Satu Hati Satu Jiwa di Festival Danau Sentani 2018

RASANYA sudah lama saya tak melihat pemandangan semegah ini. Lawatan ke ujung timur Indonesia dan melintasi 2 zona waktu terbayar sudah dengan lanskap Danau Sentani di hadapan. Air danau beriak terembus angin, permukaanya biru merefleksi angkasa. Pulau-pulau nyiur melambai dan bukit-bukit hijau bergelombang menjadi batas horison. Alam raya bumi Papua seakan menahan napas, mengantisipasi sesuatu masif yang akan datang.

Pantai Khalkote di tepi Danau Sentani sesaat lagi akan menjadi arena ‘pertarungan’ antar suku.

festival danau sentani isosolo
…and they’re coming!

Gempita Acara Pembukaan Festival Danau Sentani 2018

Festival Danau Sentani 2018 berlangsung pada tanggal 19-23 Juni 2018 dan berpusat di pantai Khalkote, Sentani, Kab. Jayapura. Seremonial sebenarnya adalah atraksi tari Isosolo yang dibawakan masyarakat Sentani dari berbagai suku, dan dimulai dari tengah danau menuju pantai Khalkote dengan menggunakan perahu-perahu hias.

Sejak dari kejauhan kami sudah mendengar lengking nyanyian mereka yang penuh semangat. Di masa silam, tari Isosolo dipertunjukkan untuk mengobarkan semangat anggota suku yang hendak berperang. Namun kini ia sudah menjadi tarian ritual selamat datang khususnya di Festival Danau Sentani yang sudah memasuki tahun ke-11. Satu persatu perahu mendekat beriringan dengan membawa para penari, pria wanita, dalam coreng moreng tubuh dan rok rumbai-rumbai, melonjak-lonjak dengan busur dan anak panah. Thrilling.

Rentak tifa mengiringi langkah kaki mereka turun dari perahu sambil membawa persembahan hasil bumi. Paduan sopran dan tenor dari tiap kelompok saling bersahut-sahutan seakan pertempuran antar suku. Derap kaki yang berputar-putar seakan menyebar mantra pada semesta. Satu hati, satu jiwa untuk tanah air. Terbius kami oleh pesona.

festival danau sentani isosolo
Ladies in charge
festival danau sentani isosolo
Awalnya adalah tarian perang, kini tari Isosolo menjadi tarian penyambutan

Ada Apa di Festival Danau Sentani 2018

Panggung utama selalu diisi pertunjukan seni & budaya selama FDS 2018 berlangsung. Tiap venue/stand juga menampilkan atraksi berbeda. Mulai dari pawai budaya, festival kuliner, festival kopi Papua, bioskop rakyat, hingga atraksi ‘tokok sagu’. Berikut beberapa highlight dari kegiatan Festival Danau Sentani 2018.

Ingin tahu Sentani lebih jauh? Baca juga: Foi Moi Sentani

Atraksi Molo

Adalah tradisi menyelam untuk mencari ikan. Bedanya atraksi molo yang satu ini dilakukan oleh mace-mace paruh baya sembari merokok dalam air. Lho kok bisa? Jadi ujung rokok yang disulut dimasukkan ke dalam mulut selama menyelam supaya tetap menghangatkan tubuh. Termasuk kegiatan ekstrim jadi sebaiknya jangan ditiru sembarangan.

festival danau sentani molo
Mace-mace siap menyelam mencari ikan dengan lintingan rokok masing-masing. Cari mujair yang banyak, mace! [photo by Ayojalanjalan]

Kreasi Ukir Wajah & Body Painting

Pertama mendengar ‘ukir wajah’ saya langsung membayangkan muka orang yang diukir pakai pahat & palu. Ternyata itu hanya istilah lain untuk lukis wajah alias face painting. Terdapat beberapa stand khusus yang menyediakan jasa ukir wajah ini bagi pengunjung dengan tarif Rp5.000 saja per warna. Ada pula lomba body painting (alias ‘ukir tubuh’kah?) yang diikuti para seniman lukis. Takjub melihat beberapa hasil kreasi mereka.

festival danau sentani ukir wajah
Kak Eka sedang menjalani proses ukir wajah
festival danau sentani body painting
Penampilan pelukis & modelnya sama unik
festival danau sentani body painting
Jagoan saya ini mah, lukisannya keren!

Kerajinan Seni Khas

Belum pernah saya melihat noken (tas rajut dari kulit kayu) khas Papua terpampang sedemikian banyak dalam satu display, dalam ragam warna dan motif. Harga berkisar antara Rp200.000-Rp.250.000 per buah (mungkin harga bisa ditawar, entahlah saya tidak sampai hati). Ada pula khombow (lukisan kulit kayu khas Sentani), ukiran kayu, hingga gerabah.

festival danau sentani khombow
Khombow dahulu digunakan sebagai pakaian bagi perempuan yang sudah menikah
festival danau sentani noken
Noken connecting people

Susur Danau Sentani

Dengan menyewa perahu di dermaga Pantai Khalkote (tarif Rp.10.000/orang), kita bisa berkeliling menyusuri danau Sentani ke pulau-pulau terdekat yang dihiasi rumah panggung warga. Jika ada anggaran lebih, kita bisa minta diantar berkunjung ke kampung penghasil lukisan kulit kayu di Asei Besar, kerajinan gerabah di Abar, kampung agrowisata di Yokiwa, atau kampung pembuatan sagu di Ifar Besar.

festival danau sentani perahu
Menikmati danau Sentani lebih dekat dengan berperahu

Lomba Cipta Menu Pangan Lokal

Bertempat di venue Dinas Ketahanan Pangan Kab. Jayapura, kami berkesempatan mencicipi sedikit dari ragam kreasi menu pangan lokal yang disajikan. Ada papeda kembang, ikan gabus kuah kuning, bola-bola ubi ungu, hingga es krim sagu (sayangnya kami kehabisan yang terakhir). Ada pula kreasi buah Pandanus tectorius menjadi selai, dodol, hingga isian ‘nastar’ a la Papua.

festival danau sentani snack
Semacam sate ikan dengan irisan daging kelapa dan kuah gula cuka. Unik. Enak.
festival danau sentani cookie
Kue kering & ‘nastar’ dengan selai buah pandan. Kusuka! *langsung beli 2 stoples*

Primadona saat itu tentu saja sajian semacam pancake dengan topping ulat sagu! Ternyata ulat sagu panggang rasanya mirip udang goreng, hanya saja teksturnya lunak. Sajian ini lebih nikmat dimakan utuh bersama sayur daun keladi. Oya, saya tak sempat update siapa yang akhirnya jadi pemenang lomba cipta menu ini. Ada yang tahu?

festival danau sentani ulat sagu
Kreasi boga extraordinary melibatkan ulat sagu
festival danau sentani ulat sagu
Ekspresi kak Leo saat kali pertama mencicip ulat sagu. Paling kiri kenapa mirip slapstick Srimulat ya makanannya dicolok ke mata, hahaha! 😉

Semarak Malam Penutupan Festival Danau Sentani 2018

Seiring tifa ditabuh bersamaan oleh para tamu kehormatan, maka secara resmi perhelatan Festival Danau Sentani 2018 ditutup. Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, juga sempat mengumumkan bahwa jumlah pengunjung Festival Danau Sentani 2018 ini mencapai hingga 50 ribu orang. Luar biasa!

Acara hiburan selanjutnya tanpa disangka langsung menggebrak. Tarian kolosal Khenambai Umbai (berarti Satu Hati Satu Jiwa sesuai tema FDS 2018) persembahan para pelajar sekabupaten Jayapura tampil memikat dengan body painting glow in the dark, koreografi rancak, dan permainan visual video mapping yang mampu bikin penonton berdecak kagum dan bersorak sorai, termasuk saya. Satu kata: KEREN!

festival danau sentani malam penutupan
Sambutan malam penutupan
festival danau sentani tari kolosal
Perpaduan gerak tari dan video mapping yang istimewa [photo by Virustraveling]
festival danau sentani papua original
Papua Original is in the house yo!
festival danau sentani joget masal
Sukaria menari sambil berpegangan tangan dan membentuk lingkaran

Acara tari kolosal ini dimeriahkan pula oleh penampilan musisi Papua Original yang membawakan medley lagu-lagu mereka yang lebih banyak menggambarkan rasa cinta akan kebersamaan. Satu yang tak saya duga, di akhir acara para penari turun dari panggung lalu mengajak penonton turut bergabung. Tari kolosal pun berubah menjadi joget massal! Kami pun jadi terbawa dan turut larut dalam kemeriahan acara. Tampaknya semua terbawa tema Satu Hati Satu Jiwa.

Musik masih membahana dari arah panggung, namun ada kegiatan kecil lain di sisi Pantai Khalkote. Lampion-lampion mulai diterbangkan. Seakan melepas harap tuk jumpa kembali tahun depan. Merah jingga mengisi ruang malam hingga ia terbang tinggi tinggal titik. Saatnya kami pulang.

 

Disgiovery yours!

festival danau sentani lampion
See you again Festival Danau Sentani!

About the author

Travel Blogger
10 Responses
  1. Dari ceritamu Festival Danau Sentani ini memang sekeren yang selama ini aku bayangkan — lucky you! Sangat membesarkan hati memang satu persatu daerah di Indonesia tampaknya semakin peduli dengan pelestarian budaya mereka, termasuk tari-tarian yang dipersembahkan dalam festival semacam ini. Memang jadinya beberapa event lebih ditujukan untuk wisatawan sih, tapi setidaknya acara semacam ini bisa menjadi sarana warga setempat untuk mempratikkan kembali aspek-aspek budaya mereka yang mungkin sempat terpinggirkan.

    1. Tujuannya memang melestarikan budaya supaya wisatawan tertarik untuk datang. Atraksi Isosolo hingga Molo ini sungguhlah menarik & ‘liar’ (mungkin orang bule bakal menyebutnya eksotis). Tapi memang sebaiknya tak dieksploitasi berlebihan. Konon di awal penyelenggaraan FDS ini sempat didatangkan pula suku Sentani yang sanggup memanggil buaya, meski kemudian tak dilanjutkan karena ritual ini termasuk sakral yang tak pantas dijadikan atraksi tontonan festival.

  2. Aku membayangkan bagaimana dulu prajurit prajurit Papua berjuang mempertahankan wilayahnya dengan senjata panah dan busur, terus membayangkan bagaimana anak-anak panah terbang menuju wilayah lawan. Mantap

    1. Suka main game perang nih pasti, hehehe. Betul kerasa banget nuansa heroik-nya dari mars yang mereka bawakan diiringi bunyi alat musik pukul dan gerakan-gerakan menghentak sambil membawa busur & panah!

Leave a Reply