Balada Djokdja

Scroll this


WARNING: EXPLICIT CONTENT

Call me irresponsible, tapi (mungkin) inilah catper terjorok yang pernah saya tulis. Ada banyak penggunaan kata ‘toilet’ dan teman-temannya di sini. Jika anda termasuk orang yang tak tegaan, lebih baik SKIP saja tulisan ini. Seriously!

Adalah jamak jika suatu jurnal perjalanan isinya melulu senang-senang, namun tiada salahnya pula jika saya menulis catper ini dari sisi berbeza. Sebagian besar waktu plesiran kami di Yogya akhir tahun kemarin, saya habiskan dengan menatap dinding toilet. Saya kena diare, saudara-saudara!

H A R I – H-1

Kami harus berangkat ke bandara esok dini hari, oleh karenanya saya numpang bermalam di tempat kost teman yang terletak di pusat ibukota. Perjalanan menuju kesana sore itu demikian macet tak berujung dan demikian gerah. Stress. Dahaga. Saat buka puasa saya langsung hajar teh botol dingin dan bakso urat asam pedas, berlanjut nasi soto gurih nian. Enak! Malamnya langsung pening kepala, curiga jika makanan yang dikonsumsi tadi sore terlalu banyak mengandung MSG.

H A R I – H

Pukul 2:30 dini hari saya terbangun dengan sedikit pening, tapi langsung beranjak mandi dan mengalami mulas palsu 2 kali. Bagai ada yang bergerak-gerak dalam perut, kukuru kukuru bunyinya. Namun tak ada yang keluar menampakkan diri. Lihatlah saya disana, duduk meringis karena perut melilit namun tiada yang keluar bagai sembelit.
Toilet rate: **
lumayan nyaman, ada cermin besar sehingga bisa mandi sambil ngaca *siul siul*, ada wewangian Body Shop & L’Occitane, selain itu kamar mandinya tak berpintu kecuali sehelai tirai tipis memisahkan *halah*

Pukul 5 lewat kami sudah berada di bandara Soetta terminal 3. Sambil menunggu kedatangan Yud & Yin, kami sibuk sendiri-sendiri. Man asyik BB-an, Cit & Pit asyik berdandan (karena muka mereka masih rata). Saya jenguk toilet sebentar, lumayan bersih dan tak berbau, namun tak jadi mampir karena perut sudah mendingan.

Pukul 6:00 masuk pesawat, hanya dengan modal tiket 12 ribu rupiah Jakarta-Yogya PP (hohoho, thanx to AirAsia!). Penerbangan lancar jaya, bahkan sejam kemudian kami sudah siap mendarat di bandara Adisutjipto. Namun karena landasan sedang padat oleh latihan militer, kami terpaksa berputar-putar dulu di angkasa selama lebih dari 15 menit. Lumayan bikin puyeng.

Jogja AA

Pada akhirnya menjejaklah kami di tanah Yogya. Plesiran siap dieksekusi sesuai itinerary yang disusun oleh Yin dengan susah payah (tentu saja karena kami banyak maunya :)). Cit sudah mengurus semua bookingan sejak di Jakarta termasuk mobil sewaan. Tadinya mau sewa Alphard (atau kereta kencana sekalian), namun supaya lebih merakyat kami pilih sewa Avanza saja ;p Transmisi manual. Oleh karenanya saya yang kebagian tugas menyetir hingga liburan usai.
Man sendiri kebagian tugas jadi navigator, di pangkuannya selalu terhampar peta Yogya, GPS receiver, buku ‘Jogja For Dummies’, kamus bahasa Jawa, dan sebotol tuak *mulai lebay*

Agenda pertama adalah mengisi bensin hingga full tank. Pit sebagai bendahara bertugas mengumpulkan iuran peserta, dan memastikan dananya cukup tuk bensin, parkir, makan, penginapan, dll. Yud bertanggung jawab atas ketersediaan logistik di mobil, seperti aneka tisu basah & kering, air minum, dan kudapan ringan bergizi (seperti jeruk longan :)).

Kami sempat histeris lihat angkutan umum Elf yang rutenya: Yogya-Paris (hahaha, padahal Paris yang ini kan singkatan dari Parangtritis, kawasan pesisir selatan Yogya).

Tujuan berikutnya ialah singgah di Prawirotaman tuk menaruh barang-barang di penginapan. Saya mulai mulas lagi, dan perlu hiatus sampai 2 kali di toilet wisma. Feses yang keluar murni cairan. Saluran pembuangan saya terasa panas. Belum sempat minum obat karena belum sempat sarapan, kecuali minum ramuan tolak angin. Saya cuma sedikit mengisi perut dengan jeruk longan favorit kita semua.
Toilet rate: **
kondisi toilet standar saja, oya tapi kalo ga salah pintunya kaca agak transparan ;p

Pukul 10 lewat kami singgah tuk brunch break di sebuah rumah makan aneka soto & sop dalam perjalanan ke Kaliurang. Sop ayam yang kami pesan termasuk enak, tapi saya sudah tak nyaman menikmatinya karena perut mulai terasa bergolak. Usai makan yang terburu-buru, saya kembali jongkok manis di toilet.
Toilet rate: *
it’s wet all over the place, agak gelap, selain itu karena toilet satu-satunya di restoran tsb, jadi kita musti antisipasi misal ada pengunjung lain yang gedor-gedor minta gantian

 

Jogja Ulen Sentalu

Pukul 11 lewat kami sudah memasuki pelataran parkir museum Ullen Sentalu yang letaknya sedikit tersembunyi di balik rimbun pinus di kawasan sejuk Kaliurang. Museum ini menampilkan khazanah seni & budaya Jawa, mulai dari gamelan, batik, arca, hingga 1001 kisah tentang raja-raja Jawa dan keluarganya, lengkap dengan dokumentasi foto-foto kuno hingga koleksi surat-surat cinta dan pelipur lara. Sungguh orang-orang pada masa itu sangatlah puitis bagai pujangga. Sayangnya kami tak diijinkan memotret selama berada di sana.

Oya, di dalam museum pun terdapat toilet yang cukup apik dan resik. Saya cuma menengok sekilas, memastikan lokasi & kondisinya nyaman misal dibutuhkan nanti.

AC dan lampu di sepanjang selasar dan tiap ruangan museum menyala otomatis jika dimasuki manusia, dan padam sendiri jika ditinggal. Tak heran setiap memasuki ruangan kami ber-oooh-dan-aaaah. Di salah satu ruangan kami malah sempat buka-tutup pintu demi memastikan hal tsb. Mbak Tiwi, tour guide kami, cuma bisa tersenyum pasrah.
–> Mbak Tiwi pasti langsung berkeluh kesah di diary-nya malam itu sepulang bertugas.

Usai berkeliling museum, kami pun disuguhi jamu awet muda ramuan putri Kusmayana. Rasanya manis hangat (terdiri dari campuran jahe, kayu manis, gula jawa, sedikit garam, daun pandan,
dan racikan rahasia lainnya). Sayangnya gak boleh nambah. Sayangnya gak ada jamu enteng jodoh. Sayangnya kami tetap berisik biarpun sedang meminum jamu bertuah ala keraton ini.
–> Mbak Tiwi, tour guide kami, pasti bakal menulis diary-nya sambil berlinang airmata.

 

Jogja Borobudur

Sekitar pukul 14, kami sudah berpindah ke candi Borobudur. Walaupun kekawan yang lain sudah pernah kesana, tapi inilah kunjungan perdana bagi saya *sujud syukur*. Dari pintu masuk, kami pilih naik mobil kereta tuk mendekati candi. Tiketnya cuma 5 ribu rupiah per orang, dan dapat sebotol kecil air mineral. Kami kasak-kusuk, bisa gak ya air mineralnya dikembalikan, supaya harga tiketnya jadi 2.500 per orang. Hahaha, pedit!

Borobudur memang besar meski tak SEBESAR yang saya bayangkan sebelumnya. Keuntungannya adalah tak perlu waktu lama tuk mengelilinginya, apalagi saat itu matahari tengah terik bersinar. Kami juga masih punya cukup tenaga tuk foto-foto suka-suka di sekeliling candi.

Turun dari kawasan candi, saya menyepi sejenak di toilet umumnya. Perut mulai kembali berontak. Hohoho, siapa sangka jika saya tiba di salah satu toilet umum terbagus yang pernah disinggahi di bumi Indonesia Raya ini.
Toilet rate: *****
toilet di sini jauh lebih bagus daripada toilet di bandara internasional Soekarno-Hatta; begitu modern, begitu bersih, begitu wangi, lantainya licin berkilau, bikin betah!

Tak disangka hujan turun sederas-derasnya begitu kami meninggalkan Borobudur. Mobil meluncur turun kembali ke arah kota. Tanpa sengaja kami menemukan restoran Jejamuran, maka singgahlah kami di sana tuk makan siang menjelang sore. Semua menu di restoran ini berbahan baku utama jamur, dan rasanya tidak mengecewakan! Ada rendang, sate, sop, dan aneka olahan jamur lainnya. ENAK!

Teh sedap yang saya teguk terasa mengalir hangat di tenggorokan. Namun baru saja menyuap beberapa sendok makanan, kali ini giliran lambung yang berontak. Saya mual. Tak tahan lagi saya langsung lari ke salah satu pintu toilet, dan menumpahkan isi lambung di sana. Deras. Panas. Saya yakin suara hoeeek hoeeek dari mulut saya terdengar hingga ke toilet sebelah. Maafkan, siapapun anda yang berada di sana… T_T

Ah, andaikan kejadiannya di toilet umum Borobudur, pasti saya tak keberatan jatuh terduduk di lantainya. Tapi kini karena lantai toilet di resto ini serba basah, saya pilih berdiri saja sambil bersandar ke pintu. Saya muntah-muntah hingga keluar airmata. Rasanya lemas bukan buatan.
Toilet rate: **
toilet lumayan terang benderang (namun saya saya tak sempat memperhatikan hal-hal lainnya dengan seksama)

 

Jogja Borobudur statue

Hari sudah gelap ketika kami tiba kembali di kota Yogya. Singgah sejenak di Sosrowijayan buat cari penginapan (rencana pindah besok). Singgah sejenak di parkiran hotel dan saya merebahkan diri di jok mobil. Badan masih lemas bagai ayam tanpa bulu (perumpamaan yang aneh >_<). Lalu kami segera mencari makan malam terutama karena perut saya masih kosong (karena saya sudah tak kuasa makan apa-apa lagi sejak tragedi di Jejamuran tadi).

Kami sempat berputar beberapa kali mengelilingi Malioboro. Cukup repot karena perut saya sedang tak bisa kompromi dengan makanan berbumbu. Saya cuma sanggup memakan bubur nasi polos malam itu. Akhirnya, untungnya, kami menemukan bubur nasi di gerai McDonald’s. Lumayanlah semangkuk kecil saya habiskan, kecuali kriuk-kriuknya yang saya hibahkan buat Man.

Kami tiba kembali di penginapan di Prawirotaman jelang tengah malam. Usai bebersih dan minum obat, saya langsung ‘tewas’ di ranjang. Satu tangan masih menggenggam burger fillet-o-fish (hasil pampasan perang dari Yin) sebagai persediaan jikalau saya terbangun kelaparan. Zzzzzzzzzz!

 

71 Comments

Submit a comment