Banten Lama | Antara Pesona dan Penoda

Scroll this

“ADA orang ho’oh di balik sana, terus anuannya nempel gak bisa lepas!

Pemuda yang membuntuti kami selama di Benteng Speelwijk di kawasan Banten Lama berusaha keras membuat siapapun terkesan dengan cerita-ceritanya. Alih-alih menjadi pendamping yang baik/pemandu yang informatif, kehadirannya yang tanpa diminta ini malah terasa mengganggu. Sebagai orang timur yang sungkan mengusir secara langsung, kami menanggapinya dengan aksi diam, sama sekali tak menggubris keberadaannya.

“Di dalam sini pernah ada tamu yang kesurupan.” Ia masih mencari cara supaya kami terkesan.

“Hati-hati ada sarang kecoak di atas.”

Ucapannya yang terakhir langsung mendapat perhatian penuh. Kami sedang menyusuri lorong gelap di dalam benteng. Saya menyalakan fitur flashlight (sambil membayangkan iringan lagu Flashlight dari Jessie J.), lalu menyorotkan layar ponsel ke atas. Dinding di atas kami ternyata berlubang, dan menampakkan kerumunan makhluk-makhluk bersayap berantena yang tampaknya sedang bobok siang. Keberadaan kami tampaknya mulai mengusik, karena antena-antena itu mulai bergerak-gerak.

Langsung tunggang langgang kami.

banten lama keraton kaibon halaman

Pesona Banten Lama

Banten Lama adalah saksi kejayaan Kesultanan Banten yang termahsyur pada abad pertengahan. Di Banten pula tempat mendaratnya Cornelis de Houtman untuk kali pertama pada akhir abad XVI, yang membuka jalan bagi penjajahan kolonial Belanda di bumi Nusantara. Bahkan sebelum itu sudah berdiri Vihara Avalokitesvara (1542) dan Masjid Agung Banten (1556). Adapula situs keraton Surosowan yang kini sudah rata dengan tanah dan keraton Kaibon yang masih menyisakan rangka bangunan dan tembok samping sungai. Benteng Speelwijk (1684) sendiri adalah situs peninggalan kolonial Belanda yang letaknya berseberangan dengan Vihara Avalokitesvara. Menyusuri jejak sejarah di Banten Lama memang menarik, bahkan masih banyak terdapat situs-situs sejarah tak dikenal yang tersebar di antara pemukiman penduduk. Jika ditilik lebih jauh sepertinya kawasan sejarah Banten Lama bisa jadi mencakup luas yang sama dengan komplek Angkor Wat di Kamboja.

banten lama keraton kaibon gapurabanten lama vihara avalokitasvara

Akses jalan tol Jakarta-Merak memudahkan pengunjung dari arah ibukota menyambangi kawasan Banten Lama. Jarak tempuh hanya sekitar 2 jam. Keluar di exit tol Serang Barat tinggal mengikuti papan petunjuk arah menuju Banten Lama. Jika keluar di exit tol Serang Timur maka akan mendapat bonus pemandangan sawah nan hijau permai sungguh menyejukkan mata (meskipun jaraknya jadi sedikit lebih jauh).

Ini adalah kunjungan saya yang ketiga kali ke Banten Lama. Belum ada kata jemu menyambanginya karena ia punya daya tarik sejarah yang kuat. Kunjungan pertama dan kedua memang terasa ‘hampa’ karena yang saya dapati hanya obyek semata. Tak ada ‘jiwa’ yang menyertai seperti misalnya storytelling dari pemandu lokal. Berharap kunjungan ketiga ini kan membawa kejutan.

banten lama pohon banten lama sawah

Penoda Banten Lama

Kunjungan kali ini memang terdapat kejutan-kejutan. Tapi cenderung pada hal yang kurang menarik simpati.

Pemburu uang tips
Tiga kali kunjungan saya ke Benteng Speelwijk adalah mendapati satu/dua pemuda lokal yang berjalan membuntuti saya dan teman-teman. Awalnya saya sempat berharap banyak mereka dapat menjadi pemandu yang baik dan menceritakan sejarah benteng dengan akurat. Tapi nyatanya pengetahuan mereka bahkan tak sebanding dengan yang sudah saya baca lebih dulu di Wikipedia. ‘Pemandu’ kami pada kunjungan terakhir kemarin malah gemar menceritakan kejadian mesum yang terjadi di beberapa spot Benteng Speelwijk, tanpa memberi kesan positif apapun. Tampaknya para pemandu dadakan hanya memburu uang tips dari wisatawan.

Mungkin para pemuda lokal ini memang butuh mencari nafkah. Andai saja mereka diberi pengetahuan dasar tentang obyek wisata Banten Lama, disertai pelatihan bagaimana menangani wisatawan dengan baik, niscaya pengunjung akan lebih senang hati memberi mereka tips alih-alih merasa terpaksa.

banten lama benteng speelwijk lorong

Orang pacaran
Bukan dengki bukan sihir, terlepas dari status apakah mereka benar pacaran atau tidak, tapi kegiatan mojok berduaan banyak ditemui di situs wisata Banten Lama. Tanpa menuduh bahwa banyak spot tersembunyi yang dapat dijadikan ajang berbuat mesum, tapi setidaknya cerita ala koran Lampu Merah yang didapat dari ‘pemandu’ kami di benteng Speelwijk bisa dijadikan gambaran. Bayangkan kalau hari sudah merambat petang, cahaya remang-remang, pasti deh… banyak nyamuk!

Bukan kebetulan jika saya juga menemukan sampah bungkus kondom di anak tangga Benteng Speelwijk.

banten lama benteng speelwijk mojok banten lama benteng speelwijk sampah kondom

Pengemis
Banyak ditemui di Vihara Avalokitesvara. Lazimnya terdiri dari ibu-ibu berpakaian lusuh di muka gerbang, dan anak-anak berseragam sekolah di halaman dalam. Betul, masih lengkap dengan seragam sekolah. Tampaknya sepulang sekolah anak-anak ini langsung ‘nyambi kerja’ di vihara. Mereka memang tidak memaksa pengunjung secara intimidatif, tapi kebanyakan membuntuti sambil bergerombol, bahkan sampai menunggui kami yang sudah masuk ke dalam mobil. Sungguh mengurangi kenyamanan beribadah ataupun berkunjung.

banten lama vihara pengemis

Sampah dan corat-coret
Entah apa yang menyebabkan jalan masuk ke Benteng Speelwijk dijadikan tempat pembuangan sampah, tepat di sisi sungai, dekat deretan warung-warung penjual makanan di area parkir Vihara Avalokitesvara. Angin menyebabkan sampah-sampah plastik bertebaran di depan benteng. Dan tembok bangunan bersejarah kini bukan hanya jadi ajang corat-coret, tapi juga jadi spot buang air kecil.

Sebenarnya halaman berumput di dalam Benteng Speelwijk ataupun pekarangan Keraton Kaibon sungguhlah ideal untuk duduk-duduk piknik, ataupun guling-guling. Tapi lupakan, ada banyak kotoran kambing bertebaran. Belum lagi harus waspada siapa tahu ada orang yang pernah buang air di rerumputan.

banten lama benteng speelwijk sampahbanten lama benteng speelwijk corat coret

Pungli/palak
Tampaknya inilah yang paling bikin uring-uringan. Terdapat pungutan liar hampir dimanapun, paling parah adalah menuju/dari Masjid Agung Banten. Begitu melewati pertigaan kami harus membayar pungutan, bahkan jalan lurus saja ada pungutan tiap beberapa blok. Mau masuk komplek masjid bayar pungutan. Mau masuk tempat parkir bayar pungutan. Mau masuk ke dalam masjid pun terdapat dua buah kotak amal besar yang ditaruh di jalan masuk, serta dijagai beberapa orang yang seakan menghalangi jalan, membuat siapapun mau tak mau merogoh kocek lagi.

Keluar parkiran, eh ditagih lagi pungutan lain meskipun waktu masuk tadi kami sudah bayar (alasannya ‘Beda orang, Pak!’). Belum selesai, baru keluar parkiran masjid tampak seorang pria berdiri di tengah jalan sambil membawa kotak sumbangan. LITERALLY BERDIRI DI TENGAH JALAN. Raut mukanya sangar sambil mengguncang-guncangkan kotak sumbangannya bagai mau melempar ke arah kami jika tak diberi uang. Gerak-gerik hingga raut mukanya sama sekali tak bersahabat. Terpaksa mobil berhenti untuk memberi uang, barulah ia minggir memberi akses jalan.

Oh, belum selesai, sampai di pertigaan jalan pun kami masih harus membayar pungutan lagi!

Nilai pungutan bervariasi antara 2-5 ribu Rupiah, tanpa karcis/tanda terima apapun. Cara-cara yang diambil sangatlah tidak ramah wisatawan. Bahkan tak jelas kemana larinya uang-uang pungutan tsb selama ini. Kami tak keberatan membayar lebih mahal asalkan hasil retribusi jelas terlihat dalam hal ketertiban ataupun kebersihan (khususnya di Masjid Agung Banten).

banten lama masjid agung kotor

Antara Pesona dan Penoda

Saya masih punya harapan baik. Semoga pemerintahan Gubernur Banten yang baru bisa lebih menaruh perhatian pada keberadaan situs-situs sejarah di Banten Lama khususnya. Kondisi situs yang lebih terawat, akses jalan yang lebih mulus dan tanpa pungli, atau keberadaan toilet umum yang layak pakai misalnya. Juga pemberdayaan masyarakat lokal supaya mereka sadar wisata dan mempunyai sense of belonging untuk turut menjaga aset sejarah Banten Lama.

 

Disgiovery yours!

banten lama selfie
Walau sedang uring-uringan, tapi senyum tetap sumringah demi ‘foto keluarga’ 😀

18 Comments

Submit a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.