Tentang Telaga Sunyi, Patah Hati, Dan Hal Remeh Temeh Lainnya

Scroll this

Telaga Sunyi 01

Disgiovery.com | ADA sebuah telaga yang tak banyak orang tahu tapi saya tahu. Baiklah, bukan cuma saya, tapi setidaknya cuma sedikit orang yang tahu. Padahal telaga ini letaknya tak jauh di sisi jalan raya menuju Puncak Pass (dekat perbatasan Bogor-Cianjur), namun keberadaannya cukup tersembunyi di sebuah ceruk dekat bukit-bukit berpucuk teh.

Bukan, ini bukan telaga warna, meskipun letaknya berdekatan.

Saya menyebutnya telaga sunyi.

Sebuah lapangan bola barangkali dapat masuk ke dalamnya. Permukaan airnya diam, tak terlihat dasarnya, tapi sepertinya ia dangkal saja. Seorang pemancing duduk sendiri, mungkin pikirannya melantur entah kemana. Mungkin ia tengah patah hati.

Telaga Sunyi 02 Telaga Sunyi 03

 

Kisah seorang putri
Yang telah patah hati
Lalu bunuh diri

Tenggelam di telaga sunyi
Bersama cintanya yang murni
(Telaga Sunyi by Koes Plus)

 

Mungkin berpuluh tahun silam Koes Plus terinspirasi mencipta lagu Telaga Sunyi berdasarkan telaga ini. Duduk diam di sisi telaga kadang bisa membuatmu pikiranmu terbawa. Udara pegunungan terasa teduh memapar kulitmu tanpa peluh.

Seperti halnya si pemancing, saya juga duduk sendiri, meski tidak sedang patah hati. Dalam imajinasi saya, si pemancing berseru: “Siapa pula yang patah hati? Saya malah sedang memancing hati. Kau lihat warung di sana? Hasil pancingan hari ini akan saya hadiahkan kepada si penjaga warung, calon bini muda saya!”

Kau lihat? Malah pikiran saya yang melantur.

Tapi dunia pun suka melantur.

Dalam perjalanan tadi, di daerah Cipayung, seorang gelandangan yang sakit jiwa tampak memakai jaket bulu. Kulit telanjangnya yang kasar, busik, dan dekil itu terlihat kontras dengan jaket bulu yang dikenakannya. Bagai ada seekor rubah merah melingkari leher. Bulu halus si rubah terjela di antara rambut gimbal.

Saya sempat tertidur di perjalanan. Ketika terbangun malah sempat disorientasi karena di sepanjang jalan terpampang tulisan-tulisan dalam huruf Arab gundul. Seorang pria bersurban memintas jalan.

Mungkin ini yang dinamakan twilight zone. Setengah berharap saya.

Tapi saya rupanya tengah melintasi Cisarua, tempat dimana konon praktek kawin kontrak dengan pria-pria Timur Tengah lazim terjadi.

Memasuki Puncak. Muda-mudi duduk berpasangan di pelataran & parkiran masjid. Sekoteng panas dan sesekali peluk hangat. Dan tatapan dingin dari saya. Apa pula maksud mereka berkencan di area masjid.

Beruntung kabut datang.

Telaga Sunyi 04 Telaga Sunyi 05

 

Kabut, sengajakah engkau mewakili pikiranku
Pekat, hitam berarak menyelimuti matahari

Aku dan semua yang ada di sekelilingku
merangkak menggapai dalam gelap
(Menjaring Matahari by Ebiet G. Ade)

 

Berdiri saya di tepi telaga, menyongsong kabut yang berarak datang. Rasanya bagai diterkam makhluk tak berwujud namun terasa tempias dan basahnya. Dengarlah, bahkan kabut pun bersuara. Gemercik halus di kuping, titik-titik yang dingin, ditimpali deru angin di kejauhan.

Saya senang berada dalam kabut. Seakan-akan kau terhisap ke dimensi lain. Tinggalkan duniamu yang nyaman, atau bahkan membosankan.

Kabut pergi secepat ia datang. Sinar matahari sesaat benderang. Pucuk-pucuk teh tampak basah gemerlapan. Telaga sunyi masih diam. Si pemancing sudah tak tampak.

Tinggal saya dan telaga sunyi.

Matahari sudah terjaring.  Kabut kan kembali.

Telaga Sunyi 07

14 Comments

Submit a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.