Wisata Budaya Kota Semarang dari Desa, Pasar, Karnaval

WISATA BUDAYA dalam benak saya dahulu adalah duduk khidmat menyaksikan pementasan tari tradisional. Sesederhana itu.

Padahal sebenarnya lebih dari itu. Budaya dalam kaitannya dengan pariwisata adalah sesuatu yang berhubungan dengan kebiasaan/adat istiadat yang menarik minat wisatawan, seperti misalnya kain batik, kuliner lokal, hingga perkampungan khas. Beruntung pada kegiatan famtrip Semarang kali ini kami diberi kesempatan mengeksplor sedikit dari banyak wisata budaya Kota Semarang lebih jauh.

Kampung Pelangi

Sedianya kami hanya diturunkan di Taman Kasmaran untuk mengambil gambar saja (Kasmaran di sini berarti Kali Semarang karena posisi taman ini tepat di sisi sungai menghadap Kampung Pelangi). Namun bukan blogger namanya kalau cuma sekadar foto di spot Instagrammable lalu bubar. Beruntung akhirnya kami diberi kesempatan sekitar setengah jam untuk menjelajah wilayah sekitar.

Saya dan beberapa rekan langsung ngacir menyeberang ke Kampung Pelangi. Ialah pemukiman padat penduduk di bukit Gunung Brintik yang awalnya dulu tampak kumuh namun kini menjelma menjadi destinasi wisata baru sejak ‘dipoles’ dengan cat warna-warni dan mural-mural di dinding. Wilayah yang dulu rawan kini sudah ramah. Namun saya tak menyangka jika kami harus mendaki banyak anak tangga curam dan melintasi gang-gang sempit bak labirin untuk menuju puncak gemilang cahaya.

Tapi saya suka.

Walau nafas satu-satu, tapi saya tak jemu mengamati kehidupan penduduk lebih dekat. Anak-anak yang bermain, ibu-ibu yang duduk berkumpul sambil mengobrol, sepeda dan motor tua yang teronggok, cat dinding baru yang mentereng bersanding dengan cat dinding lama yang mengelupas, jendela-jendela kusam, jemuran warga, kucing yang tidur di tengah jalan, dan lain-lain. Penampakan jalan dan gang relatif bersih tak bersampah, dan yang utama tak ada ranjau kotoran ayam. Pun tiada bau got. Lain kali tampaknya saya harus menghabiskan waktu lebih banyak di sini supaya bisa mengeksplorasi Kampung Pelangi lebih dalam.

kampung pelangi jembatan
Salah satu gerbang masuk Kampung Pelangi
kampung pelangi gang sempit
“Gita, tengok sini!” Denok Semarang 2018 itu pun menoleh dan mencerahkan gang sempit ini

Kampung Alam Malon

Berada di kawasan Gunungpati yang teduh berhutan, kedatangan kami disambut bapak-bapak dalam seragam lurik dan riasan wajah ala gareng. Saya kira mereka akan menari tarian punakawan, tapi ternyata tugasnya menjadi among tamu. Welcome drink langsung disuguhkan, yakni wedang malon yang terbuat dari berbagai macam rempah seperti jahe, kapulaga, dll, termasuk daun sirsak. Wedang malon ini disajikan bersama cacahan daging kelapa. Mau ditambahkan susu sapi segar hasil perahan juga bisa menambah citarasa gurih. Saya suka keduanya, baik wedang malon saja ataupun yang dicampur susu.

Kampung alam Malon ini punya banyak atraksi yang diunggulkan seperti rumah batik & rumah sablon, kebun buah, hingga padepokan seni & budaya. Saya suka suasana perkampungan yang masih asri seperti di Malon ini. Walau matahari sedang lucu-lucunya menyinari bumi, namun kanopi alam memberi teduh dan sejuk. Kami berjalan kaki ke arah lembah dan berkumpul pada sebuah rumah kayu bergaya arsitektur Jawa, Zie Batik namanya. Rumah semi galeri ini menampilkan ragam kain batik yang diproses dengan menggunakan pewarna alami, seperti warna cokelat dari kayu manis, atau warna biru yang didapat dari tanaman indigofera yang tumbuh di perkebunan warga Malon. Motif batiknya keren pula, kebanyakan menampilkan gaya Semarangan seperti ikan glodog, burung blekok, hingga jambu emas.

kampung malon among tamu
Mengabadikan si Gareng
kampung malon pengrajin batik
Pengrajin batik malon

Perut gembul langsung bersukacita menyambut waktu makan siang yang terdiri atas asupan karbo, urap sayuran, dan ayam pedas. Tapi saya malah kehabisan sate krembis, hidangan khas Malon yang terdiri atas tusukan jadah (ketan) dan tempe. Sebagai ganti saya ambil sate bakso & telur puyuh. Usai makan saatnya bakar kalori ke padepokan Ilir-Ilir, berjalan kaki menyusuri perkebunan lalu menumbuk alu dan bermain egrang. Anak milenial ada yang tahu egrang?

Saya paling suka kunjungan ke Kampung Malon ini, semoga ke depannya tersedia pula sarana homestay bagi wisatawan yang ingin merasakan hidup selaras antara alam dan budaya ala Kampung Malon.

kampung malon padepokan ilir-ilir
Menuju padepokan Ilir-Ilir dimana aktivitas wisata budaya Kampung Malon dipusatkan

Pasar Semarangan Tinjomoyo

Lur, mari jajan ke pasar! Pasar Semarangan Tinjomoyo namanya. Lokasi di tepi hutan wisata Tinjomoyo (d/h area kebun binatang), buka setiap petang hingga malam. Uniknya semua transaksi di sini berbentuk digital, baik dalam bentuk BNI tap cash atau aplikasi Yap di Android. Keren, kan? Jangan kuatir bila tak punya BNI tap cash, karena sudah tersedia kounternya dekat pintu masuk dengan pembelian saldo minimum Rp20.000 (CMIIW). Kartu tap cash ini bisa digunakan untuk transaksi digital lainnya termasuk naik bus Trans Semarang. Selain jajanan, Pasar Semarangan ini juga mempunyai beberapa spot Instagrammable hingga panggung hiburan.

Jajanan yang ada di Pasar Semarangan ini termasuk unik karena ragam kuliner yang masih baru bagi saya seperti wedang kawi, sego ambang, sego kethek, sego tedun, hingga aneka olahan jantung pisang. Tiap tenant menempati saung-saungnya tersendiri. Kampung Alam Malon pun punya lapak di sini dan menjual kuliner khas-nya yakni wedang malon dan sate krembis (tapi saat kami datang mereka sedang tutup). Tak usah kuatir, banyak juga yang menjual hidangan nasional, western, hingga Cina, India, dan Arab. Saya tergoda mencoba nasi kebuli Khoja yang saungnya terletak paling pojok. Daging kambingnya empuk dan gurih, JUWARAK! Setelah memesan, pembeli tinggal serahkan kartu BNI tap cash dan menerima receipt dari penjual. Atau tinggal scan barcode yang bakal langsung terhubung dengan aplikasi Yap. Keren atau keren?

pasar semarangan tinjomoyo
Ada panggung dengan sound system di pasar! 😉
pasar semarangan nasi kebuli
Khusyuk! (photo by Deta @kulkasgendong)
pasar semarangan transaksi digital
Tinggal pilih transaksi mau tap atau scan

Semarang Night Carnival

HUT Kota Semarang yang jatuh pada tanggal 2 Mei (tahun ini menginjak usia ke-471) selalu disemarakkan oleh acara puncak Semarang Night Carnival (disingkat SNC atau kerap dibaca ‘Esensi’). Pawai akbar tahun ini sudah menginjak pergelaran ke-8 dan mengusung tema Kemilau Semarang 2018. Acara dibuka oleh bapak walikota Hendrar Prihadi yang tak pernah absen menyapa kami para blogger famtrip Semarang dan mengucap terima kasih.

Parade marching band selalu menjadi atraksi pembuka, dan ini yang saya tunggu. Atraksi tahun ini diisi oleh korps Akademi Kepolisian RI. Kekompakan taruna dan taruni dalam beraksi sungguh memikat, meski durasi mereka dalam melakukan atraksi di depan tribun utama terasa lebih singkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di sisi lain, sebagai anggota Paskibra di masa remaja, saya selalu tertarik melihat seberapa kompak formasi baris berbaris dalam seragam kebesaran (apalagi sambil memainkan alat musik). Rasanya ingin kembali berada di dalam barisan dan merasakan euforia gegap gempita itu.

Parade selanjutnya menampilkan defile butterfly (melambangkan flora & fauna khas pesisir), sea (menggambarkan kota di tepi laut Jawa), art deco (menggambarkan gaya hias bangunan kuno), dan asam arang (melambangkan asal-usul nama Semarang). Para peserta karnaval dalam aneka kostum megah dan warna tampak berlenggang di depan tribun diiringi musik menghentak. Delegasi utusan negara sahabat juga turut hadir, dan saya paling suka defile dari Korea Selatan yang dinamis (rata-rata peserta berusia lanjut namun tetap enerjik). Oya, tagar #SNC2018 menjadi trending topic nomor satu malam itu, lho!

semarang night carnival gate
Menuju wisata budaya Kemilau Semarang 2018
semarang night carnival costume
Parade laut (photo by Wahid @wahidunited)

Tagar #semarangmakinhebat untuk famtrip Semarang kali ini memang menunjukkan semakin hebatnya Kota Semarang dengan inovasi wisatanya. Semoga yang sudah ada semakin terjaga dan yang utama tetap memelihara nilai budaya dan kearifan lokal penduduk setempat.

Silakan baca artikel perjalanan hari pertama kami di sini:
Wisata Religi Kota Semarang dari Masjid, Vihara, Kota Lama

 

Disgiovery yours!

12 Responses
  1. Sejak beredar di media sosial, aku sangat berhasrat untuk main ke Kampung Pelangi ini. Ditambah, beberapa kali saat pulang kampung aku transit di Semarang dan melintasi kampung. Sayang durasi transit hanya 1 jam, jadi belum bisa menyempatkan diri. 🙁
    Pasar Semarang ini uniknya, dikonsep pasar gaya tradisional tapi metode pembayarannya modern. Mantap~

    1. Mesti menyempatkan diri lain kali, dan melihat kehidupan Kampung Pelangi dari perspektif lain.
      Kalau Pasar Semarangan emang konsepnya udah kekinian banget, kirain cuma di salah kota di Cina aja yang tukang streetfood-nya udah tinggal gesek hape gak perlu bayar pakai uang tunai 🙂

Leave a Reply