Seba Kuwerabakti | Outside & Beyond

Scroll this

Seba Kuwerabakti terakhir dilaksanakan 530 tahun lalu. Jadi ketika ada pemberitahuan dari kang Bagja bahwa acara ini akan dihelat kembali dalam rangka menyambut HUT kota Bogor, maka saya langsung antusias ingin menyaksikannya.

Seba Kuwerabakti konon merupakan salah satu agenda tahunan Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran) yang menerima kunjungan raja-raja daerah untuk mempersembahkan panggeres reuma (kelebihan hasil panen) sebagai bentuk kesetiaan mereka kepada Raja Pajajaran. Pada masa itu ibukota kerajaan Pajajaran berada di Purasaba (alias kota Bogor sekarang), dan acara seperti ini memang tak pernah diadakan di tempat lain.

Jadilah pada HUT Kota Bogor ke 530 tahun ini diadakan reka ulang acara Seba Kuwerabakti yang pertama kali digelar setelah berabad-abad vakum. Saya langsung mengatur agenda: jam 8 memotret pawai di balaikota, jam 10 memotret acara dongeng kak Aio & pak Raden di Taman Topi, lalu jam 11 memotret acara utama di Kebun Raya Bogor sampai selesai.

Well, namanya manusia cuma makhluk lemah tak luput dari khilaf dan kekurangan, saya bangun kesiangan dong sodara2! Alhasil saya cuma bisa mengikuti acara di KRB, beruntung sebelumnya sudah mengontak Eca & Ricka buat motret bareng. Apa daya konsep motret bareng ala Eca & Ricka adalah: saya yang motret, mereka yang bergaya depan kamera. Hahaha!

Duo mojang penunggu Kebun Raya Bogor

Seperti sudah saya duga, ada banyak penggiat fotografi yang bertebaran di sini, dengan kamera-kamera profesional dan lensa-lensa segede gaban. Acara utama digelar di lapangan depan Kafe Dedaunan, dan karena jaraknya yang lumayan jauh dengan podium penonton, saya cuma bisa menangkap gambar sekenanya. Apalagi banyak foto yang bocor, saking banyaknya orang yang ingin mengabadikan gambar. Sungguh beruntunglah wahai mereka yang mempunyai lensa tele mumpuni (tatap iri mas Inoe dan mas Erwin).

Saya malah tak begitu menyimak acara utama selain prosesi arak-arakan Prabu Siliwangi dan permaisuri ke tengah lapangan. Kesibukan di belakang podium penonton lebih menarik perhatian. Ada putri-putri cantik yang meleleh kepanasan. Ada peserta pawai tadi pagi yang mulai membubarkan diri (barongsai, sepeda ontel, paskibra, dll). Di tengah hilir mudik manusia tampak pula kedatangan gubernur Jabar dan dubes India (tampaknya kedubes India turut berperan penting dalam acara ini).

note: Buat yang penasaran sama foto-foto lengkap Seba Kuwerabakti sila klik link mas Erwin di atas πŸ™‚

 


Kirab bendera membuka acara

Tari-tarian


Sebagian kecil dari ribuan orang pengisi acara

Β 

Saya juga mencari-cari penampakan mas Ready, bunda Julie, mbak Tintin, dan juga mbak Nani (beliau sempat menelpon sewaktu saya dkk ngaso di Kafe Dedaunan, namun sayangnya kami tak sempat bertemu). Setelah acara Seba Kuwerabakti selesai (sekitar pukul 13), saya malah bersua dengan Adhit dan kang Bagja (yang berbaik hati menghibahkan 6 kotak jatah konsumsi untuk kami bawa, nuhun atuh kang!).

Eca juga bersua dengan teman-teman dari komunitas Natrek (alias Nature Trekker), dan jadilah kami bergabung dalam satu himpunan. Kasihan mas Roni, langsung kena bajak Eca untuk berfoto-foto pake kamera infra red *puk puk mas Roni*. Saya faham betul penderitaanmu, mas! πŸ˜‰

 

[left] Sony with his fave Natrek coat | [right] Roni is in dilemma; 9.5 dari 10 frame di kameranya adalah foto-foto narsis Eca! πŸ˜€

 

Jadi mas Roni, Sony, Yudi, dan Joko ini adalah para aktivis Natrek, komunitas pecinta kegiatan outdoor yang sudah eksis sejak awal abad XXI, jauh sebelum munculnya generasi Jejak Petualang, ACI Detik Travel, dan semacamnya. Sebagai petualang kawakan, mereka pun tak gentar menembus kemacetan kota Bogor untuk melakukan dua hal yang cuma dilakukan oleh pria sejati: makan di KFC *lirik Sony* dan shopping di Esta. Hahaha!

KFC di samping tugu Kujang ini memang hits, lokasinya strategis dan paling mudah diingat untuk dijadikan titik temu. Dulu KFC ini menempati bangunan klasik ala jaman kolonial, sayang sekarang sudah dirombak menjadi bangunan modern serba kaca.

Oya sebelum ke Esta, kami singgah dulu di Rahat (samping Pangrango Plaza) buat ngemil bubur buah vanilla & strawberry, es buah salju, nasi tutug oncom ayam goreng, dan bebek sambal ijo <– segini dibilang ngemil???

Di Rahat ini masih ada sisa-sisa kejayaan MPers sejak 2008 lho, yaitu tandatangan di whiteboard dan foto narsis di meja kasir, hohoho!

 

Prasasti kejayaan MPers era 2008 SM πŸ˜‰

[left] Watermelon & strawberry refreshments from Kafe Dedaunan |Β [right] Es buah salju ala Kafe Rahat menandingi segarnya bubur buah

Bertemu si mungil Ulil di Kafe Dedaunan setelah 4 tahun tak jumpa πŸ™‚

Β 

Esta adalah toko serba ada bagi penggemar kegiatan outdoor (tersedia sepatu gunung, tenda, sleeping bag, jaket, headlamp, pisau lipat, teleskop, you name it!). Lokasinya di jalan Pajajaran no. 96, ke arah Warung Jambu. Kalau kita memasuki pintu kaca toko ini maka akan terdengar bunyi bel disertai ucapan otomatis dari speaker:

“Welcome! Please come in!

Oh, dan kami sengaja bergiliran masuk satu persatu dong, jadi si speaker pasti kecapekan mengucapkan selamat datang 7 kali berturut-turut tanpa jeda! -____-

Yang saya suka dari Esta adalah ragam model dan warna. Sepatu outdoor yang biasanya bentuk & warnanya membosankan, di sini banyak yang modelnya menarik dan terbuat dari bahan suede hingga leather. Bahkan sekedar jaket parasut pun terdapat pilihan warna merah marun hingga hijau alpukat. Harga barang-barang di Esta berkisar dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Tapi bagus-bagus semua kok dan kualitasnya tak diragukan.

Gelang dari tali prusik, cinderamata dari Eca sebelum hijrah ke Jepun

Total kerusakan sore ini di Esta kira-kira mencapai 10.000.000.000.000.000 dollar Zimbabwe, hahaha! Dari Esta kami pun berpisah, mas Roni dkk harus kembali ke Jakarta naik kereta api tut tut tut, sedangkan saya, Eca, dan Ricka lanjut melepas lelah di Coffee Time, another relaxing spot in the city.

Menu andalan di sini ialah fruity yoghurt, semacam potongan buah-buahan segar yang disiram kuah susu & yoghurt. Beda dengan bubur buah Rahat, atau sop buah pak Ewok, fruity yoghurt ini lebih encer namun lebih segar, meski masing-masing memang punya cita rasa tersendiri.

Eca membuatkan kami gelang dari tali prusik yang ia beli di Esta tadi. Kami mengobrol ngalor ngidul mulai dari tragedi Sukhoi, kisah ‘dia yang namanya tak boleh disebut’, hingga pelik delik asmara. Suasana mendukung untuk curhat, apalagi di luar hujan deras.

Acara ditutup di rumah Ricka di Ciawi, berupa jamuan makan malam bebek goreng pak Gendut. Jelang tengah malam kami pun membubarkan diri. Hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan!

Thanks mas Roni for this absurd picture πŸ˜‰

Β 

83 Comments

Submit a comment