini mengenakan songke (kain tenun khas) dan mbero (kebaya). Biasanya para tamu akan diajak ikut menari bersama mengikuti alunan musik. Adalah menarik sekaligus menghibur melihat gerak-gerik kocak teman-teman mengikuti irama.

kampung melo tari ndudu ndake
Tari ndudu ndake punya beat lebih ceria

Tetek alu alias tari bambu dimana penari harus meloncat-loncat menghindari batang bambu yang dihentak-hentakan di tanah seiring irama musik. Makin lama ritme makin cepat, bambu makin menghentak, penari makin melonjak. Penonton menahan napas tegang karena ngeri kaki penari terjepit batang-batang bambu. But yeah, they’re professionals. Kami juga diberi kesempatan untuk ikut menari tetek alu, namun dengan tempo yang diperlambat. Cukup sulit lho, dan tetap mengundang tawa.

kampung melo tari bambu tetek alu
Tetek alu membutuhkan kesigapan dan kelincahan penarinya
kampung melo tari bambu tetek alu
Teman kami sang petualang tampak menikmati keberadaannya di kampung Melo

Ingin Berkunjung ke Kampung Melo?

Kamu bisa datang langsung ke desat adat ini untuk sekadar melihat-lihat atau menikmati suasana. Namun jika ingin mendapat layanan ‘full service‘ seperti saya dan teman-teman maka disarankan untuk booking lebih awal melalui agen perjalanan di Labuan Bajo. Trust me, it’s worth it! Jangan lupa simak dulu video YouTube di bawah tentang kunjungan kami ke Kampung Melo.

Lantas kemana tujuan kami selanjutnya? Belum lengkap ke Labuan Bajo jika tidak mencoba LOB di atas kapal pinisi mengarungi perairan Komodo. Simak catatan perjalanannya di sini: LOB Komodo | Sehari Semalam untuk Selamanya

 

Disgiovery yours!

About the author

Travel Blogger

Leave a Reply