My Holiday Trip | Kiat Bersukaria di Ubud Bali

Scroll this

KU ingin mengenang memori hujan.

Kira-kira seperti itu jawaban (ala pujangga) saya jika ditanya rencana liburan mendatang. Saya punya keinginan hendak menghabiskan akhir tahun di Ubud Bali, dan jika ada pertanyaan seperti: “Kenapa Bali? Kenapa Ubud? Apa yang bisa dilakukan di musim hujan begini?” maka saya sudah punya jawaban.

Kenapa Bali? Jadi sejak erupsi Gunung Agung tempo hari terjadi ternyata jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali menurun drastis. Seriously, hal ini sampai membuat Menpar Arief Yahya hingga Presiden Jokowi berinisiatif jalan-jalan ke Bali untuk menyiarkan kepada dunia bahwa pulau dewata ini AMAN dan tidak porak poranda. Maka tiada salahnya kembali ke Bali dan bantu mengabarkan (minimal lewat tulisan di blog) tentang hal yang sama.

Kenapa Ubud? Karena lokasi strategis di tengah Bali, unsur budaya tradisional yang masih kental, dan suasana yang lebih santai dan rileks. Jika banyak orang ingin menghabiskan libur akhir tahun di tengah suasana gegap gempita, saya malah ingin ‘menyepi’ saja walaupun tetap tak ingin jauh dari peradaban. Jadi Ubud-lah pilihan tepat.

Lalu apa saja yang bisa dilakukan supaya tetap bersukaria di Ubud Bali selama musim hujan? Nah, simak ya…

Jejak Hujan di Tegalalang

Duduk-duduk santai di tepi sawah seusai hujan (atau bahkan selama hujan) bisa jadi terapi tersendiri. Katakanlah kau baru tiba di Ubud yang basah lepas tengah hari, maka santailah sejenak di kafe (atau bahkan warung sederhana) di tepi sawah. Hijau rumpun padi di petak-petak sawah terasiring terasa meneduhkan pandang. Hidung kan segar oleh udara bersih sejuk. Telinga kan dihibur bunyi kodok atau orkestra serangga atau gemercik aliran air. Angin berhembus sejuk di kulit. Lidah mencecap teh sereh madu hangat. Mana nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.

ubud tegalalang
Tegalalang selepas hujan. Maka nikmatilah suasananya.
ubud tegalalang sawah
Jejak hujan yang tertinggal pada pucuk-pucuk padi pun bisa mendamaikan.

Berburu Kabut di Kintamani

Bagi saya kabut adalah inspirasi. Kabut adalah satu jam perjalanan ke utara Ubud menuju Kintamani. Semesta lain yang terkungkung oleh danau kawah Gunung Batur pada ketinggian 1.500 mdpl. Kintamani biasanya berselubung kabut pada pagi/sore hari, maka sempatkanlah berkunjung kesana tuk menyesap inspirasi dari kabut (dan hujan). Terdapat banyak kafe/resto di Kintamani untuk disinggahi. Jika cuaca cerah maka lansekap danau & gunung Batur yang melegenda akan terpampang di hadapan. Pada saat cuaca berkabut (atau berhujan) maka nikmati saja romansanya sembari menyesap kopi Kintamani yang tersohor.

ubud kintamani cerah
Kintamani kala cuaca cerah. Saya penasaran ingin menyaksikan lansekap ini pada saat berkabut.
ubud kintamani batur
Gunung Batur dari sisi lain Kintamani. Cuaca mendung bisa disiasati dengan foto hitam putih.

Menyusuri Bukit Campuhan

Tiap bertandang ke Ubud, tak pernah jemu saya menghabiskan pagi di bukit Campuhan. Trek dimulai dari Pura Gunung Lebah, menyusuri jalan berundak menyusuri punggung bukit yang ditumbuhi ilalang di kedua sisi. Dari kejauhan kan terdengar gemercik air sungai yang mengapit bukit Campuhan ini. Suasananya sungguh damai nyaris tanpa polusi suara. Perjalanan sepanjang 1 km ini akan berakhir di gerbang desa Bangkiang Sidem, desa seniman nan bersahaja. Toko atau galeri di sana sudah buka pagi, dan pembeli pertama biasanya mendapat harga istimewa karena dianggap penglaris (pembawa keberuntungan).

ubud bali campuhan ridge walk
Bukit Campuhan di pagi cerah. Bayangkan sisi eksotis lain ketika kabut menyelubungi.
ubud campuhan gate
Duduk di antara perbatasan jalur bukit Campuhan dengan desa Bangkiang Sidem.

Experience the Ubud Way

Keajaiban Bali yang sudah saya amati adalah di antara hari-hari kelabu ia kan memunculkan hari berlangit biru cerah. Saatnya keluar sarang dan mencari aktivitas seru. Salah satunya bermain ayunan di Bali Swing (seperti pada gambar coverΒ di atas hasil jepretan Jared Rice), mencicip aneka kopi di Bali Pulina, menengok kerabat di Monkey Forest, bersepeda sambil blusukan ke perkampungan, cafe hopping sekalian wisata kuliner, atau sekadar mencari buah tangan di pasar seni. Oya, selama musim penghujan ini sebaiknya hindari dulu bermain di air terjun/sungai karena kemungkinan air bah melanda (atau tanyakan kepada penduduk/pemandu setempat untuk pastinya).

Baca juga: 10 Free Things To Do in Ubud Bali

ubud locavore
Santapan tradisional ala resto Nusantara by Locavore bisa jadi pilihan. Ada kelas memasak juga di sini.
ubud monkey forest
‘Leyeh-leyeh’ isn’t a crime. Thanks Marcus Lofvenberg for the pic.

Bersantai dengan Pijat/Spa

Ada kalanya cuaca buruk malah bikin kita enggan kemana-mana. Tak masalah, nikmati saja waktu dimanapun berada. Malah hal ini bisa jadi alasan tepat untuk memanjakan tubuh dengan layanan pijat/spa (atau mungkin ikut kelas meditasi/yoga). Bayangkan nikmatnya, hujan-hujan di luar sementara kita santai-santai sambil dipijat di dalam. Salah satu yang pernah saya coba adalah intuitive body works ala Iman Spa. Saya suka karena terapisnya seperti menguasai ilmu anatomi dan mempunyai tangan ‘hangat’ bak transfer energi. Sesudah sesi pijat lalu terhidang air jahe hangat (atau minuman lain sesuai request). Mantap! Atau jika kau punya rekomendasi pijat/spa di Ubud please share with me!

ubud pijat ritual
Ritual pijat ala Bali lengkap dengan canang sari, bunga-bungaan, dan doa.
ubud-yoga
Sekadar meditasi/yoga ringan tuk sukaria dalam jiwa. Thanks Jared Rice for the pic.

Menginap di RedDoorz

Berhubung Ubud jadi pilihan, maka salah satu tempat menginap ideal adalah RedDoorz Plus Sukma Kesuma – Ubud. Pertimbangan utama ialah lokasinya dekat dengan Ubud Palace yang menandakan sentral Ubud (sekitar 700 m dari hotel) sehingga dekat kemana-mana. Alasan lain tentu karena garansi layanan RedDoorz yang meliputi antara lain WiFi gratis (PENTING), televisi satelit, air mineral, linen bersih, kamar mandi & toiletries lengkap. Dan kelebihan lain RedDoorz Plus Sukma Kesuma ini adalah tersedianya kolam renang dan dekorasi ruangan bercirikan khas Bali.

Kamu belum pernah menginap di RedDoorz? Sedang ada diskon 15% untuk booking pertama. Kuy, lekas book kamarnya! Atau silakan cari info lebih lanjut di website resminya di sini.

reddoorz plus sukma kesuma
RedDoorz Plus Sukma Kesuma Ubud.Β  Pic from Booking.com

Jadi, musim hujan pun bukan penghalang tuk menikmati liburan akhir tahun di Ubud Bali, bukan?

Disgiovery yours!

8 Comments

  1. Aku pernah nginep di Ubud dua kali: pertama kali pas musim hujan dan yang kedua pas musim kemarau. Aku lebih suka pas musim hujan sih karena meskipun hujan deras bisa mengguyur sewaktu-waktu, tapi suasana Ubud jadi lebih hijau dan asri. Kalau malam bunyi suara katak dan serangga jadi hiburan tersendiri, bahkan sempat di salah satu malam lihat kunang-kunang. Kayaknya sebelum malam itu udah lamaaaa banget gak pernah lihat kunang-kunang.

    • Ya kan lebih asyik musim hujan di Ubud, lebih dapet feel-nya, hehehe.
      Wah kunang-kunang! Aku malah gak kepikiran, sepertinya next time balik ke Ubud mesti nonton kunang-kunang di sawah! πŸ™‚

  2. omg tulisanmu ini : Telinga kan dihibur bunyi kodok atau orkestra serangga atau gemercik aliran air. Angin berhembus sejuk di kulit. Lidah mencecap teh sereh madu hangat. Mana nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.

    aku jadi terhanyut… dan belum pernah ke Bali πŸ˜€

Submit a comment