Rafflesia VS Amorphophallus | Manakah Bunga Bangkai Sebenarnya?

BUNGA BANGKAI dan Rafflesia arnoldii sesungguhnya adalah dua puspa langka berbeda, Kawan!

Bahkan sebelum datang ke bumi Bengkulu, saya masih belum bisa membedakan yang mana yang disebut bunga bangkai: apakah Rafflesia arnoldii ataukah Amorphophallus titanum. Sementara masih banyak orang yang bahkan mengira kedua nama tsb merujuk pada satu tumbuhan yang sama.

Di luar dugaan, kami bisa menjumpai bunga Rafflesia arnoldii yang sedang mekar di tanah Bengkulu. Pada saat itu kami sedang melintas di kawasan hutan lindung Taba Penanjung, Benteng (Bengkulu Tengah) dalam perjalanan menuju Curup, Rejang Lebong. Panitia yang meluncur lebih dulu dengan mobil kecil sampai melonjak-lonjak gembira di sisi jalan, memberi tanda supaya bus kami berhenti.

Baca juga: 5 Pesona Wisata Bengkulu (Puspa Langka Hingga Huruf Kaganga

Saya selalu suka pada hutan, pada aroma dan suaranya. Udara dingin imitasi di dalam bus langsung tergantikan oleh udara sejuk hutan lindung. Kuping sejenak pengang, sebelum terbiasa dengan kicau burung dan serangga serta gesek angin pada dedaunan dan kanopi hutan. Mata-mata kantuk langsung membelalak. Antusias.

rafflesia arnoldii hutan

Rafflesia arnoldii

Di lereng hutan yang terjal dan licin dan (konon) banyak pacet inilah akhirnya perjumpaan perdana saya dengan Rafflesia arnoldii terlaksana. Lihat, lihat, ia mekar menyeruak di dasar hutan, berwarna merah-jingga dengan 5 kelopak mahkota bunga, dengan garis tengah sekitar 1 meter. Baru tahu saya jika ia adalah tumbuhan parasit obligate (menggantungkan hidup sepenuhnya pada tumbuhan inang). Rafflesia tumbuh di jaringan tumbuhan merambat (liana) Tetrastigma.

Begitu saya mendekati Rafflesia dengan takzim, samar terdengar bunyi mendengung. Tampaklah lalat-lalat berterbangan di bagian tengah bunga yang berbentuk lubang bundar, tempat piringan benang sari/putik berada dan mengeluarkan aroma yang menarik serangga untuk penyerbukan. Sekali berbunga, bukan jaminan bunga Rafflesia ini akan berkembang biak karena belum tentu bunga jantan dan bunga betina mekar dalam waktu bersamaan. Itupun masih tergantung pada keberadaan tumbuhan inang Tetrastigma yang kini semakin langka.

Tapi tak ada bau atau aroma yang mengganggu indera penciuman. Mungkin masanya sudah lewat. Rafflesia arnoldii ini sudah mekar selama 2-3 hari, tinggal menunggu waktu (5-7 hari) hingga ia layu dan mati. Bang Asnody, salah satu pemandu kami, bilang bahwa aroma bunga Rafflesia yang ini lebih mirip anyir/amis darah. Seketika saya langsung menghubungkannya dengan penamaan lokal macam ‘bokor setan’ atau ‘cawan hantu’. Zaman dahulu mungkin bunga ini dianggap keramat, kalau tidak mistis.

“Apakah ada harimau di kawasan hutan ini, Bang?” Saya jadi penasaran apakah aroma dari bunga ini sempat menjadikannya buruan predator pemakan daging (yang pasti tergoda pada bau amis darah). Pun kalau bunganya tidak dimakan, mungkinkah saripatinya bisa dijilat-jilat.

Bang Asnody bilang bahwa harimau masih mungkin ditemui di kawasan Taman Nasional di Bukit Barisan, tapi tidak di kawasan hutan lindung Taba Penanjung ini. Lagipula, “Bunga Rafflesia bukan buruan hewan predator.”

Dalam hati saya berseloroh, “Atau mungkin hanya harimau vegetarian yang melalap bunga ini.”

rafflesia arnoldii atraksi rafflesia arnoldii mekar

Amorphophallus titanum alias Bunga Bangkai

Jika Raflessia arnoldii yang kami jumpai pada pagi hari tadi masih tumbuh liar di dalam hutan lindung Taba Penanjung, maka Amorphopallus titanum yang kami datangi pada petang harinya masih berada di dalam kawasan konservasi Amorphophallus di desa Tebat Monok, Kepahiang. Nama latin Amorphophallus titanum sendiri bisa diterjemah-bebas-kan sebagai ‘penis raksasa tak berbentuk’. Beberapa orang lebih suka menyebutnya Titan arum.

Saudara-saudara, inilah bunga bangkai yang sebenarnya! Penampakannya mengingatkan saya pada kembang sepatu/bunga terompet, hanya saja dalam wujud raksasa. Tingginya mungkin sekitar 2,5 meter. Terdapat bagian seperti bonggol berwarna krem yang menjulang tegak di bagian tengah bunga (maaf, sama sekali tidak berwujud penis raksasa yang sebenarnya, itulah mungkin kenapa ia disebut ‘tak berbentuk’). Kelopak bunga berwarna merah ungu (di baliknya berwarna hijau muda kekuningan) tampak sudah mulai layu dan menguncup. Ia sudah mekar selama beberapa hari sebelum kedatangan kami.

Bunga bangkai yang kami datangi ini sudah tak menguarkan bau. Padahal di hari pertama mekar ia akan mengeluarkan aroma mirip bangkai yang bisa bikin semaput massal. Tujuannya agar mengundang para serangga datang untuk membantu penyerbukan. Saya sudah tak berpikir lagi mengenai hewan predator yang akan memangsa tumbuhan ini. Bentuknya yang mirip ‘penis raksasa tak berbentuk’ itu bisa jadi menghilangkan selera, belum lagi baunya.

Bunga bangkai bukan tumbuhan parasit seperti jenis Rafflesia, melainkan tumbuh di atas umbinya sendiri. Uniknya ia hidup dalam dua fase, vegetatif (dalam bentuk pohon dengan batang dan daun, mirip pohon pepaya) lalu layu dan energi yang tersimpan dalam umbi digunakan untuk fase selanjutnya yakni generatif (dalam bentuk bunga bangkai). Jika pembuahan berhasil, setelah bunga layu maka akan muncul buah-buah berwarna merah pada bonggol. Buah-buah merah ini mengandung biji yang kelak akan menjadi umbi baru. Demikian seterusnya.

Keberuntungan kami dalam famtrip Bengkulu kali ini adalah momen langka yang sulit terulang, karena belum tentu ada Rafflesia arnoldii dan Amorphophallus titanum yang (ketahuan) mekar pada kurun waktu bersamaan dengan lokasi yang mudah dicapai. Jika kamu ingin tahu lebih lanjut mengenai puspa langka ini bisa juga cek Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu (IG: @kpplbengkulu) karena siapa tahu mereka punya perkiraan kapan & dimana jadwal mekar berikutnya yang bisa kamu jadikan pegangan sebelum berkunjung ke Bengkulu.

buah bunga bangkaibunga bangkai mekar

Perbedaan Rafflesia arnoldii dan Bunga Bangkai

Jadi sudah jelas ya, perbedaan antara Rafflesia arnoldii dan Amorphophallus titanum (bunga bangkai). Perbedaan mencolok tentulah pada wujudnya yang sama sekali tak ada kemiripan. Berikut beberapa daftar perbedaan keduanya.

Rafflesia arnoldii

nama populer: Rafflesia arnoldii
nama lokal: bokor setan, ibeun sekedei (cawan hantu), begiang simpai (bunga monyet)
ukuran: Tumbuh melebar ke samping dengan garis tengah bisa mencapai 1 meter, tinggi 0,5 meter, dan berat sekitar 10 kilogram. Sebagai bunga tunggal, ia dinobatkan oleh Guiness Book of World Records sebagai bunga terbesar di dunia.
aroma: Pada saat mekar akan mengeluarkan aroma amis seperti darah
gaya hidup: Parasit obligate, menggantungkan hidup sepenuhnya pada tumbuhan inang yakni Tetrastigma
reproduksi: Unisexual, satu bunga hanya menghasilkan bibit jantan atau betina saja, sehingga peluang terjadi penyerbukan sangat langka. Jika terjadi pembuahan, maka masa pertumbuhan bisa mencapai 9 bulan, lalu masa mekar hanya 5-7 hari, kemudian akan layu dan mati

Amorphophallus titanum (Titan arum)

nama populer: bunga bangkai
nama lokal: suweg raksasa, kibut
ukuran: Tumbuh menjulang ke atas hingga setinggi 4 meter, garis tengah sekitar 1,5 meter, dan berat bisa mencapai 100 kilogram. Bukan bunga terbesar di dunia karena sesungguhnya merupakan jenis bunga majemuk alias inflorescence (terdiri dari ribuan bunga kecil yang tumbuh pada batang yang sama)
aroma: Pada saat mekar akan mengeluarkan bau busuk seperti bangkai (konon ada 100 jenis bebauan berbeda dari tumbuhan ini yang sudah teridentifikasi) dan mampu menghangatkan tubuhnya agar mendekati suhu daging segar (sekitar 36,7 derajat C)
gaya hidup: Mandiri di atas umbi dengan 2 fase kehidupan, vegetatif & generatif
reproduksi: Satu bunga menghasilkan bibit jantan dan betina. Masa mekar hanya berlangsung seminggu. Pembuahan akan menghasilkan biji (bakal umbi) dimana proses menjadi bunga bisa berlangsung minimal 7 tahun, beberapa yang lain malah hanya mekar sekali dalam beberapa dekade

 

Disgiovery yours!

rafflesia arnoldii

Disclaimer:
Festival Bumi Rafflesia 2017 diselenggarakan atas kerjasama Dispar Pemprov Bengkulu & Alesha Wisata. Terima kasih juga kepada bang Krishna (Alesha Wisata), bang Mikael (HPI), dan bang Asnody (HPI & Bengkulu Heritage Society) yang telah turut memberi banyak informasi mengenai puspa langka Bengkulu.

Referensi:
factsofindonesia.com
livescience.com
pnas.org

About the author

Travel Blogger
2 Responses

Leave a Reply