Pantai Ngurtavur dan Pesona Pasir Timbul

Scroll this

BASAH kuyup dari ujung rambut hingga kaki bahkan sebelum perahu kami menepi di pantai Ngurtavur. Ingin rasa melepas semua faktor kemelekatan di badan lalu lekas berlari bebas di atas pasir putih Ngurtavur. Lebih bagus lagi sambil direkam kamera drone. Slow motion.

Lalu videonya jadi viral karena menonjolkan unsur ‘alami’.
Lalu jadi terkenal, masuk lambe turah, dan ditawari main sinetron.

Beginilah efek delusional akibat berangkat kesorean, kehabisan perahu, lalu diterpa gelombang selama perjalanan.

pantai ngurtavur lompat

Awal Perjalanan di Pelabuhan Debut

Titik awal perjalanan menuju pantai Ngurtavur adalah melalui pelabuhan Debut, di Ohoi Debut, Kei Kecil. Ohoi adalah nama lain untuk desa. Wisatawan bisa menyewa perahu nelayan yang ada di pelabuhan ini untuk menyeberang ke pantai Ngurtavur (waktu tempuh sekitar 40 menit). Siapkan anggaran antara 250 ribu hingga 1 juta Rupiah, tergantung jenis perahu dan jumlah penumpang. Jangan lupa bawa bekal sendiri terutama air minum (dan sampahnya dibawa pulang jangan ditinggal!).

Kami tiba di pelabuhan Debut yang sepi-sepi tanpa angin sepoi-sepoi. Matahari sudah condong ke barat, bebayang sudah memanjang. Semestinya kami sudah bergerak sejak pagi ketika langit masih biru, namun sedikit miskomunikasi menyebabkan agenda kami berubah. Di sinilah kami (atau kalian) dituntut untuk bersikap dewasa, tidak uring-uringan, dan mencari solusi terbaik pada saat rencana perjalanan meleset. Sudah tak ada nelayan yang ‘stand-by’ di pelabuhan sesore ini, namun berkat koneksi warga lokal akhirnya ditemukanlah satu relawan.

Let’s go!

pantai ngurtavur pelabuhan debut pantai ngurtavur pelabuhan debut

Kebasahan dan Ketegangan

Awalnya laut tenang, tapi makin lama gelombang makin besar, sungguh terasa bagi perahu kecil yang melaju menantang arus. Belum lagi percikan air laut yang membasahi sekujur tubuh. Saya tak takut jatuh ke laut (saya lebih takut jatuh ke danau). Saya cuma lebih kuatir pada nasib perangkat elektronik yang kami bawa. Bobby yang duduk di sebelah saya malah membawa kamera mirroless teranyar merk Sony (mana gawai pinjaman pula, hahaha!). Ia sibuk melindungi tasnya yang tidak kedap air rapat-rapat, sementara dry bag saya sudah penuh. Duduk bersebelahan dengan Bobby bikin saya ingat pengalaman menegangkan pada saat penerbangan tahun lalu.

Baca juga:
–  Pengalaman Menegangkan Pada Saat Dekompresi Pesawat
–  Kala Badai Menerjang di Selat Sunda (The Unperfect Storm)

Sekadar basah bukan hal besar bagi saya. Tapi angin yang berembus bikin badan menggigil. Tak ada tempat bagi kami untuk berlindung di tempat kering. 40 menit rasanya lama nian (meski saya pernah mengalami yang lebih buruk di Selat Sunda). Beruntung begitu mendekati pantai Ngurtavur laut kembali tenang. Pantai pasir putih sudah di depan mata, tapi saya mendamba segelas teh tubruk kental manis yang masih beruap.

Himbauan bagi para penyelenggara perjalanan: selalu bawa termos berisi air panas. Segelas kopi/teh panas setelah perjalanan di cuaca buruk adalah kenikmatan hakiki yang niscaya bakal bikin tamu kasih like, comment, dan tag teman-temannya yang lain.

pantai ngurtavur perahu pantai ngurtavur penumpangpantai ngurtavur mendung

Pasir Timbul Pantai Ngurtavur

Pantai Ngurtavur sebenarnya adalah gugusan pasir timbul yang hanya tampak pada saat air laut surut. Ia berupa hamparan pasir meliuk dan memanjang sejauh kurang lebih 3 km, dan menyambung dengan pesisir pulau Warbal di dekatnya. Pasir yang kami pijak terasa halus dan berwarna putih pucat. Entahlah, atau mungkin faktor cuaca yang sore itu sedang mendung membuat pasirnya tak tampak putih mulia di antara permukaan laut sewarna toska. Tapi hal ini tak mengelakkan kami dari melangkah riang di atas pasir atau cibang-cibung di air. Efek delusional hanya sementara saja.

Beruntung gawai kami tak ada yang sampai kebasahan. Pekerjaan berburu konten pun tetap terlaksana. Rasanya menyenangkan bisa melangkahkan kaki di pasir timbul seperti pantai Ngurtavur ini. Sensasinya seperti sedang terdampar di pulau antah berantah di tengah samudera. Permukaan laut beriak-riak oleh angin dan mewujud ombak-ombak kecil saat pecah di pesisir. Saya bisa bayangkan betapa mengagumkan pemandangan di sini pada saat cuaca cerah.

pantai ngurtavur dronepantai ngurtavur dronepantai ngurtavur me time

Kehidupan dari Ketiadaan

Tiap bulan Agustus setiap tahun, terdapat migrasi kawanan burung pelikan dari Australia yang ‘bermukim’ sementara di pantai Ngurtavur dan sekitarnya. Siapa sangka jika wilayah kosong ini pun bisa jadi arena kehidupan alam liar. Walau tak menjumpai burung pelikan karena sudah lewat musimnya, kami pun mendapati kehidupan dalam bentuk lain. Seekor kerang besar teronggok di tepian. Masih hidup ia, dan kami tak tega mengusiknya kecuali mengambil gambar.

Sebenarnya jika waktu masih panjang, saya juga berkeinginan menyusuri pantai Ngurtavur ini hingga ke pesisir pulau Warbal, dan melihat kehidupan alam liar di sana. Namun waktu tak mengizinkan karena laut mulai pasang. Bahkan kami pun tak sempat mengabadikan sunset merah jambon seperti di pantai Ngurbloat sehari sebelumnya. Anggap saja ini pertanda bahwa kami harus kembali ke pantai Ngurtavur lain kali.

pantai ngurtavur pasir timbulpantai ngurtavur kerang pantai ngurtavur sunset

Beruntung kami kembali ke pelabuhan Debut dengan mengikuti arus laut sehingga perahu tak terlalu berguncang seperti pada saat berangkat.  Lain kali kembali ke pantai Ngurtavur saya harus memastikan tiga hal: berangkat lebih awal, life-jacket tersedia, dan termos air panas.

Disgiovery yours!

Disclaimer:
Terima kasih kepada mas Faat, koko Sinyo, koko Leo, bang Bobby, bang Arnold yang sudah berbagi foto-foto memukau di pantai Ngurtavur. May the force be with you! 😉 Baca juga pengalaman kami lainnya selama di Kei Kecil:

pantai ngurtavur sunset siluet

12 Comments

Submit a comment