Vakansi Sehari ke Ciwidey Pesona Alam Bandung Selatan

CIWIDEY mengingatkan saya pada perkebunan teh, perbukitan hijau, dan sosok gadis manis berpipi stroberi. Terletak sekitar 44 km selatan Bandung, di sinilah pesona tanah Pasundan bermukim. Di antara lereng-lereng hutan terhampar karpet hijau perkebunan teh yang memukau. Luntur Harimau & Elang Jawa mengarungi angkasanya. Udara sejuk kerap mengundang kabut, menyelubungi kawah dan telaga. Pokok-pokok ranum berbuah stroberi siap petik. Senyum sapa penduduk lokal nan ramah. Siapa yang tak bosan untuk kembali dan kembali lagi.

Kawah Putih

Entah apa yang ada di dalam benak Franz Wilhelm Junghuhn, seorang botanis & geologis berkebangsaan Jerman-Belanda, tatkala ia membuka hutan di kawasan angker Gunung Patuha di Bandung Selatan dan menemukan sebuah kawah sunyi tanpa aktivitas makhluk hidup satu pun. Sahibul hikayat berkisah bahwa di sinilah tempat berkumpulnya roh para leluhur. Franz Wilhelm Junghuhn melihatnya sebagai anomali dari sebuah kawasan hutan tropis yang subur dan berlimpah sumber daya alam. Ternyata sebuah gua yang menyemburkan gas beracun menjadi jawaban mengapa area kawah ini tampak mati.

Baca juga: Tentang Pendakian Ceprot-Ceprot dan Blubuk-Blubuk ke Kawah Ratu

1,5 abad kemudian lokasi ini sudah dikenal sebagai Kawah Putih, kini bisa dibilang hidup oleh arus wisatawan yang bertandang ke Ciwidey.  Kunjungan perdana saya beberapa tahun silam adalah mendapati lautan manusia, antrean kendaraan, dan bisa ditebak, ceceran sampah dimana-mana di areal Kawah Putih. Sedih, pasti.

ciwidey hutan gunung patuha
Barangkali seperti ini sisa penampakan hutan angker Gunung Patuha yang belum terjamah

Tapi itu dulu. Kawah Putih kini sudah berbenah diri. Kendaraan pengunjung disarankan parkir di bawah dekat gerbang masuk, lalu menyambung perjalanan dengan angkutan wisata yang disebut ontang-anting (semacam minibus tanpa pintu yang sudah dimodifikasi dengan semua kursi penumpang menghadap ke depan). Hal ini untuk menghindari kemacetan di areal parkir atas dekat kawah, sekaligus mengurangi polusi asap kendaraan. Hanya mereka yang berani membayar Rp. 150 ribu/mobil saja yang diizinkan parkir sampai atas, itu pun tak banyak.

Benar saja areal parkir atas yang biasanya tampak semrawut kini terlihat lebih lengang dan bersih. Kami segera menapaki jalur conblock yang sudah tertata rapi. Akses menuju gardu pandang menyita perhatian saya, karena tertulis ‘Shelter Pandang Untuk Lansia’. OK, jalur yang ini tak beranak tangga, sehingga mereka yang menggunakan kursi roda pun dapat mengaksesnya. Kemajuan yang sungguh berarti karena tetap mempedulikan mereka dengan keterbatasan. Pemandangan dari gardu pandang ini cukup lumayan juga karena kita bisa melihat suasana kawah di bawah sana.

ciwidey kawah putih angkotciwidey kawah putih gardu pandang

Untuk menuju kawah yang sebenarnya, pengunjung harus menuruni anak tangga yang lumayan panjang dan curam. Kami dapati beberapa lapak kecil yang menjual batu belerang, fresh from the crater, yang ditengarai berkhasiat mengobati beberapa macam penyakit. Tapi pemandangan danau kawah yang berwarna biru toska lebih menyita perhatian. Tanda larangan berenang tampak jelas terpampang, mencegah siapapun yang cukup bodoh untuk berenang di kawah.

Walau sudah beberapa kali ke Kawah Putih, tapi tiap kali berada di kawah ini selalu membuat saya terpaku untuk beberapa saat. Takjub. Kawasan seluas 10 hektar di ketinggian 2.434 mdpl ini menawarkan pemandangan danau kawah yang memikat, permukaan airnya kadang berwarna putih susu, kadang biru toska, tergantung pantulan dari langit. Tebing-tebing curam tampak mengelilingi kawah, hasil erupsi gunung Patuha pada abad X dan XII. Salah satu puncak tebing dipercaya sebagai tempat berkumpul roh para leluhur.

ciwidey kawah putih tangga

Ambillah jalur kanan melalui gua beracun (pakailah masker, dan jangan berdiri berlama-lama di dekatnya), dan jelajahi alam eksotis kawah pegunungan dengan tunggul-tunggul pohon mati dan belukar kehitaman. Salut saya pada usaha untuk menjaga kebersihan, karena di beberapa sudut kini terdapat ember-ember plastik bekas kaleng cat yang dialihfungsikan sebagai tempat sampah. Tinggal kesadaran pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya. Tapi yang saya lihat kemarin sungguh melegakan hati karena tak ada satupun sampah tercecer.

Momen terbaik di Kawah Putih adalah pada saat kabut turun. Saksikan kemegahan alam tatkala gumpalan kabut bagai ditiupkan dari atas tebing, bergumpal-gumpal melayang turun merayapi kawah. Menyelubungi alam dan seisinya dengan tingkat kelembaban hingga 90%. Tubuhmu bagai terpercik air. Namun ada kebahagiaan tersendiri yang tak terungkap oleh kata. Barangkali inilah daya pikat utama Kawah Putih.

Perkebunan Teh Rancabali

Di antara Kawah Putih dan Situ Patengan, terhampar luas perkebunan teh Rancabali yang memukau. Iklim sejuk di ketinggian 1.628 mdpl ini menjadikan tanaman teh tumbuh subur di lahan berbukit-bukit, menciptakan lansekap yang indah dan bikin siapapun berdecak kagum. Pemandangan Ciwidey ini sekilas mengingatkan saya pada pemandangan alam Puncak, Bogor, dengan skala lebih kecil namun lebih tertata rapi.

Berada dibawah naungan PT Perkebunan Nusantara VIII, perkebunan teh Rancabali juga bisa dikunjungi oleh wisatawan. Selain tea walk, atraksi lainnya adalah lawatan ke pabrik teh dan melihat proses pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemetikan, hingga pengolahan teh. Biaya kunjungan pabrik ini sekitar Rp. 5 ribu per orang (ditambah biaya ekstra jika memakai jasa pemandu). Tapi jika tak ada waktu lebih (seperti saya kemarin), menikmati panorama perkebunan teh Rancabali dari sisi jalan saja sudah cukup memikat. Apalagi jika kabut sudah turun. Jangan lupa kenakan jaket jika tak ingin menggigil kedinginan.

Menurut sejarahnya, perkebunan teh Rancabali dibuka sejak tahun 1870, mungkin bersamaan dengan perkebunan kina (salah satu yang dirintis oleh Franz Wilhelm Junghuhn yang kemudian menemukan Kawah Putih). Dan siapapun yang mengelola perkebunan teh pada saat itu, mungkin ada kaitannya dengan seorang legendaris penunggu Situ Patengan, lokasi yang akan kami datangi beberapa saat lagi.

Situ Patengan

Pak Ade, demikian ia minta disebut. Perahu yang kami naiki di Situ Patengan adalah sumber penghidupannya (biaya sewa perahu sekitar Rp. 150-300 ribu tergantung kapasitas). Pak Ade sudah mendayung di sini sejak tahun 90-an, dan lewat tutur katanya mengalirlah segala kisah mengenai Situ Patengan dan legenda-legenda di sekelilingnya. Pak Ade adalah seorang story-teller yang baik, kami dibuat terpesona mendengarkan ceritanya.

Situ Patengan (atau beberapa menyebutnya Situ Patenggang) adalah sebuah telaga alami seluas 48 hektar yang diapit hutan pinus dan perkebunan teh Rancabali (dan jadi salah satu andalan wisata Ciwidey). Terdapat pula sebuah pulau kecil rimbun di tengah telaga, Pulau Asmara namanya. Tatkala perahu kami meluncur ke tengah telaga, saya kira kami akan menuju pulau tsb. Tapi ternyata pak Ade mengantarkan kami ke lokasi lain di seberang telaga.

“Batu Cinta namanya, tempat pertemuan Ki Santang dan Dewi Rengganis.” Sambil mendayung perahu, pak Ade lalu memulai ceritanya. Nama Situ Patengan berasal dari bahasa Sunda ‘pateang-teangan’ yang artinya ‘saling mencari’.  Alkisah tersebutlah Ki Santang dan Dewi Rengganis yang saling mencari setelah terpisah sekian lama. Keduanya bertemu di sebuah lokasi yang kini disebut Batu Cinta.

Sekilas penampakan Batu Cinta di mata saya hanya berupa sebongkah batu karang biasa di sisi telaga. Tapi itu bukan batu karang biasa, karena menampakkan garis pertemuan dua buah batu yang menyatu. “Jika telaga surut, di bawah Batu Cinta ini terdapat ukiran dalam aksara kuno. Mungkin peninggalan kerajaan Sunda zaman dahulu.” Sayang pak Ade tak tahu menahu mengenai inkripsi apa yang tertera di bawah sana.

Batu Cinta sendiri punya lokasi romantis dimana pengunjung bisa duduk-duduk di tepian telaga di bawah rimbun tanaman kembang sepatu, sambil menatap pulau Asmara dan hutan Rindu di seberang sana. Jadi setelah pertemuan Ki Santang dan Dewi Rengganis, sang putri meminta dibuatkan danau dan perahu untuk berlayar. Maka terciptalah sebuah telaga yang kini dinamakan Situ Patengan, sementara perahu Dewi Rengganis kini menjelma menjadi pulau Asmara.

“Kenapa dinamakan pulau Asmara? Karena jika dilihat dari atas, bentuknya sekilas mirip lambang hati.” Dari Batu Cinta, Pak Ade lalu membawa perahu kami berlayar mengelilingi pulau Asmara. Walau namanya romantis, tapi pulau ini seperti bukan tempat ideal untuk hal itu. Semak belukar dan pepohonan berlumut tampak rapat mengepung seisi pulau. Liar. Tapi indah di mata saya.

Baca juga: Romansa Langit Telaga Warna Dieng

Mitos yang hidup di Situ Patengan adalah siapapun yang berlayar mengelilingi pulau Asmara maka akan mendapatkan cinta abadi seperti halnya Ki Santang dan Dewi Rengganis. Perahu kami nyaris mengelilingi pulau, tapi di tengah perjalanan pak Ade malah meletakkan dayungnya lalu menunjuk ke seberang telaga. “Hutan itu disebut hutan Rindu. Di balik perbukitan di dalam hutan Rindu ini terdapat makam dan bekas kediaman seorang sakti keturunan Maluku-Belanda yang pernah mendiami kawasan ini.” Pak Ade bilang ia dan dinas pariwisata setempat tengah merintis jalur baru menuju ke sana. Siapa tahu kelak bakal menjadi atraksi wisata alternatif di kawasan Situ Patengan.

Jika dituruti sebenarnya masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang menggantung seputar mitos dan kisah yang berkaitan dengan Situ Patengan dan sekitarnya. Tapi pak Ade harus lekas mengantar kami kembali ke daratan karena sore menjelang dan hujan mulai turun. “Lain kali ke sini, cari saja saya, pak Ade perahu.” Demikian pesan beliau sebelum kami berpisah.

Pesona Ciwidey Yang Tak Usai

Hujan pun membasahi bumi Ciwidey tatkala kami beranjak meninggalkan Situ Patengan. Perkebunan teh Rancabali menampakkan hamparan karpet hijau basah yang indah berbukit-bukit. Nun di balik sana masih terdapat pesona alam Ciwidey lainnya seperti bumi perkemahan Ranca Upas, pemandian air panas Walini, serta wisata kebun stroberi.

Tampaknya masih banyak pesona alam Ciwidey yang harus saya jelajahi. Tapi yang jelas perjalanan hari ini sungguh menambah wawasan dan khazanah saya akan wisata legenda dan kekayaan alam Bandung Selatan, Indonesia.

Disgiovery yours!

Catatan: Artikel asli pernah diterbitkan di majalah XpressAir edisi Juni 2016, namun sudah mengalami sedikit penyaduran untuk penayangan di blog Disgiovery.id