Pantai-Pantai Kei Kecil & Kebesarannya

KADANGKALA hanya ada jeda jika saya ditanya berasal dari mana. Garis ayah dan ibu memang ada darah Sunda, namun jika dirunut ke atas tampaknya makin ber-bhinneka. Biasanya jawaban klise yang terlontar dari mulut saya adalah: “Anak Indonesia.”

Maka jika hendak pamit bepergian dengan tujuan domestik biasanya saya akan berseloroh, “Mau pulang kampung!” Entah itu ke bagian barat atau timur Nusantara. Demikian pula ketika saya berkesempatan melakukan perjalanan ke Kepulauan Kei di Maluku Tenggara (akhirnya salah satu bucket list yang diidamkan sejak lama terwujud!). Anggap saja saya hendak pulang kampung ke timur, hahaha!

kei kecil karel sadsuitubun airport
Semringah setelah mendarat di bandara Karel Sadsuitubun, Langgur, Kei Kecil. Tak sabar hendak pantau pantai!

Pantai Ohoidertawun dan Jejak Tangan Leluhur

Ternyata saya bukan sekadar ‘pulang kampung’, tapi sekaligus menapak tilas jejak leluhur. Ya, nenek moyang bangsa Indonesia pernah singgah & menetap di gugus Kei pada saat migrasi besar-besaran manusia Austronesia ribuan tahun silam. Salah satu peninggalannya adalah lukisan cap tangan di gua Luvat, pantai Ohoidertawun, Kei Kecil.

Rasanya baru kali ini kami tiba di sebuah pantai berpasir putih-berair jernih-berlangit biru namun sama sekali tak tergoda untuk berenang-renang. Malah berharap laut lekas surut. Keistimewaan pantai-pantai di Kepulauan Kei adalah terjadinya fenomena alam meti kei (laut surut) pada bulan Oktober-November setiap tahunnya yang akan menghadirkan bentangan pasir & terumbu karang hingga berkilometer jauhnya dari bibir pantai. Demikian pula halnya dengan pantai Ohoidertawun.

kei kecil ohoidertawun giant swing
Bentangan pasir saat laut surut seperti di Ohoidertawun ini bisa berkilometer jauhnya dari bibir pantai.

Ketika laut surut, kita bisa berjalan kaki menyusuri bentangan pasir menuju tebing-tebing karst di sisi timur untuk sampai di gua Luvat (gua yang menyimpan jejak tangan leluhur dari zaman Megalitikum). Oya, jika laut sedang pasang maka satu-satunya cara menuju gua Luvat adalah menggunakan sampan kecil. Memang sebaiknya pengunjung didampingi oleh penduduk lokal karena hanya mereka yang memahami jadwal pasang surut laut ini.

Jejak tangan leluhur di gua Luvat berupa cap tangan dan gambar obyek sederhana seperti matahari, panah, perahu, hingga hewan, dan didominasi warna merah bata (ditengarai terdapat sekitar 400 jenis gambar). Lukisan seperti di gua Luvat ini merupakan bagian dari jembatan seni cadas yang tak terputus dari Asia daratan, Asia Tenggara, Papua, Australia, dan pulau-pulau di Pasifik Selatan, sekaligus menunjukkan jejak migrasi leluhur. Berdasarkan sejumlah penelitian, lukisan di gua Luvat ini dikaitkan dengan penyebaran manusia Austronesia pada sekitar 3.500 tahun yang lalu atau pada masa Megalitikum (zaman kebudayaan batu besar).

kei kecil ohoidertawun tebing karst
Tebing-tebing karst di pantai Ohoidertawun menyimpan jejak tangan leluhur.
kei kecil ohoidertawun cap tangan
Tampak cap tangan nenek moyang yang pernah singgah/menetap di gua Luvat ini.

Pantai Madwaer dan Legenda Tabob

Lokasinya paling jauh dari Langgur (sekitar 1,5 jam perjalanan memutari pulau Kei Kecil hingga ke pesisir barat) namun saya paling suka dengan pantai Madwaer ini. Pantai berpesisir melengkung ini mempunyai ombak besar yang cocok untuk berenang menantang gelombang. Pada saat air pasang (khususnya musim angin barat), pantai Madwaer ini pun cocok dijadikan kawasan surfing.

Tapi ada satu kebesaran lain pantai Madwaer. Yakni legenda tabob alias penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Ialah penyu raksasa berukuran panjang 1-2 meter dengan bobot mencapai 700 kg dengan cangkang atau karapaks menyerupai buah belimbing. Konon tabob dipercaya sebagai hidangan dari leluhur, jadi walaupun bisa disantap namun dianggap sakral sehingga tidak diburu sembarangan.

Alkisah kawanan penyu belimbing ini dahulu banyak hidup di Telaga El (tak jauh dari Madwaer). Pada suatu ketika raja penyu yang memiliki tanda putih di kepalanya tanpa sengaja tertikam oleh seorang nelayan. Hal ini menyebabkan semua penyu pergi meninggalkan Telaga El. Akibatnya hingga kini berlaku aturan jika warga ingin bertemu dengan tabob, mereka harus berlayar sampai bekal makanan yang dibawa habis. Tabob sendiri hanya akan muncul ke permukaan lewat ritual pemanggilan khusus.

kei kecil madwaer selfie
Langitnya <3 Lautnya <3 Modelnya <3
kei kecil madwaer kids
Fanka & friends, anak-anak pantai Madwaer yang menyanyikan tembang legenda tabob kepada kami.
kei kecil penyu belimbing
Kira-kira seperti ini penampakan tabob alias penyu belimbing [pic source: Wikipedia]

Pantai Ngurtavur dan Hidupan Liar

Pantai ini sebenarnya merupakan gugusan pasir yang timbul pada saat laut surut. Pengunjung bisa menyewa perahu dari pelabuhan Debut untuk menempuh perjalanan selama 40 menit menuju Ngurtavur. Rasakan sensasi seolah dirimu terdampar di pulau pasir putih tak bernama di tengah laut. Jika punya stamina, kau juga bisa bertualang menyusuri pasir timbul ini yang jalurnya akan terhubung dengan pesisir pulau Warbal. Tapi selalu perhatikan waktu jangan sampai keburu laut pasang. Salah satu pesona lain adalah menyaksikan pemandangan golden sunset dari Ngurtavur.

Saat surut sempurna, Ngurtavur akan menampakkan hamparan pasir sejauh +/- 3 Km yang meliuk indah jika dilihat dari ketinggian. Di bulan Agustus setiap tahunnya terdapat migrasi kawanan burung pelikan dari Australia yang ‘bermukim’ sementara di Ngurtavur dan sekitarnya. Sewaktu kami ke sana memang sedang tidak ada pelikan, namun terdapat hidupan liar lainnya yakni sebuah kerang besar yang teronggok di tepian. Mungkin juga terdapat teman-temannya di dalam perairan dangkal di sekitar.

pantai ngurtavur drone
Penampakan pantai Ngurtavur dan pulau Warbal dari ketinggian drone. Thanks Arnold for the pic!
pantai ngurtavur kerang
Selain migrasi burung pelikan di musim tertentu, terdapat juga hidupan liar di Ngurtavur, salah satunya kerang besar ini.
pantai ngurtavur me time
Pantai Ngurtavur dalam cuaca mendung. Tak terbayang indahnya suasana jika cuaca sedang cerah.

Pantai Ngurbloat dan Pasir Terhalus di Dunia

Punya nama lain pantai Pasir Panjang, bisa dibilang pantai Ngurbloat inilah maskot utama dari pantai-pantai indah Kei Kecil. Lihatlah pasir putihnya, rasakan tekstur pasirnya yang lembut & licin bak tepung/bedak (bahkan nama besar Ngurbloat mulai banyak diperbincangkan sejak banyak yang menobatkan pasir pantainya sebagai yang terhalus di dunia). Garis pantai Ngurbloat yang memanjang hingga sejauh 5 km ini pun sempat menjadi sentral lokasi Festival Pesona Meti Kei 2017.

Di pantai permai ini terdapat pula sebuah pokok kelapa yang batangnya menjuntai horizontal sehingga bisa dijadikan tempat duduk-duduk atau spot foto Instagramable. Pengunjung juga bisa duduk-duduk di saung bambu sembari mencicipi kudapan lokal seperti pisang goreng, ubi goreng, sukun goreng, hingga keripik singkong yang dinikmati bersama sambal.  Tunggu hingga petang, kau kan dapatkan suasana matahari terbenam yang berbeda. Pada sunset berwarna jambon yang takkan pernah terlupa. Edisi ‘pulang kampung’ kali ini ditutup dengan sempurna.

pantai ngurbloat pasir terhalus
Lihat pasirnya, rasakan kelembutannya…
pantai ngurbloat susur pantai
Susur pantai Ngurbloat menuju entah (sebenarnya kami sedang mencari spot ideal untuk mengambil gambar sunset).
pantai ngurbloat sunset
Menikmati matahari terbenam bak di pantai pribadi.

How to Get to Kei Kecil

Sementara ini baru ada dua maskapai (Garuda Indonesia dan Wings Air) yang melayani penerbangan dari Ambon ke Langgur (Kei Kecil) dan sebaliknya. Waktu yang ditempuh sekitar 1,5 jam.  Selama berkeliling di Kei Kecil lebih mudah dan murah jika menyewa kendaraan sendiri.

 

Disgiovery yours!

18 Responses
  1. ulululu… mupeng mas Gio… bisa seharian nikmati di pantai ini ya. kalau di foto itu ada jejak tangan, itu jejak tangan nenek moyang yang dimaksud kan?

    kamu kalo foto dari samping mancung ya :p

  2. haduh, kurang ajar ya ini penulis.

    taukah kau, wahai penulis tulisan ini, baru aja dirimu bikin saya jadi melayang kebawa oleh tulisan dan suasana yg mendadak real banget gini. adem, nyaman, dan damai banget ya rasanya. entah semacam antara saya flashback ke suatu tempat yg mirip kaya gini, atau saya kaya emang ke sini (yg tentu aja saya belum pernah… hikz…). pake sihir ya, Mas? atau mungkin karena ini disebabkan oleh garis kebinekhaanmu ya, Mas? *sambung2in aja deh*

    duh, beneran deh, ini harus direalisasikan. harus banget ke situ. ke situ yuk, Lis. temenin sayah. tapi bayarnya ndiri2 yaa… huehehe…anyway, saya bener2 berharap sih kalo semua yg ada di sini tetep begini. bukan nyumpahin supaya ga rame yg dateng, cuma kalo yg udah2, biasanya kalo udah rame, suka ada tangan2 tak bertanggung jawab. amit2 ya, misalnya cap tangan dan semua peninggalan jejak nenek moyang itu dicoret2 pake tulisan nama sekolah mereka, nama pacar, bahkan tulisan cabul. amit2… dear Kei Kecil,
    tunggu aku ya…

    1. Wah ini sih namanya komen mahadaya! *kasih seribu jempol*

      Dirimu dejavu, mungkin di masa lalu kau adalah manusia Austronesia yang menorehkan cap tangan di dinding gua Luvat. Anyway thanks komennya, aamiin moga selalu terjaga keberadaan & kelestarian situs sejarah & pantai-pantai indah di Kei 🙂

  3. Wah, Kei!
    Jadi inget perjalananku ke sana 2 tahun lalu dg segenap suka dukanya, haha!

    Setiap tempat memiliki cerita dan keindahannya sendiri. Tapi yang paling wow dan berkesan adalah Pantai Madwaer (atau penduduk menyebutnya sbg Pantai Metro). Tjakep, sepi, dg pantai yg luas sekali. Kami tahu pantai itu dari penduduk di dlm angkot di Terminal Langgur. Tempat tinggal mereka tak jauh dari pantai itu. Walhasil, kami diajak ke kampungnya. Naik angkot, lanjut nyebrang kapal, naik angkot lagi terus lanjut ojek.
    Capek, tapi semua terbayar dg keindahannya!

    1. Perjalananmu sungguh berkesan kak! Kalau kami kemarin harus memutari pulau Kei Kecil lewat jalan darat, sekitar 2 jam perjalanan, baru tiba di Pantai Madwaer (Metro). Beruntung pantainya memesona, hilang segala lelah dan gundah! 🙂

  4. Kok bagus sih kak, saya sampek ga bisa berkata apa-apa selain kagum-kagum dan kagum, warbiyasah sekalih.. Fotonya membuat sayah terpana.

Leave a Reply