5 Hal Terlarang di Keraton Kasepuhan Cirebon

Scroll this

KERATON KASEPUHAN menyimpan sejarah menarik berkaitan dengan Cirebon (awalnya disebut Caruban atau Sarumban, alias percampuran).  Memang segala bangunan dan artefak di dalam keraton ini terasa percampuran multikultur-nya, mulai dari Tiongkok hingga Arab, Pajajaran hingga Majapahit. Kota syahbandar ini memegang peranan penting dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa.  Berasal dari trah agung kerajaan Pajajaran, Kesultanan Cirebon didirikan oleh Pangeran Cakrabuana pada tahun 1529, yang merupakan perluasan dari Dalem Agung Pakungwati yang didirikan pada 1452.  Nama Pakungwati sendiri diambil dari nama putri kandung beliau yang kemudian menikah dengan Sunan Gunung Jati.

keraton kasepuhan depan

Bangsal Keraton | Pengunjung Dilarang Masuk

“Dilarang masuk, Mas! Semenjak ada pengunjung yang kesurupan,” demikian penuturan pemandu tatkala kami sampai di bangunan utama Keraton Kasepuhan Cirebon. Di balik bangunan ini terdapat Bangsal Prabayaksa dan Bangsal Agung Panembahan (yang terakhir ini memang terlarang didekati karena dianggap sakral). Saya mengintip dari celah jendela, tampak ruangan sunyi dalam temaram. Sejatinya ini adalah ruangan yang gemerlap dan sakral.

Beruntung saya masih menyimpan kenangan kunjungan pertama beberapa tahun lalu ketika pengunjung masih diberi akses masuk. Bangsal megah ini memiliki 4 tiang utama segi empat berwarna hijau dengan hiasan lampu hias mewah yang berpendar. Kursi-kursi tamu berwarna kuning keemasan mengapit di sisi kiri dan kanan. Di dinding tertempel berbagai pola keramik dari budaya Tiongkok dan Belanda. Bangsal dalam Keraton Kasepuhan ini di mata saya sangat fotogenik, seakan kau berada di istana megah dengan persilangan budaya.

Baca juga: Wisata Cirebon dan Sekitarnya | Cheribon Trip

keraton kasepuhan bangsal pringgondanikeraton kasepuhan bangsal prabayaksa

Petilasan Cakrabuana | Perempuan Dilarang Masuk

Tak berhasil masuk ke Bangsal Keraton Keraton Kasepuhan (semoga akses pengunjung dibuka kembali kelak), kami pun berpindah menuju Petilasan Pangeran Cakrabuana (kadang disebut juga Petilasan Sunan Gunung Jati) di dekat komplek Dalem Agung Pakungwati. Kawasan ini berbentuk persegi dan dikelilingi oleh tembok bata merah.  Dari balik temboknya terlihat sebuah pohon beringin besar yang sungguh rimbun.

“Kalau di sini dilarang masuk bagi pengunjung perempuan,” ujar pemandu kami. Awalnya saya kira ia berkelakar, namun ternyata serius adanya.

Jadi petilasan ini pada masanya digunakan untuk perundingan tingkat tinggi para wali ataupun mengatur strategi perang dimana banyak informasi penting bertebaran.  Kaum perempuan dilarang memasuki petilasan ini karena mereka punya kecenderungan tak bisa menjaga mulut.  Dan menariknya, larangan itu ternyata masih diberlakukan sampai sekarang.

Saya tak bisa menceritakan lebih detail apa saja yang ada di dalam sana, kecuali bahwa di dalam sana terdapat sebuah sumur kejayaan yang airnya konon mengandung banyak berkah.

“Apa yang terjadi kalau perempuan nekat masuk ke petilasan ini?” tanya saya penasaran.  Pemandu kami tak menjawab jelas selain bilang ‘kuwalat’. Anda terjemahkan saja sendiri apa maksudnya.

keraton kasepuhan petilasan pangeran cakrabuanakeraton kasepuhan pohon beringin

Museum Kereta Singa Barong | Dilarang Tatap Mata

Pemandu kemudian mengajak kami masuk ke gedung Museum Kereta Singa Barong. Menunjukkan lukisan Prabu Siliwangi. “Kalau yang ini dilarang menatap matanya, kalau tak mau merasa diikuti,” ujarnya.

Sebenarnya tak ada yang gaib di sini selain ilusi optik (lukisan 3 dimensi dimana bola mata dalam lukisan akan tampak seperti menatap siapa pun yang sedang melihatnya dari arah mana pun). Tapi lukisan yang menggambarkan Prabu Siliwangi sedang berdiri dengan mahkota, jubah, tangan kiri memegang keris, dan dikawal seekor macan ini konon dipercaya sebagai penglihatan gaib sang raja. Apalagi masih banyak yang percaya jika lukisan ini bermuatan mistis. Siapapun yang memandangnya dengan pikiran kosong konon bakal kesurupan.

Saat saya melihatnya dari sisi kiri, maka mata, tubuh, dan kaki beliau seperti menghadap kiri. Namun saat saya bergeser ke kanan, maka mata, tubuh, dan kaki Prabu Siliwangi seakan mengikuti.  Lukisan Prabu Siliwangi ini dibuat oleh seorang pelukis dari Desa Sancang, Garut (sekitar tahun 2004), usai melakukan puasa dan tafakur.  Jujur, melihat lukisan ini pada siang hari tak menimbulkan kesan gaib bagi saya, tapi entahlah kalau malam hari.

keraton kasepuhan lukisan prabu siliwangi

Tentunya di museum ini terdapat atraksi utama berupa Kereta Singa Barong (1649 M) yang bentuknya mengadopsi burung bouraq (pengaruh Islam) dengan kepala naga (pengaruh Tiongkok) namun berbelalai gajah (pengaruh Hindu India). Bentuk yang tidak lazim itu melambangkan akulturasi tiga kebudayaan. Pengaruh kebudayaan Tiongkok yang kental juga terlihat dari cat yang melapisi kereta yakni merah, kuning, emas dan hijau.

Kendaraan dinas Panembahan Losari (cucu Sunan Gunung Jati) pada masanya ini memiliki suspensi sempurna, yang dapat meredam guncangan saat melalui jalanan bergelombang. Roda kereta didesain untuk kondisi jalan becek, dimana posisi roda dibuat menonjol dari jari-jarinya agar terhindar dari cipratan air. Kemudi kereta menggunakan sistem hidrolik. Bahkan kedua sayap yang dimiliki oleh kereta ini dapat bergerak, seperti kepakan burung saat kereta berjalan.

Di halaman luar, pemandu juga menunjukkan teknologi modern lainnya yang sudah digunakan oleh Pangeran Cakrabuana dan masih digunakan hingga zaman kesultanan Sunan Gunung Jati di abad ke-15, yaitu pedati gede Pekalangan. Walaupun hanya berupa duplikat (pedati aslinya sendiri berada di cagar budaya Pekalangan Selatan, dekat Keraton Kanoman), namun melihat sosok pedati ini tentu bakal menimbulkan decak kagum.  Pedati serba kayu ini mempunyai panjang 8,6 m, tinggi 3,5 m, dan lebar 2,6 m. Ia menggunakan 6 roda besar berdiameter 2 m, dan dua roda kecil berdiameter 1,5 m, dan hanya ditarik oleh kerbau bule yang diyakini memiliki tenaga lebih kuat dari kerbau biasa. Terbayang road trip dengan pedati ini pada masa lalu.

Baca juga: Road Trip 4/11 Day 1 & 2 | Cirebon

keraton kasepuhan kereta singa barongkeraton kasepuhan pedati gede pekalangan

Museum Benda Kuno | Dilarang Main-Main

Berada di sebelah barat taman Dewandaru berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda kuno Kesultanan Kasepuhan. Tampak luar ataupun bagian dalam bangunan museum sedikit lembab, dengan penerangan ruangan seadanya (agak remang bagi mata silindris saya). Beberapa benda seperti gamelan degung Banten hingga rebana peninggalan Sunan Kalijaga tampak terhampar di atas karpet hijau. Beberapa gong ditutup kain putih (konon ada gong yang hanya dibunyikan pada saat ada kematian di lingkungan keraton), jujur malah bikin saya merasa tak nyaman. Mungkin seakan mengingatkan saya pada hal-hal mistis/gaib.

Selain itu masih terdapat juga meriam, lonceng, tombak, aneka senjata tajam, aneka ukiran bambu, hingga sangkar bambu terpajang di dalam museum, termasuk sebuah pigura yang menampilkan silsilah Sunan Gunung Jati hingga keturunan terkini Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Tapi satu benda yang paling menarik perhatian saya adalah ‘gamelan kodok’ (maaf tapi saya lupa namanya) yakni alat musik mirip gamelan berbentuk kodok, yang konon dibunyikan untuk memanggil hujan. Sayangnya, menurut pemandu, sudah tak ada yang bisa memainkan alat musik ajaib ini. Ilmu tentangnya sudah raib.

Melihat benda-benda koleksi museum di sini yang sebagian besar dalam kondisi terbuka dan dalam jangkauan tangan, mulai gong duka cita hingga ‘gamelan kodok’, tentunya kita tak bisa main-main menyentuh atau memainkannya. Sebagian besar, saya yakin, masih punya energi dari masa silam.

Baca juga: Jalan-Jalan Bersama Indra (Keenam)

Ronggeng Bugis & Jala Sutra | Dilarang Meremehkan

Walau tak ada bukti fisik yang bisa dilihat sekarang, tapi mendengar legenda/kisah sejarah dari pemandu sungguhlah menarik minat saya. Siapa sangka jika pada masanya Keraton Kasepuhan ternyata sudah mempunyai agen rahasia sendiri.

Mereka adalah pasukan Ronggeng Bugis, terdiri dari para penari (ronggeng) laki-laki yang berpakaian perempuan. Ronggeng Bugis menggambarkan sikap prajurit telik sandi yang selalu waspada. Gerak sembah, longok, injen, jorong klapat dipadu dalam kesatuan tari. Gamelannya sederhana dengan bebunyian memikat. Pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati, pasukan Ronggeng Bugis ini yang diselundupkan untuk memata-matai kerajaan Galuh Pajajaran, dan usaha mereka terbukti gemilang. Pesan moral: jangan anggap remeh penari lemah gemulai.

Ada pula pasukan Jala Sutra alias para pemanah handal, yang semua anggotanya adalah perempuan. Mereka ini termasuk andalan dalam memecah belah pertahanan musuh dari jarak jauh. Rasanya tak ada yang bisa diremehkan dari laskar perempuan Keraton Kasepuhan ini.

Baca juga: 15 Macam Kuliner Cirebon dan Oleh-Oleh Khas

keraton kasepuhan visitors

Sebenarnya hanya sedikit atraksi di Keraton Kasepuhan Cirebon yang berhasil saya kupas pada kunjungan kali ini, tapi rasanya wawasan semakin bertambah. Unsur mistis tetap melekat meski anehnya bisa sejalan dengan penerapan teknologi yang bisa dibilang modern pada masanya. Kawasan keraton seluas 25 hektar ini adalah perwujudan kecil Bhinneka Tunggal Ika dimana asimilasi budaya berjalan harmonis.  Dan saya senang karena masih punya kesempatan lain untuk menyambanginya dari perspektif berbeda.

 

Disgiovery yours!

 

Catatan: Artikel asli pernah dimuat di majalah GetAway (Dec 2015) dan sudah mengalami sedikit modifikasi untuk tayang di blog ini.

14 Comments

Submit a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.