Destination Nowhere : Kafe Moko

Scroll this

tanpa petunjuk
tanpa hidayah

tanpa senter

pergilah kami melarungi gelap menuju antah berantah

Kafe Moko cukup dikenal baik khususnya di kalangan off-roader Bandung. Kafe ini terletak
menyendiri di puncak bukit, cukup cocok tuk lepas penat di kesejukan alam. Pemandangan
malamnya pun indah, dimana kita bisa melihat gemerlap lautan cahaya kota Bandung nun di
bawah sana.

Dan akhir pekan kemarin, tanpa petunjuk, tanpa hidayah, tanpa senter, pergilah kami
melarungi gelap menuju antah berantah dimana Kafe Moko berada. Sungguh sebuah perjalanan yang memicu adrenalin.


How to get there

1
Actually we have no idea. Bayangkan saja, serombongan kawula muda hedonis yang masih kekenyangan bebek goreng, tiba-tiba diculik paksa masuk angkot sewaan, vroom-vroom ngebut membelah jalanan kota, bolak-belok, gujlak-gajluk, di malam gelap gulita menuju antah berantah. Hahaha, it’s absolutely destination nowhere!

2
Jalan yang dilewati semakin kecil, semakin rusak, semakin menanjak. Karena medannya yang off-road, disarankan memakai kendaraan jip/land-rover. Kalo mau pake sedan juga boleh, tapi baiknya tumpangilah Astina orens genjreng yang drivernya berinisial A :p

DSC_0107
Pastikan juga kondisi kendaraan dalam kondisi prima, rem pakem, kopling tokcer, radiator ga bocor, bensin penuh. Tak lupa persiapkan kudapan, obat2an, dan bacaan ringan (terutama untuk perjalanan malam, minimal ayat Kursi)

3
Pay attention. Peradaban terakhir yang masih kami ingat bernama desa Cimenyan. Glek, dari namanya saja sudah berbau mistis.
Selanjutnya tiada petunjuk apapun yang dapat menunjukkan dimana kami berada saat itu.

4
Jangan panik jika satu persatu sinyal ponsel pun menghilang, berlaku buat semua operator!
Huahaha welcome to twilight zone 😀

5
Siapkan sumber cahaya, seperti senter atau obor misalnya. Sewaktu perjalanan kami kesana, satu2nya sumber cahaya adalah sinar bulan, itupun samar tertutup kabut tebal. Alih2 romantis, pemandangan remang dari balik jendela mobil malah bisa terlihat mistis dramatis.

Kafe Moko
6
Stay in group. I mean it! Ini salah satu survival guide di alam bebas.
Ada kalanya kendaraan yang ditumpangi tidak kuat menanjak sampai kafe Moko, sehingga
penumpang diharuskan berjalan kaki, seperti yang kami alami malam itu. Stay close to each
other, jangan sampai berpencar sendiri2.

DSC_0096
7
Indera keenam mulai mendeteksi kehadiran makhluk-makhluk gaib, mulai genderuwo sampai bayangan putih-putih berkelebat di parkiran. Wew, inilah petualangan sebenar-benarnya. Beruntung beberapa orang pemilik indera keenam di sini bisa bersikap bijak dengan tidak menampakkan kepanikan yang bisa bikin histeria masal 🙂

DSC_0061

What to do up there

1
Silakan leyeh2 sambil menikmati suasana pegunungan di saung2 mungil, kursi2 kayu, dan kursi2 batu yang ada di sana. Beberapa kursi batunya ada yang disusun melingkar bagai altar pemujaan. Bisa pepotoan narsis disini, sekaligus mengagumi pemandangan indah sepanjang lembah.

DSC_0042
2
Dingin sudah pasti, karenanya jangan saltum. Siapkan baju anget. Yang punya pacar anget apalagi, pasti lebih poll ;p

DSC_0097
3
Jangan pesan hot chocolate. Not recommended-lah. Yang jadi favorit disini adalah bandrek daweung, plus pisang goreng gula palem. Hmmm…

DSC_0050
4
Don’t worry, sinyal ponsel kembali menyala disini, jadi bisa tetep update status Fesbuk.
Grrrr 😀

5
Buat yang jalan kaki dari/menuju kafe Moko, bisa memanfaatkan jalur berbatu2 sebagai sarana olahraga, ataupun tuk sekedar catwalking 🙂

DSC_0104
Overall, saya sangat menyukai perjalanan kemarin. Tak terlintas kata menyesal walau sebesar biji sawi pun. It’s totally beyond our expectation but we managed to make the best out of it!

DSC_0100

87 Comments

Submit a comment