Wisata Religi Kota Semarang dari Masjid, Vihara, Kota Lama

FAMTRIP SEMARANG kali ini lebih teduh.

Hari pertama saja agenda kami difokuskan pada destinasi yang berkaitan dengan wisata religi. Bonus lain, begitu saya masuk ke dalam bus ternyata sudah banyak peserta yang bening-bening. Ternyata mereka adalah perwakilan Denok Kenang Semarang 2018 (semacam Abang None Jakarta atau Mojang Jajaka Bandung) yang akan turut mendampingi dalam perjalanan ini. Semarang makin hebat!

wisata religi masjid agung jawa tengah

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Masjid kebanggaan Kota Semarang khususnya dan Jawa Tengah umumnya ini memang sungguhlah megah dan luas. Kunjungan pertama saya ke MAJT sekitar bulan Mei 2015, namun sayangnya pada waktu itu hanya sedikit meninggalkan kesan (diakibatkan banyak bungkus makanan berserakan sisa rombongan wisata religi). Beruntung pada kunjungan Famtrip Semarang kali ini suasana Masjid Agung Jawa Tengah dan sekitarnya telah bersih sediakala, kecuali mataharinya yang tetap sepanas api cemburu.

Pandang pertama paling berkesan tentulah pilar-pilar bergaya Romawi setengah lingkaran bernuansa krem dan ungu (total 25 pilar berhias kaligrafi). Bangunan masjid sendiri mengadopsi arsitektur Jawa beratap limas, dengan kubah berdiameter 20 meter ditambah dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter. Dekat halaman parkir terdapat sebuah beduk raksasa (panjang 310 cm, diameter 220 cm) yang merupakan replika beduk Pendowo Purworejo. Daya tarik lain adalah Menara Al Husna 99 meter dimana terdapat museum, resto berputar, hingga gardu pandang di atasnya. Sayangnya kedatangan kami bertepatan dengan waktu shalat Jumat sehingga Menara Al Husna ditutup.

Pada halaman masjid berlantai marmer terdapat 6 payung raksasa elektrik (tinggi 20 meter, diameter 14 meter) seperti yang terdapat di Masjid Nabawi. Payung hanya dibuka pada saat salat Jumat dan salat Ied. Beruntung kedatangan kami bersamaan dengan waktu shalat Jumat sehingga payung-payung ini dibuka menaungi pengunjung dari terik matahari. Kala saya langkahkan kaki keluar dari keteduhan payung menuju bangunan masjid ternyata ubin marmer yang tertimpa sinar matahari langsung sungguhlah berubah menjadi ubin neraka. Panasnya na’udzubillahi mindzalik bikin saya lari lintang pukang dengan kaki berjingkat menuju ke keteduhan masjid.

Setelah pintu masuk masjid terdapat sebuah Al Quran raksasa berukuran 145 x 95 cm² di dalam kotak kaca. Suasana di dalam masjid sungguhlah agung bernuansa hijau dengan 4 tiang utama berwarna putih. Sebuah lampu gantung raksasa menyinari seisi ruang. Ternyata memang banyak wisatawan ikut melaksanakan ibadah salat Jumat di sini, karena setelah salat berakhir, kami langsung mengeluarkan kamera tuk mengabadikan gambar.

wisata religi masjid agung jawa tengah
Berteduh dan bersenda gurau di halaman MAJT

Vihara Buddhagaya Watu Gong

Acara selanjutnya ialah ibadah makan siang, tepatnya mengambil tempat di resto IBC (Ikan Bakar Cianjur). Sempat mengernyitkan kening ‘kenapa Cianjur?’ tapi lalu teralihkan oleh sedapnya hidangan gurame di depan kami. Sayang porsinya kurang mengenyangkan perut gembul saya. Tak apa, saya akan melampiaskannya pada saat makan malam nanti! 😉

Perjalanan pun dilanjutkan ke wilayah atas Kota Semarang di wilayah Pudakpayung, Banyumanik. Pagoda Avalokiteswara tampak menyembul di sela-sela pepohonan. Pagoda setinggi 45 meter sebagai bagian dari Vihara Buddhagaya ini memang dinobatkan sebagai bangunan pagoda tertinggi di Indonesia. Kedatangan kami disambut rimbun pepohonan di area parkir. Berjalan kaki menuju gerbang Sanchi, pengunjung akan melewati sebuah batu andesit alami berbentuk gong yang menjadi cikal bakal penamaan daerah ini (Watu Gong).

Dalam komplek vihara ini terdapat beberapa bangunan yang dipisahkan oleh taman-taman asri, di antaranya gedung Dhammasala yang megah, kuil samadhi, patung Buddha Parinibbana, pagoda Avalokitesvara, patung Buddha di depan pohon bodhi (pohon ini ditanam bersamaan dengan berdirinya vihara pada tahun 1955), dll termasuk yang akan dibangun yakni patung Buddha dari perunggu setinggi 36 meter. Di dalam pagoda terdapat patung Avalokitesvara Boddhisatva setinggi 5 meter dimana jemaat melakukan ritual ibadahnya di sini. Pengunjung juga bisa menjalani tradisi ciam si, semacam ritual memohon petunjuk (bukan ramalan ya, camkan itu!).

Kami sendiri lebih banyak berkumpul di bawah keteduhan pohon bodhi. Kain-kain panjang bak pita merah berisi doa & harapan tergantung pada ranting-rantingnya. Suasana tenang di sini, kecuali bunyi kendaraan berat yang sesekali melintas di jalan raya. Angin semilir menggoyangkan kain-kain merah pada ranting diiringi desir dedaunan. Oksigen murni dari pohon bodhi sungguh bagai relaksasi. Kunjungan ke Vihara Buddhagaya kali ini menambah syukur saya akan karunia alam.

vihara buddha gaya watu gong
Suasana vihara Buddhagaya jelang senja
vihara buddha gaya watu gong
Foto candid mbak Wenda dan mas Aziz di bawah pohon bodhi 😉

Semarang Kreatif Galeri – Kota Lama

Tak pernah bosan saya mengunjungi kawasan Kota Lama Semarang yang penuh bangunan klasik (konon ada 200an gedung!) sekaligus fotogenik. Awalnya saya kira akan ada wisata religi lain berupa kunjungan ke gereja blenduk alias GPIB Immanuel Semarang, namun ternyata tidak demikian (mungkin lain kali).

Kali ini kami bertandang ke bangunan Galeri UMKM dimana terdapat Semarang Kreatif Galeri di dalamnya (meski menurut saya penamaan yang tepat adalah Galeri Kreatif Semarang sesuai kaidah PUEBI). Terdapat ragam benda produk UMKM seperti batik, aneka kerajinan tangan, tas, perhiasan, dll, yang bisa dijadikan atraksi wisata belanja di sini. Di dalam Galeri UMKM terdapat juga Keris Cafe. Jikalau suasana Semarang sedang terik tak terkira, silakan berteduh di dalam sini sambil sekalian melihat-lihat koleksi Semarang Kreatif Galeri. Jangan lupa beli hiasan berbentuk sosok warak ngendog, hewan mitologi yang menggambarkan akulturasi budaya Cina Arab, dan Jawa di Kota Semarang. Warak ngendog ini sungguh unik, sekilas mirip hewan peliharaan yang lucu meski berkepala naga.

Dari Galeri UMKM, kami berjalan kaki sejenak mengitari Kota Lama, lalu masuk lewat gang belakang Pasar Seni. Di sini saya langsung kerasan tak mau beranjak. Ada banyak benda-benda antik yang bisa bikin betah mengamatinya satu persatu, termasuk tumpukan foto-foto lama dari wajah-wajah yang tak saya kenal namun penuh sentimentil kala membaca caption tulisan tangan yang tertera di belakang foto. Sayang waktu tak mengizinkan berlama-lama. Ternyata kami muncul tepat di sisi Taman Srigunting. Saya langsung menandai lokasi Pasar Seni ini karena pasti akan kembali lain kali.

semarang galeri umkm
Blogger Malaysia, kak Amy & kak Wan, sedang melihat-lihat produk UMKM di Semarang Kreatif Galeri
semarang warak ngendog
Warak ngendog adalah hewan mitologi yang menggambarkan akulturasi budaya di Semarang

Toko Oen Semarang

Bertempat di bangunan klasik kolonial di Jl. Pemuda, kami menikmati makan malam dengan menu istimewa seperti rolade daging, nasi goreng, capcay sayuran dengan taburan kacang mede, dan sop sosis bakso. Saya suka semuanya, dan langsung merekomendasikan Toko Oen ini sebagai salah satu tempat ibadah kuliner Kota Semarang. Oya, Toko Oen Semarang ini masih berada di bawah pengelolaan keluarga Oen yang asli (sejak 1936), sementara Toko Oen Malang berada di bawah manajemen berbeda.

Cuitan kami di media sosial langsung mendapat respon: “Mesti coba es krimnya!” Olala, ternyata Toko Oen juga terkenal sebagai pembuat es krim legendaris. Pantas namanya sudah terdengar familiar meski saya belum pernah mencoba. Tapi malam ini tampaknya tak ada tanda-tanda es krim bakal terhidang. Kami langsung memberi kode pada panitia dengan aksi menguap ‘Hoaaamm nyam nyam aiskrim!’ hingga pura-pura bersin ‘HAISSSKRIM!’ namun sepertinya mereka tidak ngeh. Hahaha, ya sudahlah, memang belum rezeki.

Jamuan makan malam kali ini juga dihadiri oleh Kadisbudpar Kota Semarang, ibu Masdiana Safitri, yang memberikan kata sambutan sekaligus menyerahkan kain Semarangan secara simbolis sebagai tanda selamat datang. Matur nuwun ibu sudah mengundang kami!

semarang toko oen
Menu makan malam ‘kalap’ ala Toko Oen Semarang BEST-nya!
semarang kadispar
Jamuan makan malam bersama ibu Masdiana Safitri (Kadisbudpar Kota Semarang)

Baca juga artikel Famtrip Semarang Hebat 2018 hari kedua:
Wisata Budaya Kota Semarang dari Desa, Pasar, Karnaval

 

Disgiovery yours!

 

About the author

Travel Blogger
12 Responses
  1. nurul

    pernah tinggal di semarang 2 tahun jaman kecil.. ini yang kusuka dari semarang.. jalanan yang naik turun dan perbedaan keyakinan yang beraneka ragam.. jadi inget vihara yang pertama kali jadi tahu itu vihara namanya 🙂

Leave a Reply