Jalan Kegelapan di Gua La Umehe

“TEMAN-TEMAN, jaga sikap selama di dalam gua La Umehe, ya!”

Demikian pesan saya sebelum kami beranjak ke pintu gua. Gua La Umehe di depan kami tampak bagai lubang hitam misterius di tengah kerimbunan hutan. Dan kami akan berjalan masuk menembus kegelapan antah berantah di dalamnya.

Saya kira tak ada salahnya mengingatkan teman-teman supaya tidak bicara atau bertindak sembarangan. Ini pun termasuk peringatan bagi diri sendiri. Kapan pun, di mana pun. Apalagi di tanah asing seperti negeri seribu gua di  Buton Tengah ini.

Baca juga: Selamat Datang di Buteng Negeri Seribu Gua

gua la umehe
Pose di depan pintu masuk gua La Umehe

Gerah-Gerahan dalam Hutan

La Umehe adalah gua kering di desa Wantopi, Mawasangka Timur, yang baru diperbincangkan namanya pada tahun 2020. Kelompok Studi Kars Universitas Gajah Mada yang dipimpin Prof. Eko Haryono sempat mengadakan penelitian di dalam gua La Umehe yang mencapai kedalaman hingga 86 meter dengan jalur berkelok-kelok, dan menemukan sebuah telaga kecil dengan keliling lingkaran sekitar 7 meter.

Kini giliran kami yang hendak menjelajah La Umehe. Bus yang mengantar kami berhenti di ujung aspal, sekitar 500m dari pantai Wantopi. Sudah tak ada jalur kendaraan lagi, jadi kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Jalan setapak yang ditempuh menembus hutan terasa menanjak lalu menurun. Kaki-kaki kami menginjak dedaunan & ranting-ranting kering serta bebatuan karang. Walau kanopi hutan meneduhkan, namun cuaca panas lembab sungguh membuat saya ingin bernyanyi:

Hareudang, hareudang, hareudang
Panas, panas, panas…

trekking
Trekking dalam hutan menuju gua

Tubuh kami basah kuyup oleh keringat. Akar-akar tumbuhan merambat yang ternyata berduri juga cukup menjadi halang rintang. Hati-hatilah melangkah karena sesekali kaki seribu berwarna logam metalik melintas jalan (sekali waktu saya juga melihat kaki seribu berwarna kuning keemasan).

Beruntung trek dalam hutan ini singkat saja. Sepuluh menit kemudian kami sudah tiba di depan lubang hitam yang tersamar di antara bebayang hutan.  Itu dia, gua La Umehe.

kaki seribu buteng
Kaki seribu yang kami temui dalam perjalanan

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Taufan Gio (@disgiovery)

Gelap-Gelapan dalam Gua

Saya lupa sudah berapa kali susur gua, baik kering ataupun basah. Namun satu yang paling saya ingat adalah kegelapan total di gua Tangsi, Lombok Timur, yang pernah menjadi bunker tentara Nippon pada era Perang Dunia Ke-2. Jika gua Tangsi punya akses masuk kecil, maka gua La Umehe ini adalah versi sebaliknya. Di hadapan kami kini terpampang nyata lubang hitam La Umehe yang tampak misterius.

Baca juga: Dalam Gelapnya Gelap Gua Tangsi

gua la umehe
Beranjak turun menuju kedalaman dan kegelapan
stalagmit gua la umehe
Stalagmit dekat pintu masuk gua tampak cantik dengan warna ungu kelabu berpendar dan titik-titik kristal berkilauan

Basmallah terucap, lalu pelahan kami masuk ke dalam gua. Satu persatu, selang-seling antara yang membawa senter dan tidak. Kegelapan menyambut. Kami harus hati-hati menuruni jalan terjal berpasir dan berbatu. Udara terasa berat dan lembab. Senter jadi pelita kami menyusuri gua. Formasi stalaktit dan stalagmit sesekali tampak berkelebat oleh cahaya senter. Kesunyian (atau mungkin kegelapan) terasa menekan.

Langkah kami terhenti di depan sebuah celah kecil dengan undakan curam di baliknya. Terdapat sebuah ruang gua lain di sisi sebelah sana. Pemandu kami sempat turun ke dalam celah ini dan memeriksa kondisi sekitar. Titik cahaya terakhir dari senternya lenyap di balik tirai stalaktit. Kami menunggu dengan tegang.

gua la umehe
Celah kecil (di mana tampak lampu senter menyorot) adalah titik perhentian kami
gua la umehe
Pemandu kami turun ke dalam celah tuk memeriksa kondisi gua

Gua La Umehe dan Danau Pasi Bungi

“Agak gelap, bang! Tapi aman..” demikian lapor pemandu kami setelah ia kembali dalam radar.

‘Agak’ ia bilang. Berarti sebaliknya. Melihat turunan curam yang harus dilalui, saya tak yakin kalau kami harus menempuh jalan kegelapan menuju kedalaman gua ini. Bukan takut, tapi masing-masing kami tak ada yang mengenakan helm (with headlamp), rompi pengaman, ataupun sepatu boots. Safety first!

Ternyata teman-teman saya sepemikiran, hingga akhirnya kami sepakat menghentikan penjelajahan sampai di celah ini. Walau disinyalir aman di dalam tapi kami juga tak mau gegabah. Masih ada waktu kembali lain kali, pada saat gua ini sudah dinyatakan siap untuk kunjungan petualangan wisatawan.

Akhirnya kami pun kembali mendaki ke luar gua, masih dengan langkah tertatih-tatih karena gelap dan licin. Tiada penyesalan karena penjelajahan tertunda. Etape 1 ini saja sudah cukup memanjakan adrenalin kami.

gua la umehe
Mendaki keluar gua. La Umehe, kami kan kembali!
stalaktit gua la umehe
Kabarnya stalaktit di kedalaman gua jauh lebih indah. Next time, yes!

Oya, jikalau menilik peta, coba tebak apa yang berdekatan dengan gua La Umehe?

Danau Pasi Bungi. Apakah ini berarti gua La Umehe berada di sisi danau, atau bahkan melintas di bawahnya? Entahlah, mungkin perlu ditanyakan kembali kepada Prof. Eko Haryono yang sempat meneliti gua ini bersama team-nya.

danau pasi bungi
Posisi La Umehe dengan Pasi Bungi yang berdekatan, memungkinkan sebahagian gua itu bisa saja berada di bawah danau

Sungguh mati La Umehe bikin penasaran. Sampai ketemu lagi nanti!

 

Disgiovery yours!

 

*also thanking @peekholidays and @richotraveling for contributing some wonderful photos in this article

About the author

Travel Blogger

Related Posts

2 Responses
  1. Buton Tengah, nih, magical banget ya, Kak. Aku baca cerita temen-temen lainnya kayaknya seru banget explore gua satu ke gua lainnya. Semoga jadi pengalaman menarik yang enggak terlupakan, ya. 😀

Leave a Reply