Susur Jejak Sekala & Niskala di Karangasem Bali

KADANGKALA ada hal yang terlihat namun tak terlihat. Ada sekala namun niskala. Beberapa kali kunjungan wisata ke Bali, saya selalu terfokus pada area selatan dan tengah: Uluwatu, Seminyak, dan Ubud. Wilayah timur seperti Karangasem Bali bagai sesuatu yang gaib, tampak tiada walau ia ada.

Lalu seorang kawan berkabar tentang pantai Amed di timur Bali, karena tahu saya paling suka berenang di pantai. Pantai Amed ini berpasir koral hitam dan berlatar Gunung Agung, jernih ke dasar laut, megah ke cakrawala. Sungguh mengundang. Maka berangkatlah kami menuju timur.

welcome to bali
Mari menjejak kaki ke timur pulau dewata!

Destinasi Karangasem Bali

Pantai Amed berada di wilayah Kab. Karangasem di penghujung timur pulau dewata. Akses transportasi dipermudah oleh by pass Ida Bagus Mantra yang lebar dan mulus. Pada waktu itu saya menginap di area Kuta dimanaΒ day trip (berangkat pagi pulang sore) Kuta-Karangasem tak masalah bagi kami.

Wilayah timur ini istimewa karena bisa dibilang di sinilah jejak spiritual/budaya Bali berawal mula. Gunung suci, pura tertua dan terbesar, hingga salah satu desa adat leluhur juga berada di Karangasem. Pesona alam kawasan Bali Timur juga lebih ‘liar’ dibandingkan wilayah barat. Gunung hingga lautnya punya keistimewaan tersendiri.

Saya bahkan sudah punya agenda susur timur pulau dewata demi menjelajahi Karangasem lebih jauh.

pantai amed karangasem bali
Amed terkenal akan atmosfer yang tenang, pantai koral hitam, dan kejernihan air laut

Lalu virus corona mewabah.

Ia niskala (tak terlihat), tapi dampaknya sekala (terlihat). Pulau Bali yang mengandalkan sektor pariwisata tentu saja menjadi salah satu yang terpuruk dengan pandemi Covid-19 ini. Termasuk Karangasem, bahkan bisa dibilang ia babak belur dua kali karena sebelumnya sudah terdampak erupsi besar Gunung Agung (2017).

Maka setelah pandemi Covid-19 berakhir kelak, saya sudah berniat untuk menjejakkan kaki kembali di Karangasem. Pada relung-relung, lembah-lembah, dan riam-riamnya, menyusuri jejak keagungan alam dan penciptanya.

karangasem bali
Gerbang menuju keindahan liar Karangasem Bali (foto diambil di Tirta Gangga)

Jejak Spiritual di Pura Besakih dan Pura Lempuyang Luhur

Apa yang ada berasal dari tiada.

Acapkali saya membayangkan tentang kejadian asal, kala bumi belum berjejak kaki Homo sapiens. Alkisah dalam kitab Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul tersebutlah Sang Hyang Parameswara yang membawa gunung Mahameru dari bumi Hindustan ke Nusantara dimana salah satu bagiannya menjadi gunung Agung di timur Bali. Jejak dewata jelas berawal mula dari sini.

Lalu datang Maha Rsi Markandeya (pandita kerajaan Sanjaya di Jawa) ke pulau dewata pada abad ke-8 M. Beberapa peninggalan pentingnya adalah pura Besakih dan pura Lempuyang (yang kebetulan sama-sama berada di wilayah Karangasem Bali kini).

pura besakih karangasem bali
Pura Besakih bertengger megah di lereng gunung Agung
pura besakih
Tiap anak tangga yang didaki ibarat pengorbanan menuju penyucian diri

Pura Besakih disebut sebagai induk segala pura di Bali. Bila ditilik jauuuh ke belakang, kita akan sampai di zaman megalitikum sekitar 2.000 tahun silam, pada sebuah situs suci dengan keberadaan punden berundak tepat dimana ia akan menjadi lokasi berdirinya Pura Besakih.

Lihatlah ia kini, begitu besar dan luas (20Β  hektar penuh tanjakan dan berada pada ketinggian 1.000 mdpl di lereng gunung Agung). Stamina sungguh diperlukan untuk menjelajahi keseluruhan komplek Pura Besakih yang terdiri atas 23 komplek pura dengan lebih dari 80 pura (dan ratusan anak tangga). Mungkin kendalanya adalah waktu. Atau napas, hahaha!

Sementara Pura Lempuyang Luhur diyakini sebagai salah satu pura tertua di pulau dewata selain Besakih. Pura ini terletak di puncak Bukit Bisbis atau Gunung Lempuyang atau tepatnya pada ketinggian 1.175 mdpl. Bagi saya pribadi pura ini lebih berkesan magis, atau mungkin karena ia punya bidang pandang spektakuler menghadap Gunung Agung.

Harap diingat bahwa pura adalah tempat suci spiritual, maka perhatikan pula adab berkunjung seperti mengenakan pakaian sopan, bertingkah laku santun, serta tidak menganggu ketenangan jemaat yang sedang beribadah.

pura lempuyang karangasem bali
Anak tangga pura Lempuyang menuju area madya mandala ini diapit oleh patung naga Anantaboga dan Basuki
karangasem bali pura lempuyang
Gate of heaven di Pura Lempuyang yang ikonik. Tips: datanglah dini hari untuk mendapatkan hasil foto terbaik!

Jejak Adat Leluhur di Desa Tenganan

Setelah dewa-dewa, datang manusia-manusia.

Mereka datang, menetap, dan membentuk budaya baru sesuai kondisi alam. Beberapa desa tradisional Bali yang masih mempertahankan adat istiadat nenek moyang disebut Bali Aga. Desa Tenganan di Karangasem Bali ialah salah satunya (selain Trunyan dan Sembiran).

Aspek kehidupan di desa Tenganan ini masih diatur oleh hukum adat yang disebut awig-awig, di antaranya mengatur bentuk, luas, letak rumah, pura, dll. Sebagai desa Bali Aga, tempat ini juga punya tradisi yang sedikit berbeda dengan Hindu Bali pada umumnya.

Desa Tenganan punya keunikan tradisi perang pandan (mekare-kare) yang digelar setahun sekali. Ada pula kain gringsing yang menggunakan teknik ikat ganda yang sudah mulai langka. Beberapa kerajinan khas lainnya adalah anyaman bambu, ukiran, dan lukisan ukir di atas daun lontar.

desa tenganan
Beberapa rumah di desa Tenganan juga merangkap sebagai workshop/galeri seni

Seharusnya kami bisa mengulik hal ini lebih jauh pada kunjungan tahun 2018 silam, namun kala itu turun hujan deras bak ditumpahkan dari langit. Akibatnya misi menyusuri jejak adat leluhur lebih jauh di desa adat ini tertunda.

Maka saya harus kembali.

Jejak leluhur lainnya di Karangasem antara lain adalah desa Saren Jawa yang sudah eksis sejak abad XV. Mayoritas penduduk desa adalah umat muslim dengan pengaruh lokal (penamaan seperti Komang Rifai atau Ni Nyoman Aisyah adalah lazim di sini).Β Ada pula desa Seraya yang punya tradisi perang rotan (gebug ende), atau desa Bugbug dengan tradisi perang pelepah pisang (tatebahan), ritual kuno yang bertahan hingga kini.

desa tenganan
Hikmah hujan membuat kami bisa melihat-lihat kain gringsing lebih seksama

Jejak Kerajaan di Taman Ujung dan Tirta Gangga

Kerajaan Karangasem Bali berdiri pada abad XVII, setelah sebelumnya berada dalam wilayah kerajaan Gelgel. Nama Karangasem sendiri awalnya berasal dari kata Karang Semadi (tempat bersemedi) di gunung Lempuyang. Lambat laun nama Karang Semadi ini pun berubah menjadi Karangasem.

Salah satu Raja Karangasem yang meninggalkan jejak kemasyhuran adalah I Gusti Bagus Jelantik (1887-1966) atau bergelar Agung Anglurah Ketut Karangasem. Istana Air Taman Ujung dan Taman Air Tirta Gangga adalah jejaknya.

Mungkin sebelum beliau dilahirkan, para empu dan pandita kerajaan sudah memperkirakan lewat perhitungan wariga (ilmu astronomi & astrologi Bali) bahwa kelak raja yang baru ini ‘cocok kerja di air’.

Maka demikianlah garis waktu membuktikan.

istana air
Salah satu bagian istana air Taman Ujung yang luas dan megah

Raja Karangasem ini tampaknya punya elemen kosmos kuat yang berhubungan dengan air. Istana Air Taman Ujung (Taman Sukasada) dibangun olehnya dengan bantuan arsitek Van Den Hentz (Belanda) dan Loto Ang (Cina), juga melibatkan Undagi (arsitek lokal) yang menguasai asta kosala kosali atau ilmu fengshui a la Bali.

Maka jadilah istana air yang megah (1921) dengan paduan arsitektur Bali, oriental, dan western. Istana air ini punya tiga kolam besar, dengan bangunan utama di tengah kolam yang bernama Gili Bale.

Saya juga tertarik mencari tahu lebih jauh tentang kolam Dirah (1901), cikal bakal istana air yang awalnya ialah tempat eksekusi terdakwa kejahatan/penyihir. Siapa sangka jika Taman Ujung yang tenang dan damai ini dahulu adalah lokasi yang tampaknya penuh energi negatif.

taman ujung
Seorang kawan dalam pendakian menuju puncak Taman Ujung. Tips: sunset view di atas sana bakal lebih menakjubkan!

Taman air selanjutnya yang dibangun adalah Tirta Gangga (1946). Tirta berarti air suci, dan Gangga merujuk pada sungai suci di India. Komplek seluas 1,2 hektar ini punya kontur berundak-undak sehingga sumber mata air suci dari gunung dapat mengalirkan airnya dengan baik termasuk membantu irigasi persawahan sekitar.

Atraksi utama Tirta Gangga adalah kolam teratai dan air mancur di level bawah. Selain itu terdapat pula kolam untuk berendam di level dua, dan tempat peristirahatan di level tiga. Suasana di sini sejuk dan tenteram, memang cocok untuk relaksasi.

Jejak kerajaan Karangasem lainnya dapat ditemui di Puri Gede Karangasem (cagar budaya) dan Puri Agung Karangasem (royal palace) di kota Amlapura.

tirta gangga
Kumpulan ikan koi di kolam teratai menjadi salah satu atraksi menarik Tirta Gangga
tirta gangga karangasem bali
Adakah raja merenung di sini dan memikirkan istana air yang akan dibangun berikutnya?

Jejak Laut di Pantai Amed

Sisi sentimental saya selalu mendamparkan diri pada pasir pantai, debur ombak, dan asin uap garam yang mengingatkan bahwa kode DNA primitif dari manusia adalah berasal dari lautan.

Amed adalah desa nelayan bersahaja yang buatmu ingin menghabiskan waktu lama-lama, dimana teluk Jemeluk adalah salah satu lokasi favorit untuk snorkeling. Kejernihan dalam lautnya dipenuhi terumbu karang sehat dan aneka ikan warna-warni.

Penggemar selam (scuba ataupun freediving) juga bisa menyelam di area khusus untuk melihat bangkai kapal perang Jepang atau sekadar mengirim kartu pos via kotak pos dasar laut. Sebagai penyelam bebas saya tak lupa membawa beberapa atribut selam pribadi seperti pada tautan di bawah ini.

Silakan baca: 7 Perlengkapan Freediving Bagi Recreational Freediver

Menangkap matahari terbit dari teluk Jemeluk adalah agenda saya yang belum kesampaian. Termasuk melihat dari dekat proses pengolahan garam Amed yang diolah secara tradisional (tahukah Anda, garam Amed sudah termahsyur dan jadi komoditi pajak kerajaan Karangasem sejak tahun 1578?).

snorkeling amed
Bayangkan perairan Amed bisa sejernih ini. Dapatkah Anda melihat dua orang sedang snorkeling?
teluk jemeluk
Teluk Jemeluk berciri khas deretan perahu jukung yang juga bisa disewa pengunjung

Pesisir timur Bali memang didominasi pantai berkoral legam, perairan jernih, dan latar belakang gunung Agung nan agung (catatan: hanya jika cuaca mendukung). Cobalah duduk diam di pesisirnya, kau cuma akan mendengar desau angin, riak air, dan kesunyian. Bayangkan, bahkan sebelum pandemi Covid-19 pun kita bisa menerapkan physical distancing dengan leluasa di sini.

Oh, pantai di Karangasem Bali bukan cuma Amed. Masih ada pantai Tulamben, pantai Prasi alias Virgin Beach (ini spesialis pantai pasir putih), hingga pantai Bias Tugel dekat pelabuhan Padangbai. Semua punya pesona unik tersendiri. Jangan lupakan pantai Candidasa yang bisa jadi alternatif berburu sunset dalam perjalanan kembali ke arah barat.

sunset candidasa
Menikmati suasana matahari terbenam di Candidasa

Wisata dalam Kondisi ‘New Normal’

Pandemi Covid-19 tak ubahnya ujian menuju dunia baru, dimana kondisi new normal diberlakukan. Kunjungan antar negara mungkin masih lebih sulit ketimbang perjalanan domestik. Inilah dimana wisatawan lokal menjadi harapan utama untuk bantu mendorong laju pariwisata.

Jadi, siapa mau ke Bali?

Tak usah kuatir masalah akomodasi, pilih hotel terpercaya yang punya jaringan luas, lalu sesuaikan dengan anggaran, yang pasti harus aman dan nyaman. Satu contoh hotel murah favorit saya ada di tautan ini (dan saya percaya banyak hotel sejenis di Bali).

Ingat untuk selalu menaati protokol kesehatan ala new normal ya!

karangasem bali candidasa
Karangasem Bali lebih lengang dan bakal lebih nyaman menjalankan aturan ‘new normal’

Waktu memang tak pernah cukup. Kunjungan terakhir kami ke Karangasem masih dirasa kurang. Oleh karenanya saya masih punya keinginan untuk kembali menjelajah di sana, menyusuri jejak sekala dan niskala anugerah semesta.

Karena Karangasem Bali semenawan itu.

 

Disgiovery yours!

karangasem bali lotus ungu
Lotus merah muda seperti di Tirta Gangga ini menandakan tahap pencerahan tertinggi
About the author

Travel Blogger
28 Responses
  1. Wow! Karangasem yang bagi sebagian masyarakat Bali dipandang sebelah mata sebagai kebupatian yang gersang karena kurang hujan, ternyata menyimpan banyak wisata air yang sangat menyejukkan, seperti Tirta Gangga dan Taman Ujung. Bahkan saya yang berdarah Bali sekalipun belum sempat “tangkil” (berziarah) ke seluruh tempat historis yang ada di sini (Lempuyang, terutama). Tapi bolehlah riset dulu via tulisan ini sebelum nanti benar-benar berkunjung ke sana. Terima kasih sudah menuliskannya dengan lengkap dan akurat, Mas. Masih banyak keajaiban di Bali yang pantas buat dikunjungi. Semoga dengan dibacanya tulisan ini oleh sebanyak mungkin orang, pariwisata di wilayah timur makin berkembang sehingga stigma gersang yang melekat selama ini di Karangasem bisa pudar dan hilang. Maju terus!

    1. Kunjungan pertama saya ke Karangasem pun disambut bukit-bukit gersang kuning kecokelatan, meski bagi saya ini eksotis bagaikan mendapati wajah Bali sisi lain.

      Anyway, thanks Gara, moga tulisan ini bisa kasih insight sekilas ttg destinasi wisata Karangasem Bali. Kuy berangkat! πŸ™‚

  2. Ini destinasi di Bali yg pengiiiinn banget aku kunjungi dan belum sempet2 melulu. Khususnya Tenganan. Dan berharap ada temen yg ngajak jalan bareng ke mari, secara pada tau klo aku suka banget ma kain ikat. Tapi harapan ku pupus. Ternyata dia dah pernah kemari. Setahun lalu. Pedih gak sih? #nyindir 😏

  3. 1 hari gak cukup sih jelajah Karangasem. Laut, gunung, budaya semua ada.

    Setelah pandemi ini berakhir kita jalan lagi yah menyusuri eksotisme Bali Timur yang belum terjamah oleh netizen.

    1. Let’s go, masih banyak hidden spot di Karangasem yang belum terjamah, cocok buat berwisata sambil physical distancing πŸ™‚

      Pengen kemping di Bukit Asah, desa Bugbug itu lho..

  4. Karangasem itu salah satu arean favorit tc di Bali! Cuma ga tau kalo ternyata sejarahnya semenarik itu termasuk asal usul nama Karangasem itu sendiri. Tiap kali ke area sana cuma taunya main ke gunung, kalo ga ke laut doang. πŸ˜… Kangen Bali! Semoga COVID-19 cepet berlalu dan pariwisata di Bali bisa pulih kembali juga. πŸ™

    1. Sudah menyelam di Amed belum, kak TC? Wait, sudah nanjak ke puncak Agung juga? Sungguh TC ini ambassador jejak petualang sejati, hehehe!

      Yes, semoga pandemi lekas berlalu!

      1. Amed beluuummm. Haha..next! Ama Nusa Penida juga beluuumm….Gunung Agung sudah 4x. hahaha..tapi belum berhasil mencapai puncak. πŸ˜… Itu gunung favorit tc juga! πŸ€—

  5. Wiiihhh asik kali dibaca tulisanmu ini bang,.
    Walaupun ada beberapa istilah yang aku ngga ngerti, dari baca kalimat pertama langsung cari arti sekala dan niskala haha
    Aku baru tau sejarah Karangasem semenarik ini lho.
    Mudah-mudahan cepat berlalulah ini si pandemi biar bareng kita ke Karangasem haha

    1. Ahaha thanks, Walter!
      Memang mencari tahu legenda & hikayat suatu destinasi itu bakal seru, seperti halnya mencari tahu arti kata-kata yang baru/jarang didengar, hehehe πŸ˜‰

      Let’s go to Karangasem, muncak ke gunung Agung, trus leyeh-leyeh di Amed πŸ™‚

  6. Jadi ingat trip ke Karangasem tahun 2012 yang lalu. Waktu itu aku nginep di Candidasa, dan dari situ eksplor Taman Ujung, Tirta Gangga dan beberapa tempat lainnya. Yang aku inget banget dari Karangasem adalah suasananya yang jauh lebih tenang dibandingkan Bali daerah selatan, dan sunsetnya cantik banget — langit lembayung bercampur semburat merah. Waktu itu sebenernya pengen ke Pura Lempuyang juga, tapi sayang katanya hari itu entah kenapa puranya sedang tutup/tidak dibuka untuk umum. Sungguh, aku kangen Bali amat sangat. Udah lima tahun kayaknya gak ke Pulau Dewata.

    1. Karangasem lebih tenang, lebih wild, ya kan?
      Waktu itu dapetin sunset dimana, Bama, di Candidasa deh pasti πŸ™‚

      Best view Lempuyang itu saat sunrise cuaca cerah dimana view Gunung Agung bakal kelihatan jelas, sementara kalau siangan dikit udah pasti ketutup awan πŸ˜‰

      Moga bisa lekas kembali ke Bali, yes! Road trip atuh yuk ke Bali timur!

  7. wah, sebagai orang yang memang kurang jalan2, saya butuh deh ‘panduan’ seperti ini. yg mana, bukan hanya berisikan tentang tempat mana, tapi apa yang ada di dalamnya. membacanya saja sudah bikin saya seolah berada di sana. hmmm… asik banget. kebayang suasananya kalo saya beneran udah ada di sana.

    btw, itu kotak pos dalam laut gimana maksudnya sih? kok kayanya unik banget. coba dijelaskan dong, Mas. hihihi…

    so yeah, ini mungkin destinasi selanjutnya yg akan saya datangi kelak, ketika semua pandemi dan apapun yg terjadi yg menghalangi saya ke mana2 yg selama ini ada, selesai. ingin lagi datang ke Bali, dengan tempat tujuan yg begini syahdunya. ah, indah banget… duduk di pantai, memandang lautan lepas sambil merenungi betapa lucunya apa yg sudah kita alami saat2 ini, di hari depan kelak.

    disclaimer:
    komen ini mengandung unsur curhat. harap maklum adanya.

    1. Tau gak dirimu kan pernah ke Karangasem juga waktu rafting di Telaga Waja, hehehe inget gak?

      Kalau kotak pos dalam laut itu semacam atraksi selam, jadi penyelam bisa bawa postcard dari darat (mungkin sudah dikemas plastik) lalu dimasukkan ke kotak pos dalam laut, nanti bakal ada petugas selam yg ambil dan mengirim postcard tsb via pos reguler.

      Hahaha gpp curhat asal bisa memotivasi! Semangka!

  8. Kak tulisanmu selalu mengharu biru dan penuh wawasan dan kearifan lokal. Bikin pengen ke sana.

    Btw kalau dari Kuta ke Karangasem berapa jam?

    1. Makasih kak Len, mungkin pengaruh spirit deswita jadi penuh kearifan lokal πŸ˜‰

      Kuta-Karangasem 2-3 jam tergantung kondisi lalin dan apakah sepanjang perjalanan banyak mampir2 karena banyak spot fotogenik, hehehe…

    1. Thanks, Wit!

      Iya karena kalau datang siang dikit bakal antre panjang buat foto ikonik di Gate of Heaven, sementara kalau sudah siang dikit biasanya latar Gunung Agung bakal keburu tertutup awan. Sebaiknya juga pantau kondisi cuaca dan konsultasi dengan local guide.

  9. Jadi ingat pertama kali dan sekali-kalinya ke Amed, naik motor 4 jam dari Ubud. Pakai motor matic, ber-clearance rendah, dan harus melalui jalan bebatuan di perbukitan Amed yang gersang. Seru tapi juga bikin pegel. Cuma sayang, pas sampai sana lautnya lagi pasang dan bergelora karena purnama penuh. Jadi gak bisa snorkeling deh.

    Cita-cita kalau (bisa) ke Bali lagi, pengen main air di Amed dan Tulamben.

    O iya, dari tulisan ini sih, jadi tertarik juga ke desa-desa tradisional di wilayah Karangasem. Unik-unik tampaknya. Apalagi yang Saren Jawa itu.

    1. Seru banget motoran ke Amed dari Ubud, asal jangan uring2an di jalan karena pinggang mau copot, hahaha! πŸ˜‰

      Yup, yang hobi maen aer mesti banget nyemplung di Amed & Tulamben! Yang suka budaya mesti banget ke desa-desa adat πŸ™‚

  10. Fitria Sari

    Bali memang luar biasa. Selalu ingin kembali lagi dan lagi. Terima kasih untuk tulisannya yang membuat saya bisa seolah-olah piknik virtual ke Amed. Semoga suatu hari nanti bisa berkunjung beneran ke pantai, pura, dan desa-desa di sana. Kangen Bali, kangen jalan-jalan, kangen kamuuu, kak… (nulis ini sambil sedih)

    1. Kangen rafting di Telaga Waja lagi dan menyambangi curug perawan, hehehe.. itu semua ada di Karangasem lho…

      Jangan cuma bilang kangen kalau tak direalisasikan! Hahaha abis PSBB ya pokoknya mesti ketemu!

Leave a Reply