Wahana Nirwana Pulau Semau

pulau semau

disgiovery.id

TUHAN, inikah nirwana?

Ucapanmu terperangkap masker di mulut. Pulau Semau memerangkapmu dalam debu. Jalan yang ditempuh sungguh kering berdebu atau kadang berbatu di bawah panas terik dan silau kilau sang surya. Kadangkala aral menjelma dalam wujud babi penyeberang jalan, atau tumpukan kotoran sapi (jadi penasaran dimanakah kotoran babi?). Gumamanmu tentang nirwana terdengar bagai troll berkumur jamu sambiloto, tapi kau tahu Tuhan tahu. Jadi tak perlu mengulang pertanyaan tadi.

Tuhan tentu membalas dalam kuasaNya sendiri. Seketika pandanganmu dihadapkan pada permukaan laut biru cemerlang dan pantai pasir putih. Penglihatanmu yang sedari tadi menangkap nuansa tandus & gersang langsung merasa segar oleh unsur air dan ombak. Sekejap lupalah dirimu akan perjalanan berpeluh yang ditempuh.

pulau semau pantai otan

Pantai Otan

Menjejaklah kaki di utara pulau Semau. Garis pantai memanjang dengan ombak yang tak begitu besar. Biduk-biduk berlabuh namun tampak kosong. Mungkin kendaraan nirwana. Lihatlah di kejauhan tampak beberapa sosok malaikat tengah memanen kebajikan bernama Eucheuma, sp. Rumput laut. Apabila ada yang berwarna merah, Kawan, kau tahu ia disebut ‘bunga Bali’ karena dibawa dari nusa dewata bertahun silam.

Suasana di pantai Otan ini demikian tenang. Kau bisa berenang-renang nyaman di pantainya yang berair jernih. Naik ke salah satu biduk dan berperan sebagai nelayan. Beramah tamah dengan malaikat, siapa tahu kau diberi segenggam kebajikan (sudah pernah mencicipi rumput laut yang baru dipetik?). Atau kau hanya mau leyeh-leyeh di pantai, berbaring di pasirnya yang halus dan kau jemur badan di balik tabir SPF sekian sekian (sebaiknya kau gunakan yang berbahan dasar mineral non chemical supaya bersahabat dengan terumbu karang). Atau sudikah kau berperan sebagai dugong terdampar?

Tapi lalu kau ingin lebih. Bukan, ini bukan tentang dugong.

Tuhan, adakah tantangan lebih seru?

pulau semau pantai otan pulau-semau-karang-pantaipulau semau pantai otan

Pantai Oenian

Tuhan mengutusmu ke sisi lain pulau Semau yang mempunyai pantai berombak lebih besar dan berarus lebih deras. Pantai Oenian disebut. Berenang-renang lebih menantang di sini. Tapi jangan terlalu mendekati batu karang di sisi kanan kiri. Sebuah bukit karang menjulang membatasi pantai Oenian ini dengan pantai lain di sebelahnya. Pakailah alas kaki jika mendaki bukit karena karang-karang tajam membatasi jejak. Tapi pemandangan pantai cukup memanjakan mata dari atas sini. Kombinasi warna bebatuan karang yang gelap, dahan-dahan mati yang memutih, lumut-lumut karang yang menghijau, pasir pantai krem berkilat, dan angkasa biru legam, sungguh tepat mendefinisikan pemandangan laut eksotis.

Turun dari bukit, kau akan menjumpai bebatuan karang berlumut, bak menapak pada karpet hijau yang empuk. Ada banyak kolam-kolam mungil menjelma di bebatuan, tak ubahnya bath tub pribadi. Tapi kau mesti waspada jangan sampai mengusik makhluk-makhluk laut yang hidup di dalam kolam. Kau lihat memang tiada bulu babi, tapi tentu tak inginlah kau sodorkan cacing laut pada kepiting.

Cacing laut? Kau emosi. Lalu mengadu padaNya. Tuhan, beriku kesabaran.

pulau-semau-pantai-oenian pulau-semau-pantai-oenian pulau-semau-pohon-karang

Pantai Oetebu

Kau terdampar di sebuah pantai entah. Bisikan angin menyebutnya Pantai Oetebu, meski kau tak yakin demikian namanya. Namun pantai ini memukau. Garis pantainya bak lengkung sabit. Pasirnya tampak licin tak berjejak kaki. Sebuah kano tak bertuan tampak siap mengarungi lautan biru.

Tapi perhatianmu malah beralih pada cangkang-cangkang kerang di sisi jalan. Tampaknya malaikat telah menanam serbuk-serbuk kebajikan lain di sini. Garam. Cangkang-cangkang kima berisi air laut itu memerlukan waktu lebih kurang 7 siang 7 malam untuk menghasilkan garam. Sebuah cara tradisional yang menarik, menyita waktu namun butuh kesabaran. Apakah kau punya kesabaran itu, Kawan?

Tuhan, tinggikan tekadku.

pulau-semau-pantai-oetebupulau-semau-pantai-oetebu

Gunung Liman

Nafasmu memburu di puncak sebuah gunung. Sebenarnya ini hanyalah sebuah bukit di sisi barat pulau Semau, namun para penghuni pulau menyebutnya Gunung Liman. Di bawahmu terbentang pantai keemasan, di hadapmu matahari tenggelam. Rona jingga menyaput cakrawala. Kelabu menepis biru.

Angin yang tampak mati sedari siang kini mulai berembus. Panji kebesaran ditegakkan seiring bola raksasa memancarkan sinar terakhirnya sebelum pupus oleh malam. Kau hanyut dalam diam. Kau hanyalah sebuah titik di bawah mangkuk galaksi. Tapi kau percaya sedang berada di salah satu wahana nirwana di bumi, di sini di pulau Semau. Wahana liar yang menawarkan unsur petualangan dengan debu, babi, karang, panas, dan rintangan lainnya (adakah babi di surga, tanyamu sangsi). Wahana misteri untuk keindahan yang tak terjamah walau bersisian dengan peradaban*. Seakan ada selubung gaib yang membuat pulau Semau berada dalam dimensi berbeda.

pulau-semau-bukit-liman

[photo credit: Valentino Luis]
[photo credit: Valentino Luis]
pulau-semau-bukit-liman

Waktu kan menjawab adakah wahana nirwana bertahan di pulau Semau atau tidak.

 

Disgiovery yours!

 

*Pulau Semau letaknya berdekatan dengan Kupang, ibukota provinsi NTT

** Mau tahu catatan perjalanan selama di pulau Semau? Klik di sini! 🙂

About the author

Travel Blogger
24 Responses
  1. Rifqy Faiza Rahman

    Hihihi, saya tergelitik baca paragraf awalnya, kocak 😀

    Duh, foto-fotonya nggarai pengen ke sana :3

  2. Keindahan alamnya benar-benar juara banget Mas, rasanya bahagia meski saya cuma bisa memandang keindahan dalam foto-foto ini. Mudah-mudahan bisa ke sana dan melihat langsung :hehe. Pantai Oetebu itu punya pesisir pasir yang luas sekali, bisa salto ribuan kali kayaknya di sana, terus bikin konser sendiri :haha *sudah membayangkan yang aneh-aneh :hihi*.

    1. Semoga bisa terlaksana keinginanmu, Gara! 🙂
      Pantai Oetebu memang paling menggoda, cocok buat castaway ala-ala #halah
      Kalau bikin konser jangan terlalu berisik ya, atau mending bikin pementasan teater aja, hehehe 😉

Leave a Reply