Foi Moi Sentani

PAPUA dari ketinggian sudah bikin saya takjub. Hutan, hutan, hutan dimana-mana. Sesekali tampak tubuh sungai meliuk-liuk. Pilot pesawat sudah mengumumkan ‘time for landing‘ tapi masih saja rimba belantara yang tampak di bawah sana. Lalu pemandangan tiba-tiba berganti perbukitan hijau dan perairan luas. Jika tak pernah membaca peta sebelumnya saya akan menyangka pesawat sedang melintasi pesisir Samudera Pasifik. Padahal inilah Danau Sentani yang masyhur.

Bandara Internasional Sentani ternyata berlokasi di sisi danau dan diapit hutan sagu. Tatkala roda pesawat menyentuh landasan dan kaki kami menjejak bumi Papua, ingin rasa melonjak-lonjak bahagia. Akhirnya salah satu bucket list ke Indonesia timur terlaksana. Walau teman saya berseloroh bahwa matahari di Papua ada 3 saking teriknya, tapi tak menyurutkan tekad kami untuk mengeksplorasi Sentani dan sekitarnya.

sentani sampan
Siap eksplorasi danau Sentani dan sekitarnya ditemani backpack dari Kalibre

3 Fakta Sentani yang Kamu Harus Tahu

1. Sentani (ibukota Kabupaten Jayapura) berbeda dengan Kota Jayapura (ibukota provinsi Papua). Letak kedua kota ini terpisah perjalanan darat sekitar 1-1,5 jam. Kebetulan Bandara Internasional Sentani sebagai gerbang utama masuk Papua terletak di wilayah Sentani. Kota Jayapura sendiri kerap disebut ‘downtown’ oleh penduduk Sentani.

2. Danau Sentani adalah danau terluas di Papua dengan luas 9.360 hektar dan berada pada ketinggian 75 mdpl. Terdapat 21 pulau di danau ini. Pegunungan Cycloop yang gagah dan liar menjadi latar belakang. Tiap tahun diadakan ajang Festival Danau Sentani untuk mempromosikan kekayaan alam & budaya sekaligus menarik minat wisatawan berkunjung ke wilayah ini.

3. Bahasa Sentani lazim digunakan di wilayah sekitar Danau Sentani, dengan dialek berbeda antara Sentani Timur, Tengah, dan Barat (namun mereka dapat saling memahami satu sama lain). ‘Foi moi’ berasal dari bahasa Sentani yang lazim digunakan sebagai sapaan hangat. Nama ‘Sentani’ sendiri bisa diartikan sebagai ‘di sini kami tinggal dengan damai’ (rujukan: Wikipedia).

sentani cycloop
Sekeliling kami danau Sentani dengan latar belakang pegunungan Cycloop dengan puncak tertinggi Dafonsoro (1.580 mdpl)

7 Pengalaman Unik di Sentani

Hampir 1 minggu kami berada di distrik ini untuk meliput Festival Danau Sentani 2018Β sekaligus menjelajah wilayah Sentani dan sekitarnya. Dari hasil pengamatan sekaligus pengalaman pribadi, berikut beberapa kesan dan hal menarik yang bisa diceritakan (beberapa bisa menggambarkan karakter Sentani secara khusus namun bisa juga mewakili Papua secara umum).

1.Β Expect the unexpected, mungkin cuma itu yang bisa saya ungkapkan terutama berhubungan dengan alam raya. Bayangkan, kami harus menembus hutan sagu menyusuri jalan setapak licin berlumpur penuh pacet untuk mendapati bahwa lokasi hutan ini berdampingan persis dengan landasan bandara internasional. Atau perjuangan menuju danau Emfote dimana kami harus berperahu menyeberangi danau berlanjut naik mobil bak terbuka menyusuri padang savana. Rasanya menuju dunia antah berantah. Beberapa hari kemudian dari jendela pesawat baru saya sadari bahwa lokasi danau Emfote ini terletak tak jauh dari pusat kota. Jikalau Sentani adalah sebuah rumah, maka teras depannya berada di sisi jalan raya sedangkan beranda belakangnya sudah di dalam hutan raya. TAPI SAYA SUKA.

sentani hutan sagu
Menembus belantara pokok sagu yang rasanya jauh dari peradaban, padahal lokasinya bersisian dengan runway bandara πŸ˜€

2. Jangan kaget kalau melihat cipratan merah atau genangan merah di jalan. Bukan darah, melainkan air liur hasil mengunyah pinang. Jadi kalau berpapasan dengan orang di jalan dengan mulut merah bukan berarti mereka habis makan orok atau ngemut kamper gincu, melainkan hasil mengunyah pinang itu tadi (kadang ditemani batang sirih dan bubuk kapur yang sempat kami kira bubuk heroin tercecer di jalan). Bukan hanya pace-pace atau mace-mace, bahkan anak-anak juga gemar melakukan kebiasaan mengunyah pinang ini.

3. Pencinta kuliner mesti coba mujair Sentani yang rasanya aduhai sedap segar tiada tara, sejauh ini ikan mujair paling lezat yang pernah saya cicip! Tapi harganya berbanding lurus dengan citarasanya, satu porsi mujair bakar plus nasi, lalapan, dan sambal mencapai Rp100.000 dibayar tunai. Ikan gabus Sentani juga sama ena-ena. Saya masih belum paham kenapa harga mujair dari danau setempat bisa begitu mahal (barangkali ada yang tahu?). Tapi untuk barang-barang yang dijual di toko swalayan (seperti roti, snack, atau produk pabrikan lainnya) harganya tak jauh beda dengan di Jawa.

sentani mujair
Mujair bakar tanpa bumbu apapun ini sungguhlah lezat tiada tara!

4. Street food yang saya jumpai kebanyakan malah gorengan (entah kenapa gorengan di sini rasanya lebih enak & renyah dibanding gorengan di Jawa), pecel lele, atau roti bakar, bawaan dari para perantau luar daerah. Tak ada pedagang kaki lima spesialis papeda atau ulat sagu misalnya.

5. Warga Jabotabek pasti terharu saat menyeberang jalan di Sentani. Cukup melambaikan tangan atau menunjukkan gelagat akan menyeberang jalan, maka kendaraan yang sedang melintas (termasuk angkot) akan melambatkan laju/berhenti untuk memberi kesempatan bagi pejalan kaki menyeberang. BEDA BANGET SAMA DI JAKARTA & SEKITARNYA!

sentani angkot
Seperti ini penampakan angkot di… Jerman? πŸ˜€

6. MOB alias Menipu Orang Banyak (terkadang juga disebut MOP) adalah istilah yang digunakan orang Papua dalam menuturkan lelucon/kisah lucu dalam perbincangan. Sama sekali tak ada perbuatan kriminal/no tipu-tipu dalam MOB ini, semua murni guyonan belaka. Jadi walaupun tampang mereka sangar dengan tubuh kekar/besar, kulit legam, dan mulut merah, namun kebanyakan mereka humoris. Kami bahkan jadi korban MOB kepala dusun di Yokiwa (meski saya lupa lelucon persisnya seperti apa, sesuatu yang berhubungan dengan delapan istrinya atau apalah) sebelum beliau tertawa sambil bilang “Maaf cuma MOB!” karena dilihatnya kami menanggapi ceritanya dengan muka serius.

sentani backpack kalibre
Jika orang lokal bilang ‘dekat’ atau ‘gampang’ mungkin itupun bagian dari MOB. Tapi kami tetap tegar menjalani demi konten menarik. Demi kalian, gaes!

7. Demam Piala Dunia 2018 lebih terasa di sini ketimbang di Jawa, bahkan merebak bahkan hingga ke perkampungan nelayan di pelosok. Mereka bangga mengibarkan bendera negara Jerman atau Brazil atau negara jagoan masing-masing di depan rumah. Tiap malam kerap ada konvoi kendaraan di jalanan sambil mengibarkan bendera negara yang akan bertanding saat itu. Rasanya saya lebih sering melihat bendera hitam merah kuning ketimbang bendera merah putih selama berada di Sentani, ΓΌber alles! Entah seperti apa reaksi mereka ketika mendapati team Jerman ternyata harus gagal di penyisihan grup Piala Dunia 2018 ini.

sentani piala dunia
Kampung nelayan Tablasupa ini sebenarnya berada di Jerman atau Brazil ya?

Apa yang Harus Dipersiapkan

Ingin menjelajah Sentani atau alam raya Jayapura? Pertimbangkan beberapa hal berikut:

1. Koper atau ransel? Jika kunjunganmu lebih dari 2 hari dan hanya perlu menginap di satu tempat tanpa berpindah-pindah (atau menginap di kawasan perkotaan), maka tak ada salahnya membawa koper. Pilih koper berbobot ringan namun punya material fiber yang kuat dan tahan gores. Sediakan pula ransel ringan yang bisa dipakai untuk trip luar ruang seharian, sebaiknya yang waterproof atau punya raincoat sendiri untuk terhindar dari cipratan air danau/lumpur/hujan. Tak usahlah terbawa aturan netizen yang membedakan kasta koper dan ransel. Kebutuhan kita hanya kita sendiri yang tahu. Kalau saya malah membawa koper dan ransel sekaligus, keduanya produk Kalibre, dong! πŸ˜‰

sentani koper kalibre
Mau koper mau ransel cuma kau yang tahu kebutuhanmu sendiri. Koper Rover dari Kalibre ukuran kabin ini sungguh berfaedah karena punya kompartemen khusus laptop/dokumen di bagian depan.

2. Selalu siap sedia untuk petualangan. Alam raya Sentani memang eksotis, namun terkadang akses menuju beberapa lokasi tsb butuh perjuangan. Sebaiknya mengenakan sepatu atau sandal gunung. Jika ingin berfoto dengan kostum kece, baiknya taruh di ransel, bawa sarung/kain panjang untuk berganti pakaian jika sudah tiba di lokasi. Dandan cantik dari hotel percuma, karena bakal keringetan, ngos-ngosan, atau bahkan berlumur lumpur dalam perjalanan (bonus pacet jika beruntung, hahaha!).

3. Berhubung ‘matahari ada 3’ maka jangan lupakan tabir surya. Ingat ya, pemakaian sunblock itu bukan supaya kulit tetap putih, tapi supaya kulit tak terbakar. Satu lagi, bawa bekal air minum secukupnya. Walau matahari terik namun angin sepoi dari danau Sentani atau pegunungan Cycloop terkadang melenakan, maka dari itu jangan sampai alpa meminum air putih tuk mencegah dehidrasi.

sentani kalibre
Ternyata roommate saya selama di Sentani juga pemakai produk Kalibre yang menurutnya berkualitas namun punya harga terjangkau. Jika kali ini saya membawa koper Chaser Silver dan backpack Romsdal 24 liter, maka ia membawa Skylark Advance 40 liter dan dry bag hitam dari Kalibre.Β Foi moi Kalibre!

Demikianlah 3 hal mendasar yang perlu dipersiapkan jika kamu ingin turut menjelajah Sentani khususnya dan alam raya Jayapura umumnya. Tak punya banyak waktu? Pertimbangkan untuk menghadiri event tahunan Festival Danau Sentani yang biasanya diselenggarakan tiap bulan Juni. Berbagai suku yang ada di seputar danau Sentani akan berkumpul dan menunjukkan kekayaan alam & budaya masing-masing.

Silakan baca: Satu Hati Satu Jiwa di Festival Danau Sentani 2018

Pesona Papua memang baru sebagian kecil saja kami datangi namun sudah dapat membuktikan kemegahan dan kebesaran potensi wisata di daerah tsb. Nantikan liputan selengkapnya hanya di disgiovery.id πŸ™‚

 

Disgiovery yours!

*special credit to @amir_rully for contributing some wonderful photos in this article

sentani kaos kalibre
Kemanapun tujuannya, apapun aktivitasnya, Kalibre setia mendampingi πŸ˜‰
12 Responses
  1. wkwkwk baca ini ngakak sih! kalau kata supirku.. mujaer mahal karena :
    1. Cuma orang lokal yang boleh ambil ikannya di danau.
    2. Nah orang lokal ini nangkepnya yah suka-suka kapan waktunya.
    3. Maka dari itu, terjadilah monopoli (mungkin) dan harga pun diatur tergantung si nelayan.
    4. Ditambah emang ikannya lezat, jadi kita pun pasrah membayar mahal.

    Sekian hipotesa tante sonya yang kena pacet πŸ™‚

    1. Wah makasih banyak infonya, ternyata memang masuk akal kalau kondisinya memang seperti yang disebutkan sang driver. Gpp sih jatuhnya mahal, jadi ikannya tidak dieksploitasi πŸ˜‰

      *oles-oles sirih pinang ke luka pacet*

    1. Hahaha lidah bergetar, mata berair, hidung kembang kempis… sebenarnya itu kena sindrom apa sih kak? πŸ˜€

      Itu yang dibuka dari depan kan kopernya kak, nah kalau backpack baru dari belakang, ngono… πŸ™‚

  2. Mujair itu harganya udah kayak ikan laut, mahal. Hahaha.
    Bentar deh aku tebak, itu makan mujairnya di RM Nusantara bukan?
    Oh ya, agak kesel sih sebenernya kalo orang2 disini pawai saat tim negara unggulannya akan tanding apalagi menang. Suka bikin macet jalan, wkwkkw :))
    Besok2 kalo kesini lagi wajib bawa tabir surya 1 gentong πŸ˜‚

    1. Kami makan di RM Rezky karena kebetulan dekat hotel. Memang rasanya juwara sih, sambelnya juga mantap! Kalau RM Nusantara itu di sebelah mana ya, bolehlah dicoba lain kali πŸ˜‰

      Hahaha tapi seru sih lihat keriaan Piala Dunia, asal gak jadi rusuh.. *sambil oles2 tabir surya segentong*

  3. Ahhhh Papua selalu punya magnit tersendiri deh.
    :”)
    Yang bandara di deket danau sentani itu aja aku membayangkan eksotis sekali melihat danau sentani dari ketinggian. :”)

Leave a Reply