Cerita Pendek: Pemburu Ulung

KAKEK adalah seorang pemburu ulung. Kepala panda, kepala burung dodo, kepala gajah putih, kepala unicorn, kepala manusia serigala, hingga kepala singa jantan besar yang sedang mengaum (kakek bilang singa itu konon terkenal sakti dan dikenal dengan nama Aslan) tampak terpajang di dinding kamar kerjanya.  Sebuah sofa antik bermotif kulit harimau ditaruh di depan perapian, tempat kakek biasa duduk bersantai sambil membaca, atau mendongeng.

“Ceritakan padaku tentang peri tanduk rusa!” pintaku, mungkin untuk yang kesekian kali.  Kakek belum pernah bercerita tentang hal ini sebelumnya.  Namun aku tahu lambat laun ia akan mengungkapkan hal tsb.

Kakek menatap syahdu pada satu tempat kosong di atas perapian.  Dahulu ada kepala babi hutan raksasa terpajang di sana, demikian ia pernah bilang.

***

Dahulu kala pada masa mudanya, ketika tengah menempa diri menjadi seorang pemburu ulung, kakek kerap pergi berburu hingga ke negeri-negeri terjauh.

Pada suatu ketika  ia memburu kepala babi hutan raksasa hingga ke perbatasan negeri peri.  Sayang, makhluk buas itu keburu mengamuk dan menciderai kakek.  Dengan kekuatan terakhir, kakek menyelamatkan diri masuk ke negeri peri.

Aduhai, mungkin inilah cuplikan surga.  Permadani rumput menghijau hingga ke bukit-bukit.   Sebuah sungai berkelok-kelok dengan airnya yang jernih dan berkilauan.  Udara dipenuhi harum bunga, kupu-kupu beterbangan di sekitar.  Langit biru cerah dengan gemawan putih berarak.  Matahari bundar besar berada tepat di atas langit namun sinarnya terasa lembut dan hangat menyenangkan.

Kakek jatuh terduduk di tepi sungai, lalu segera membasuh luka di tubuhnya.  Ajaib, tak lama luka di tubuhnya pun mengering meski masih terbuka, dan ia merasa ada kekuatan baru merasuki tubuhnya.

Syahdan terdengar bunyi kerincing halus, makin lama makin jelas.  Kakek tak dapat menerka bunyi apakah itu sehingga ia memilih bersembunyi di balik pohon, lalu mengintai dengan waspada.

Kemudian muncullah sesosok peri cantik yang terbang rendah di permukaan sungai.  Tubuhnya tampak berpendar dalam cahaya lembut yang menakjubkan.  Tapi yang membuat kakek terpana adalah kepala sang peri cantik yang ditumbuhi tanduk rusa bercabang banyak.  Satu, dua, tujuh, gumam kakek menghitung tiap cabang tanduk di kepala sang peri.  Sosok itu sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, dan di setiap gerakan kepalanya memunculkan debu-debu bintang yang berkerincing dan gemerlapan.

“Keluarlah wahai pemburu.”  Peri itu berhenti di tempat kakek tadi sempat beristirahat.  Suaranya manis madu.  “Aku bisa mencium aroma mesiu dari senapanmu.”  Terdengar bunyi kerincing lagi.  Gemanya bagai memengaruhi pikiran kakek.

Tak perlu waktu lama, akhirnya kakek pun menyerah, dan pelahan menampakkan diri.  Mereka berdiri berhadapan.  Tubuh sang peri memang tidak sebesar kakek, namun tanduk di kepalanya membuat penampilannya lebih tinggi dan mulia.  Wajahnya tampak belia namun terlihat bestari, bagai tak terpengaruh bilangan usia, suatu keistimewaan yang dimiliki kaum peri.

“Wahai manusia pemburu, sesungguhnya bau darahmulah yang membawaku ke sini.”  Ada pusaran dalam mata sang peri yang membuat kakek terpesona tak kuasa bergerak.

Kemudian, tiba-tiba peri tanduk rusa langsung menyeruduk kakek dengan kecepatan kilat!

BUK!

Kekuatan besar itu menumbuk kakek, membuat seluruh udara dalam paru-parunya bagai terhempas keluar.  Sedetik kemudian ia sudah terlontar tinggi ke angkasa.   Dunia terasa berputar-putar.  Debu-debu bintang berkerincing meriah di sekelilingnya.

Kemudian terdengar bunyi gemuruh dan geraman buas dari bawah sana.  Dalam gerakan lambat kakek melihat kepulan debu dan sekilas kilatan tanduk sang peri.

Dan juga kilatan tanduk babi hutan raksasa yang tengah menerjang dengan ganas!

Ternyata babi hutan raksasa sudah mendobrak masuk ke negeri peri, dan peri tanduk rusa berusaha menghalaunya.  Mereka bertarung dengan sengit dan dahsyat.  Pepohonan di sekitar langsung tumbang, rerumputan langsung tercerabut, debu tanah merah langsung mengepul.

Debu-debu bintang bagai menahan kakek jatuh ke tanah.  Ia dapat mengamati pertempuran di bawah sana dalam suasana mencekam.  Ya, kakek baru menyadari ternyata peri tanduk rusa tadi berusaha menyelamatkannya dengan melontarkannya ke udara.  Di sisi lain kakek merasa sangat bersalah karena dirinyalah yang menyebabkan babi hutan raksasa itu menerobos masuk ke negeri peri.  Dan kini peri tanduk rusalah yang harus menghadapi sang monster.  Sendirian.

Segala keangkuhan kakek sebagai calon pemburu ulung luluhlah sudah.  Lihatlah ia, tak berdaya dengan luka yang telah mengering dan tanpa senapan andalan.   Suara pertarungan di bawahnya terdengar mengerikan, tiap gemuruh, tiap geraman, adalah teror bagi jantungnya.

Bagai mimpi buruk dalam buaian, kakek cuma bisa meringkuk tanpa daya.  Matahari sudah condong ke barat dan dunia merona jingga ketika akhirnya deru pertarungan di bawahnya terhenti.  Sunyi.  Debu-debu bintang sudah tak berkerincing.  Sebuah sepi yang beraroma kematian.

***

“Apa yang terjadi selanjutnya, Kek?”

Kakek memang sempat henti bertutur.

Beliau menghela napas panjang.  “Babi hutan raksasa akhirnya tewas, dan peri tanduk rusa terluka parah.  Kau tahu, peri itu kekal, asal jangan sampai kehabisan darah.”  Suara kakek bergetar.

Aku terdiam.  Merebahkan kepala di pangkuan kakek.

“Intinya cuma ada satu cara untuk menyelamatkannya.  Sang peri sendiri yang memberitahukannya padaku.”

“Apa itu, Kek?”

Mata Kakek berkaca-kaca.

“Peri tanduk rusa meminta tubuhnya dihanyutkan di sungai.”

***

Sudah lama benakku dipenuhi hal ini.  Kilasan-kilasan kejadian berkelebat.  Pertarungan yang ganas.  Babi hutan raksasa yang tewas.  Kakek yang segera memenggal kepala sang monster babi untuk memastikan kematiannya.

Peri tanduk rusa yang terkapar dengan luka parah di sekujur tubuh. 

Perasaan kakek campur aduk.  Ia telah mendapatkan kepala babi hutan raksasa incarannya.  Kakek menatap sang peri yang sudah tergolek lemah.  Tentu ia takkan membiarkan peri tanduk rusa menderita seperti itu.

Peri tanduk rusa meminta kakek mengusap sedikit darah segar dari luka-luka di tubuhnya, lalu segera membasuhnya di sungai agar larut bersama arus.  Inilah cara tercepat memberi kabar pada peri-peri penjaga hutan yang lain untuk segera datang menolong.

Kedua tangan kakek masih berlumuran darah babi.  Melihat kondisi peri tanduk rusa dihadapannya, tiba-tiba saja kakek merasa kepala babi hutan raksasa sama sekali tak berarti apapun.

Akhirnya kakek pun kembali ke negerinya dengan membawa kepala peri tanduk rusa.  Kepala babi ia lempar ke sungai.

Tak lama beliau dinobatkan kerajaan sebagai pemburu ulung nomor satu.

***

Aku menatap sebuah tempat kosong di atas perapian.  Aku tahu, pernah ada masa kala kepala peri tanduk rusa terpajang di sana, dan bukan kepala babi hutan raksasa.

Aku melirik kakek yang tampak tertidur di kursinya.  Mungkin tidur selamanya.  Ia pasti terkejut tadi begitu mengusap kepalaku dan mendapati bakal tanduk yang mulai tumbuh di sana.

Aku menggaruk kepalaku.  Mendadak rasanya sedikit gatal.

 

TAMAT

About the author

Travel Blogger

Related Posts

Leave a Reply