Gunung Kembar | Situ Gunung

Scroll this

Yang satu lebih mencuat
Yang satu lebih merekah
Kedua puncaknya membakar gairah

Menuju lembahnya aku kesana
Menyibak dan mencumbu lekuknya
Telanjanglah aku oleh pesona


page1
Alkisah kami terdampar di Cisaat, Sukabumi, di lembah gunung kembar Gede-Pangrango. Awalnya hendak berpiknik sambil main monopoli di tepi Situ Gunung, sebuah danau kecil di lembah gunung. Tapi selama perjalanan ke sana malah timbul rencana lain berupa kunjungan ke Curug Sawer, air terjun di selangkangan gunung (secara letaknya menyempil diapit kaki gunung ;p). Hahaha, tapi itu nantilah, sekarang kita fokuskan dulu tujuan utamanya.

Syahdan, tibalah kami di Situ Gunung. Akses ke sana tidak sulit, dan cukup dekat dari peradaban. Terakhir kemping di sini (sekitar sewindu lalu) danaunya masih terkesan liar, namun alami, dengan dermaga kayu tua yang menjorok ke tengah danau. Namun kini jauh berbeda, tepian danau di dekat bendungan sudah diplester beton, dan dermaga kayu nan romantis itu sudah tak ada. T_T

Namun keindahan Situ Gunung tetap abadi. Danau hijau kelam bagai misteri, dikelilingi hutan pegunungan yang menjulang. Riak air berpantulan, seiring desau angin menyejukkan. Aroma pinus memenuhi udara, ditingkahi bebunyian satwa hutan yang bersahutan.

Piknik pun digelar. Bekal makan siang seadanya terasa nikmat sahaja.

page2

Tapi sepertinya tak bisa berlama-lama di sini, apalagi untuk bermain monopoli. Tak jauh dari tempat kami piknik sedang diadakan kegiatan outbound sebuah perusahaan. Selain agak2 terusik oleh suara huru-hara mereka, ternyata baru ketahuan kalau banyak sampah berserakan di beberapa lokasi bekas acara. Benci aku benci! T_T

Akhirnya dimantapkanlah rencana kunjungan ke Curug Sawer. Jaraknya cuma 2 km dari peradaban, asli jalan kaki naik turun gunung!

Welcome to the jungle! Singkat kata, kami telah meninggalkan lokasi danau, dan memulai trekking ke air terjun. Mulanya biasa saja, kami saling bercanda. Lama-lama mulai tak biasa, masing-masing sibuk cari napasnya (ngos-ngosan, sob!). 

Aroma khas hutan menguar di udara. Lembab. Pepohonan tua berlumut. Denging serangga mengisi kuping. Adakalanya suasana hening, namun kesunyian itupun tetap terasa mendenging.

Di tengah perjalanan, kami melintasi sebuah jembatan tua yang nyaris tersembunyi di balik lebatnya tetumbuhan menjalar. And guess what, dua sosok kupu-kupu mungil tiba-tiba saja datang menari-nari di
sekeliling kami. Seekor diantaranya bahkan hinggap di telapak tangan dengan jinak. So sweet…

05 kupu di telapak
Sebenarnya kalau diperhatikan, jembatan tua itu bagaikan akses masuk menuju kerajaan gunung kembar. Pepohonan yang mengapit di kedua sisi bagaikan gerbangnya. Akar-akar gantung bagaikan tirainya. Dan kupu-kupu ini bagaikan peri-peri hutan yang diutus menyambut kedatangan kami. Bukankah itu suatu pertanda baik? *mulai berhalusinasi*


Ah, tapi kami tak mau terlena. Siapa tau kupu-kupu itu cuma tipu muslihat penyihir jahat yang hendak menggiring kami masuk ke dalam perangkap. Lantas kami semua dimasukkan ke dalam sumur diiringi lagu Genjer-Genjer. Hiiii! *halusinasi makin liar*

…..

Lalu apa yang terjadi selanjutnya dengan Badai cs? Mampukah mereka menumpas sihir jahat penyihir gunung kembar dan tiba di air terjun kebajikan? Nantikan segera kisah selanjutnya!

53 Comments

Submit a comment