Jalan-Jalan Bersama Indra (Keenam)

INDRA VI namanya, meski ia bagian dari diri saya, tapi kami tak pernah dekat. Kemungkinan saya yang tak mau dekat-dekat. Atau bisa saja sebaliknya. Berbeda dengan kelima kakaknya indra-indra yang lain, si bungsu ini memang termasuk misterius.

Satu-satunya akses dimana saya bisa mencari tahu Indra VI alias indra keenam lebih jauh adalah melalui perpustakaan ingatan. Keping memori saya paling dini adalah ilusi perjalanan bawah laut semasa kecil. Pardon me, sebenarnya dibilang jalan-jalan juga bukan sih, hanya pengalaman sekejap saja. Intinya saya yang masih balita ini pernah berenang di tepi pantai lalu mungkin terseret arus (atau tergulung ombak).

Anehnya saya masih ingat betul suasana di dalam laut pada saat itu. Alih-alih laut dangkal dan keruh, saya melihat suasana perairan jernih bernuansa kebiruan dengan formasi bebatuan yang masih tampak asing. Lalu saya melihat tubuh saya sendiri tenggelam ke dasar laut. Tampaknya ruh saya terlepas dari badan. Alih-alih panik atau takut, saya malah merasa biasa saja. Atau mungkin karena wawasan saya sebagai balita saat itu sama sekali belum paham tentang apapun termasuk konsep out of body experience.

Tak lama dua sosok penyelam kemudian muncul menemukan tubuh saya, lalu lekas membawanya ke permukaan. Hal berikutnya yang saya ingat adalah tersadar di atas pasir di sisi ibu yang sedang menangis tersedu-sedu.

Sebentar…

Penyelam?

Semasa saya kecil arena rekreasi kami sekeluarga adalah pantai Ancol (Jakarta) dan pantai Pelabuhan Ratu (Sukabumi). Seingat saya kegiatan menyelam atau scuba diving pada masa itu (atau bahkan hinga kini) tak dapat dilakukan di kedua pantai tsb. Lantas siapakah dua penyelam yang mengangkat tubuh saya ke permukaan?

Apakah benar mereka penyelam, ataukah sosok gaib penghuni lautan?

indra keenam bawah laut
Ini bukan penampakan gaib, ini makhluk nyata adanya. Zayn Malik lagi nyelam di Derawan!

Jalan-Jalan dengan Ilmu Terawang

Jika kemudian banyak yang bilang bahwa pengalaman masa kecil tadi bakal membuat saya bakal lebih peka sama hal-hal gaib, maka… antara ya dan tidak. Saya tak tahu apakah ilmu terawang termasuk dalam indra keenam, tapi pernah ada 1-2 kejadian dimana saya bisa menyebutkan lokasi suatu benda yang hilang walau terpisah jarak dan waktu (sayangnya hal ini tidak berlaku untuk cinta yang hilang… #sad). Saya sendiri beranggapan bahwa hal tsb hanya ilusi/ kebetulan semata, dan karenanya menafikan ‘kemampuan’ itu (jika memang ada) hingga sekarang.

Lalu teringat kejadian bersama sobat saya semasa kuliah. Bukan kebetulan jika ia juga mahir dalam hal terawang-terawangan. Pada suatu malam ia mengajak saya jalan-jalan ke rumah Melati & Mawar (bukan nama sebenarnya), dua kembang kampus di angkatan kami. Tapi jalan-jalan secara gaib.

“Kita terawang Melati dan Mawar di rumahnya masing-masing!”

Jangan bayangkan ritual perdukunan. Kami cuma duduk santai, ngobrol seperti biasa, tapi mata sobat saya terpejam sementara ia mulai menceritakan petualangannya. Peran saya cuma jaga lilin duduk mendengarkan. Tujuan pertama ialah bertandang ke rumah Melati.

Ternyata gadis pujaan sobat saya itu sudah tertidur di kamarnya. Dan…

“OK, tampak Melati belum cukur keteknya.”

JRENG! JRENG!

indra keenam

Walau sambil ketawa-ketawa, tapi saya membatin, ‘Bahaya juga andai orang lain bisa menerawang kita sedetail itu‘. Lalu sobat saya masih sambil memejamkan mata menyahut, “Makanya kalau lagi anu sebaiknya anu.”

Lah, apa pula maksudnya? Hahaha, terserah kalianlah menginterpretasikan anu-anu itu sebagai apa.

Setelah rehat sejenak, kegiatan berikutnya ialah jalan-jalan ke rumah Mawar.

Sobat saya menutup mata lagi, lalu terdiam cukup lama. Sedikit cemas saya, apakah yang sedang dilihat olehnya? Adakah Mawar dalam kondisi baik-baik saja, terlindungi dari mata-mata nakal?

Pada akhirnya sobat saya membuka mata. “Access denied!” lapornya. Ternyata ia tak bisa masuk ke dalam rumah Mawar karena di sana ada ‘penjaga’-nya. Lebih dari satu, dan berilmu tinggi.

Tanpa sadar saya menghembuskan napas lega. Mawar aman. Berarti tak semua orang bisa ‘diintip’ sesuka hati oleh mata-mata gaib para juru terawang.

Terlepas apakah sobat saya hanya mengada-ada tentang terawang-terawangan itu, yang jelas di kemudian hari saya mendapat pembuktian bahwa Melati memang mesti rutin bercukur, dan Mawar memang berasal dari keluarga ‘berilmu’ dan tinggal di rumah ‘berada’, if you know what I mean.

Hal Gaib di Luar Horor

Kalau ditanya indra keenam seperti apa yang saya inginkan maka kemungkinan besar saya akan jawab: “Yang gak ada setannya, bisa?” Walaupun hobi baca memetwit di Twitter menjelang tidur, tampaknya saya takkan siap jika harus melihat langsung sosok makhluk gaib berwujud menyeramkan. Sementara hal gaib sendiri tak melulu berhubungan dengan elemen horor kan? Contohnya jodoh.

#kemudianhening

..

.

Oh, saya pernah terbangun pada suatu malam, mendadak terjaga karena tercium aroma harum. Bukan semilir lagi, tapi semerbak. Aromanya lembut tapi kuat, meski tidak menusuk hidung. Suasana kamar saat itu masih gelap dan terkunci dari dalam. Saya yakin tak ada siapapun di dalam kamar kecuali saya sendiri. Keharuman yang menguar ini belum pernah saya hirup sebelumnya (yang jelas bukan harum bunga, sabun cair, apalagi parfum refill). Satu hal yang pasti, aromanya tidak mendirikan bulu kuduk, malah sensasinya terasa sejuk dan damai. Gerangan adakah malaikat melintas?

Beda lagi dengan pengalaman teman saya yang lain (ia asli Jepang tapi sudah jadi penganut Hindu Bali taat), dimana kalau sedang scuba diving ia kerap melihat perwujudan makhluk-makhluk bawah air yang menakjubkan bak dunia dongeng di dalam laut. Mungkin bagai setting Alice in Wonderland. Pun ia bilang jika sosok-sosok gaib yang dilihatnya di tanah Bali kebanyakan perwujudan dari arca-arca atau makhluk-makhluk dalam gambaran sahibul hikayat.

“Bagaimana halnya di Jepang, ada hantu versi Sadako?” tanya saya penasaran.

Lalu teman saya bilang…

Silakan baca ini: Kembali ke Bali | Perkara Dunia Gaib

indra keenam astral projection
Mungkin seperti ini gambaran sewaktu memasuki astral projection dimana dunia di sekelilingmu tampak blurry, sebelum akhirnya sampai di ‘tujuan’

Indra Keenam untuk Menyelamatkan Dunia

Sungguh sub judul yang lebay, hahaha!

Jadi walaupun termasuk tumpul untuk hal-hal gaib (baca: horor), tapi terkadang insting saya juga muncul jika memasuki area yang terasa ‘berat’ khususnya dalam perjalanan. Saya percaya tiap manusia juga pasti punya kemampuan seperti ini yang kadang muncul dari alam bawah sadar di situasi tertentu/darurat. Terkadang hal ini bisa menyelamatkan mereka dari bahaya, nyata atau tak kasat mata.

Kali pertama saya merasa takut tinggal sendirian di dalam kamar adalah di sebuah hotel di pegunungan Hindustan sana. Kamar saya terletak paling pojok di bangunan paling ujung, naik tangga, memutari tiang (namanya juga Indihe), pokoknya terpencil. Pertama masuk ke dalamnya saya langsung merasa tak nyaman. Atmosfernya berat, bagai menembus lapisan energi tak kasat mata. Rasanya ada banyak mata gaib yang memperhatikan gerak-gerik saya (Demi Gusti Nu Agung, saya merinding sewaktu menuliskannya). Langsung saya kontak teman saya yang tinggal di hotel yang sama namun kamarnya terletak di bangunan berbeda dan minta izin untuk bermalam di kamarnya. “Tidur di sofa juga boleh!”

Nalar (atau intuisi?) saya yang lain KADANG muncul sebagai kompas gaib. Ia bisa tahu kapan saya harus masuk jalan ini, mengambil jalan sana, atau berputar balik walaupun sedang berada di daerah asing sekalipun. Biasanya hal ini berguna ketika saya sedang berpergian sendiri atau berdua. Tapi jangan andalkan kompas gaib saya untuk mengikuti petunjuk arah dari penduduk lokal seperti: “Dari sini ke barat lalu di pertigaan mesti ambil jalan ke selatan, lalu setelah ada tugu di timur baru bisa putar balik ke utara.” Ampun deh, nyerah! Lebih cepat pakai fitur GPS saja, hahaha!

indra keenam semesta
Foto iseng usai pemotretan review kamar hotel, ceritanya lagi kedinginan tapi malah kayak penampakan horor, hahaha! Tapi tenang, kamar hotel ini kece bana dan nyaman ditempati. Ulasannya sila klik di sini.

Bagaimana dengan kalian, pernah ada pengalaman dengan indra keenam khususnya ketika traveling? Silakan berbagi cerita di kolom komentar, mari ramaikan!  🙂

Disgiovery yours!

8 Responses
  1. Untungnya aku ga punya indra keenam, tapi pernah “diganggu” waktu naik gunung, gegara ada teman yg bawa jimat waktu pendakian. Ya, marahlah penghuni-penghuni gunungnya, habislah kami diganggu. Aku sampai dengar bunyi sist kunti nangis 2 kali ?

  2. Alhamdulillah selama jalan-jalan ngga pernah (atau mungkin ngga menyadari) ngalamain kejadian gaib dan sebagainya. Waduh ngeri juga ya kalau bisa diterawang sampai se-detail itu, kudu hati-hati, hahaha ?

    1. Syukurlah kita dibikin gak lihat ya, mungkin kalau dikasih lihat bisa jadi pingsan karena mental kita belum siap. Aku jadi inget temen pernah cerita kalau neneknya dulu kasih petuah bahkan kalau mandi kita tetap harus bersarung, karena kita gak pernah tahu siapa yang melihat.. hmm..

  3. Waktu duduk di SMA, aku dulu pernah bilang ke temenku, kalo pengen bisa ngeliat “mereka”. Tapi kata temenku, yang sama-sama nggak bisa “lihat”, “Kalo aku sih ogah, ngeliat siswa satu sekolah isinya 300 orang aja udah sumpek. Kalo ditambah ngeliat mereka bisa makin sumpek.”
    Lalu kami berdua ketawa. Bener juga sih. Akhirnya aku bersyukur nggak bisa lihat begitu begitu.

    Terus kalo sekarang ditawarin pengen liat, aku selalu pake alasan itu buat menolak. Hahaha

    1. Mestinya kamu bisa, siapa tau pengaruh reaktor nuklir bikin aura indigo-nya muncul, hahaha! 😀

      Tapi apapun kondisinya, mari kita syukuri, mungkin memang sudah yang terbaik bagi kita untuk tidak bisa ‘melihat’…

Leave a Reply