Jelajah Hutan Sagu Demi Papeda & Ulat Sagu

JERIT histeris membahana disusul seruan bersahutan. “Pacet! PACET!”

Sempat saya lihat satu sosok sebesar jarum warna hitam tampak uget-uget merayapi betis kak Eka, sebelum kak Bobby bergegas menghampiri dengan pemantik api di tangan. Burn baby burn! Panas api akhirnya membuat pacet itu menyerah dan melepaskan diri dari kontak skin to skin dengan kak Eka (entah kenapa kumerasa dewasa saat menuliskan ‘skin to skin‘ :D).

Setelah kondisi dirasa aman, kami kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalur becek berawa di hutan sagu Yomoro, pesisir danau Sentani, Kab. Jayapura, Papua. Tujuan kami hendak melihat langsung proses pangkur sagu di dalam hutan. Meski rasanya kami sudah berada jauh di dalam rimba, sesekali terdengar bunyi mesin pesawat melintas begitu dekat. Percaya atau tidak, ternyata hutan sagu ini masih bersebelahan dengan Bandara Internasional Sentani!

hutan sagu selamat datang
Turun dari perahu langsung masuk ke hutan

Hutan Becek Banyak Pacet

Bagi penyuka petualangan, menjelajah hutan sagu ini terbilang mudah karena jalur yang sudah tersedia. Halang rintang yang dihadapi hanya berupa trek becek berlumpur. Tapi hal ini bisa menjadi hardcore bagi yang takut terkena hisapan pacet (sepupu lintah namun berukuran lebih kecil). Adalah disarankan mengoleskan lotion anti serangga atau minyak kayu putih di bagian tubuh yang terbuka untuk meminimalisir serangan pacet. Tak perlu tampil rapi OOTD karena sesudah trekking penampilan kita akan lembab berkeringat dan penuh noda lumpur dan darah mengucur dari luka bekas gigitan pacet *malah nakutin*

Tips mengatasi serangan pacet:
Jika pacet sudah keburu mendarat di bagian tubuh (saya bahkan pernah melihat ia menembus sepatu), segera usir dengan panas dari pemantik api (atau air tembakau). Air garam juga bisa efektif mengusir pacet. Sediakan pula cairan antiseptik jika diperlukan untuk membasuh luka gigitan pacar pacet.

Tapi intinya JANGAN TAKUT. Bukan berarti semua yang ke hutan sagu akan menjadi korban pacet. Kemarin di antara kami berdelapan yang pergi tanpa persiapan apapun hanya satu saja yang nahas kena hisap: saya. Sementara kak Eka & kak Lenny cuma jadi tempat pendaratan tapi sudah keburu diusir sebelum pacet-pacet itu menunaikan tugas.

jalan berlumpur hutan sagu
Awalnya hati-hati, lama-lama tak peduli menerjang lumpur becek-becekan

Seperti Ini Suasana Dalam Hutan Sagu

Hutan sagu Yomoro ini masih termasuk dalam wilayah kampung Ifar Besar. Hutan ini punya banyak jenis tumbuhan lain seperti pinang, matoa, belimbing, cokelat, sukun, rambutan, bambu, dan raime (bahan baku pembuatan perahu kole-kole). Tapi sebagai seorang awam yang lebih memperhatikan kondisi jalan licin berlumpur supaya tak terpeleset atau tak terkena pacet maka yang saya ingat cuma ada pohon sagu, sagu, sagu, sagu dimana-mana!

Penampakan pohon sagu mirip dengan keluarga palem lainnya dengan pelepah berduri dan batang kokoh dan tegak. Habitat alaminya adalah di rawa-rawa. Beda dengan singkong yang berasal dari Amazon, sagu diyakini sebagai tumbuhan asli Papua khususnya di sekitar danau Sentani. Di wilayah ini memang dijumpai beragam plasma nutfah sagu yang paling tinggi. Terdapat 34 jenis pohon sagu di Sentani, dimana hutan sagu Yomoroo ini mengandung 10 di antaranya seperti: yebbo, follo, roondo, osukhulu, bhara, yakhalobe, hoboolo, wani, bhane, monno. Silakan dihafal, nanti ujian bakal keluar soalnya πŸ˜‰

Sekali waktu kami harus melompati batang pohon yang melintang di jalan. Salah satunya adalah pokok sagu yang sebagian besar batangnya diselimuti pelepah daun-daun sagu kering. Seperti sedang dipepes. Ternyata inilah cara pembusukan batang pohon sebagai tempat menetas telur-telur kumbang kelapa yang bakal menjadi larva-larva putih gemuk pejal kenyal. Ulat sagu!

hutan sagu trek pohonhutan sagu trek rawa

batang pohon sagu
Batang sagu yang ditutupi dedaunan, cikal bakal rumah larva kumbang alias ulat sagu

Lelaki Pemangkur Sagu

Tanah lapang di dalam hutan bagaikan arena eksibisi pangkur sagu. Srek! Srek! Demikian bunyi alat pangkur yang terayun menokok serat-serat batang sagu menjadi serbuk kayu. Batang pohon ini sudah setengah dikerjakan, terletak melintang di tanah lapang. Lelaki itu duduk di cekungan batang sagu dengan kaki terjulur sementara tangan dan tubuh bergerak seirama ayunan pangkur. Rutinitas membuat lelaki tsb lihai mengayun alat pangkur yang tajam tanpa melukai kaki. Aktivitas keseharian telah memahat otot tubuhnya dengan baik, cukup untuk mengintimidasi kami para lelaki dengan perut bundar metropolis.

pangkur sagu
Pemangkur sagu butuh kekuatan dan ketelatenan

Serbuk-serbuk kayu sagu yang terpangkur lalu dikumpulkan dalam karung untuk diperas dengan air. Pohon sagu yang dipangkur harus cukup tua yang ditandai dengan keluarnya pucuk bunga pada bagian mahkota. Satu batang pohon sagu biasanya digarap tuntas selama 1 minggu dan menghasilkan sekitar 10 karung serbuk kayu sagu. Seorang perempuan bertugas sebagai pembilas dan peremas serbuk kayu ini hingga saripati sagu keluar dan tertampung dalam bak. Proses ini biasanya dilakukan dua kali.

Tepung sagu yang masih basah itu teksturnya seperti margarin padat. Biasanya mereka akan dikumpulkan dalam wadah lalu dijemur hingga kadar airnya hilang. Maka jadilah tepung sagu halus lembut seperti yang kita kenal. Dari 10 karung serbuk kayu sagu biasanya akan menjadi 5 karung tepung sagu siap konsumsi.

serbuk sagu
Serbuk kayu sagu sebelum dibilas dan diperas
serbuk sagu
Serbuk kayu sagu siap diperas untuk kedua kali
hasil perasan sagu
Saripati sagu siap dikeringkan

Pada Sebuah Perjamuan

Desa Aryauw terletak di sisi hutan sagu Yomoro. Kesanalah kami menuju untuk sebuah perjamuan sederhana dengan penganan lokal. Saya dan beberapa kawan sempat salah ambil jalan, tersesat di jalan kampung, mampir sebentar di sungai yang jernih untuk cuci kaki (saya urung pipis karena ditunggui oleh kak Bobby… yang siap sedia merekam adegan buka-bukaan ini dengan kameranya), lalu setelah tanya sana-sini akhirnya tiba juga di lokasi perjamuan.

Sebuah pondok kayu darurat disiapkan di sisi hutan untuk tempat kami makan. Seorang ibu langsung mendemonstrasikan cara membuat hidangan pokok mereka. Tepung sagu yang disiram air mendidih, lalu diaduk-aduk terus hingga mengental, bening, kenyal seperti lem. Jadilah papeda! Papeda ini semacam makanan pokok di Indonesia bagian timur, cara makannya biasanya langsung diseruput, dan paling enak disantap bersama ikan kuah kuning. Kebetulan perairan di danau Sentani juga menyediakan pasokan protein lengkap seperti ikan gabus, ikan gete-gete, ikan heuw, hingga ikan mujair yang masyhur. Pada kami dihidangkan ikan gabus goreng yang dimasak tanpa bumbu apapun. Sedap segar!

papeda
Papeda is freshly served!

“Bro, kaki lo berdarah!” cetus bang Amir tiba-tiba.

Olala, ternyata tumit kiri saya sempat jadi korban gigitan pacet tanpa saya sadari. Si pacet sendiri sudah tak kelihatan dan cuma meninggalkan luka gigitan yang mengucurkan darah. Tak ada rasa sakit, kecuali pilu melihat darah sendiri. Saya memang paling tak kuat melihat darah, bisa bikin pening & mual. Akibatnya cuma tertelan sedikit sahaja itu papeda dan ikan gabus. Bahkan ketika dessertΒ mulai dihidangkan, su hilang selera saya.

Baca juga: Enbal, Penganan Khas dari Singkong Beracun

Makan Ulat Sagu Hidup

Dessert kami tersaji dalam wadah plastik bundar, berisi segerombolan ulat sagu hidup! Begitu menarik, begitu pejal, kenyal, uget-uget yang bikin gemas. Satu persatu wadah ulat sagu berpindah tangan, bukan untuk dimakan tapi untuk difoto, hahaha! Saya sudah tak sampai hati untuk memakannya (sehari sebelumnya saya sudah cicip ulat sagu panggang yang rasanya mirip udang goreng), kini biarlah orang lain yang mencoba.

Akhirnya kak Eka bersedia mencoba makan ulat sagu itu hidup-hidup. Setelah kepala ulat dibuang, langsung di-hap saja tubuh ulatnya. Ia bakal langsung lumer di mulut, dan menurut kak Eka rasanya mirip margarin. Ulat sagu ini punya kadar protein tinggi, namun di sisi lain bisa bersifat alergen bagi mereka yang sensitif. Jadi sebaiknya makanlah secukupnya.

ulat sagu
Wanna have some? πŸ˜‰
makan ulat sagu hidup
Foto sengaja diburamkan supaya netizen tidak protes adegan penyiksaan

Trip agrowisata ke hutan sagu seperti ini memang belum dikembangkan secara komersil. Namun jika kamu penasaran ingin mencobanya, bolehlah bertanya pada penduduk lokal untuk minta diatur bagaimana baiknya. Semua lokasi hutan sagu di pesisir danau Sentani sebenarnya bisa didatangi, tapi pastikan lokasinya tidak bakal menyusahkan. Hutan sagu Yomoro menurut saya lokasinya strategis karena masih dekat kota Sentani dan masih bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat.

Selamat menjelajah hutan sagu! πŸ™‚

Disgiovery yours!

6 Responses
  1. Badai, ini trip menyenangkan banget kayaknya, meskipun becek, kena pacet, dan gak ada ojek. Selama ini cuma bisa bayangin proses pengolahan sagu dari buku-buku yang aku baca, dan baru kali ini liat videonya. Btw jadi kamu sama sekali gak nyobain margarin ginuk-ginuk itu? Kayaknya lucu.

    1. ((MARGARIN GINUK-GINUK)) πŸ˜€
      Udah mual gegara pendarahan Bam, daripada nanti muntah di depan warga kan malah gak enak.. Tapi overall emang seru banget ini trip pangkur sagunya!

Leave a Reply