Cerita Pendek: Lelaki Penjual Ginjal

LELAKI itu tampak berdiri menanti sesuatu, sudah beberapa hari terakhir ini. Di tepi jalan. Kadang di bawah jembatan, atau di sisi dermaga. Sosoknya menawan, tapi matanya mengawang. Ia di sana tapi tak di sana.

“Baru di sini, Bung?” tanyaku sembari mengembuskan asap rokok ke wajahnya. Seakan ingin menariknya kembali ke alam sadar, sekaligus memberi tanda bahwa aku adalah penguasa wilayah. Aku sedikit mendongakkan kepala karena tubuhnya lebih menjulang.

Ia sedikit berjengit meski tak mengubah posisi. Masker medis menutup sebahagian wajah, namun bisa kulihat ia punya bulu mata dan alis lebat. Tulang hidungnya tampak tinggi. Kami bertatapan sejenak, lalu ia menunduk.

Mau jual ginjal, demikian gumamnya.

Kini aku yang terperanjat. Anak-anak buahku yang terserak di jalanan, di kolong jembatan, di sisi dermaga biasanya menjual nikmat, tapi lelaki satu ini bilang ia mau jual ginjal. Macam mana pula ini.

Beri saya waktu, lalu saya akan pergi. Tolong…

Aku mengisap rokok dalam-dalam, lalu kali ini mengembuskan asapnya ke samping, jauh-jauh dari wajahnya. Ia tampak… murni. Rapuh. Aku iba. Hilang kata. Tak ingin aku jadi sulit baginya.

“Seminggu!” sahutku memberi ultimatum.

 

. . .

 

Lelaki itu tak menghasilkan apapun.

Calon pelanggan datang dan pergi, dan tak ada yang menutup transaksi dengan dirinya. Atau ginjalnya. Yang ada hanya cemoohan.

Aku tahu. Waktu seminggu hanya untuk beri waktu bagiku mengaguminya dari jauh.

 

. . .

 

Tengah malam hari ketujuh lelaki itu berpamitan.

Aku sedang sendiri dalam pondok sambil menghitung setoran. Hujan deras berinai-rinai. Ia mengibaskan diri di depan pintu bak anjing kebasahan. Kusibak jemuran pada tali yang menggantung, lalu mempersilakan ia masuk.

“Gimana ginjalnya, laku?” gurauku sembari menyodorkan rokok. Aku tak tahu apakah ia merokok, namun nyatanya ia mengambil sebatang, lalu duduk di balai-balai.

Masker sudah ia lepas. Inilah kali pertama kulihat utuh wajahnya. Mukanya tirus persegi namun tampak simetri. Cetak biru wajahnya menawan, namun beban hidup tampak menyelubungi paras dan menggayuti kantung matanya. Ujung rambut ikalnya tampak masih meneteskan air.

Kuseduhkan ia kopi. Ada gairah dan sedikit grogi tercurah saat kukacau isi gelas dengan sendok. Harum kopi semerbak saat kusuguhkan. Kami duduk bersisian di balai-balai.

Cuma masalah waktu, sahutnya kemudian setelah sesaat mengawang. Ia hendak mencari peruntungan di tanah seberang. Raut wajahnya yang tersamar di antara asap rokok dan bayang-bayang jemuran tetap tampak rupawan. Kagum kupandangi ia, sosoknya bisa jadi aset.

Tak kuasa kulontarkan tawaran: “Yakin gak mau jual yang lain di sini? Abang bisa buatmu banyak duit!”

Untuk kali pertama kulihat ia tersenyum. Tak kuduga ia bisa begitu menarik.

Ini bukan yang pertama saya jual ginjal, sahut lelaki itu sembari menyeruput kopinya.

Aku menggelengkan kepala. “Bagaimana bisa kau terus melakukannya? Ginjalmu tinggal satu!”

Samar terdengar bunyi klakson kapal dari dermaga menandakan keberangkatan ke pulau jauh tak lama lagi. Ia melirik arloji lalu mendekatkan wajah ke arahku. Waktu bagai membeku.

Pelahan bibirnya bergerak maju, aku terdiam pasrah. Lalu terasa asap rokok tebal terembus ke wajah. Lihat, diriku bak terperangkap dalam kabut beraroma tembakau. Entah kenapa aku bagai terpaku, menyerah pada pesonanya.

Lalu sesuatu terasa menusuk tubuhku. Nyeri yang amat sangat. Gelap.

Ginjalku ia renggut dua.

 

TAMAT

About the author

Travel Blogger

Related Posts

Leave a Reply