Kembali ke Bali | Perkara Dunia Gaib

Scroll this

BALI punya faktor X yang bikin saya kembali lagi-lagi (yang jelas bukan dunia gaib lho, ya!). Awal 2016 pun saya sudah menjejak kaki di tanahnya, kali ini dalam misi staycation, alias merasakan pengalaman berada di suatu tempat lebih lama tanpa harus kemana-mana. Namun berhubung saya bukan burung di sangkar emas, tentu masih ada waktu-waktu colongan khusus untuk menjelajah pulau ini walau hanya beberapa titik sahaja.

Pada malam pertama di Bali, saya dan teman dan teman-temannya teman dari berbagai latar belakang dan profesi berkumpul di kafe Kopi Bali. Pembicaraan mulai mengalir tatkala dunia gaib jadi topik. Bahasan tentang rencana diving di Tulamben bergulir kepada kisah teman yang temannya hilang semasa diving di R4. Lalu tentang kemampuan supranatural temannya teman yang lain yang bisa menerawang keberadaan si teman yang hilang tsb. Bahwasanya korban sedang berada di dunia lain di bawah laut.

Lalu saya penasaran: “Seperti apakah wujud makhluk gaib bawah laut?”

Teman yang peka akan hal ini menjawab: “Tergantung karakter individu yang melihatnya.” Ia seorang Jepang penganut Hindu Bali yang taat. Sosok gaib yang dilihat olehnya di bawah laut kira-kira seperti ini: ikan yang besaaaaar, ikan yang aneh, atau makhluk-makhluk air yang cuma ada dalam gambaran dongeng.

“Bagaimana membedakan ikan besar yang gaib atau bukan?” tanya saya, takut salah tombak di dalam air (pertanyaan penuh gaya, padahal saya sama sekali belum mencoba aktivitas spear fishing). Lalu dijawab teman kami bahwa cuma intuisi yang bisa bilang. Secara naluriah manusia bisa membedakan mana hal yang lumrah mana yang tidak. Intinya bahkan di bawah laut pun manusia tetap harus menjunjung tinggi keselarasan alam. Jangan tinggi hati apalagi menantang.

Ia menambahkan pula jika di tanah Bali sosok-sosok gaib yang dilihatnya kebanyakan perwujudan dari arca-arca atau makhluk-makhluk dalam gambaran sahibul hikayat. Di tanah Jawa perwujudan gaibnya kebanyakan menyeramkan seperti muka rusak, punggung bolong, dll. Saya jadi teringat pada saat menulis artikel Pontianak & Kuntilanak di majalah Panorama tahun lalu dan keterangan nara sumber membuat saya berkesimpulan jika kuntilanak sepertinya memilih eksodus ke tanah Jawa. Sementara di tanah Jepang sendiri yang dilihat teman saya kebanyakan hanya bayangan atau sosok buram. Tapi sosok seperti Sadako memang nyata adanya meski tidak muncul dari layar televisi (tapi dari balik selimutmu, hahaha!).

dunia gaib perjalanan

Pembicaraan kami masih panjang, salah satunya membahas tentang reinkarnasi. Tiap kami punya pandangan berbeda karena berasal dari latar belakang beragam, tapi memang sungguh menarik mendengar bahasan tentang ini dari sudut pandang lain. Saya baru tahu jika ada kemampuan supranatural yang bisa melihat kehidupan sebelumnya. Teman saya pernah diterawang bahwa dalam dua kehidupan sebelumnya ia dua kali mati dibunuh, termasuk detail bagaimana & siapa pelakunya. Teman saya yang lain sempat ‘dibaca’ juga dan hasilnya: “Kok mukanya blank space aja gitu!” Ini berarti mungkin bisa dibilang ia jiwa yang sama sekali baru.

UUD, Ujung-Ujungnya Djodoh, pastilah jadi topik pamungkas. Jodoh memang hal gaib yang bikin penasaran, bukan begitu bukan? Teman saya si Jepang tadi bilang, jodoh bukan hanya dalam pasangan hidup. Ada jodoh sahabat, jodoh penyakit, jodoh musuh, dan jodoh-jodoh lainnya. Saya tak bisa mengingat detail setiap kata yang diucapkan, tapi menurut pandangannya kira-kira seperti ini: segala apa yang terjadi sekarang sebenarnya adalah buah dari masa lalu. Apa yang kita kerjakan, kemana kita melangkah, siapa yang kita temui, dll, bisa jadi cerminan di kehidupan sebelumnya. Tatkala dirimu melihat seorang asing lalu hati kecil langsung bicara ‘I knew I loved you‘ maka mungkin saja ia jodoh pasanganmu di kehidupan sebelumnya, YANG MANA belum tentu kalian bakal berkenalan apalagi berpasangan kembali di kehidupan sekarang. Bak buih-buih semesta dalam teori kuantum.

Yang menarik adalah perihal memutus karma. “Jika di kehidupan lalu kau melajang, maka putuskanlah karmamu dengan menikah di kehidupan sekarang.” Kira-kira intinya begitu.

Sungguh penutup malam yang melecut semangat para lajang!

Jikalau tak ada rencana diving esok hari sepertinya kami bisa melewatkan malam itu hingga pagi berbual-bual tentang dunia gaib dan seisinya. Maka marilah bubar dan kembali ke alam masing-masing.

 

Disgiovery yours!

 

NEXT: Kembali Ke Bali | Perihal Turis Lokal

13 Comments

Submit a comment