Kala Badai Menerjang di Selat Sunda

Ketika kapal kayu ini oleng terhempas gelombang, ketika orang-orang dan barang-barang merosot ke satu sisi bersamaan, ketika sebagian penumpang menjerit dan menyerukan Tuhan, ketika itulah saya mulai melihat sekelebat maut. Ia mengintip dari sela-sela rangka kapal.  Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa perjalanan ini dapat saja berakhir oleh badai.  Sekali-kali tidak.

CUACA cerah berlimpah sejak awal perjalanan. Inilah kali pertama bagi saya (dan sebagian besar dari 23 kami) berkunjung ke Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) yang terletak di penghujung barat pulau Jawa berbatasan dengan Selat Sunda dan Samudera Hindia.

Selama di TNUK, kami bermalam dan menghabiskan sebagian besar waktu di pulau Peucang. Menyesap hidup di sepetak bumi yang mungkin belum tersentuh peradaban sejak diciptakan. Hutan hijau, laut biru, dan pasir putih. Desau angin, riak air, dan bebunyian satwa rimba. Pepohonan yang demikian besar dan rapat. Keteduhan yang sejuk dan membuai, dan kegelapan yang pekat hingga gugus bima sakti pun terlihat. Hidupan liar yang bebas berlalu lalang di hadapan kami tanpa syak wasangka: monyet, merak, hingga rusa. Bahkan kami pun bisa bersantap malam dengan babi hutan (dalam arti sebenarnya, kami makan ditemani babi hutan yang hilir mudik di bawah pondok).

Dalam perjalanan pulang keesokan hari pun cuaca masih cerah. Kapal sempat berlabuh di Citerjun sebagai spot terakhir snorkeling. Inilah pengalaman perdana saya menceburkan diri di laut dalam, sedikit ngeri karena merasa begitu kecil di tengah keluasan gradasi biru. Tetapi pemandangan bawah lautnya menakjubkan. Ada banyak terumbu karang yang lebar-lebar dan besar-besar membentang di depan mata. Mungkin usianya sudah ratusan tahun.

Kami tak lama bermain air karena harus mengejar waktu pulang.

Pagi cerah di Cibom. Di seberang adalah pulau Peucang, di kanan depan adalah kapal kami.
Pagi cerah di TNUK. Di seberang adalah pulau Peucang, di kanan depan adalah kapal kami.
Terjun di Citerjun, tempat kami snorkeling sebelum beranjak pulang.
Terjun di Citerjun, tempat kami snorkeling sebelum beranjak pulang.

Kapal pun kembali melaju ke laut lepas. Bagaikan diayun buaian tak lama saya dan 7 teman lainnya sudah lelap berdesakan di dalam kabin kayu yang sebenarnya tak nyaman. Sementara teman-teman yang lain masih asyik duduk-duduk di dek depan.

Entah berapa lama saya tertidur sampai kemudian terasa ayunan kapal berhenti mendadak. Saya lekas membuka mata. Senyap. Mesin kapal seperti sengaja dimatikan.

Kesunyian yang aneh.

Seakan-akan seluruh alam ikut menahan napas menantikan sesuatu.

Masih belum tersadar sepenuhnya ketika perahu tiba-tiba terguncang keras ke samping. Laut tenang mendadak bergejolak. Desau angin jadi menderu-deru. Terdengar jeritan teman-teman dari dek depan. Sepertinya gelombang besar telah mencapai ke atas perahu dan membasahi mereka hingga basah kuyup.

Satu persatu teman kami pun pindah ke bagian belakang perahu. Ada seorang teman yang paling terakhir pindah dengan cara ngesot di lantai kapal sambil menangis. Gelombang mengayunkan perahu dengan kuat sehingga ia tak berani berdiri karena takut terlempar ke laut.

Kami yang berada di dalam kabin sudah terbangun dan duduk mematung dengan wajah pucat.  Kabin ini nyaris tertutup rapat di ketiga sisi. Kami cuma punya sisi terbuka ke bagian belakang kapal. Akibatnya kami cuma bisa merasakan guncangan belaka tanpa bisa melihat pergerakan gelombang.

Untuk menghindari pusing dan mual, saya cuma bisa mengintip ke dalam celah yang memisahkan kabin dengan ruang nahkoda, berusaha memandang sejauh-jauhnya ke depan. Tak tampak cuaca cerah melainkan kelabu. Kapten kapal terlihat memegang kemudi dengan serius. Ibu juru masak yang duduk di sampingnya cuma bisa komat-kamit dengan mata terpejam. Ia tampak khusyuk berdoa.

Aksinya mengingatkan saya pada gerak-gerik penganut Yahudi yang tengah berdoa di Tembok Ratapan. Berdoa sambil mengangguk-anggukkan kepala. Badannya ikut bergerak maju mundur. Praying in trance. Mungkin inilah saat dimana seseorang begitu larut dalam doa. Atau begitu dekat dengan Tuhan.

Saya menatap gerakan ibu juru masak dengan nanar. Tak tahu bagaimana rasanya berdoa dalam keadaan setengah sadar. Saya tak ingat kapan merasa begitu dekat dengan Tuhan. Bergumamlah saya pada Tuhan, pernahkah?

Mungkin inilah saat yang tepat.

Ketika kapal kayu ini oleng terhempas gelombang, ketika orang-orang dan barang-barang merosot ke satu sisi bersamaan, ketika sebagian penumpang menjerit dan menyerukan Tuhan, ketika itulah saya mulai melihat sekelebat maut. Ia mengintip dari sela-sela rangka kapal. Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa perjalanan ini dapat saja berakhir oleh badai. Sekali-kali tidak.

Ini adalah perjalanan yang mengingatkan kami pada kematian, dan pada Tuhan. Terjebak badai di laut lepas adalah bukan hal enteng bagi kami serombongan kaum urban yang tak terbiasa dengan dunia nenek moyang yang konon adalah orang pelaut.

Laut ini begitu luas. Kapal ini begitu kecil. Angin ini begitu kencang. Gelombang ini begitu tinggi. Could this be our perfect storm?

KRAAAAK!

Terdengar bunyi kayu terbelah. Jeritan lagi. Saya sudah pasrah jika memang kapal kami yang terbelah dan karam. Bunyinya memilukan, seakan kakimu ikut patah.

Ternyata bukan hal terburuk, melainkan kaki kursi di buritan kapal yang patah. Maut sepertinya sedang bermain-main dengan kami.

Teman-teman pun akhirnya duduk bertumpang tindih di lantai. Sebagian sudah memakai pelampung. Namun kami yang duduk di kabin bahkan tak berani bergerak untuk mengambil pelampung. Sebagian malah sudah memuntahkan isi perut.

Beberapa kali nahkoda mematikan mesin dan membiarkan gelombang mengombang-ambingkan kapal. Beberapa kali pula gelombang tampak lebih tinggi dari kapal sehingga kami mau tak mau pasrah jika tertelan olehnya. Hujan gerimis ini menghujam tajam. Bunyi angin menderu-deru seakan tak ingin dikalahkan oleh gelombang air. Sekeliling kami abu-abu suram, bahkan garis horison yang memisahkan bumi & langit pun tak terlihat.

Saya jadi teringat beberapa pesan singkat di ponsel yang dikirim oleh teman-teman menjelang keberangkatan ke TNUK. Semua mengucapkan selamat jalan. Apakah ini ‘selamat jalan’ dalam arti sebenarnya? Pada saat normal di daratan terkadang saya membayangkan ‘bagaimana caranya saya tiada’ (maafkan imajinasi saya yang terlalu berlimpah). Tapi kini saya membayangkan sebaliknya, bagaimana caranya saya bisa hidup jika kapal karam.

Posisi kami dalam kabin adalah yang paling rentan jika kapal terbalik atau tenggelam. Terperangkap dalam kotak kayu, tanpa pelampung pula. Satu-satunya jalan keluar hanya lewat bagian belakang. Namun sempatkah saya menahan napas jika serbuan air masuk, untuk kemudian meloloskan diri? Mampukah saya berpikir jernih dalam kepanikan? Bagaimana jika kepala saya terbentur dan keburu pingsan? Saya pandangi wajah teman-teman yang berada dalam kabin, semua menampakkan raut ketakutan sekaligus kepasrahan. Saya tak bisa memutuskan apapun
selama pikiran belum tenang.

Celah di kabin tempat saya mengintip ke ruang kemudi.
Celah di kabin tempat saya mengintip ke ruang kemudi.
Penampakan laut sesaat sebelum badai datang.
Penampakan laut sesaat sebelum badai datang.

Saya tak bisa melihat ekspresi wajah nahkoda karena dari celah di kabin ini yang terlihat cuma punggung dan topinya belaka. Namun membaca gerak-gerik tubuhnya, beliau tampak sigap dan tahu apa yang dilakukan. Jujur, hal ini bikin saya lebih tenang.

Namun sama sekali bertolak belakang dengan ibu juru masak yang duduk gelisah bukan kepalang. Kepalanya masih terus terangguk-angguk. Tidakkah ia merasa pusing? Sudahlah ibu, kau bikin saya resah.

Salah seorang awak kapal berjaga di bagian belakang kapal. Sikapnya siaga, namun ekspresi wajahnya datar saja. Entahlah, mungkin bagi yang sudah sering melaut dan mengalami berbagai serangan badai, maka hal seperti ini akan terasa biasa-biasa saja.

Beda jauh dengan kami.

Tiga jam lebih dalam wahana ekstrim di tengah laut adalah sungguh bukan main-main. Tiga jam lebih terombang-ambing antara tekad untuk bertahan hidup atau pasrah jika harus mati (kelak kemudian terungkap bahwa sebagian besar di antara kami sudah memikirkan kemungkinan mati di laut pada saat itu). Tiga jam lebih maut mengintai kami dari sela-sela rangka kapal, sebelum kemudian ia memutuskan untuk beranjak pergi.

Tiga jam lebih yang terasa untuk selamanya.

Tiba-tiba badai berangsur hilang, dan laut pun tenang. Nun di kejauhan mulai terlihat penampakan daratan. Bagai adegan happy ending dalam film-film Hollywood, matahari senja tiba-tiba mulai menyinari kami. Rasanya hangat di tubuh, dan di dalam dada. Jantung seperti kembali berdetak normal, dan darah kembali lancar mengalir. Kata-kata pertama yang keluar dalam mulut saya adalah, “Lihat! Sunset!

Buritan dan lautan di belakang kami tampak berwarna keemasan ketika matahari mulai menyentuh garis horison. Kami semua terpana dan terdiam dalam kekaguman. Dalam rasa syukur tak terhingga karena telah lepas dari terjangan badai. Nyaris tiada, kami kembali ada. Mungkin bukan badai sempurna, namun terbukti membuat kami kini merasa lebih hidup.

Senyum pun mulai muncul. Dan ibadah itu dengan cepat menular ke seisi kapal.

Lapor Tuhan, kami semua selamat, dan masih ingin mensyukuri hidup.

Reka adegan sebelum dan sesudah badai.
Reka adegan sebelum dan sesudah badai.
Penampakan lesu di kabin. Abaikan penampakan di kantong plastik, itu bukan bubur ayam, tapi...
Penampakan lesu di kabin. Abaikan penampakan di kantong plastik, itu bukan bubur ayam, tapi…

moral of the story:

1.  Gunakan selalu pelampung atau life-jacket terutama jika berlayar di laut lepas
2.  Jika terkena gelombang tinggi di tengah laut, perhatikan ekspresi nahkoda dan awak kapal, jika ekspresi wajah/gestur tubuh mereka tak menampakkan kepanikan (karena mereka sudah jauh lebih berpengalaman menghadapi berbagai cuaca buruk), maka kau pun tak punya alasan untuk takut
3.  Terakhir tapi paling utama, jangan lupa berdoa, ia bisa menenangkan, percayalah!

Apakah saya kapok melaut dan jera untuk kembali ke TNUK? Tentunya tidak! Suatu hari saya pasti kembali.

The day we won't forget for a lifetime. Miss you all, guys!
The day we won’t forget for a lifetime. Miss you all, guys!