Haji Lane Singapura dan 5 Cara Menikmatinya

HAJI LANE sudah ada sejak tahun 1800an, meski baru populer sebagai destinasi wisata di Singapura beberapa tahun terakhir. Seorang teman saya bahkan sempat bergurau, “Belum afdol ke Singapura kalau belum pergi ‘ibadah’ Haji Lane.”

Terletak di kawasan Kampong Glam, Haji Lane sebenarnya adalah sebuah gang kecil (hanya bisa dilalui oleh 1 kendaraan roda empat) yang diapit bangunan rumah toko dua lantai (lazimnya bergaya peranakan) di sisi kiri kanan. Dahulu tempat ini adalah hunian warga Melayu kurang mampu, selain sebagai tempat singgah bagi mereka yang hendak/baru menunaikan ibadah haji sebenarnya di Mekkah (mungkin itulah sebabnya dinamakan Haji Lane).

Pemerintah Singapura lalu mendandani kawasan ini menjadi area komersil tanpa mengubah wujud klasik aslinya. Kini Haji Lane dan kawasan sekitarnya sudah menjadi ikon wisata Singapura wajib kunjung, khususnya bagi mereka pencinta fotografi (entah berperan di depan/belakang kamera, hehehe!).

tanah merah
Trotoar di Tanah Merah yang cantik di mata saya πŸ˜‰

Senang akhirnya saya bisa berkesempatan menunaikan ‘ibadah’ Haji Lane pada kunjungan ke Singapura terakhir kemarin. Kami berangkat dari Tanah Merah (ini kalau di Jakarta artinya Tanah Abang kan, hahaha!). Kebetulan sedang ada proyek konstruksi apartemen di dekat stasiun MRT Tanah Merah. Sepanjang sisinya dibatasi oleh pagar gipsum tinggi berwarna biru toska berhias tipografi menarik. Ya sudahlah, kami sempatkan diri berfoto-foto terlebih dahulu πŸ™‚

Baca juga: 8 Taman Pilihan di Changi Airport, Yang Mana Favoritmu?

Bagaimana Menuju Haji Lane

Cara paling praktis bagi sebagian besar turis adalah dengan naik MRT sampai di stasiun Bugis. Ambil Exit B lalu belok kanan. Jalan kaki hingga Raffles Hospital, seberangi jalan lalu belok kanan, tinggal lurus. Jika kau sudah bisa melihat puncak kubah Masjid Sultan berwarna keemasan di sebelah kiri, niscaya kau sedang berada di jalan yang benar! Hamdallah, Gusti mboten sare. Perjalananmu tinggal menyeberangi perempatan Arab Street, dan carilah gang sempit bernama Haji Lane. There you go.

1. Datang Lebih Awal

Haji Lane paling ideal dikunjungi pagi hari untuk menghindari panas terik dan lalu lalang arus wisatawan. Selain itu kau juga bisa mengambil gambar dengan tenang tanpa harus berebut spot dengan turis lain. Kebanyakan galeri, butik, toko, dan kafe di Haji Lane memang masih tutup, tapi ini kesempatan baik untuk bisa mengeksplorasi mural, graffiti, street art, human interest, atau apapun namanya dengan lebih leluasa.

Teman saya bilang Haji Lane di petang hari juga menarik ketika lampu-lampu mulai dinyalakan. Tapi saya tak tahu seberapa ramai pengunjung di senja hari. Mungkin bisa saya coba cari tahu lain kali.

Baca juga: Antara Jakarta-Trivandrum Kita Jatuh Cinta

haji lane mural

2. Bersepeda Bisa Jadi Pilihan

Oh, saya pribadi lebih suka jalan kaki karena kawasan Haji Lane dan sekitarnya ini masih dalam jangkauan stamina. Tapi kalau kau sedang diburu waktu, atau butuh mondar-mandir yang bikin gempor, atau memang hobi mengayuh sepeda, ada baiknya menggunakan sarana transportasi yang satu ini.

Awalnya saya sempat heran melihat banyak sepeda yang ‘nangkring’ begitu saja di sisi jalan. Ternyata teman saya bilang beberapa dari sepeda ini adalah unit sewaan berbasis aplikasi dan GPS. Kita tinggal install aplikasinya di ponsel, daftar dan masukkan metode pembayaran, lalu tinggal cari lokasi sepeda terdekat yang bisa dipakai (sesuai nomor kode sepeda atau barcode yang diberikan). Sudah selesai pakai, tinggalkan sepeda di lokasi yang mudah ditemui. Sistem akan melacaknya dan menagih bea sewa via transaksi daring. Praktis, kan?

Tapi saya masih ragu apakah sistem sewa sepeda seperti ini bisa diaplikasikan di Jakarta. Tahu sendirilah.Β Β 

haji lane bicyclehaji lane bike rental

3. Jajan Halal

Pukul 10 pagi dan perut kami sudah uring-uringan. Padahal di Tanah Merah tadi sudah sarapan banyak (sambil elus-elus perut gembul). Mungkin jalan kaki sepagian berkeliling Haji Lane dan sekitarnya cukup banyak membakar kalori. Tenang, di kawasan Haji Lane yang berada dekat dengan Arab Street, Muscat Street, Baghdad Street, dll tentu tak susah mencari jajanan halal. Pun tak usah kuatir menunya ke-Arab-Arab-an semua, karena jenis resto & kafe yang ada di sini sungguh variatif. Kebetulan kebanyakan gerai sudah mulai buka pada pukul 10 pagi.

Kampong Glam Cafe di Bussorah Street adalah salah satu yang selalu ramai. Mesti coba nasi goreng pattaya (with beef) dan nasi gurih.Β  Kamu bisa datangi juga RM Minang di Muscat Street. Lho, kok malah makan nasi Padang? Hahaha, bukan itu. Kalian bisa icip-icip tahu telor-nya yang legendaris. Saya kira sajiannya kecil saja, ternyata porsinya jumbo! Percaya deh, setelah duduk di sana, niscaya kan tergoda mau order ini itu (termasuk nasi rendang ayam gulai), karena sajiannya yang tampak sedap dan sedikitΒ berbeza dengan di Indonesia.

rumah makan minang

tahu telor take away

4. Antisipasi Panas & Padat

Selama kami mengisi perut, terlihat hilir mudik wisatawan yang mulai berdatangan. Semakin siang, kawasan ini semakin dipadati pengunjung. Udara makin gerah dan lembab. Sebaiknya memakai pakaian santai yang mudah menyerap keringat dan lekas kering. Atau membawa pakaian ganti beberapa buah seperti teman-teman saya yang datang kesiangan, hahaha!

Payung kecil/topi dan sunglasses berguna untuk menghalangi terik matahari, sekaligus bisa jadi aksen foto menarik. Asal ingat untuk hati-hati memakai payung jangan sampai mengganggu pejalan lain.

haji lane stand outhaji lane boys

5. Pergi ke Masjid Jika Mampu

Terakhir, belum lengkap ‘ibadah’ Haji Lane bila tak berkunjung ke Masjid Sultan. ‘Mampu’ di sini dalam artian bisa bersikap sopan santun selama berada di dalam area masjid. Alas kaki harus dilepas. Malah jika pakaianmu dianggap terlalu terbuka maka petugas akan menyuruhmu memakai jubah khusus yang sudah disediakan.

Masjid yang dibangun pada 1826 oleh para pendatang dari pulau Jawa ini memang punya desain arsitektur memikat. Sekilas malah mirip kastil andai tiada kubah. Banyak wisatawan kulit putih dan oriental yang tertarik masuk hingga ke teras, dan mindik-mindik penasaran mengintip ke dalam. Memang hanya mereka yang hendak menunaikan ibadah shalat yang diizinkan masuk ke dalam ruang utama. Bagi peminat wisata sejarah atau arsitektur, kalian bisa bertanya-tanya kepada para petugas masjid yang siap memberi informasi.

haji lane masjid sultan

masjid sultan carpet masjid sultan

Jadi bagaimana, bolehlah mencoba wisata mainstream seperti Haji Lane ini. Bisa wisata belanja,Β heritage, budaya, kuliner, hingga street photography. Jangan lupakan 5 perkara di atas! πŸ™‚

 

Disgiovery yours!

About the author

Travel Blogger
7 Responses
  1. Cakep banget nih tempatnya, apalagi pas banget buat yang suka street photography.
    Viewnya instagramable, hahahah πŸ˜†
    Tapi jangankan kesini, saya ke SG aja belum pernah mas πŸ˜†

  2. woh, Haji Lane memang selalu menarik ya Mas.
    sempat ke sana via Masjid Sultan cuma sayang waktunya terbatas jadi engga sempat masuk ke dalam masjidnya.

    Btw, SG hebat ya kaya di China sistem penyewaan sepedanya pake aplikasi.
    baru tau banget malah kalau di Haji Lane ada penyewaan sepeda itu πŸ˜€
    mesti balik lg nih main ke sana. makasih infonya ya mas.

    1. Bike rental via aplikasi sepertinya sudah berlaku di seluruh SG deh, bukan cuma di Haji Lane. Soalnya di luar stasiun MRT Tanah Merah juga banyak sepeda tak bertuan, hehehe…

      Sip sama-sama, moga lain kali dirimu kesampaian masuk ke Masjid Sultan ya…

Leave a Reply