Ullen Sentalu & Nyonya Mulut Besar

Scroll this

Ullen Sentalu

NYONYA mulut besar ini bahkan sudah terdengar gaung suaranya sebelum kami melihat penampakannya. Sabtu itu gerimis, saya dan dua orang teman sedang duduk menunggu giliran masuk museum Ullen Sentalu di gerbang depan.

Museum Ullen Sentalu terletak di daerah sejuk Kaliurang, Yogyakarta. Museum ini baru dibangun pada pertengahan tahun 90an, namun karena kondisi alam yang selalu teduh dan lembab akhirnya menyebabkan hampir keseluruhan bangunan tsb kini berselubung lumut, seakan-akan tempat ini adalah sebuah kastil kuno. Dan hal ini memang disengaja. Sungguh perhitungan yang cermat.

Saya sudah pernah berkunjung ke sini pada 2009 silam, dan saya langsung terpikat karena selain bisa melihat koleksi benda-benda kuno & nyeni, pengunjung juga dibuat terkesima oleh kisah-kisah menarik tentang kehidupan bangsawan Jawa yang diceritakan secara interaktif oleh pemandu. Oleh karenanya saya tak menolak ketika diajak menyambangi tempat ini kembali.

xIMG_0918
Selamat datang! Petugas yang manis ini akan membagi tamu dalam beberapa grup, dan tiap grup akan didampingi seorang pemandu.

Ternyata saya dan kedua teman diikutsertakan dalam rombongan sebuah keluarga besar yang terdiri dari beberapa orang ibu, bapak, dan anak-anak. Satu yang paling mencolok tentu saja keberadaan sang nyonya mulut besar yang kebetulan bertubuh tambun dan berpakaian serba ungu, tertutup namun ketat. Sayangnya dilarang mengabadikan gambar di dalam ruangan sehingga saya tak sempat memotret penampakan si nyonya mulut besar (untuk selanjutnya mari kita sebut beliau sebagai Ny. MB).

Masuk ke ruangan pertama yang dipenuhi koleksi gamelan milik keraton, pemandu hendak menjelaskan kepanjangan Ullen Sentalu seperti tertera di plakat (yakni Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku), namun tiba-tiba Ny. MB sudah menyahut lantang:

“Aku kira ULATING BENCONG, mbak!”  Suaranya serak namun pekak.  Bagaikan ia sedang duduk merokok di tepi ranjang sambil mengomentari betapa payah kemampuan suaminya.

Hening sejenak.

Sama sekali TIDAK LUCU. It’s like someone making fun of your given name. It’s totally impolite.  As rude as making fun of your spouse. 

Mbak pemandu menampakkan senyum yang dipaksakan. Keluarga besar Ny. MB kemudian langsung ikut mengkoreksi. Kemudian berkisahlah sang pemandu tentang arti nama panjang Ulating Blencong tsb, yang kurang lebih artinya adalah ‘nyala dian/pelita yang menerangi insan pada jalan kehidupan’.

Dan apa yang dilakukan Ny. MB?

Dia mengambil sikap ‘peduli setan’, karena langkah kakinya kini sudah menuju koridor yang dipenuhi deretan foto. Lalu berseru-serulah ia menanyakan ini foto apa, itu foto apa, dll.

Pemandu terpaksa menyusul ke lorong untuk meladeninya, dan rombongan otomatis mengikuti langkahnya. Saya dan kedua teman cuma saling berpandangan dengan kecut. Museum ini menggunakan teknologi sensor gerakan, jadi lorong/ruangan yang sebenarnya gelap ini satu persatu akan menyala lampunya jika mendeteksi kehadiran pengunjung, dan otomatis padam jika tiada gerakan. Jadi alangkah baiknya untuk tetap bersama-sama dalam satu grup. Mau tak mau kami pun terpaksa mengikuti arus rombongan.

Sewaktu kunjungan pertama dulu, sang pemandu dapat dengan leluasa menceritakan kembali kisah-kisah yang terjadi di balik setiap foto/benda. Sungguh memikat, karena memang salah satu daya tarik utama museum Ullen Sentalu ini adalah memaparkan intangible heritage, yaitu penuturan kisah-kisah sejarah/legenda/mitos yang tiada hubungannya dengan kebendaan. Bahwa warisan budaya bangsa tidak melulu berhubungan relik/artefak (alias tangible heritage).

Tapi kini, setiap kali pemandu hendak bercerita, Ny. MB akan langsung memotong dan berpindah ke foto berikutnya dengan semena-mena, itu pun kerap melewati beberapa foto yang dianggapnya tidak menarik. Padahal tiap foto ada kisahnya sendiri. Rombongan keluarganya kadang ikut menimpali. Berisik. Saya dan kedua teman berjalan lambat-lambat paling belakang, berusaha mencerna sendiri foto-foto hitam putih yang terpampang dalam bingkai.

Kemudian tibalah kami pada deretan foto Gusti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani (puteri dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegoro VII). Gusti Nurul terkenal akan kecantikan dan kepiawaiannya menunggang kuda, bermain tenis, menulis puisi, dan yang utama berwawasan luas dan modern pada masanya.

Pemandu: “Gusti Nurul pun kerap merancang sendiri pakaiannya–”

“Lihat sepatunya mirip MANOLO BLANTIK! MANOLO BLANTIK!” Ny. MB sudah ribut berteriak mengomentari foto di sebelahnya. MANOLO adalah seorang perancang sepatu terkenal di dunia, namun nama belakangnya jelas-jelas BLAHNIK, bukan BLANTIK, buuuu!. Saya dan kedua teman langsung berpandangan sambil menahan tawa.

Pemandu: “Gusti Nurul pun pernah menolak lamaran Bung Karno–”

Ny. MB: “Aku kenal anaknya Gusti Nurul!”

Keluarga Ny. MB: “Wah serius, ceu?”

Kemudian Ny. MB malah sibuk sendiri bercerita tentang anak Gusti Nurul, yang ditanggapi oleh keluarga Ny. MB yang terkagum-kagum. Saya langsung menghampiri mbak pemandu yang memasang tampang hampir menangis. “Mbak, lanjutkan saja ceritanya…”

Akhirnya mbak pemandu pun lebih memilih bercerita pada kami bertiga. Ditunjukkannya pula sebuah sajak yang ditulis Gusti Nurul ketika dipaksa meninggalkan kekasih hatinya.  Cuplikannya kira-kira begini:

Persahabatan tanpa cacat
Juga jarang terjadi
Tetapi cinta tanpa kepercayaan
Adalah suatu bualan terbesar di dunia ini

(Gusti Nurul Kamaril, Solo)

xIMG_0902
Salah satu suasana di luar komplek museum yang teduh dan lembab.

Kami hanya menghabiskan waktu setengah jam saja di dalam bangunan museum (padahal kunjungan perdana saya sebelumnya memakan waktu sejam lebih). Mbak pemandu seperti bergegas, seperti sudah tak tahan. Ia hendak menjelaskan beberapa koleksi arca di koridor terbuka Sasono Recolondo ketika lagi-lagi Ny. MB memotong dengan suara lantangnya: “Wah, mirip suasana kampusku di ITB dulu!”

Kemudian seperti biasa keluarga Ny. MB langsung menimpali ceritanya yang jadi berkepanjangan.

Kami pun akhirnya didamparkan di sebuah ruangan, dan disuguhi racun sianida ramuan awet muda resep kerajaan Mataram (terdiri atas campuran air hangat dengan jahe, kayu manis. gula jawa, pandan, dan sedikit garam).  Ibu-ibu dari keluarga Ny. MB berebutan meminumnya, bahkan ada seorang anak yg ditepis tangannya. “Gak perlu! Kamu kan masih muda!”

Kelak ketika saya berkicau akan hal ini di Twitter, salah seorang teman berkomentar:
“Mungkin si nyonya mulut besar juga tertarik akan khasiat minuman air keras. Dia pasti lebih awet lagi!” Hahaha!

Mbak pemandu mengakhiri tugasnya di depan replika salah satu relief candi Borobudur. Ini adalah fitur baru di dalam komplek museum. Ia hendak menjelaskan kenapa replika itu diletakkan dalam posisi miring ketika Ny. MB dan keluarganya sudah gaduh hendak berfoto-foto di sana.

Tampaknya hanya saya dan kedua teman yang sempat mengucapkan terima kasih kepada sang pemandu. Kami bertiga pun segera memisahkan diri, dan saya sudah tak berminat untuk mengambil gambar si nyonya.

***

xIMG_0897
Replika salah satu relief candi Borobudur yang diletakkan dalam posisi miring sebagai tanda keprihatinan pihak museum akan berkurangnya perhatian pemerintah dalam pelestarian Borobudur.
Suasana sanggar tari di dalam salah satu komplek museum.
Suasana sanggar tari di dalam salah satu komplek museum.
Kunjungan museum berakhir di depan resto & toko cinderamata.
Kunjungan museum berakhir di depan resto & toko cinderamata.

***

click here Kisah kunjungan perdana saya ke Ullen Sentalu & Borobudur (dan harus mengalami diare parah sepanjang perjalanan)

18 Comments

Submit a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.