Fall In Erawan Waterfall

Scroll this

Erawan waterfall

Thai Hip Trip | Day 4 | 090522

BRRRRRR! Pagi-pagi sekali kami sudah bangun, segera bersiap tuk menempuh perjalanan lintas provinsi ke Erawan Waterfalls, di Erawan National Park, Kanchanaburi. Cihuy, akhirnya kembali ke alam bebas!

Perjalanan ke luar kota Bangkok sungguh lancar. Akses jalan lebarrr, mulusss dan lurusss. Jalan yang kami lalui selama beberapa jam ini nyaris mirip dengan jalan tol, bedanya ini adalah jalan umum yang tak berbayar, alias gratis. Pengendara sepeda motor pun dengan patuh tetap mengambil jalur paling kiri. 

Kami mengarah ke barat laut, jarak yang ditempuh lebih dari 120 km, melintas di 3 provinsi. Brunch dihelat di sebuah rest area yang luas dan bersih. Toiletnya pun luasdan nyaman, bikin betah nongkrong, apalagi dihibur oleh alunan lagu-lagu top 40 alaThai yang berkumandang di seluruh penjuru toilet 🙂

Setelah lebih dari 4 jam perjalanan, jalan yang kami lalui mulai menyempit, hingga tinggal dua lajur saja. Namun jalanan tetap mulus dan bersih. Senang rasanya melihat perbukitan hijau, pepohonan hijau, sesemakan hijau, dan danau hijau di kejauhan.

Tak lama, akhirnya tibalah kami di tujuan. Ga pake bayar tiket masuk, soalnya udah disangka orang Thai asli, hehehe!

Hal pertama yang saya lakukan di gate masuk National Park adalah menginjak tanah. In the real meaning. Selama di Bangkok saya sama sekali tak menyentuh tanah, semuanya murni aspal dan beton. Di sini, di Erawan, akhirnya saya kembali menjejak bumi. Melepas alas kaki, lalu menginjak tanahnya. Merasakan teksturnya. Wow, this is the land of Thai. Tanah di benua Asia. Tanah yang beresonansi langsung dengan Mongol, Tibet, Siberia, Moskow, Mekkah, bahkan Eropah sanah, tanpa terhalang olehlautan!

Curug alias air terjun Erawan yang kami tuju ini terdiri dari 7 level. Puncak ketujuh alias level yang paling atas berada di ketinggian 1.500 meter dpl. Akses ke setiap levelnya makin lama makin menanjak, but it’s worth it-lah!

Level 1 & 2 termasuk yang paling mudah dicapai, bahkan level 2 ini termasuk yang paling indah. Air terjun jatuh dari cadas bagai tirai, mengairi danau biru tosca di bawahnya, dan ada banyak ikannya, besar-besar! Pengunjung pun banyak yang mandi-mandi di sini.

Masuk level 3 ke atas, jalur mulai mendaki (kira-kira hampir sama dengan rute trekking ke curug Cibeureum, Cibodas). Dari sini keringat mulai bercucuran, nafas mulai terengah-engah. Pada beberapa pohon besar terdapat kain warna-warni yang melingkari batangnya, lengkap dengan sesajen. Ini adalah tanda sesembahan penganut paham animisme.

Level 3 dan 4 bagi saya tidak seindah level 2, sehingga kami melewatinya saja. Level 5 cukup bagus, tadinya kami hendak rehat sekaligus basah-basahan di sini, namun Ose berkeras bahwa kami harus sampai puncak dulu, baru memutuskan mau cibang-cibung dimana. Yuks, semangat!

Pendakian kembali dilanjutkan. Kami makin jarang berpapasan dengan wisatawan lain. Pada beberapa jalur terdapat air menggenang, dan saya pilih mencelupkan kaki ke dalamnya daripada susah payah mencari bebatuan agar tetap kering. Syukur tak ada tanda-tanda pacet ataupun lintah mengintai.

Menjelang level 6, saya sudah basah kuyup atas bawah luar dalam. Hosh! Hosh! Dan di level ini pula Yen memutuskan tuk tinggal karena sudah kehabisan tenaga. Setelah memastikan bahwa Yen aman ditinggal sendiri, kami pun beranjak menuju level 7 yang sudah memanggil-manggil dari atas.

Level 6 ke 7 tak begitu jauh, namun tingkat kesulitan lebih tinggi. Lebih curam. Lebih licin. Syukurlah tak lama akhirnya kami pun tiba di puncak.

Level 7 ini memang cantik! Debit air dari puncak tak terlalu deras (atau mungkin karena bukan musim penghujan), namun auranya bikin efek magis. Terdiri dari beberapa teras berwarna pualam, dan di tiap teras terdapat ceruk berwarna biru tosca. Magnifico!

Sayang, pada saat itu tampak sekawanan lebah sedang berpesta pora di sana. Entah, mungkin ada aroma bunga apakah yang membuat mereka terbang berkumpul, sehingga kegiatan kami berfoto agak terganggu. Saya malah sempat tersengat di lengan kanan. 

Saya pun menghindar dengan berfoto dari sisi air terjun, meski kaki harus
menjejak di tanah pualam yang licin. Kebetulan pada saat itu Man minta difoto, dan saya pun berjibaku dengan dua kamera (satu di tangan kanan, satunya lagi tergantung di dada). Dan…

PLUNG!

Tanah yang licin membuat saya hilang keseimbangan. Saya jatuh terjerembab ke depan. Dalam waktu sepersekian detik, otak saya mengeksekusi flowchart berikut:
terpeleset ke air -> jangan sampai dua kamera ikut jatuh -> cari yang paling mudah tuk diselamatkan -> tangan kanan langsung terangkat ke atas -> tangan kiri menyiapkan siku tuk menahan beban tubuh yang terjatuh

Istighfar! Dan saya cuma ingat jika muka saya sudah mencium tanah. Seluruh badan saya basah. Siku kiri dan kedua lutut terasa nyeri. Kamera di tangan kanan selamat. Tapi hati saya langsung mencelos karena kamera saya yang tergantung di dada ikut mencium tanah, dan basah. Hiks, huaaaaaa! T_T

Cepat saya cek handphone dan dompet di saku celana. Meski ikut basah, namun mereka selamat tak kurang suatu apa. Man ikut memeriksa kamera saya, ternyata lensanya sudah tidak berfungsi. Mungkin terguncang keras waktu saya jatuh tadi, sehingga ia cidera 🙁

Kesedihan merambati saya, sehingga sudah tak lagi menikmati suasana di level 7. Kami pun segera turun menjemput Yen, dan melanjutkan perjalanan ke bawah. Ose tampak sibuk berkutat dengan kamera saya, mengaktifkan heater di dalam kamera agar mengusir air yang merembes masuk ke dalamnya.

Alhamdulillah, kamera saya berhasil diselamatkan! Meski lensanya tetap tak berfungsi, namun setidaknya body kamera sudah bisa kembali normal. Thanks anyway, guys!

Tiba kembali di level 2, kami pun tak tahan untuk segera berenang di sana. Airnya sejuk nian. Ikan-ikannya ternyata suka menggigiti kaki kami, geli-geli enak! Awalnya kaget sih serasa ada yg nyubit-nyubit, tapi lama-lama ketagihan, benar-benar seperti pijat refleksi. Hati saya pun sudah riang seperti sediakala 🙂
Sungguh pengalaman yang berkesan.

Menjelang petang kami pun beranjak meninggalkan Erawan. Saya dan Man langsung terlelap di jok belakang. Sorry ya Ose, bukan maksud hati membiarkanmu menyetir sendirian, kan masih ada Yen, hehehe…

Kami sempat singgah sejenak di sebuah pasar akhir pekan di pinggir jalan. Benar-benar suasana pedesaan Thai. Para penduduknya rata-rata tak mengerti bahasa Inggris, sehingga sedikit banyak kami mengandalkan Ose dalam bertransaksi. Jangan sampai kecelakaan seperti ini: saya dan Yen memesan seafood salad dengan bahasa isyarat. Rasanya memang enak, namun setelah saya menelan beberapa suap, Yen tampak curiga, dan minta Ose menanyakan sosis apa yang dimasukkan dalam menu. Confirmed: sosis ibab! Glek!

Overall, senang rasanya menjajaki pasar ini. Suasananya, beceknya, para pedagangnya, aromanya. Banyak jajanan unik, selain banyak pula jajanan ibab ;p

Kami kembali tiba di Bangkok sekitar pukul 21 lewat. Singgah sejenak di penginapan Ose buat backup data foto, juga tuk berpisah dengannya karena ia mesti melanjutkan perjalanan ke Kamboja esok dini hari. Goodbye Ose, thank you for being such a cool companion for us 🙂


Fun Fact #1
Dalam perjalanan menuju stasiun BTS kembali ke hostel, barulah saya menemui seorang pengamen di dekat tangga masuk. Seperti kata Ose, para pengamen di sini rata-rata mangkal di satu lokasi, tidak berpindah-pindah seperti pengamen di Indo. Lagipula disini mereka pun dilarang mengamen di dalam bis. Dan jumlahnya cuma sedikit.


Setibanya kembali di Sukhumvit, kami makan malam dulu di hawker street dekat hostel. Kebetulan malam itu sedang banyak anjing berkeliaran dekat gang menuju hostel. Sebenarnya mereka jinak, namun apesnya, saya kena cium salah seekor anjing yang tampaknya sedang gemar mengendus bau manusia.


Fun Fact #2
Itulah sebab kenapa saya jarang melihat kucing di sini. Raja Thai adalah seorang penyayang anjing, dan kaum anjing liar disini sungguhlah hidup sentosa. Tubuh mereka gemuk, dan jinak. Total hari ini saya sudah melihat banyak anjing liar dari segala ras, mulai golden retriever warna putih (yang paling cakep dan lucu), hingga dalmatian.


Tiba dengan selamat di hostel, saya langsung membasuh kaki yang kena cium anjing tadi dengan tanah. Sungguh hari ini betapa saya mencintai tanah air Thai, mulai dari menjejak tanah di gate masuk Erawan, menciumnya di level 7 curug Erawan, hingga kini berbilas dengan air tanahnya! 🙂


Fat Fact
brunch: nasi, tumis sayuran, ayam oseng
dinner: nasi bebek, mie bebek, pad thai, jus buah
kudapan: seafood salad, jagung bakar, martabak mini isi kelapa, ayam goreng tepung, bayi gurita panggang, es kacang, air jahe hangat
kalori terbakar: 10.000 kkl! ;p



kisah esok
paspor hilang di Chatuchak | menit menegangkan menuju airport

kisah kemarin
akhirnya berani makan serangga | siapa yang digrepe-grepe di Patpong?

64 Comments

Submit a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.