Kisah Seram di Bangkok Room #200

Scroll this

SAYA gemar menonton film horor Thailand karena kisah seram yang berbeda, sementara teman perempuan saya yang satu ini tidak.  Saya suka Bangkok dengan segala atributnya, teman saya tak begitu yakin akan hal itu.  Pengalaman seru saya adalah dapat masuk gratis ke berbagai atraksi wisata karena dikira turis lokal Thai.  Pengalaman seru teman saya adalah berselisih paham dengan seorang ladyboy di bandara.

Uji nyali saya adalah ketika kami berjalan kaki melintasi Patpong dan ditarik-tarik supaya masuk menyaksikan berbagai atraksi ‘olah raga’.  Tapi uji nyali teman saya ternyata jauh lebih mendebarkan. Sebuah kisah seram.

Begini ceritanya…

*****

Hotel tsb terletak di pusat kota. Tapi jalan menuju ke sana cukup membingungkan karena taksi yang kutumpangi harus melalui gang sempit.  Awalnya supir taksi pun tak mengetahui keberadaan hotel ini, ia sampai harus menghubungi teman-temannya di pool taksi menanyakan alamat hotel seperti yang tertera di kertas lusuh yang kusodorkan padanya.

Kemudian tibalah kami di depan sebuah bangunan kuno berlantai 3 yang mengingatkanku pada gedung zaman kolonial yang sudah tak terawat.  Entah kenapa bulu kuduk meremang, mungkin pengaruh petang yang menjelang. Kuabaikan saja hal tsb, dan segera memantapkan diri masuk ke dalam hotel.

Suasana lobby jauh dari kesan mentereng melainkan suram dan senyap.  Resepsionis menyambut tanpa banyak cakap.  Seraya memberi kunci ia menyuruh seorang bell-boy berseragam hitam putih mengantarku ke kamar.  Kami pun naik ke lantai 2 dan disambut koridor yang remang-remang dengan deretan pintu kamar yang tertutup.  Kamarku terletak paling ujung.

Kamar nomor 200.

Pintu kamar dibuka. Seketika punuk leherku dingin merinding.  Kamar ini bagaikan puluhan tahun tak dibuka. Pengap, gelap, dan jendelanya yang berteralis pun tak bisa dibuka karena sudah rusak.  Bell-boy juga menunjukkan kamar mandi kusam yang hanya berlampu 5 watt.  Dindingnya sudah terkelupas dengan lantai porselen yang bocel-bocel.

Kemudian tinggallah ku sendirian di kamar.

Kamar ini berukuran sekitar 4×4 meter persegi. Dinding kamar tampak lusuh.  Langit-langit tampak seperti ada bercak rembesan air.  Kududuk bersandar di tepi ranjang yang berdebu, berusaha mendapatkan kenyamanan di tengah segala  ketidaknyamanan.  Namun untuk membuka sepatu saja enggan rasanya.

5 menit kemudian kuputuskan untuk keluar kamar sebentar.

Koridor senyap. Semua pintu (ada sekitar 20-25 kamar di lantai ini) tertutup rapat.  Tampaknya tak ada tamu yang sedang menginap di lantai ini selain diriku sendiri.

Saat itu mungkin sudah waktu maghrib, tatkala tercium semilir bau bunga sedap malam.

Tak cuma itu saja, tiba-tiba langkahku menjadi

b e r a t

..

.

seperti

ada

sesuatu

yang

memegangi kaki!

*****

Kisah teman saya belum usai karena langsung saya potong bagaimana dia bisa mendapatkan hotel antah berantah semacam itu.

“Biasa deh iri-irian.”

Jadi teman saya bilang, posisi kerjanya yang sekarang (yang membuatnya dekat dengan owner perusahaan) membuatnya tak disukai banyak rekan kerja perempuan. Termasuk seorang rekan kerja di Vientiane, Laos. Sewaktu teman saya business trip ke sana, ada saja berbagai kejadian oleh si perempuan Laos yang dapat memicu perseteruan.  Tapi teman saya tetap berusaha sabar.

Ketika hendak kembali ke Jakarta dan harus transit semalam di Bangkok, awalnya si perempuan Laos (yang kebetulan mengatur itinerary) sama sekali tak mau memberitahu nama hotel tempat teman saya akan menginap.

Tapi akhirnya menjelang keberangkatan ia menyelipkan sehelai kertas kepada teman saya.  Tercantum di dalamnya sebuah nama hotel di Bangkok yang masih asing.  Teman saya sudah tak punya waktu lagi untuk googling hotel yang dimaksud.

“Perasaan sudah tak enak, tapi aku belum berpikiran macam-macam.”

Demikianlah.

Sore tiba di Bangkok.  Sopir taksi yang tak tahu menahu.  Lokasi yang sulit dicapai.  Hingga akhirnya terdampar di kamar nomor 200.

*****

Aku tak tahu bagaimana bisa kembali masuk ke dalam kamar.  Kejadiannya begitu cepat. Ketika di koridor tadi terasa ada sesuatu yang menggelayuti kaki, tanpa pikir panjang aku langsung sekuat tenaga lari ke kamar.

Tak berani melihat ke arah kaki.

Mungkin tadi cuma perasaanku saja yang ketakutan duluan karena mencium bau kembang. Di dalam kamar, kedua kakiku terasa ringan seperti sediakala.

Sambil duduk di ranjang di tengah kesunyian yang menekan, aku pun sibuk mengatur nafas dan berusaha menyibukkan diri dengan membuka ponsel. Kirim pesan atau menelepon siapapun, tapi herannya tak ada satu nomorpun yang aktif. Sungguh bagaikan adegan dalam kisah seram.

Aku sedang berusaha (mati-matian) menelepon boss hendak mengadukan semua hal ini ketika kemudian sesuatu yang di luar dugaan terjadi.

KRIEEEEEK

Derit engsel pintu memecah kesunyian. Pintu kamar mandi pelahan terkuak sendiri.

Dan…

dalam keremangan lampu 5 watt dan kusamnya dinding kamar mandi, tampak sosok seorang perempuan bergaun putih sedang terduduk diam di toilet.

Kepalanya tertunduk dalam.  Rambut panjangnya terjurai menutupi wajah.

Diamnya sosok itu sungguh menakutkan.

*****

Teman saya bilang ia langsung lari terbirit-birit keluar kamar sambil berteriak histeris, dan menangis sekencang-kencangnya di depan meja resepsionis.  Panik, ia minta dipanggilkan taksi karena harus kembali secepatnya ke airport.  Teman saya tak mau tinggal sendirian di kamar manapun di hotel apapun malam itu.  Ia lebih rela tidur beramai-ramai di bandara bersama calon penumpang lain.

“Apa reaksi resepsionis hotel?” tanya saya penasaran.

“Aku tak bilang apa-apa soal penampakan di kamar, tapi raut wajah resepsionis dan staf hotel tampak sudah paham. Sama sekali tak ada ekspresi kaget dari mereka.”

Seorang bell-boy pun tergopoh-gopoh mengambilkan barang bawaan teman saya yang masih tertinggal di kamar.  Taksi pun segera dipanggilkan, dan teman saya masih diharuskan membayar cancellation fee untuk taksi yang sudah dipesan untuk esok paginya.

I don’t care as long as I can reach the airport now!

Itu kalimat terakhir yang diucapkan teman saya sebelum pergi meninggalkan hotel terkutuk tsb.

*****

Teman saya akhirnya tidur di bandara.  Boss berhasil dihubungi meski tak bisa banyak membantu malam itu.  Perempuan Laos dicurigai sebagai oknum yang mengatur supaya teman saya mendapat kamar hotel paling horor di Bangkok, kamar nomor 200.  Anehnya, teman saya tak mau memperpanjang kasus ini. Saya menyayangkan, dan cuma bisa menyarankan untuk balas memberi hotel horor versi Jakarta/Bogor jika si oknum balik berkunjung ke Indonesia nanti. Biar dia bisa punya kisah seram di sini!

Dan saya masih penasaran akan satu hal. Kawan, menurutmu mana yang lebih menakutkan:

sosok hantu yang terus menundukkan kepala

atau

sosok hantu yang tiba-tiba menengadah dan menyergap matamu?

 

Baca kisah seram lainnya:

– Hal paling menyiksa adalah kau tahu temanmu yang punya indera keenam sedang melihat sesuatu namun ia tak mau bilang apapun, sementara jalan setapak ini licin oleh hujan dan kami tak boleh kemalaman di hutan. Simak kisahnya di Curug Cibeureum.

– Apa rasanya bertemu dengan teman baru yang punya pick-up line ‘I see dead people’ sementara tiba-tiba mobil mogok di tengah hutan antah berantah pada tengah malam?  Kisahnya ada di Ujung Genteng

43 Comments

Submit a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.