5 Andalan Wisata Kuching, Gerbang Suaka Sarawak

AKU enda nemu!” cetus Lenjoe.

Ia adalah pemandu kami di Kuching, bertubuh gempal berkulit gelap dengan mata sipit (tampak ada jejak Dayak pada raut wajahnya).  Satu hal yang menarik perhatian adalah penggunaan kata “aku” sebagai kata ganti orang pertama, bukan “saya”. Ternyata penggunaan kata “aku” adalah lazim di Sarawak.

Maka izinkan aku bertutur sekejap tentang Sarawak, khususnya Kuching. Sarawak adalah salah satu negara bagian Malaysia di pulau Kalimantan (mereka menyebutnya Borneo).  Kota Kuching adalah ibukotanya. Uniknya, satu kota ini punya dua pemimpin, yakni walikota Kuching Utara dan walikota Kuching Selatan.

Walaupun termasuk kota besar, tapi suasana di Kuching tak bising. Tahu kenapa? Tak terdengar bunyi klakson kendaraan. Peraturan kota memang melarang hal itu. City cars banyak lalu lalang di kota ini tapi semua bagai melaju tanpa suara. Sepeda motor? Hanya segelintir saja dan kebanyakan motor tua.

Suku Dayak (Iban, Bidayuh, Orang Ulu, Melanau) dan keturunannya adalah penduduk mayoritas, namun demikian kerukunan multi etnis terjaga. Terdapat 45 bahasa dan dialek berbeza di negara bagian ini. Motif garis & sulur geometris khas suku Dayak menjadi hiasan atau ornamen di sebagian besar penjuru kota.  Selera kuliner penduduk pun lebih berbau ‘alam raya’ dengan bahan baku tumbuh-tumbuhan hutan. Gugurlah bayanganku akan Malaysia Semenanjung karena Malaysia Borneo jelaslah berbeda.

kuching south city hall
Gedung Dewan Bandaraya Kuching Selatan (South City Hall)
kuching alun alun
Alun-alun kota Kuching yang teduh dan tak bising

Mencari Kucing di Kota Kuching

“Kenapa dinamakan Kuching?” Aku penasaran.

Lenjoe bilang tak ada referensi khusus yang menyebutkan cikal bakal penamaan Kuching dengan pasti. Jika ditanya turis ia hanya bisa menjawab persis sesuai yang tertera di Wikipedia.

Kuching Cat Museum pun demikian adanya. Museum yang terletak di gedung North City Hall ini (lokasinya di puncak bukit, sebaiknya bawa kendaraan sendiri untuk naik ke atas) menampilkan 4 galeri yang memuat segala hal tentang kucing, mulai karya foto, lukisan, keramik, literatur, manuskrip, hingga cinderamata dengan total jumlah koleksi sekitar 4.000 buah. Memang tak ada kucing hidup di museum ini, tapi cukup menjawab rasa penasaran akan kota Kuching yang pada akhirnya kekucing-kucingan. Aku pun berdamai dengan kesimpulan sederhana bahwa Kuching berasal dari kata kucing, seperti halnya sang sister city Pontianak berasal dari kata kuntilanak.

Tak heran kota Kuching pun dilengkapi aneka perlambang kucing. Ada beberapa landmark berwujud kucing di kota ini. Dua yang terkenal adalah Big White Cat di ujung area pecinan (Kuching Utara), dan Cat Statue di dekat Kuching Waterfront (Kuching Selatan). Terdapat pula sebuah tugu kucing yang berdiri di bundaran jalan dan menjadi pembatas wilayah antara Kuching Utara dan Selatan.

Anehnya, sama sekali tak terlihat penampakan kucing jalanan berkeliaran di jalan-jalan atau sudut kota Kuching. “Karena kucing asli itu hewan rumahan dan bukan hewan jalanan,” cetus Lenjoe berkilah. Kami sedang menikmati mata kucing saat itu, alias minuman segar buah longan. “Apakah di sini juga ada lidah kucing?” gurauku sambil menggigit mata kucing. Tapi Lenjoe menjawab serius tidak tahu. “Aku enda nemu”, sahutnya.

cat statue kuching waterfrontbig white cat kuching

Menanti Orangutan di Semenggoh

CAN adalah singkatan dari Culture-Adventure-Nature, dan menjadi andalan pariwisata Sarawak sejak lama. Saya menyaksikannya melalui salah satu atraksi di Cagar Alam Semenggoh, dimana para orangutan (yang semula menjadi hewan peliharaan illegal) dilatih kembali untuk beradaptasi hidup di alam bebas di area seluas 653 hektar di Kuching Selatan. Tiap pagi adalah feeding time dimana para petugas jagawana membagikan makanan bagi para orangutan. Dan ini jadi salah satu atraksi utama turis yang berkunjung ke Semenggoh. Lokasi ini juga ideal untuk kegiatan bird watching, khususnya burung-burung dataran rendah termasuk burung langka long-billed Partridge.

Sebelum diajak masuk ke hutan, kami para wisatawan diberi wejangan khusus oleh pemandu. Jangan begini jangan begitu. Jangan berharap pasti kan bertemu mantan orangutan. Dan aneka jangan lainnya.

Kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak masuk ke dalam hutan (sekitar 300 meter). Sebuah panggung dari kayu berundak berada di ujung jalan. Di sinilah para pengujung harus berdiri menunggu dalam diam, sementara petugas jagawana di seberang lembah tampak memanggil-manggil orangutan dengan lengkingan panjang. Sekeranjang penuh pisang dan buah-buahan berada di sisi.

Sekitar setengah jam menunggu, tak ada tanda kedatangan orangutan kecuali sepasang tupai. Tapi kami lega karena menurut petugas jagawana, hal ini justru pertanda baik karena berarti orangutan sudah menemukan makanannya sendiri di hutan.

kuching semenggoh sanctuary
Wisatawan menantikan pemunculan orangutan saat feeding time
kuching semenggoh orangutan
Orangutan! Pic courtesy of Sarawak Tourism Board

Bermain Kayak di Sungai Semadang

Kayaking kali ini adalah pengalaman pertamaku. Starting point kami di kampung Bengoh, masih di Kuching Selatan. Kayak yang dipakai memuat dua orang. Aku didampingi oleh Fazi, sementara Lenjoe mengawal Okta. Tampaknya Fazi sudah cukup lihai ‘mengemudi’ kayak. Tiap ada riam sungai yang cukup deras, ia selalu berhasil menyeimbangkan kayak kami tanpa jatuh terbalik. Bertolak belakang dengan kayak Lenjoe dan Okta.

Etape pertama yang kami tempuh lebih menonjolkan ketenangan sungai dan keelokan hutan sekitar. Pandangan mata terkagum oleh rimbunnya belantara Borneo. Sungai Semadang yang kami tempuh masih punya banyak habitat ikan di dalamnya. Hutan ialah sumber kehidupan.

Dua orang pemandu lain (masing-masing mengayuh kayaknya sendiri), lalu bercerita tentang makanan lokal dari hutan. Ada midin (sejenis tumbuhan paku-pakuan), rebung (tunas bambu), petai, terung asam, daun ubi. Oh, satu lagi: tempoyak! Kukira tempoyak (fermentasi durian) hanya ada di Sumatera, tapi ternyata ia merupakan bahan kuliner populer di Sarawak.

“Ikan masak tempoyak, sedap betul!” seru pemandu yang kulupa namanya. Wajahnya semringah seolah sedang membayangkan kelezatan tempoyak, lalu menyerocos ia dalam bahasa Inggris campur Sarawak. Ia bilang ikan masak tempoyak olahan keluarganya di kampung adalah masakan terlezat. Pemandu satu lagi yang bernama Richie ternyata sedang rindu masakan Indonesia. “Aku suka bakso dan ayam penyet.”

Kampung Danu ialah rest area pertama kami sekaligus lokasi makan siang. Menu rumahan yang disajikan antara lain ayam pansuh (ayam masak buluh bambu yang dipanggang di atas api), midin masak belacan, cangkok manis (daun katuk), dan ikan masin goreng. Aku sampai turun ke dapur dan berebut ikan masin tanpa malu. Walau baru bertemu beberapa jam, tapi sikap ramah para pemandu ini membuatku merasa sudah lama mengenal mereka.

Etape kedua menyajikan pemandangan lebih liar berbatu meski tetap fotogenik. Aliran sungai berkelok-kelok di antara tebing batu cadas dan batu kapur. Beberapa dinding batu tampak begitu mulus bak pahatan seniman ulung. Pucuk-pucuk kanopi hutan terlihat tinggi sekali dari sini, berbatasan langsung dengan cakrawala biru. Puncak gunung karang sesekali menyembul di antaranya.

Perjalanan kami berakhir di Kampung Semadang. Tak terasa 11 km sudah mengayuh kayak di atas sungai. Senang hati meski esok badan pasti pegal-pegal.

kayaking semadang river
Membelah belantara Borneo dengan kayaking di sungai Semadang

Keajaiban Taman Negara Bako

Taman Nasional ini lebih dikenal dengan sebutan Taman Negara Bako dengan luas sekitar 2.727 hektar di ujung Kuching Utara. Perjalanan dimulai dari Kampong Bako menggunakan perahu cepat menyusuri muara selama 20 menit… dimana buaya muara juga tinggal. Selaknat-laknatnya hewan buas yang kutakuti adalah buaya muara, karena ia bisa hidup di air tawar sekaligus air asin, dan bernafsu makan besar. Beruntung perjalanan kami aman sentosa. Pemandangan di sekitar hanyalah air berlimpah dengan tumbuhan rambat di tepian sungai, dan siluet kebiruan gunung Santubong di kejauhan.

Lenjoe bilang di Bako ini terdapat beberapa keajaiban fauna: bekantan alias monyet Belanda, babi berjanggut, lutung perak, lemur terbang, dan ular kapak. Bukan salahku jika mulai membayangkan film-film kungfu. Tendangan lutung perak! Serangan lemur terbang! Dan semacamnya.

Tanpa disangka kami menjumpai ‘sergapan’ seekor ular kapak (Tropidolaemus subannulatus) pada semak belukar. Warnanya hijau cerah, gerakannya menyiratkan keanggunan dan keangkuhan. “Apakah ia berbisa?” tanyaku sembari menyetel kamera. “Semua viper berbisa,” sahut Lenjoe santai. Langsung mundur aku, lalu mengandalkan fitur zoom saja untuk mengambil gambar.

Sayangnya, maskot Bako yakni bekantan (Nasalis larvatus) lebih gemar bersembunyi di ketinggian pepohonan. Biasanya mereka turun mencari makan pada pagi hari. Itulah mengapa bermalam di Bako (terdapat beberapa bangunan resort milik Taman Negara) adalah salah satu alternatif wisata alam di sini karena bisa mengamati hewan-hewan hutan secara lebih leluasa.

Total terdapat sekitar 190 species fauna di Bako dan berbagai jenis vegetasi lainnya seperti hutan bakau, hutan rawa, padang ilalang, hingga hutan dipterocarp. Selain tumbuhan kantung semar, ada pula sarang lebah tak bersengat yang jika dibakar aromanya mirip kemenyan dan kerap digunakan suku Dayak untuk upacara adat/pengobatan.

Terdapat beberapa jenis walking trail yang dapat diikuti wisatawan. Jalur Telok Delima dan Telok Paku adalah jalur strategis untuk mengamati bekantan di pagi hari.  Pantai Pandan Kecil adalah tempat dimana kau bisa memandang formasi batu karang (sea stack) di lautan yang sudah terkikis air laut sehingga menghasilkan bentuk ikonik khas Bako. Teluk-teluk kecil, tebing-tebing curam, hingga pantai pasir putih menjadikan pesisir Bako sebagai daya tarik wisata.

kuching bako river cruise

sea stack bakoSunset Cruise di Sungai Sarawak

Penutup hari-hari kami di Kuching, dilewatkan secara istimewa di atas sungai Sarawak pada saat matahari terbenam. Total panjang sungai ini adalah 120 km, dan sebagian melintasi ibukota Sarawak sebelum menemui Laut Cina Selatan. Tentu kami hanya menyusuri sungai ini di bagian kota Kuching saja dengan durasi sekitar 1,5 jam.

Kami berkumpul di dek atas kapal MV Equatorial yang terbuka dan berwarna putih mentereng, dimana turis-turis internasional duduk mengelilingi meja-meja bundar. Sirup jeruk segar dan kuih lapis istimewa dihidangkan tanpa batas. Bunyi shutter dari kamera ponsel, mirrorless, hingga DSLR terdengar silih berganti. Pemandangan 360 derajat di sekeliling kami memang layak diabadikan.

Dari Kuching Waterfront kapal bergerak ke arah hulu untuk menunjukkan sisi heritage di tepian, mulai dari Brooke Dockyard hingga Astana (Istana Gubernur yang berdiri sejak 1870). Lalu kapal berbalik menuju hilir. Terdapat pula gedung DUN (Dewan Undangan Negeri) yang megah berwarna cokelat keemasan, dan Fort Margherita (benteng yang didirikan pada 1879 oleh Charles Brooke, Raja Sarawak pertama yang berkulit putih). Lain kali aku harus menyempatkan diri mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah ini.

Dimana-mana sungai selalu menunjukkan sisi kehidupan yang bersahaja. Lansekap permukaan air yang berkilauan, segaris pepohonan di daratan, dan langit biru pucat memenuhi bingkai gambar. Lambaian tangan dan senyum ramah dari para penumpang sampan yang melintas. Siluet perahu para pemancing ikan. Para atlet dayung perahu naga yang tengah berlatih. Kayuhan ritmis di air menimbulkan bunyi gemercik berirama. Walau suasana sunset sedikit tertutup awan, tapi senang rasanya bisa melihat wajah lain kota Kuching dari sisi yang berbeda.

kuching river cruise kuching sunset cruisekuching cityscape

Kapal kembali ke dok Kuching Waterfront di saat kerlap-kerlip lampu kota mulai menyala. Penampakan gedung-gedung tinggi di sisi sungai menampilkan sisi gemerlap kota besar. Tapi aku tahu di balik belantara beton ini masih terselip kearifan lokal multi etnis dan kehijauan belantara Borneo.

 

Disgiovery yours!

 

Catatan: Artikel asli pernah dimuat di majalah maskapai Xpress Air (Okt 2017) dengan judul ‘Kuching Gerbang Suaka Sarawak’ dan sudah mengalami sedikit modifikasi untuk tayang di blog ini.

About the author

Travel Blogger
6 Responses
  1. Bajigur! Itu ada ular berbisa, ada buaya air asin segala. Untung nggak ada orang yang manis di depan tapi di belakang hmmm.
    Seru banget sih jalan di hutan gitu, tapi membayangkan kalau ada hewan liar berbahaya gitu agak bergidik juga sih.

    1. Hmm.. semacam ada curhat terselubung pada komen di atas, hahaha!

      Tenang, selama ranger setempat masih memberi izin kita masuk hutan berarti kondisi masih aman, sepanjang tetap berjalan pada jalur yang sudah tersedia 🙂

  2. Wah serunya berpetualang di Kuching! Kalau ada kesempatan balik lagi ke Malaysia, Kuching memang jadi salah satu tempat yang paling pengen aku datangi sih.

    By the way, ini bukan pertama kalinya aku baca dan dengar kalau orang Malaysia suka ayam penyetnya Indonesia. Penasaran kenapa spesifik banget ya, apakah karena di sana banyak restoran Indonesia yang menyajikan ayam penyet, atau kebetulan aja kalau orang Malaysia datang ke Indonesia pada nyobain ayam penyet.

    Kuih lapis dihidangkan tanpa batas… Hmm, berapa ya kira-kira yang kamu ambil? 😉

    1. Aku juga suka Kuching, less crowded less hectic dan dekat dengan alam hutan Borneo ijo royo-royo.

      Nah, ayam penyet emang populer banget di Malaysia, termasuk bakso. Banyak kedai ayam penyet di sini. Btw kuih lapisnya enak, tapi aku gak ambil banyak-banyak, kan emang kurang suka yang manis-manis, hehehe.. 🙂

Leave a Reply