Chatuchak Luck

Scroll this

Chatuchak market

Thai Hip Trip | Day 5 | 090523

HUHUHU! Tibalah hari terakhir di Bangkok. Gundah mendera karena betah melanda. Kami berkemas dengan hati berat, lalu check-out hostel sekaligus titip kopor, karena masih ada satu misi yang harus dijalani hari ini: gerebek pasar di Chatuchak.

Beruntung cuaca saat itu sedang cerah-cerahnya, setidaknya mengembalikan semangat kami tuk menjalani kegiatan di hari terakhir liburan.
Dari stasiun Thong Lo, kami tinggal sekali naik BTS hingga perhentian terakhir di stasiun Mo Chit. Tak disangka tak dinyana ternyata hari sabtu pagi begini penumpang BTS malah berjubel. Untung kondisi di dalam kereta tetap nyaman, AC-nya tetap dingin, penumpang pun adem ayem bersahaja.


Fun Fact #1
Saya menarik kesimpulan bahwa masyarakat Thai punya karakter lebih pendiam. Ada beberapa kali kami naik BTS, dan yang paling gaduh haha-hihi ya cuma kita saja, sementara penumpang lain cuma diam manis ga pake berisik. Kalau di antara mereka ada yang ngobrol pun cuma sekedar ucapan pelan dan sopan. Jarang yang menggunakan hp buat ngobrol/sms, dan saya tak melihat satupun pengguna blackberry selama disini.


Tiba di Chatuchak, kami brunch dulu seraya menyusun strategi. Secara luas pasar yang hampir 2 hektar, akhirnya kami memutuskan tuk berpencar, dengan perjanjian kembali berkumpul di taman Chatuchak pukul 15 tepat. Ayo serbuuu!

Chatuchak market memang cuma buka setiap akhir pekan. Di sini ada produk fashion, souvenir, buku-buku bekas, hingga binatang peliharaan, yang dijual dengan harga murah meriah. 
Suasananya mirip dengan pasar Sukowati di Bali, atau pasar Taman Puring di Jakarta.
Tak heran pasar ini kerap jadi sasaran para turis buat belanja oleh-oleh (disini pula kami mendapati banyak turis Indo, ketahuan dari banyaknya kantong belanjaan dan bahasa ‘lu-gue’ mereka, hehehe). Ada pula konter DHL di pasar ini, yang siap tuk delivery ke penjuru dunia.
Saran saya, sediakan waktu dua hari tuk menjelajah semua kios di pasar ini, karena sehari saja tak cukup!

Amazed juga sih mendapati kaos-kaos keren dan ciamik di bawah harga ThB 100. Rata-rata harganya masih bisa ditawar (apalagi kalo beli lebih dari 2 pcs). Sementara kalo djual di distro/FO di Indo saja harganya bisa 3 kali lipat lebih. Otak bisnis pun segera berkalkulasi 🙂

Tak terasa berjam-jam sudah dihabiskan (jikalau ditilik peta, saat itu saya baru menyusuri 1/4 bagian Chatuchak saja), ketika waktu sudah menunjukan pukul 15. Saatnya berkumpul dan pulang! 

Ketika saya mencari pintu keluar, Yen menelepon.
“Di, dompetku hilang, untung duit baht-nya udah abis, hehehe!”

Belum juga sampai taman, Yen menelepon lagi.
“Di, pasporku hilang, tasku disilet dari belakang, huhuhu!”

Ya ampuuun! Sedikit panik, saya dan Man segera bergegas ke taman. Disana kami dapati Yen sudah terduduk lemas di rerumputan. Tas orens-nya tampak tersayat di belakang.

Jadi kronologisnya, sebelum keluar pasar, Yen masih sempat melakukan transaksi, dimana dompet dan paspornya masih ada. Usai transaksi terakhir, dia langsung keluar pintu pasar dan berjalan menuju taman. Sesampainya di taman, Yen baru menyadari kalau tasnya kebobolan. Dompet sudah raib, paspor juga.

Kami pun segera menuju pusat informasi tuk melaporkan kehilangan ini, dilanjutkan dengan laporan ke kantor polisi Chatuchak. Petugas yang melayani kami cukup sigap, with good look and good manner too. Selain itu mereka pun tampil keren dengan seragam t-shirt putih, celana hitam, dan topi hitam.

Fun Fact #2
Kelak saya mengetahui dari Yen bahwa front desk officer di kantor polisi ini adalah para sukarelawan dari maskapai Thai Airways. Mereka khusus bekerja di akhir pekan untuk melayani para turis, sesuai dengan profesi mereka sehari-hari yang bersifat meladeni dan mengayomi. Sementara polisi yang sebenarnya bekerja di belakang layar. Adalah solusi yang tepat untuk memberi pelayanan pada wisatawan dengan metode ini.


Kami juga sudah coba menelepon KBRI berkali-kali, namun tiada yang mengangkat. Mungkin libur akhir pekan, meski menurut hemat saya semestinya KBRI mempunyai operator hotline 24 jam yang siap membantu setiap warganegaranya yang sedang membutuhkan bantuan kapanpun dimanapun di negara tsb.
Kasihan Yen, mau tak mau ia mesti memperpanjang liburannya di Bangkok, demi mengurus paspor baru di KBRI hari senin nanti.

Merasa tak ada lagi yang bisa dilakukan, kami pun segera kembali ke Sukhumvit. Ambil kopor, repacking, lalu siap berangkat. Yen memutuskan tuk kembali menginap di Wild Orchid Villa. Sedangkan saya dan Man tetap harus mengejar pesawat ke Jakarta malam ini.
Kami pun berpisah di pintu masuk stasiun Thong Lo.
“Bubbye Yen! Take care!

Saya dan Man pun geret-geret kopor sepanjang jalan Sukhumvit, menuju halte airport bus. Namun karena haltenya tak kunjung ketemu, akhirnya dengan terpaksa kami menyetop taksi. Man memastikan agar argometer dinyalakan, yes, berangkatlah kami menuju airport.

Namun setelah agak jauh meninggalkan Sukhumvit, berbelok-belok di jalan kecil dan terjebak kemacetan, kami mulai curiga. Kami coba tanyakan perihal ini pada sang sopir, dan ia cuma mengoceh dalam bahasa Thai.

Tips: next time sebelum naik taksi, pastikan bahwa sopirnya bisa berbahasa Inggris!

Walau pikiran buruk berkelebat, tapi kami tetap berpikir positif bahwasanya sang sopir berusaha mengambil jalur alternatif demi menghindari kemacetan.
Syukurlah, tak lama kemudian kami muncul di sebuah jalan besar. Yes, saya mulai menemukan keberadaan kami di peta. Kami benar-benar menghembuskan nafas lega setelah memasuki express way dan melihat papan penunjuk menuju airport terpampang jelas.

Syahdan, tibalah kami ke Suvarnabhumi dengan sukses. Ongkos taksi sekitar Thb 200. Sesuai perkiraan. Berarti memang sopir taksi tadi mencari jalan alternatif agar kami lekas tiba di airport. Ka phun krup!

Sebuah kabar melegakan tiba setelah kami melewati bagian imigrasi. Yen menelepon, dan bilang jika paspornya sudah ditemukan oleh polisi Chatuchak. Alhamdulillah!
Jadi besok Yen kan kembali ke Chatuchak tuk mengambil paspornya, lalu nerusin blanja-blanji, menikmati ultahnya sendirian saja, dan pulang ke Jakarta tetap hari senin. Hahaha, dasar!

Akhirnya, tiba saatnya kami kembali terbang ke tanah air. Pesawat sempat mengalami turbulence sesaat setelah take-off, cukup menegangkan, dan saya sempat membayangkan jikalau pesawat harus kembali ke Bangkok (horeee!), lalu kami harus menginap beberapa hari lagi di sana, dikasih hotel bagus dan tour menawan, sebagai kompensasi karena kondisi tak memungkinkan tuk penerbangan ke Jakarta.
Yah, mengkhayal aja terussss ;p

Tepat pukul 23.45 kami mendarat di Jakarta dengan tak kurang suatu apa. But I left a part of my heart in Bangkok. For sure!


special credits to Ose, Yen, Man, Kie, Yud, Tejo, Tije, dan semua pihak yang telah membantu terlaksananya liburan ini dengan sumingah dan bersahaja :))



copyright © 2009 duaBadai



kisah kemarin
cium tanah di curug Erawan | sosis babi dan ciuman anjing, phewww whatta day!

65 Comments

Submit a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.