Antara Legenda Kuntilanak & Sejarah Pontianak

PONTIANAK adalah satu dari sedikit kota yang mempunyai latar belakang unik. Meskipun sejarawan percaya kota ini terlahir dari pelabuhan dagang, namun masyarakat lebih meyakini kisah legenda sang sultan dengan makhluk halus perempuan yang menjadikan cikal bakal berdirinya Pontianak.

Demikian seperti yang telah dituturkan sahibul hikayat secara turun temurun, laksana riak sungai Kapuas yang mengayun-ayun.

Legenda Kuntilanak

Perempuan dan bayinya itu mungkin sudah lama ada jauh sebelum leluhur bangsa Melayu mendiami jazirah Asia bagian tenggara.  Banjir bandang yang melanda dunia pada suatu masa mungkin yang pada akhirnya memisahkan si perempuan dengan sang buah hati.

Sang bayi hanyut terbawa hingga ke gugusan pulau di timur laut. Ia menjelma sosok bayi menangis di hutan yang mencari ibunya.  Bangsa Filipina kelak menyebutnya sebagai ‘tiyanak’. Alias bayi vampir, gemar minum ASI darah manusia.

Bagaimana dengan sang bunda?

Sungguh lara si perempuan kehilangan bayinya.  Ia menangis setiap saat meratapi sang buah hati. Bangsa Melayu kemudian menyebut sosok ini sebagai puntianak/pontianak (atau kuntilanak).  Sosoknya digambarkan sebagai perempuan cantik berambut panjang.

Sultan VS Kuntilanak

Syahdan, berlayarlah biduk-biduk lancang kuning dari kerajaan Mempawah menyusuri sungai Kapuas. Ialah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, seorang pangeran pemberani yang masih berdarah Hadramaut (kini Yaman Selatan) yang tengah dalam misi penyebaran Islam sekaligus mencari lahan pemukiman baru.

Kuntilanak yang mendiami wilayah di sepanjang tepian Kapuas mungkin merasa terganggu dan akhirnya balik mengganggu rombongan sang Sultan.  Demikianlah hingga akhirnya beliau terpaksa melepaskan beberapa tembakan meriam untuk mengusir perempuan dunia lain itu.

Sejarah Pontianak

Peluru meriam yang jatuh di persimpangan sungai Kapuas dan sungai Landak, menandakan lokasi berdirinya masjid Jami’ dan istana Kadriah, tempat dimana Sultan memutuskan untuk tinggal dan menetap.

Demikianlah pada hari Rabu tarikh 1185 Hijriah atau 1771 Masehi ditahbiskan sebagai cikal bakal berdirinya kota Pontianak.  Sang Sultan sungguhlah seorang humoris pemberani yang tak gentar menamakan kotanya dengan nama musuh yang diusirnya.

Lantas dimanakah meriam legendaris yang berhasil mengusir kuntilanak?

Ternyata meriam bercat kuning itu diletakkan di depan bangunan keraton Kadriah. Disebut meriam stimbol karena benda inilah yang menentukan letak berdirinya istana.  Tak jauh dari keraton terdapat pula Masjid Jami’ (kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) yang pendiriannya juga ditentukan oleh meriam stimbol sang Sultan.

Kemana Kuntilanak Pergi?

Rupanya ia benar-benar jera dengan meriam sang Sultan dan tak pernah menampakkan diri hingga kini.  Bahkan warga Pontianak menyatakan tak pernah ada penampakan sosok kuntilanak di sana kecuali dalam legenda saja.

Saya pribadi pernah menanyakan perihal tsb pada tiga kawan saya asal Pontianak. Mereka tidak saling mengenal satu sama lain, namun masing-masing menyatakan tak pernah mendengar ada kasus penampakan kuntilanak di Pontianak.

Peninggalan Sejarah

Legenda bukan cuma legenda. Di Museum Kalimantan Barat yang terletak di Jl. Ahmad Yani, Pontianak, terpampang salah satu rancangan panji kesultanan Pontianak yang menggambarkan sang sultan tengah mengusir sesosok perempuan berambut panjang yang diyakini sebagai kuntilanak.

Setelah terusir, kuntilanak bagai raib selamanya dari tanah Kalimantan.

Tampaknya kita harus tabah menerima kenyataan bahwa kuntilanak telah eksodus ke tanah Jawa dan tetap eksis hingga kini.

Kuntilanak dalam panji kesultanan Pontianak
Kuntilanak seperti digambarkan dalam rancangan panji kesultanan Pontianak | Photo by Ghana

Oya, artikel saya berjudul ‘Di Tepi Ayun Riak Kapuas’ yang berkisah tentang sejarah Pontianak dan legenda kuntilanak ini pernah dimuat di majalah Panorama edisi Maret/April 2015.

Tak hanya itu, artikel tsb juga memuat tempat wisata (budaya) menarik berdasarkan rekomendasi penduduk lokal (bukan dari perspektif turis).  Tak lupa ada bahasan kuliner khas Pontianak.

Jadi, mau susur jejak kuntilanak ke Pontianak?

 

Disgiovery yours!

 

Panorama-spread
Artikel saya tentang sejarah Pontianak dan legenda kuntilanak yang pernah dimuat di majalah Panorama

Notes:
Special thanks to Brian & Ghana, my Pontianak friends, who have patiently answered my curious questions about kuntilanak and Pontianak. Also credit to Barry Kusuma for his wonderful pictures in this article, and my editor mbak Chika who trusted me this special assignment. I owe you guys a lot!

 

About the author

Travel Blogger

Related Posts

3 Responses
  1. dulu waktu kecil, tiap kali dengar kata Kota Pontianak, yang selalu terbayang adalah Kuntilanak. mungkin karena sama-sama berakhiran -anak. tapi ternyata Pontianak dan Kuntilanak punya kaitan sejarah…, penasaran.

Leave a Reply