Trip of Wonders | Kuliner Serba Misteri ala Bali Food Safari

“GIO, apa kita akan makan di dalam kandang Bali Food Safari?”

David bertanya serius sampai membuat saya mengernyitkan kening, sebelum akhirnya memahami maksud pertanyaannya. Bali Food Safari adalah agenda kami pada malam pertama di Seminyak, Bali, dan David membayangkan kata ‘safari’ sebagai sesuatu yang berhubungan dengan atraksi hewan liar. Mungkin ia mengira kami akan makan malam di dalam ruangan berjeruji dimana hewan-hewan nokturnal berkeliaran di sekeliling.

“Andremo a mangiare nei ristoranti.” Saya menjawab sambil melirik aplikasi Google Translate. Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini: Wagelaseh gak gitu juga, kita bakal makan di restoran, kok.

David memang asli Italia dan bahasa Inggrisnya tidak begitu fasih, ditambah aksen Napoli yang kental. Terkadang kalau dia bicara pun saya harus mencerna kalimatnya beberapa saat sebelum bisa memberi tanggapan.

“Hatur nuhun!” David merespon dengan lidah kaku. Hahaha, ucapan terima kasih dalam bahasa Sunda itu memang saya yang mengajari sewaktu kami mengadakan lawatan ke Bandung seminggu sebelumnya (kami sedang dalam lawatan Trip of Wonders 2017). Dan ia termasuk murid pintar yang gemar mengaplikasikan ajaran saya itu dalam percakapan sehari-hari.

Sayangnya saya malah lupa memberitahu ia ucapan terima kasih dalam bahasa Bali.

bali food safari guide

Apakah Bali Food Safari

Adalah sebuah layanan wisata kuliner di Bali yang mengajak pesertanya bertualang dari kafe ke kafe atau resto ke resto. Uniknya, para peserta wiskul ini sama sekali tidak diberitahu akan dibawa kemana saja. Semua serba misteri. Bahkan jikalau kita pernah mengikuti layanan ini dan mendaftar lagi untuk layanan yang sama (atau teman/kerabat ikut mendaftar karena penasaran), peluang untuk mendapatkan kafe/resto yang sama adalah kecil. Bahkan jika lokasi yang didatangi sama, menu yang disajikan bisa saja berbeda. Semua serba acak sehingga kerahasiaan (baca: ke-eksklusif-an) terjamin.

Bali Food Safari untuk saat ini sudah beroperasi di kawasan Ubud, Jimbaran, dan Seminyak. Rata-rata dalam tiap paketnya kita akan mengunjungi 3-4 lokasi berbeda dan mencicipi 9-12 jenis hidangan. Sungguh beruntung kami  gerombolan gembul Trip of Wonders 2017 bisa turut serta dalam perjamuan rahasia ala Bali Food Safari di Seminyak.

kilo kitchen

Menu Pembuka dengan Sunset View

Sebuah kitchen & bar yang terletak di rooftop area ini bukan nama asing bagi mereka yang gemar hangout di kawasan Seminyak. Bahkan saya pun yang notabene bukan anak gaul Seminyak sudah cukup sering mendengar nama bar ini. Begitu tiba di lobi saya langsung ‘oooh ternyata di sini’. Misteri pertama terpecahkan! Namun demi menjaga unsur misteri, saya tak akan menyebutkan nama kitchen & bar ini demikian pula nama-nama kafe/resto yang kami kunjungi bersama Bali Food Safari.

Kunjungan kami ke tempat ini hanya untuk mencicipi appetizer. Terdapat sajian fusion salad (saya lupa namanya), lalu ada kudapan chicken wing, dan lainnya. Soal rasa tak istimewa bagi saya (ingat, selera tiap orang berbeda). Kondisi ruangan dalam kondisi low light sehingga saya lebih pilih memotret suasana sekitar teras terbuka yang langsung menghadap ke pantai, apalagi saat itu atraksi matahari terbenam baru mulai.

Food taste 7/10
Ambience 8/10
Service 7/10

moonlite receiption moonlite welcome

moonlite sunset

Menu Utama Bercita Rasa Latin-Asia

Selanjutnya kami tiba di sebuah resto bergaya minimalis, dengan dinding kaca besar-besar dan rerumputan tinggi di atas atapnya. Unik, apalagi tata cahaya pada malam hari membuatnya terlihat semakin stylish. Suasana di dalam resto tampak hangat dan homey. Oh, kamar mandinya unisex, dan saya agak terkejut karena ada penampakan sumur di dalamnya. Langsung ingat Sadako. Tapi sepertinya itu sumur imitasi, entahlah, saya enggan untuk melongok ke dalamnya (takut ada Sadako imitasi, hahaha!).

kilo kitchen exterior

kilo kitchen customer kilo kitchen old well

Saatnya makan!

Sajian resto ini bercirikan Latin-Asian fusion. Ada grilled corn furkake yang langsung jadi favorit saya. Padahal ia cuma jagung muda yang dipanggang & ditaburi nori, biji wijen, dan chipotel mayo. TAPI INI ENAK BANGET, YALORD! Teksturnya renyah bersalut manis jagung dan gurih wijen. Sajian berikutnya yakni wasabi tuna tartare dengan avocado, biji wijen, dan pangsit goreng bundar. Ini juga keterlaluan enaknya, serasa menyantap tuna sashimi segar berpadu dengan saus guacamole. Sajian terakhir dimana saya sudah mulai kekenyangan adalah squid ink rice, mengingatkan saya pada nasi cumi item Mang Doel di Cirebon, hanya saja paduannya di sini ialah baby squid, telur salmon, garlic aioli, dan racikan bumbu rahasia home chef. Lezat pasti, tapi tak bisa saya habiskan karena masih harus mengosongkan lambung untuk hidangan penutup di resto berikutnya.

Food taste 9/10
Ambience 8/10
Service 8/10

kilo kitchen wasabi tuna tartare

kilo kitchen grilled corn kilo kitchen squid ink rice

Menu Penutup dengan Keceriaan

Resto yang kami kunjungi terakhir malam ini sebenarnya terkenal dengan rooftop bar-nya. Namun berhubung kami datang untuk menikmati dessert, maka menyepilah kami ke bagian dining room-nya yang tenang dan nyaman. David dan karibnya, Nacho dari Spanyol, kini memilih duduk di sebelah saya. Berhubung sajian penutup biasanya banyak melibatkan unsur susu dan turunannya, Nacho (pengidap lactose intolerance) butuh bimbingan dari saya untuk memastikan bahwa yang terhidang untuknya aman dikonsumsi.

Hidangan penutup kami terdiri dari basil & lemon tart (semacam es krim basil disajikan dengan irisan lemon tart), roast mango (INI FAVORIT SAYA yakni irisan mangga panggang disajikan dengan sorbet kelapa), dan chocolate sunday (cake & es krim serba cokelat, ini juga ENA-ENA!). Tenang, Bali Food Safari sendiri sudah tahu kebutuhan seorang lactose intolerant seperti Nacho. Mereka menyuguhkan semacam apple cake dengan potongan apel berbentuk dadu, rasanya manis segar bersemu masam buah.

Suasana yang lebih rileks membuat Nacho, David, dan saya kembali ke fitrahnya: silly acts like boys do. Saling rebutan apple cake pakai garpu, saling senggol tangan yang sedang memotret, atau menutupi obyek foto dengan properti apapun yang ada di meja, dll. Bahkan Nacho sempat bergurau tentang sesuatu yang bikin saya setengah mati nahan ngakak di balik guci besar yang ada di tengah meja. Oh, saya tahu ada orang yang tak suka dengan keceriaan kami, but who cares!

Food taste 9/10
Ambience 8/10
Service 9/10

grow up we;come speech

grow up roast mango grow up basil lemon tart

grow up chocolate sundayBagaimanakah Bali Food Safari

Bagi kalian yang punya anggaran lebih dan sedang merencanakan liburan unik di Bali (atau mungkin sedang merancang itinerary liburan buat boss & klien), sila coba kuliner misteri ala Bali Food Safari ini. Mereka bisa menyediakan apapun kebutuhan tamu, misal paket kuliner vegetarian, atau cuma mengkonsumsi daging putih, silakan! Mau bertualang icip-icip jajanan jalanan hingga wisata kuliner pakai helikopter ke destinasi-destinasi tersembunyi, Bali Food Safari bisa!

Sebagai tamu Bali Food Safari kita juga mendapat keistimewaan didatangi chef atau manager dari kafe/resto ybs. Terkadang hadir pula Simon Ward, founder Bali Food Safari, yang turut mendampingi. Ia adalah pria berkepala plontos yang enerjik dan selalu tampak antusias. He’s very talkative, sekali ngobrol bisa ngalor ngidul Sabang sampai Merauke dengan logat Aussie yang kental (tapi bagi yang tak suka ngobrol ia bisa menjadi nightmare, hahaha!). Simon simply treats his customers as friends. Ia bahkan meminjami saya fidget spinner miliknya untuk ditaruh di bawah mangkuk sajian sehingga bisa berputar pelahan, membuat video yang saya rekam tampak lebih menarik. Pelayanan Bali Food Safari kepada para tamu memang jadi prioritas dan saya akui Simon Ward sungguh pandai menyajikannya.

Lebih jauh tentang Bali Food Safari sila klik tautan ini.

kilo kitchen interior

Kembali ke hotel dengan perut kenyang, David sempat menghampiri saya lagi. “Seriously, saya pikir ada baiknya Bali Food Safari mengadakan jamuan di dalam kandang, if you know what I mean.”

Hahaha, baiklah, nanti saya sampaikan usulnya ke Simon Ward!

Oya, bagi yang penasaran ingin tahu nama-nama kafe/resto di atas (mungkin sobat kismin belum punya dana untuk ikut tour Bali Food Safari tetapi sungguh mati jadi penasaran ingin mampir ke salah satu kafe/resto tsb), you know where to contact me. Sudah mengikuti akun @Disgiovery di media sosial, kan? Pastikan kalian juga sudah menyimak keseruan kami menginap di Alila Solo.

Apa? Belum follow? T-E-R-L-A-L-U

 

Disgiovery yours!

About the author

Travel Blogger
6 Responses
  1. nurul

    keren banget kayak baca majalah travel.. inget majalah di pesawat :).. makanannya.. belum pernah makan yang beginian.. lol..

  2. Di Bali itu apa yang gak ada ya, semua ada. Bali Food Safari ini sungguh keren. Menikmati hidangan pembuka, main course, dan penutup di tempat berbeda. Sungguh pengalaman menarik, Kak Gio

    1. Wah, kukira mbak Evi Cakrawala itu siapa, ternyata mbakku yg cantik, hehehe.. Betul kali mbak, Bali itu selalu ada inovasi baru buat memanjakan turis dari berbagai level.. Sungguh beruntung bisa mengikuti salah satu di antaranya 🙂

  3. Eh jadi Bali Food Safari ini paket wisata khusus kuliner di Bali yang pesertanya juga nggak tahu mau dibawa ke mana ya? Misteri? Wah seru sepertinya ini. 😀

Leave a Reply