Hip Hip Bira

Scroll this


PANGGIL ia pak Man. Namanya mungkin sudah tak asing di wilayah kepulauan Seribu. Sosoknya tinggi kurus, coklat, bersuara lantang dengan logat anak pulau yang meledak-ledak. Ia seorang pemandu handal, kerap membawa para wisatawan mengunjungi pulau-pulau terujung atau pulau-pulau pribadi dimana tak semua orang punya akses kesana. Son of Island, demikian profesi yang tertera di kartu namanya.

Beliaulah yang mendampingi kami berakhir pekan di Bira, salah satu gugusan pulau di zona inti kepulauan Seribu (sekitar 60 km sebelah barat laut Jakarta). Bisa dibilang dirinya menjadi perantara keberuntungan kami pada trip kali ini.

Dadah-Dadah Dari Yacht

Kejutan pertama muncul begitu kami tiba di Marina Ancol pagi itu. Di anjungan dermaga 6 sesuai titik temu, tampaklah sebuah yacht putih mentereng bertuliskan Sea Leader. Berkapasitas 35 penumpang, double deck, kabin nyaman berpendingin udara, dilengkapi 2 mesin turbo 300 HP, ia tak ubahnya seekor paus pembunuh mungil yang siap menerjang ombak laut Jawa.

Wajah kami berseri-seri bagai anggota dewan mendapat kucuran dana aspirasi ketika Pak Man menyatakan bahwa kapal cepat inilah yang akan membawa kami langsung ke pulau Bira Besar. Tak perlu bersusah payah mengantri tiket kapal Kerapu yang cuma berlayar sampai di pulau Kelapa. Tapi yang penting, ongkos yacht ini tidak mempengaruhi anggaran backpacker kami. Alhamdulillah!

Selain kami, ada pula rombongan turis Taiwan yang hendak berlibur ke Bira, serta rombongan turis lain yang hendak berlibur ke pulau Macan. Tak apa, yang penting kami bisa merasakan sendiri makna sebenarnya dari joke favorit selama ini, yaitu: dadah-dadah dari yacht!

Pukul 8 lebih banyak kapal pun diberangkatkan. Seharusnya kami mengangkat sauh tepat pukul 8, namun karena ada insiden kecil akibat salah hitung jumlah penumpang maka jadwal pemberangkatan sedikit tertunda.

Begini ceritanya:

ABK alias anak buah kapal mendapati jumlah penumpang berlebih 3 orang dari kuota maksimal. Maka diadakanlah penghitungan ulang. Rombongan kami sendiri duduknya terpisah: 5 orang di dek belakang dan 3 orang lagi di dalam kabin.

Hampir setengah jam kemudian penghitungan ini tak kunjung usai, sehingga salah seorang penumpang yang bijak bestari mengambil alih. Diabsenlah nama kami satu persatu, semua yang sudah dipanggil namanya harus berkumpul di dalam kabin. Tepat 35 orang! Tepat sesuai kuota, sama sekali tak berlebih. Berarti memang ABK tadi salah hitung

Kelak kami menyadari kenapa si ABK tadi bisa salah hitung. Seharusnya kami menyebut angka “5” ketika ia menghitung jumlah penumpang di dek belakang. Tapi alih-alih menyebut “5” kami malah dengan riang gembira berseru “8”. Kami sendiri tak bermaksud mengacaukan, cuma berusaha jujur bahwa rombongan kami terdiri atas 8 orang.

Namun si ABK memakan mentah-mentah seruan kami tanpa berusaha menghitung sendiri jumlah penumpang di dek belakang. ย Maka surplus 3 orang-lah jadinya!

Dududu…

Menapak Bira Besar

Perjalanan berlangsung mulus di bawah cuaca cerah dan cuma memakan waktu 1,5 jam hingga tiba di tujuan. Sebagai perbandingan, kapal reguler dari Muara Angke bisa menghabiskan waktu 3 jam lebih, itu pun cuma sampai di pulau Kelapa, dimana pengunjung harus menyambung dengan ojek perahu untuk menuju ke pulau Bira Besar. Kapal Kerapu dari Marina Ancol memang lebih cepat, namun mereka pun punya rute sama dengan kapal reguler. Maka bersyukurlah kami akan keberuntungan kali ini.

Kedatangan kami di dermaga Bira Besar disambut oleh seekor anjing kampung kurus. Namun ia sama sekali luput dari perhatian, apalagi orang-orang sedang sibuk menurunkan barang bawaan masing-masing. Pak Man malah sedang mengurusi logistik dan sempat berseru panik kepada ABK: “Singkong! Jangan lupa singkongnya!”
Maklum, yacht hendak melanjutkan perjalanan kembali menuju pulau Macan.

Nina-lah yang pertama kali menaruh perhatian pada si satwa malang. Anjing itu seekor betina, warna bulunya krem kecoklatan, sebelah matanya cacat, buntutnya layu. Snowy, demikianlah kemudian kami tahbiskan namanya. Ia sungguh jinak, dan tampak haus kasih sayang. Snowy seperti gembira mendapat perhatian, dan kami sama sekali tak keberatan ketika pada akhirnya ia selalu mendampingi kami selama di pulau.

Menjejak tanah Bira Besar bagai masuk ke dalam hutan antah berantah di pinggir pantai. Suasananya teduh, ditingkahi bunyi celeguk-celeguk binatang hutan dan koak-koak burung gagak. Tak ada penduduk disini, selain pengurus cottage. Tampak bangunan club-house dan kolam renang yang terbengkalai, sisa peninggalan kejayaan seorang pengusaha asal Manado yang pernah mengelola resort di pulau ini. Konon di dalam hutannya pun terdapat danau dan lapangan golf.

Pak Man menempatkan kami di salah satu cottage yang letaknya berjauhan dengan yang ditempati rombongan turis Taiwan, sehingga privasi masing-masing terjaga. Semua bangunan langsung menghadap pantai, dan hanya beberapa deret cottage inilah peninggalan resort yang masih bisa digunakan.

Sehabis leyeh-leyeh di pantai tibalah waktu makan siang. Pengurus telah mengatur meja makan di halaman samping cottage lengkap dengan taplak meja kotak-kotak biru. Sungguh nuansa piknik di alam bebas. Menu siang ini: nasi, sarden, dan sayur asem sedap nikmat yang masih panas mengepul. Ditutup oleh irisan segar semangka merah tanpa biji. Slurrrp!

Kemudian tiba saatnya agenda yang ditunggu-tunggu: island hopping!

Mencumbu Terumbu Perak

Tujuan pertama adalah terumbu Perak, di dekat pulau bernama sama. Ia adalah perairan dangkal berpasir putih di tengah lautan, dan di dalamnya dibatasi oleh terumbu karang. Airnya yang biru turquoise demikian jernih. Begitu menyebur ke dalamnya, kau bagai merasa tengah berada di dalam kolam renang ukuran olympic di tengah lautan!

Beberapa orang turis Taiwan terdengar menjerit-jerit histeris dari perahu sebelah. Sepertinya ini adalah pengalaman pertama mereka menyemplungkan diri ke laut.

Puas bermain-main dan berfoto-foto di kolam renang laut, kami pun mulai ber-snorkell menjelajahi terumbu karangnya. Saya kagum mendapati salah satu operator perahu kami (lupa namanya, tapi sebut saja dia Kumbang) yang mampu menyelam jauh hingga ke dasar. Pada satu kesempatan, Kumbang menukik turun hingga ke bibir jurang, lalu berdiri di tepiannya. Kedua tangannya terentang ke atas bagai ekspresi seorang pemenang. Di atasnya berseliweran ratusan ikan mungil berwarna perak. Cahaya matahari beriak-riak menyinari mereka. Can you imagine how beautiful it is?

Kembali ke permukaan, ternyata Pry sedang mengalami kesusahan. Kakinya menginjak sea urchin alias bubu babi. Kumbang serta merta menyeretnya balik ke perahu dan memberinya pertolongan pertama.

Berikut adalah tindakan yang dapat diambil jika kau terkena bulu babi:
1] Segera keluar dari air.
2] Bulu babi yang tertancap di bagian tubuh sulit untuk dicabut karena sangat rapuh. Tumbuk-tumbuklah bagian yang tertusuk tsb dengan benda tumpul agar duri bulu babi hancur dan larut dalam darah.
3] Penanggulangan yang lain adalah membasuh air seni pada luka karena air seni mengandung amonia yang dapat menetralkan racun duri bulu babi.

Sedianya si korban sendirilah yang patut melakukan tindakan nomor 3, namun Pry malah memberi maklumat anonoh: “Buruan kencingin gw!” Beuh, sounds weird! Antara kasihan dan basa-basi saya pun nyeletuk begini: “Boleh, tapi pegangin ya!” Hahaha, untung dirinya menolak mentah-mentah ๐Ÿ˜€

Pak Man akhirnya memberikan pertolongan ekstrim: telapak kaki Pry digigit lukanya hingga ada darah yang keluar dan mengalirkan racun keluar tubuh dengan lebih cepat.
Note: tindakan ini sebaiknya jangan ditiru–NEVER–kecuali oleh professional son of island himself!

Pulau Dolphin & Pulau Bintang

Tujuan berikutnya adalah pulau Dolphin alias Lumba-Lumba. Terumbu karang disini terlihat lebih padat, namun arus lautnya lebih deras. Dan banyak bulu babi pula! Diar yang tak memakai life vest sempat berpegangan pada saya demi menghindari bulu babi. Kami mengikuti jalur aman seperti yang dilalui Kumbang.

Akhirnya kami menghabiskan sebagian besar waktu tuk berjemur saja di pesisir pulau yang berpasir putih halus itu.
Ketenangan kami sempat terusik oleh ulah beberapa orang turis Taiwan yang kembali asyik berteriak-teriak sambil menangkapi ikan-ikan kecil dengan jaring, lalu meletakkannya di pasir begitu saja. Hal ini membuat Dame ngomel-ngomel, dan mengembalikan ikan-ikan kecil itu kembali ke dalam air.

Selain itu pak Man mengambil beberapa ekor bulu babi lalu membawanya ke darat. Ia membelah si bulu babi dan menunjukkan pada kami jika dagingnya itu enak bagai sushi. Saya rasa itu adalah moment kebahagiaan bagi Pry karena sedikit banyak dendamnya pada bulu babi terbayar sudah.

Jelang sore, kami singgah sejenak di pulau Bintang. Tidak untuk bermain air, melainkan hanya trekking di pesisirnya. Ia tak ubahnya pulau Bira Besar, berhutan lebat dengan peninggalan bangunan resort yang terbengkalai. Tapi khusus di pulau ini nyamuknya ganas nian! Padahal banyak spot foto yang cantik apalagi menjelang matahari terbenam begini. Pohon-pohon besar dengan dahan yang meliuk-liuk menggapai air sungguhlah eksotis.

Di Bawah Sinar Bulan Purnama

Kami tiba kembali di penginapan seiring datangnya sunset. Sayang matahari sedikit terhalang awan, namun tak dipungkiri jika sore itu demikian permai. Langit senja tampak berwarna lembayung. Di meja terhidang singkong goreng dan teh panas (hehehe, ini dia singkong yang tadi siang nyaris terbawa ke pulau Macan).

Saya bukan penikmat singkong goreng sejati (lebih pilih yang direbus), namun sore itu saya menghabiskan (mungkin) setidaknya 3 potong besar. Jangan bilang saya rakus ya, karena saya juga kan berbagi singkong dengan Snowy yang setia menanti di bawah meja, hehehe.

Tak terasa gelap cepat datang, dan sudah tiba waktunya makan malam. Menu malam ini: nasi, tumis kancang panjang, dan ikan bakar lengkap dengan sambel kecap dan sambel tomat. Nikmat tiada tara. Kami tetap berpiknik di halaman samping, diterangi sinar bulan purnama. Beruntung sekali tak ada serangan nyamuk.

Usai makan, kami berpindah ke dermaga untuk tidur-tiduran menatap angkasa. Bulan purnama sedang sintal malam itu. Bulat dan ranum. Namun karena angin malam terasa kencang dan dingin, akhirnya kami tak bisa berlama-lama di dermaga. Sayangnya begitu kembali ke cottage ternyata generator listrik sedang mati. Tak apa, kami tetap dapat berkumpul di halaman samping sambil bermain kartu. Sinar bulan cukup dapat menerangi.

Efek lain dari bulan purnama adalah libido yang meningkat. Setidaknya terbukti pada Snowy dan anjing-anjing jantan lain penghuni pulau. You know what happen-lah

Anyway, pak Man sendiri telah menyediakan pembakaran untuk kami. Menu selanjutnya: jagung bakar! Hohoho, cocok ditemani secangkir kopi panas. Pak Man mengikuti trik yang dilakukan turis Taiwan ketika membakar jagung: kulitnya tak dikupas.

Hasilnya adalah jagung bakar yang kuning mulus tanpa gosong. Enak-enak-enak.

Mari Ber-Kayu Angin

Pulau Bira Besar mempunyai dua buah dermaga kayu yang menjorok ke lautan, masing-masing di sebelah barat dan selatan. Jika di dermaga barat kau bisa menyaksikan sunset, maka dari dermaga selatan bisa menikmati sunrise maupun sunset. Sayangnya dermaga selatan ini sudah tak terpakai. Tapi di sisi lain ia bisa menjadi tempat yang cocok untuk
berkontemplasi, atau pun narsis diri tanpa gangguan bongkar muat barang/penumpang ๐Ÿ™‚

Maka ke sanalah kami berjalan kaki pagi-pagi sekali di hari kedua. Lama menunggu, kami baru menyadari jika cuaca sedang berawan cukup tebal sehingga sunrise sama sekali tak terlihat. Nuansa kebiruan tampak menyelimuti sekeliling kami, tak ubahnya pemandangan di sebuah dermaga di Alaska ๐Ÿ˜‰

Kembali ke cottage, menu sarapan sudah menunggu: nasi goreng, telur dadar, dan kerupuk ikan. Nasgornya enak & gurih, sayang telur dadarnya agak hambar. Akibatnya saya cuma habis 2 porsi (ini lapar atau doyan?).

Di seberang barat pulau Bira Besar tampak sebuah pulau mungil berpasir putih berkilau. Itulah pulau Kayu Angin Bira, dan kesanalah kami menuju pagi ini. Tanpa diduga, pak Man memberi kami sebuah kejutan: dari bawah dek kapal ia mengeluarkan seekor penyu hidup!

Kami semua terperangah tak percaya, dan menuntut pak Man untuk segera melepaskannya ke laut. Tentu saja, kata pak Man. Beliau cuma hendak menyampaikan bahwa tadi pagi ia menemukan penyu ini di sebuah perahu nelayan (entah mereka menangkapnya untuk apa). Untung nelayan itu tak keberatan ketika pak Man meminta agar penyu itu diserahkan.

Prosesi pelepasan penyu pun dimulai. Awalnya ia berputar-putar seperti kesulitan menentukan arah. Namun setelah dipandu oleh pak Man ke dalam air akhirnya ia bisa kembali berenang seperti sediakala.

Usai puas berbasah-basah, pak Man membawa kami ke sisi lain pulau Kayu Angin Bira. Ternyata di sini pesisirnya lebih landai, lebih jernih, dan yang penting bebas bulu babi. Pulau mungil ini tak berpenghuni, dan memang cantik. Kami pun bisa bebas bermain-main air, berjemur, hingga foto berloncat-loncat sesuai agenda wajib setiap trip. Sayangnya saya masih mendapati sampah plastik di pesisirnya, yang saya yakin berasal dari pulau Kelapa, pulau berpenduduk terdekat ๐Ÿ™

Tujuan terakhir adalah snorkelling di perairan pulau Kayu Angin Genting. Sayang, beberapa di antara kami sudah kecapekan sehingga memilih leyeh-leyeh saja di perahu. Selain pak Man, yang turun ke air cuma saya, Yen, dan Man.

Saya saksikan sendiri spot snorkelling di tempat ini adalah yang terindah dan terluas dari sebelum-sebelumnya. Terumbu karangnya besar-besar, ikan-ikannya pun lebih beraneka ragam. Malah ada segerombolan ikan mungil cantik yang berwarna biru metalik dan selalu melejit dengan cepat kesana kemari. Sepertinya pak Man memegang prinsip save the best for last.

Inilah persembahan terbaik darinya di titik penyelaman kami terakhir di trip kali ini.

Leaving Bira

Kembali ke Bira Besar, sebagian dari kami langsung berkemas sambil menanti waktu makan siang. Man dan Dame malah menyempatkan diri berbasah-basah kembali di pantai depan cottage dengan berbekal jaring. Rencananya mau menangkap beberapa ekor ikan mungil untuk dipelihara. Sayangnya (atau untungnya) tak ada seekorpun yang tertangkap, hehehe.

Menu makan siang sekaligus piknik terakhir kali ini adalah: nasi, tumis sayuran, ayam goreng, dan 2 ekor bandeng goreng tepung yang besar-besar. Masakan bandengnya juara, ludes hingga tinggal fosilnya! Sementara ayam goreng sendiri nyaris tak dilirik, sehingga bapak pengurus konsumsi berkomentar: “Wah, kalau orang kota udah bosen ayam goreng ya?” Keluhan yang dilontarkan dengan nada riang. Mungkin senang karena jatah ayam goreng yang tak tersentuh bisa dia bawa pulang buat anak istri.

Akhirnya, tibalah saat pulang. Pukul 14 tepat yacht jemputan sudah datang. Pak Man melepas kami di dermaga, tunai sudah janji baktinya sebagai pemandu kami. Terima kasih pak Man atas segalanya.
Di sisi pak Man, tampak Snowy. Ia sedari tadi setia menunggui kami semua hingga naik ke buritan. Lalu seiring kapal yang mulai bergerak ia pun berbalik dengan lunglai. Duh, rasanya berat sekali bagi kami untuk meninggalkan pulau ini.

Kami meninggalkan Bira dengan kenangan tak ternilai. Dan jika kami dadah-dadah dari yacht sekarang, itu artinya kami berharap suatu saat kan kembali ke sini.

 

ย 

67 Comments

Submit a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.