Kidung Tidung

Scroll this

pulau Tidung

PULAU TIDUNGΒ sudah masuk agenda trip*Β kami sejak setahun lalu, namun baru terlaksana awal bulan kemarin. Sebenarnya trip ini pun terbilang dipercepat, salah satunya karena kami tak ingin terlambat berkunjung kesana sebelum pulau Tidung menjadi area wisata yang terlalu komersil.

Kami berkumpul pagi-pagi sekali di pelabuhan Muara Angke**. Kapal biasanya diberangkatkan setelah penuh muatan (tarif penumpang sebesar 33rb/orang), dan mengingat tujuan pulau Tidung sedang naik daun, maka sejak pukul 6 pagi pun kapal pertama sudah diberangkatkan. Beruntung kami masih mendapatkan kapal kedua.

Pulau Tidung terletak di ujung barat gugusan Kepulauan Seribu, dan terdiri atas dua pulau utama (Tidung Besar dan Tidung Kecil). Awalnya saya kira kepulauan Seribu itu berada tepat di utara Jakarta***. Tapi ternyata gugusan pulau-pulau cantik ini sebagian besar berada jauh di barat laut Jakarta, bahkan sudah sejajar dengan Banten.

Lama pelayaran berlangsung selama 3 jam kurang, kapal melaju lebih cepat dari perkiraan. Kelabu gelap tampak menguasai langit ketika kami memasuki pelabuhan Tidung. Syukurlah sudah sampai, tak terbayang apa yang terjadi jika hujan badai menerpa kami di laut lepas****.


First thing first! Turun dari kapal, kami segera menuju tempat penyewaan sepeda. Salah satu ciri khas berwisata di pulau Tidung adalah fun-biking berkeliling pulau (total panjang Tidung Besar & Tidung Kecil berkisar 5 km).
Ada banyak sepeda sewaan disini (harga sewa 15rb/sepeda/hari), tapi kita harus
memastikan betul sepeda yang disewa dalam kondisi terbaik. Sungguh mati, sepeda sewaan yang rusak sungguh lazim terjadi: rantai putus, ban gembos, pedal copot, rem blong, stang dislokasi, dll.

Oya, persiapkan juga bokong anda, karena jok sepeda sewaan ini sama sekali tidak empuk. Tak heran keluhan yang muncul
umumnya rasa sakit di selangkangan >_<

Hujan deras mulai turun berinai-rinai tatkala kami tiba di penginapan (dan langsung disuguhi makan siang sebelum waktunya, hehehe). Ada banyak penginapan di pulau ini (tarif rata-rata 250rb/wisma), dan jika semua kamar penuh pun para pengunjung masih bisa menginap di rumah penduduk setempat.
Wisma yang kami tempati terletak di bawah rerimbunan perdu. Teras belakangnya langsung menghadap pantai (yang sayangnya kotor dan tak terurus T_T). Yang mengesankan adalah dinding dan pintunya yang penuh ditempeli nasehat & petuah bijak bestari: “janji tidak berzinah“; “shalatlah sebelum dishalatkan“; “azab bergunjing“; “10 mutiara hidup“; dll.

Begitu hujan reda, kami pun mengekplorasi bagian barat pulau Tidung dengan sepeda. Kawasan ini memang masih sepi, tiada pemukiman penduduk, kecuali lambaian nyiur dan pasir putih yang menggoda. Kami hanya meluangkan waktu sebentar disini, karena harus segera bersiap untuk agenda berikutnya: island hopping!

Kegiatan ‘menclok-menclok’ pulau ini terlaksana berkat adanya perahu sewaan (tarif rata-rata 500rb/perahu/hari). Ada banyak pulau-pulau indah sekitar Tidung, seperti pulau Payung, pulau Karang Beras, hingga pulau Aer. Demikian pula spot snorkellingnya. Kita juga bisa menyewa perlengkapan snorkelling lengkap cuma 35rb/set, atau kalau mau sewa terpisah juga bisa.

Sayang karena kondisi cuaca yang masih kelabu, kami cuma bisa berlayar hingga pulau Payung. Spot snorkellingnya lumayan bagus (meski bagi saya pribadi masih jauh lebih indah di Amed, Bali). Laguna pulau Payung juga indah dan eksotis, di bawah cuaca ‘anyep’ saja kita masih bisa melihat biru tosca perairan disana. Tak terbayang jika langit sedang biru cerah.

Ternyata selain keindahan pulau Payung, rombongan kami pun tampaknya dianggap indah oleh rombongan lain. Alkisah tersebutlah sebuah perahu bermuatan turis asal timur tengah (entahlah, yang jelas penumpangnya serba bergamis dan bercadar gelap) yang datang setelah kami. Kaum lelakinya kebetulan membawa handycam dan kamera, dan tanpa sungkan mereka pun merekam kegiatan kami yang tengah ber-photo session di laguna. Terbayang dong, di rombongan kami kan ada penampakan sensual ala artis ibukota: Kinaryosih hingga Jane Shalimar; Sally Marcellina hingga Eva Arnaz.

Sayangnya, perahu itu keburu pergi sebelum kami menyatroni mereka tuk minta honor dan foto bersama :p


Cuaca masih abu-abu sewaktu kami kembali ke Tidung. Kami sempat tertahan beberapa menit di dermaga pulau Payung karena perahu yang kami tumpangi ‘ngadat’. Untung segera bisa tertanggulangi. Niat berfoto sunset di jembatan Tidung yang terkenal pun urung. Kami memilih kembali ke penginapan tuk bersih-bersih dan beristirahat.

Kecapekan, usai makan malam kami langsung tidur-tiduran sambil relaksasi. Entah apa yang dibilang pak haji pemilik penginapan jika melihat siluet bayangan kami malam itu. Ada bayangan perempuan digarap lelaki, dan ada bayangan lelaki digarap perempuan. Padahal kami sedang ritual pijat punggung: yang dipijat tengkurap, sedangkan yang memijat duduk disampingnya memberi terapi. Itu saja.

Beberapa di antara kami sudah tertidur pulas ketika saya dibangunkan oleh aroma BBQ. Cumi & tenggiri bakar. Kami menikmati kudapan tengah malam itu di teras belakang wisma, yang kebetulan menghadap laut. Anehnya sama sekali tak terdengar debur ombak, atau bunyi kecipak air, atau desau angin. Malam diam. Kami ikutan terbawa makan dalam suasana khidmat.

on the bridge to Tidung Kecil
on the bridge to Tidung Kecil
bersampan di bawah jembatan
bersampan di bawah jembatan


ESOKnya, bahkan sebelum matahari muncul, kami sudah berlomba mengayuh sepeda menuju jembatan Tidung. Adalah jamak bagi wisatawan di sini tuk bangun dini hari demi mengejar sunrise. Tentu saja jembatan Tidung menjadi spot favorit untuk kegiatan ini.

Jembatan Tidung adalah jembatan kayu sepanjang kurang lebih 500m yang menghubungkan Tidung Besar dengan Tidung Kecil. Pemandangan di atau sekitar jembatan memang indah, bahkan unik, sehingga jembatan ini bagaikan menjadi landmark bagi pulau Tidung itu sendiri.

Kami melewatkan pagi di sana hingga matahari penuh bersinar. Leyeh-leyeh di dermaga, sarapan, berperahu, loncat-loncat di jembatan, hingga loncat dari jembatan (fufufu, lumayan lho ketinggian 7m).
Sesudahnya acara bebas: ada yang pergi mengelilingi Tidung Kecil dan mengunjungi makam Panglima Hitam (konon salah seorang tokoh pahlawan dari Banten), atau kembali ke pantai barat Tidung Besar dan berjemur hingga hitam ;p

Tak terasa sudah tiba waktunya tuk kembali pulang. Pukul 11 lewat kami sudah standby di kapal. Jika pada saat berangkat kami pilih duduk di atas kapal, kini saatnya duduk di bawah, karena dek kapal siang ini sama sekali tak memakai terpal penutup. Matahari menyengat sangat, dan saya tak bisa membayangkan rasanya berjemur di atas sana selama berjam-jam.

Perjalanan pulang jauh lebih lamban, mungkin karena kapal sarat dengan beban. Sesekali saya melayangkan pandang ke luar jendela tak berkaca, membiarkan percik air laut sesekali menyentuh wajah.

Hanya dengan melihat gradasi warna air laut, saya bisa menebak sudah berada dimana. Warna biru bening menandakan lokasi masih di kawasan kepulauan. Biru gelap kita sudah di laut lepas. Biru keruh kehijauan kita sudah mendekati pesisir. Hijau keruh kecoklatan kita sudah sampai di perairan ibukota.

Sudah 3 jam lebih berlalu ketika kami akhirnya memasuki perairan keruh teluk Jakarta. Beruntung ada sekumpulan pencakar langit ala Dubai (menara Regatta, cmiiw) di pesisir pantai Mutiara yang mengingatkan bahwa kita sudah memasuki kawasan metropolis. Kalau tidak, penumpang mungkin akan disorientasi, disangkanya kapal berlabuh di negara dunia ketiga mana gitu (emang iya!). Maklum, pelabuhan Muara Angke ini tampak kotor dan bersampah T_T

Kami pun berpisah disini. Masing-masing kembali dengan kenangan akan Tidung. Sumber daya alam yang indah, semoga tidak
tercemari oleh banyaknya arus wisatawan yang berkunjung kesana. Semoga saja penduduk lokal bisa dengan bijak menyingkapi arus komersialisme. Semoga saja harga-harga yang melonjak naik diiringi perbaikan kualitas (terutama jok sepeda) *sambil mengelus-elus bokong yang sakit*. Semoga saja tidak banyak sampah bertebaran dan tidak ada terumbu karang yang terusaki.

Semoga saja kidung Tidung tetap merdu. Semoga.

high hopes
high hopes




*
Foto lengkapnya sila klik disini

**
Pepatah bilang, ada banyak jalan menuju Muara Angke ;p Ada angkot 01 warna merah dari Grogol langsung ke Angke (rutenya melewati Pluit Junction, Megamal Pluit, Psr. Muara Angke, Terminal Angke). Ada pula alternatif ojek motor/bajaj/taksi dari lokasi lainnya. Pastikan saja untuk bilang ‘pelabuhan kapal’ ke sopirnya, soalnya pernah ada wisatawan yang malah dibawa ke hutan bakau Muara Angke.


***
Oke, lantas apa yang terjadi jika kita berlayar dari Jakarta lurus terus saja ke utara? Ya, kita akan mendarat di pulau Lepar, Bangka-Belitung πŸ™‚ Dan jika kau keukeuh melanjutkan perjalanan luruuuuus ke utara, niscaya kau akan tiba di Huyện CαΊ§n Giờ dekat Ho Chi Minh City, Vietnam πŸ˜€ Puas?!

[source 1=”Wikimapia” language=”:”][/source]




****
Pengalaman 1/2 hidup 1/2 mati gegara terjebak gelombang tinggi di tengah lautan lepas sudah pernah saya alami sewaktu dalam pelayaran pulang dari pulau Peucang ke desa Sumur, Ujung Kulon. Kisahnya sendiri belum pernah saya tulis, nantilah menyusul bila ada masa ;p


45 Comments

Submit a comment