Keroncong Stasiun Maos

STASIUN MAOS. Kereta berhenti tanpa suara dalam guncangan halus. Terjagaku dari lelap.  Siang yang gerah.  Kulit terasa lembab tertiup kipas, setengah lengket oleh keringat.  Tubuhku bau logam.

Bapak di hadapku masih pulas. Seisi gerbong cuma senyap. Sebagian memejam, sebagian tenggelam, dalam pikiran yang menggenang.

Kutoleh jendela di sisi. Bagai menonton sebuah bidang persegi panjang berkaca buram, yang sedang menayangkan suasana sebuah stasiun tua bergaya kolonial. Tampak beku tiada yang melintas, apalagi bergegas.

Seorang petugas stasiun duduk tertidur dengan kepala mendongak. Pintu-pintu dan jendela-jendela stasiun berkaca bening berbingkai biru. Tembok putih berlumur kapur.

ting tung ting tung
ting tung ting tung

Terdengar intro musik bernada riang. Sejenak kukira sebuah gerobak es krim kan melintas. Tapi tiada. Yang muncul adalah alunan musik keroncong, mengisi seluruh spasi stasiun. Sayup menyusup dalam gerbong.

Aku terpana, entah berapa lama.

Petugas stasiun masih tertidur dengan kepala mendongak. Pintu-pintu dan jendela-jendela stasiun masih bergeming. Tembok masih keputihan.

ting tung ting tung
ting tung ting tung

Setelah intro, musik keroncong pun mendayu lagi.

Bapak di hadapku masih pulas. Seisi gerbong masih senyap. Suasana di luar jendela kereta masih menampakkan pemandangan yang sama: seorang petugas stasiun yang tertidur mendongak berlatarkan pintu-pintu dan jendela-jendela dan tembok stasiun.

ting tung ting tung
ting tung ting tung

Musik keroncong lagi.

Ketika kereta mulai bergerak aku masih terpana menatap jendela di sisi. Petugas stasiun yang tertidur mendongak itu tampak seperti bergeser dari bidang pandang, demikian pula dengan pintu-pintu dan jendela-jendela dan tembok berkapur. Bergeser cepat kemudian hilang. Bidang persegi panjang yang kutatap itu kini cuma menampilkan sekelebat pagar-pagar stasiun yang tampak melesat.

ting tung ting tung
ting tung ting tung

Dan musik keroncong itu. Mereka kini sudah hinggap dalam benak, ikut pulang dalam gerbong.

*suatu hari di stasiun Maos, desa Maos Kidul, kec. Maos, kab. Cilacap, Jawa Tengah*

 

catatan: foto stasiun Maos diunduh dari sini http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Maos

About the author

Travel Blogger
12 Responses
  1. Wah kebayang deh tuh suasana di Stasion Maos, dulu sering sih lewat sana. Keroncong adalah musik kesayangan saya pula, jadi baca ini klop nyantel di hati gitu deh kang.

  2. fandhie

    ehh nyasar kesini dr gugel plesss dan baru pertama kali baca tulisan dua badai. hmmm… i kinda like it 🙂 jago milih kata tanpa hrs lebay.

  3. Fakhriz Mizani nashr

    Kalimat yang dipakai pendek-pendek. Jadi lebih enak dibaca dan dipahami. Jadi ikut terbawa suasana di stasiun Maos.

  4. keke

    Lagu keroncongnya ‘dalem banget’ ya, unforgetable deh, judulnya kira2 apa ya ? Dicari di youtube ga ada yg kaya gitu, hiks, kangen keroncongnya.

Leave a Reply