Jalan-Jalan di Zaman Friendstersaurus

Scroll this

JADI ketika sedang membereskan arsip foto, tanpa diduga menyembullah sekeping cakram DVD bertuliskan ‘2004/2005’. Olala, koleksi foto lama lebih dari 1 dasawarsa lalu, ketika kamera saku digital masih berteknologi 2 MP, kamera ponsel masih berkualitas VGA, dan teknologi selular belum mengenal sistem Android.

Senyum-senyum sendiri saya melihat koleksi foto lama ini, lalu terkenang pada masa silam. Pada zaman Friendstersaurus dimana testimonial teman adalah harta paling berharga selain keluarga. Saya belum mengenal blogging pada masa itu, meski mungkin situs blog Multiply.com sudah hadir (dimana kelak saya akan bersarang di sini).

Setiap orang akan narsis pada masanya. Tampaknya puncak ke-narsis-an saya adalah di zaman Friendstersaurus ini. Walaupun pada saat itu saya juga sudah gemar jalan sana jalan sini, tapi foto-foto yang ada malah lebih banyak menunjukkan tampang sendiri alih-alih suasana pemandangan. Seperti misalnya pada saat pelesiran ke kawasan Gunung Salak Endah, Bogor, lupakan itu lanskap perbukitan hijau dengan kabut berlapis. Yang ada hanya muka memenuhi bingkai foto, hahaha, sementara suasana sekitar hanyalah jadi latar belakang sekadarnya.

friendster gn salak endah selfie
Niat hati hendak mengulas tempat menginap kami di kawasan Gunung Salak Endah, apa daya foto yang tersedia hanya tampang si mamang penjaga villa ini πŸ˜€
friendster gn salak endah kabut
Ternyata ada satu foto di kawasan Gunung Salak Endah yang terselamatkan tanpa penampakan selfie, itu pun fokusnya bukan pada pemandangan πŸ˜€

Saya juga mulai belajar menulis ala blog di Friendster. Sungguh lupa apa nama fiturnya (Friendster Note? Ada yang tahu istilahnya?), tapi saya ingat sempat memublikasikan beberapa tulisan singkat di sana. Isinya acak saja, seperti ungkapan perasaan sesaat atau balada banjir Jakarta.

Balada banjir ini, Ya Allah, sungguhlah cobaan beruntun. Usai hujan deras mendera ibukota sore itu, saya harus menunggu bus lewat hingga berjam-jam. Kebasahan, kedinginan, kelaparan. Ojek motor? Bah, semena-mena mereka pasang harga! Pun ketika akhirnya dapat bus, kami harus berdiri berdesakan hingga tujuan. Turun depan jalan menuju kost-an, saya tak bisa lewat karena banjir sepinggang. Akhirnya jalan kaki memutar lewat kampung sebelah, dimana banjir cuma semata kaki. Kawasan padat yang biasanya ramai ini tampak lengang. Listrik padam, orang-orang tampak enggan keluar rumah. Sampai kost-an ternyata hanya saya sendiri yang pulang, 2 orang penghuni lain lenyap entah kemana (kami tinggal dalam 1 rumah 3 kamar). Maksud hati ingin buat minuman panas, ternyata air galon habis. Ingin masak air, ternyata gas pun habis. Bikin api unggun, cari kayu bakar dimana.

friendster sad

Entah bagaimana saya bertahan hidup malam itu tanpa makan & minum. Mungkin tanpa sadar saya menyesap air hujan yang tempias masuk ke dalam kamar. Sebentar, ataukah itu airmata?

Kembali ke Friendster, biasanya yang menjadi kontak saya adalah teman-teman sebenarnya di dunia nyata. Tapi tata cara pergaulan mulai berubah di zaman ini. Saya mulai mengenal alter-alter baru di dunia maya, dimana kolom testimonial adalah bekal saya dalam menilai apakah orang ini layak masuk kontak pertemanan atau tidak. Seorang teman saya bahkan sudah berani mengajak jalan-jalan salah seorang kontak Friendster-nya bersama kami dimana kalimat pembuka perkenalannya adalah:

“I see dead people.”

JRENG! JRENG!

Ia cuma berusaha jujur akan kemampuan indera keenamnya (yang kelak kan membuat kami terkaget-kaget). Beruntung perempuan ini menjadi teman baru yang menyenangkan. Perjalanan kami merayakan tahun baru di kawasan Ujung Genteng, Sukabumi, sungguhlah berkesan, mulai dari tragedi mobil mogok, tidur kedinginan di ruang server, hingga tegang sepanjang jalan gara-gara ada kuntilanak ikut terbang di samping kendaraan.

Silakan baca selengkapnya: Ujung Genteng Tak Berujung

friendster ujung genteng beach
Pantai Ujung Genteng nan indah cuma sempat kami sambangi sekejap saja karena urusan di bengkel lebih penting.
friendster ujung genteng bengkel
Tahun baru dihabiskan seharian di bengkel, wajar kalau wajah-wajah kami tak ramah!
friendster sukabumi
Berhasil kembali ke Sukabumi kami malah main-main dulu ke kebun teh, padahal mobil harus segera diservis lanjutan di Jakarta, ckckck!

Zaman Friendstersaurus ini juga menyimpan jejak digital perjalanan impulsif yang pernah saya lakukan. Kisahnya berawal dari kunjungan halal bihalal di rumah teman di Bogor. Lepas tengah hari pada ingin nonton film, lalu berangkatlah kami ke bioskopΒ Mall Mangga Dua, Jakarta, cuma buat beli DVD film. Ternyata kami baru tiba pada malam hari di… Anyer, Banten! Lupakan Mangga Dua, leyeh-leyeh di pantai tampak lebih menggoda. Semuanya murni dadakan tanpa persiapan.

Keesokan harinya langsung pulang ke Bogor? Tentu tidak, kunjungan ke Mangga Dua tetap harus terlaksana, hahaha! Malamnya dalam perjalanan menuju Bogor, kami sempat-sempatnya memutuskan belok ke Cileungsi. Oh, ini toh Cileungsi, gelap ya, hahaha! Tapi lumayan kami sempat makan malam sate & gule kambing ena-ena di sana. Ah, masa muda yang penuh gairah dan stamina…

Baca juga kisah lainnya: Ketika Pulang Kantor Kami Malah Main ke… Lampung!

friendster anyer beach
Trip impulsif mendamparkan kami di pantai Anyer malam-malam. Lalu apa faedahnya? Hahaha!
friendster anyer beach sandman
Ditemukan makhluk abnormal di pantai!
friendster anyer karang bolong
Akhirnya ada foto layak tayang, pemandangan di pantai Karang Bolong. Iya, cuma ini foto yang normal, hahaha!

Bagaimana dengan kalian, ada kesan-kesan apa selama menjalani hidup di era Friendstersaurus? Atau mungkin ada yang mau berbagi testimonial di kolom komentar di bawah ini dipersilakan, dengan catatan NO SARA. Let’s share the moment of fun & happiness, shall we? πŸ™‚

Disgiovery yours!

friendster jakarta sea world
Norak-norak bergembira di Sea World Jakarta. Foto ‘ikan hiu’ di cover blog ini juga diambil di Sea World.
friendster
Sudah buka Friendster hari ini? πŸ˜‰

12 Comments

Submit a comment