Pramuka[ta]

Scroll this

pulau Pramuka

ALIAS Pramuka dalam ramuan kata ;p Ialah kali pertama saya berkunjung ke gugusan inti kepulauan Seribu, tepatnya di pulau Pramuka, pada 6-7 Juni 2009. Perjalanan ini dihelat oleh Bhumi Trip Adventure, dengan total peserta 18 orang, termasuk 3 orang chaperone yang cantik-cantik!
*ehm, ada maunya ;p*


Duta Bakau Datang

Sejak sabtu pagi kami sudah beranjak meninggalkan pulau Jawa dari pelabuhan Muara Angke. Ojek perahu yang kami gunakan tampak over capacity, dan saya pribadi sempatmencemaskan hal tersebut.

Beruntung cuaca sedang cerah, dan ada banyak kegiatan yang menyita perhatian. Teman lama berkangenan, teman baru dikenalkan, kartu Uno dibagikan, kamera dan laptop dinyalakan, kudapan berpindah tangan.

Tapi yang paling seru adalah permainan ‘merangkai kata’. Jadi masing-masing orang
menyebutkan satu kata yang harus sambung menyambung menjadi kalimat panjang.
Saya lupa awalnya bagaimana, tapi endingnya kira-kira begini:
Man: “…ombak tinggi…”
Cit : “…ombak tinggi menyapu…”
Az : “…ombak tinggi menyapu lantai…”

Kriiik! Kriiik! Kriiik!

Sudahlah, tak usah dibahas. Selanjutnya adalah permainan tebak lirik. Saya yang memakai sunglasses langsung kasih instruksi: “Ayo tebak, gw lagi lirik siapa?”

Huahahaha 😀

Tak terasa kapal sudah tiba di pulau Untung Jawa tuk singgah sejenak. Saya sempat bertanya, ada gak ya yang namanya pulau Untung Sumatera, dan cuma disambut oleh cibiran si Yud.

Setelah menurunkan seorang penumpang, kapal pun kembali berlayar menuju pulau Pramuka. Singkat cerita, jelang pukul 10 akhirnya kami pun tiba di tujuan. Hore!

Rombongan langsung menuju penginapan tuk rehat sejenak, sekaligus bersiap tuk kegiatan selanjutnya: menanam bibit bakau. Bakal hutan mangrove ini kebetulan terletak di dekat penginapan. Bagai selebritis yang didaulat menjadi duta bakau, kami pun berpose dengan bibit masing-masing, sebelum beramai-ramai menanamnya di perairan dangkal dekat pantai.


Wisata Basah Kuyup


Agenda berikutnya adalah berperahu mengelilingi perairan di sekitar pulau Pramuka dan pulau Panggang. Waktu jeda di kapal kami manfaatkan dengan makan siang. Menunya serba pedas, namun lezattt!

Tujuan pertama adalah pulau Air. Perahu kami parkir di sebuah laguna yang berwarna biru tosca dan berair tenang, tak ubahnya kolam renang hotel bintang lima. Airnya jernih nian. Pasirnya putih sangat. Just beautiful!

Pulau Air ini konon adalah milik Ponco Sutowo. Dari khayalan kami jikalau memiliki pulau pribadi, ketahuan bahwa Eca & Man punya fantasi sama: lari bugil keliling pulau!
😀

Usai berbasah-basah di laguna, kami pun berlayar menuju snorkelling spot tak jauh dari pulau Panggang. Pak Jaka, seorang polhut TNKS yang mendampingi, turut memandu kami menyusuri lokasi penyelaman. Beliau pun menunjukkan beberapa titik terumbu buatan di spot tersebut.

Jujurly, saya tak tahu nama-nama tetumbuhan atau makhluk air yang terlihat di bawah sana. Namun keanekaragaman hayati ini sungguh-sungguh membuat saya takjub dan kagum.

Di sini saya juga coba tuk bermata telanjang dalam laut (biasalah demi kepentingan pemotretan ;)). Awalnya sih perih, namun lama-lama terbiasa.

Tapi ada satu insiden ketika alat snorkel saya terjatuh ke dasar laut. Beruntung ada pak Salim, salah seorang petugas, yang turut membantu. Dengan gesit, tampak sosok beliau menukik turun ke dasar laut, tanpa peralatan apapun, menuju kedalaman kurang lebih 5 meter tuk mencari dan menemukan alat snorkel saya. Keren! Thank you, Sir!

Puas menyelam, kami pun bertolak haluan menuju tempat penangkaran ikan yang letaknya tepat berseberangan dengan pulau Pramuka. Di sini terdapat tambak ikan bandeng dan ikan laut lainnya. Ada pula resto terapung, Nusa, dimana kami sempat berkaraoke dan minum-minum melepas dahaga.


Melepas Doso & Inayah

Sore hari, saat matahari mulai tenggelam, saat generator segede rumah berdengung mengalirkan listrik ke seantero pulau, kami beranjak menuju pantai dekat penginapan. Agenda kali ini adalah melepas tukik (anak penyu) ke laut lepas.

Tukik-tukik ini didapat dari program penangkaran penyu sisik yang memang terdapat di pulau ini. Az menamai tukik yang dilepasnya Doso & Inayah. Selanjutnya tukik-tukik lainnya dinamai Inayah 2, Inayah 3, Inayah 4, dst, mengikuti trend sinetron Indonesia ;p

Yud sempat tidak tega melepas tukik dari tangannya. Ia mengawal tukik tersebut hingga jauh ke lepas pantai, memastikan anak penyu sisik itu baik-baik saja.

Selanjutnya, usai bebersih dan makan malam ala bbq (ada cumi, ikan, udang, dll, meski Ricka sempat berseloroh kalau menu dinner yaitu tukik asam manis ;)), kami menuju dermaga tuk menikmati full moon. Di sana mas Bo sempat bereksperimen dengan kameranya, dibantu dengan kreativitas Az & Man, sungguh seru melihat usaha anak-anak berpose menggunakan teknik low speed.

Aktivitas seharian membuat kami lelah dan mengantuk, sehingga tak berlama-lama di dermaga. Sebelum tidur, saya sempat ekspansi sejenak ke kamar sebelah (nyicipin mpek-mpek Palembang asli bawaan mas Noe, sambil ngeliatin anak-anak main kartu Uno). Sesudahnya baru deh bobo ala sarden di kamar. Zzzzzz!


Snorkeling 1 km

Pagi-pagi terbangun, kami sempatkan diri memburu sunrise di pantai. Sesudahnya, saya dan Man menjenguk penangkaran tukik, dipandu oleh sesepuh penyu sisik, Eca 😀

Usai sarapan, kami segera bersiap tuk snorkelling terakhir kalinya di trip ini. Lokasinya masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, karena lokasinya masih di utara (atau selatan?) pulau Pramuka juga.


Untuk menuju titik penyelaman, kami masih harus menyusuri beting berair dangkal sejauh kira-kira 100 m. Dari sini kami mulai mengenakan peralatan snorkelling masing-masing, sementara pak Jaka dengan rajin meronce sendal-sendal kami dalam satu tali, dan diikat di tonggak kayu yang memang sudah berada disana.

Kami segera merenangi perairan dangkal ini, sesuai arah yang dipimpin oleh pak Jaka. Gentar sempat terbersit ketika kami menyisir bibir palung. Terumbu karang yang dilintasi berbatasan langsung dengan jurang tak berbatas. Jika
di daratan kau mungkin bisa melih
at hingga ke dasar jurang, tapi di dalam lautan ini kau hanya bisa melihat gradasi biru menuju kegelapan. Kedalaman antah berantah.

Selanjutnya adalah meresapi keindahan alam di bawah kami. Lagi-lagi saya dibuat takjub oleh biodiversity di taman laut ini. Cakepnaaaaa!

Jika saja pak Jaka tak menginstruksikan tuk kembali, mungkin kami akan terus berenang hingga laut lepas. Hehehe! Yup, sama sekali tak disangka jika jarak yang ditempuh ber-snorkelling kali ini sudah mencapai seribu meter. Bagi kami para amatiran jarak tersebut sungguh di luar ekspektasi.

Sedikit banyak gerakan kami memang terbantu oleh arus laut, dan cuma dihambati oleh seorang perusuh yang gemar menarik-narik pelampung kami, atau memegangi ujung fin dari dalam air hingga kami tak dapat bergerak.
*lempar Yud ke Timbuktu*

Ada satu masa ketika saya memilih tuk terlentang menghadap langit. Ketika telinga tak lagi mendengar apapun kecuali gemercik air di dekat kepala. Ketika mata tak melihat apapun kecuali biru angkasa. Ketika merasa sendirian di kebiruan maha luas. Ketika merasa kecil di keluasan.

Sebuah pesawat tampak melarung langit, meninggalkan jejak serupa awan yang membujur panjang di angkasa. Di sini saya kecil sendiri, di sana langit terbelah oleh jejak burung besi. Sungguh bagai lukisan 4 dimensi nan agung.

Sebelum kembali ke daratan, kami sempat mencicipi biji-bijian yang dipetik oleh pak Jaka dari tumbuhan laut yang tumbuh di sekitar. Saya lupa namanya, tapi bentuknya mirip kacang edamame, cuma kulitnya berwarna coklat tua. Rasanya manis kesat, mirip buah kesemek. Lumayan menyegarkan sih.

Dalam perjalanan ke daratan, kaki kiri saya terperosok masuk ke lubang, dan tampaknya menginjak karang tajam. Ada tiga luka sobek di telapak, kecil namun cukup dalam. Air laut tampaknya menjadi antiseptik sekaligus penawar rasa sakit yang mujarab.


Bertahun lampau, tatkala berjalan menyusuri garis ombak di pesisir Pelabuhan Ratu, kaki kanan saya menginjak sesuatu yang tajam, dan saya sama sekali tak menyadari hal tersebut sampai ketika adik saya kebetulan menoleh ke belakang, dan terperanjat ngeri: “A, lihat jejak kakinya, berdarah-darah!”

OMG, saya baru menyadari dan mendapati telapak kaki kanan saya tersobek panjang dengan darah menetes deras. Ajaib, saya tidak merasa sakit sama sekali. Saya cuma shock karena tak kuat melihat darah, dan nyaris semaput karenanya.


Demikian pula kali ini. Tiga luka kecil di telapak kaki kiri sama sekali tak terasa sakit ( kecuali kelak pada saat mendarat kembali di Muara Angke, dan menginjak genangan air kotor di dekat pasar, barulah rasa nyeri itu muncul). Air laut sudah membasuh luka saya hingga steril. Saya tinggal menutupinya dengan perekat antiseptik.


Pulang Tuk Kembali

Usai berkemas dan makan siang, kami pun kembali berlayar pulang ke Jakarta dengan ojek perahu selepas pukul 1 siang. Benar dugaan saya, lepas tengah hari permukaan laut lebih bergejolak. Habis sudah kami terombang-ambing kanan kiri.


Hal ini mengingatkan saya pada pelayaran pulang dari pulau Peucang tahun lalu. Laut saat itu mengganas, hujan menyapu, langit kelabu. Perahu kami saat itu kecil, saya terperangkap dalam kabin sempit bersama beberapa rekan lainnya yang ketakutan. There seemed to be no hope. Sungguh pengalaman luar biasa.


Kini, walaupun perahu kami berayun-ayun di atas laut bergelombang, namun cuaca cerah, dan langit masih biru. Dan saya lihat mayoritas penumpang lainnya menunjukkan ekspresi tak terganggu. Beberapa orang yang saya yakini penduduk lokal malah asyik tertidur di sisi kapal, tak ngeri terjatuh ke laut.

Kami juga sempat melanjutkan permainan ‘merangkai kata’.
Piyik: “…ombak tinggi…”
Cit : “…ombak tinggi menyapu…”
Az : “…ombak tinggi menyapu koruptor…”

Hahaha, lagi-lagi Az mematikan permainan. Kapok bermain kata, anak-anak akhirnya kembali dengan kegiatan masing-masing. 😀

Kekuatiran saya kini cuma satu: jangan sampai mabuk laut. Ada sekitar tiga kali saya mencium semilir aroma muntah penumpang lain. Yang kocak, sewaktu mas Bo sempat berbisik pada saya: “Muntahnya bau cabe.”
Hwarakadah! Jadi
pengen ketawa ngakak, tapi ga berani buka mulut lebar-lebar takut aroma muntah itu terhirup.


Memasuki pulau Untung Jawa, perairan mulai berubah warna. Dari biru tosca bening, kini biru kecoklatan. Memasuki teluk Jakarta, air laut berubah warna lagi menjadi coklat kebiruan. Memasuki Muara Angke, air laut sudah tak sedap dipandang.

Tapi walau bagaimanapun, Alhamdulillah, akhirnya kami selamat tiba kembali di Jakarta. Dan saya terbebas dari mabuk laut, kecuali seorang rekan (identitas dirahasiakan, tapi beliau biasa dipanggil mas Noe, hehehe) yang kebobolan jackpot ;p

Keluar dari pelabuhan Muara Angke, tibalah saatnya tuk pamit. Berat rasanya berpisah dengan anak-anak cihuy ini. Tekad dalam benak tuk kembali bertualang bersama mereka, kembali ke TNKS ataupun taman nasional lainnya.

Thank y’all, it was indeed such a great trip!

🙂



credits to:

Bhumi Trip Adventure
Pak Jaka, pak Salim, dan polhut TNKS lainnya
Diar-Mega-Ayien yang batal ikut meski persiapannya sudah mati2an ;p
semua penumpang ojek perahu yang mo ga mo terpaksa kena kerusuhan kami
semua rekan seperjalanan dalam trip kali ini, love you guys!

118 Comments

Submit a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.